
Dimas di seberang kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Kenzo tadi, pikirannya itu seperti sedang Tulalit tidak bisa diajak kompromi tapi dipaksa harus bisa.
jika dirinya sedang kesulitan untuk berpikir dengan perkataan Kenzo yang begitu ambigu tapi sayang untuk bertanya tidak bisa, padahal sebenarnya rasa penasarannya itu sedang memuncak butuh sekali sesuatu untuk mencerahkannya.
ibarat kata nih guys aku lagi penasaran terus rasa penasaran itu begitu menyiksa minta untuk dikasihani tapi tidak bisa, Nah pasti bakalan kebingungan tidur pun tidak bisa apalagi makan sulit untuk ditelan kecuali rendang super pedas itu mah makanan yang tidak bisa ditolak.
Kenzo menghentikan perkataannya tadi untuk memarahi Dimas bukan karena kasihan pada anak orang melainkan kasihan kepada Asya yang sedang tidur, padahal sebenarnya Asya bukan sedang lagi Jadi bisa hanya lagi ingin membenarkan posisinya agar lebih nyaman.
" apa aku harus menunggu terus seperti begini soalnya kebiasaan Tuan Kenzo kan dia yang harus mematikan panggilan Bukan Aku, oh Malang sekali nasibmu Dimas Prasetyo tidak dihargai tetapi dibayar dengan gaji yang begitu besar!" sungut Dimas dalam hati Mana berani berbicara secara langsung urusannya bisa bakalan lebih runyam lagi.
sedangkan Kenzo mencoba untuk merilekskan tubuhnya dan juga menetralkan degup jantungnya yang seperti sedang ajep-ajep, agar Asya tidak terganggu dan juga tetap menikmati tidurnya di pelukan Kenzo.
modus banget sih kamu Bang!
Asya sebenarnya sedikit terganggu karena mengalami mimpi yang tidak ingin Ia alami sama sekali, dirinya bermimpi ketika Gerry yang mengikat tangan dan kakinya di tempat tidur lalu merangkak naik membuka seluruh pakaiannya bahkan dengan cara mengguntingnya.
dalam mimpinya itu pun hadir ketika air matanya yang keluar begitu saja tapi tak dihiraukan sama sekali oleh Gerry , bahkan pria itu terlihat tersenyum penuh kemenangan tidak mempedulikan kesedihannya dan hubungan baik mereka berdua selama ini.
ketakutan dalam mimpi asar itu bertambah parah ketika senjata tumpul Gerry merengsek masuk ke daerah intinya, Demi Tuhan bahkan tanpa sadar langsung berteriak ketakutan membuat Kenzo terkejut dan juga kebingungan.
Kenzo begitu terkejut karena mendengar teriakan Asya begitu tiba-tiba dan juga kebingungan, Bagaimana reaksi Asya ketika melihat dirinya di situ. Jika boleh memilih ingin dirinya menghilang sekarang juga tetapi melihat keadaan Asya sekarang dirinya tak tega juga jika melakukan hal itu, maka dari itu ia pun membawa Asya dalam dekapan nya.
" Kamu Jahat aku benci kamu, kamu pembohong yang selama ini mengaku sebagai Kakakku padahal kamu adalah Penghancur Hidupku! Aku benci kamu Gerry Erlangga, Aku benci kamu sekarang dan nanti semoga saja kita tidak bertemu lagi di lain waktu!" Lirih Asya yang tidak sadar jika sebenarnya pria yang menurutnya itu adalah orang yang paling dia benci dari tadi.
Deg
jantung Kenzo berpacu lebih cepat dari biasanya karena sangat terkejut mendengar nama yang disebutkan oleh Asya itu, karena nama itu tidaklah asing di pendengarannya sebab Asya selalu menyebutkannya di setiap kesempatan.
bahkan dulu pernah waktu pertama kali datang liburan di Den Haag Asya menangis ingin minta pulang karena sangat merindukan Gerry, membuat Kenzo merajuk selama seminggu dan tidak menegur Asya karena merasa tidak dihargai sama sekali kehadirannya.
" Sya, mumpung kamu sudah di sini aku temani kamu yuk jalan-jalan keliling! "ajak Kenzo sambil tersenyum tetapi Asya membalasnya dengan senyuman yang Ketus.
__ADS_1
" aku itu tidak mau berteman sama kamu karena disana aku sudah punya teman yang paling baik hati dan juga tampan, meskipun kamu lebih tampan sih tapi tetap dia yang terbaik dan paling baik sejagat raya!" sinis Asya sambil memasang wajah Sombongnya membuat Kenzo merasa kesal sebab dirinya sudah mencoba untuk bersahabat tapi tetap tidak dihargai.
" Ya sudah kalau kamu mau mau berteman sama dia pulang sana jangan datang lagi ke sini, Sebab di sini itu tempat untuk orang-orang yang tahu mana berteman dan mana tidak boleh!" kesal Kenzo lalu memilih pergi dari situ tapi Asa mah tidak peduli dirinya malah merengek kepada Dewi dan Rio agar mereka segera pulang.
" Om sama Tante Ayo dong kita pulang soalnya Asya mau mainnya sama Kak Gery saja, dia juga pasti kebingungan mencari Asya yang tidak ada di rumah Soalnya kan temannya Kak Gerry cuma Asya doang!" pinta Asya sambil memasang wajah memelas Nya kepada Dewi dan Rio agar mengabulkan permintaannya barusan.
Dewi dan Rio hanya bisa Saling pandang sebab mereka tidak punya kekuatan ekstra untuk datang dan langsung pergi padahal perjalanan yang mereka tempuh bukan hanya satu atau dua jam saja, tapi karena kemauan Asya mereka harus bekerja keras Bagaimana caranya agar gadis kecil mereka itu betah berada di situ.
" Lho kok Asya mau pulang baru sampai loh, lagian itu ada Kenzo bisa kan kamu main sama dia? Dia juga nggak punya teman kok kalau Asya ajakin dia main pasti dia bakalan mau, kamu suruh apa saja seperti kamu suruh kak Gerry mu itu pasti bakal menuruti!" pinta Riyanti tapi Asya malah memasang wajah cemberut nih karena tidak menyukai Kenzo yang tidak ada manis manisnya seperti Gerry yang selalu mengalah padanya.
" yang namanya Kenzo anaknya tante Yanti sangat menyebalkan karena cuek bebeknya itu Asya tidak suka, masa Asya suruh dia buat main boneka Barbie dianya tidak mau Padahal Kak Gerry kan disuruh main boneka Barbie selalu mau!" begitulah sekilas peristiwa yang membuat Kenzo begitu membenci dan mengingat jelas orang yang bernama Gerry Airlangga.
Kenzo mengepalkan tangannya menahan emosi dan juga tatapan matanya begitu nyalang seolah ingin menerkam orang tersebut jika berada di hadapannya, jika dulu dirinya percaya bahwa pria itu bakalan menjaga Asya ketika dirinya tidak ada ternyata kepercayaannya itu tidak ada artinya sama sekali.
" kurang ajar dia sudah berani menyentuh Asya ku, Aku bersumpah tidak akan melepaskannya saat menemukan dia nanti!" batin Kenzo yang merasa tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Gerry kepada Asya.
Asya yang terlalu menangis terpaksa membuat Kenzo harus menyadarkan wanita itu bahwa dirinya tidak sendirian, terlepas dari reaksi Asya nantinya biarlah itu menjadi urusan belakangan karena yang terpenting adalah menyadarkan Gadis itu dari trauma dan juga ketakutannya sekarang.
Asya yang sudah kembali rileks sangat terkejut ketika mendengar suara yang begitu Tak asing di pendengarannya sedang berbicara padanya, padahal bisa dibilang dirinya tadi tidur sendirian di dalam kamar itu kenapa sekarang malah ada orang asing di situ.
Asya langsung melepaskan pelukan Kenzo padanya secara kasar dan berdiri di pojokan kamar sambil menatap nyalang kearah pria yang sudah berani masuk ke dalam kamarnya, padahal sebenarnya area ini adalah area yang begitu privasi dan dirinya tidak ingin ada melanggar privasi itu apalagi seorang pria.
" pria brengsek kurang ajar Maksud kamu apa masuk ke dalam kamarku tanpa permisi, Kamu pikir aku ini wanita lemah dan selalu membutuhkan dukungan pria yang semuanya brengsek tidak ada yang betul satu? sekarang juga Kamu keluar dari dalam kamarku dan jangan pernah menampakan batang hidung kamu sedikitpun, dan satu lagi yang mesti kamu ingat kalau Asya Malika Dirgantara bukanlah wanita yang lemah!" tegas Asya dengan matanya yang memerah karena tidak menyukai kelancangan Kenzo tadi.
entah apa sebutan yang tapi yang Intinya cuma satu dada Kenzo sekarang itu seperti terasa ditusuk ribuan jarum ketika melihat penolakan yang dilakukan oleh Asya kepadanya, Jika boleh memilih dirinya Rela kalah tender perusahaan bernilai miliaran tetapi tidak dengan penolakan yang dilakukan oleh Asya.
Kenzo bangkit secara perlahan lalu mendekati Asya yang semakin meringsek mundur karena tidak ingin dijangkau sama sekali, dirinya bahkan membuang muka tapi ingin menatap ke arah Kenzo sama sekali.
" kamu dengar tidak apa yang kukatakan tadi Apa mesti harus aku teriak agar semua orang bangun dan melihat kamu yang kurang ajar di dalam sini, Aku suruh kamu itu keluar Kenapa masih di sini juga atau aku yang harus keluar dari dalam kamar ini? " tanya Asya yang sama sekali tidak ingin menatap ke arah Kenzo yang menatap Iba kearahnya.
" Aku tahu aku salah tapi tolong jangan begini karena Percuma saja kamu suruh aku keluar tapi pikiranku masih tetap berada di sini, aku bakalan duduk di sofa dan menjaga kamu tidur tidak akan kemana-mana! Tolong aku mohon dengan sangat kepadamu Jangan menyuruhku untuk pergi, Demi Tuhan aku berjanji tidak akan berbuat yang aneh-aneh apalagi melanggar batas yang tidak kamu sukai! " pinta Kenzo bahkan sambil berlutut agar Asya bisa menghargai kemauannya barusan biarlah harga dirinya menjadi taruhan Tapi demi wanita yang dicintai kan tidak masalah.
__ADS_1
Asya sama sekali tidak mau menatap kearah Kenzo karena menurutnya pria itu hanya berbohong hanya untuk mendapatkan Simpatinya lalu kemudian mulai balik menyakitinya, Gerry yang sudah dikenalnya bertahun-tahun dan sudah dianggap seperti kakak sendiri saja sudah melakukan yang tidak-tidak kepadanya.
apalagi pria yang sudah secara terang-terangan menyentuh dan juga memaksa masuk ke area pribadinya, Entahlah Rasa trauma yang dimiliki oleh Asya Kapan menguap pergi karena yang dibutuhkan wanita itu adalah terus berjuang menjalani hidup tanpa menoleh lagi ke masa lalu.
" kamu dengar tidak tadi apa yang ku katakan kalau pergi dari sini ya Harusnya kamu pergi dong, Kenapa sih kalian selalu memaksakan kehendak tanpa mau mendengarkan kehendak ku sedikitpun? " tanya Asya Lirih bahkan dirinya pun ikut berwujud seperti Kenzo hanya saja jarak mereka sedikit jauh.
" kamu kan sudah dengar alasanku tadi kalau kamu suruh aku pergi pikiranku tetap tidak bakalan tenang, maka dari itu kamu lanjutkan saja tidurnya Aku yang bakalan jagain kamu!" bujuk Kenzo lagi tapi namanya Asya yang keras kepalanya sudah mendarah daging tetap saja tidak mau menuruti apa yang dikatakan oleh Kenzo tadi.
" Kamu itu sebenarnya dengar tidak sih apa yang aku katakan kalau aku itu tidak ingin ada kamu dimanapun, Jadi kalau kamu orang yang tahu malu otomatis sadar diri dan cepat pergi dari sini!" Ketus Asya namun keduanya memang adalah orang yang paling keras kepala di bumi ini sebab tidak ada yang mau mengalah.
" aku bakalan sembunyi di kamar mandi sampai kamu tidur baru aku keluar Aku janji tidak bakalan melakukan hal aneh-aneh ataupun melanggar kode etik, Tapi tolong jangan pernah memaksakan kehendak kamu yang seperti tadi lagi karena aku tidak akan pernah mau menurutinya sampai kapanpun!" pinta Kenzo membuat Asya menghembuskan nafasnya kasar karena merasa kesal dengan pria itu yang seolah memaksakan diri tetapi apa yang dipaksakan itu membuat orang lain merasa tidak nyaman.
" ya sama saja di manapun ada kamu mau sembunyi di tempat bagian mana pun kalau areanya masih dalam kamar apa bedanya coba, kamu bisa tidak jadi orang punya urat malu kalau hanya sedikit Biar apa yang orang katakan tidak perlu lagi harus diulang-ulang?" Kenzo tersenyum padahal dirinya sedang dimarahi habis-habisan oleh Asya sebab dirinya merasa sudah berhasil mengalihkan kan pikiran Asya tentang sosok dari Gerry.
" Masa sih ih perasaan kamar mandi itu kan memang benar area ke kamarnya kamu tapi kan dikunci pintunya, bahkan kalau kamu tidak percaya Bisa kok kamu menguncinya dari luar Aku ikhlas tidak masalah!" bujuk Kenzo lagi membuat Asya merasa kesal langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah pria itu.
Deg....
tatapan keduanya terkunci dengan degup jantung yang tidak bisa dikatakan normal Karena rasa rasanya ingin berpindah dari tempatnya, bahasa gaul zaman sekarang yaitu jantung gue lagi berdisko men'
Asya yang ditatap seperti begitu oleh Kenzo membuat dirinya langsung menatap ke arah lain dan memutuskan tatapan keduanya, sebab dirinya tidak ingin baper kepada siapapun dan juga terlihat salah tingkah sebab bagaimanapun dirinya bukanlah seorang gadis lagi tapi bahasa kasarnya merupakan barang bekas'
begitu pula dengan Kenzo yang mendadak menjadi kikuk sendiri bahkan kebingungan harus bersikap seperti apa, tetapi ketika dirinya sedang memikirkan kata-kata yang pas agar Asya tidak marah dirinya kalah Start dari wanita itu.
" kamu itu bukan siapa-siapa jadi tidak pantas untuk berada di sini Lagian Memangnya tadi saya minta tolong begitu ke kamu agar menemani saya, Jangan memaksakan diri ketika apa yang kamu tawarkan itu tidak dihargai sedikitpun oleh orang?" Sindir Asya kemudian memilih untuk masuk kamar mandi tidak peduli dengan keberadaan Kenzo disitu sebab dirinya juga capek harus mengusir dengan bahasa apalagi agar pria itu paham.
sedangkan Kenzo tersenyum penuh kemenangan karena merasa Asya sudah menyerah dengan kemauannya dan memilih untuk diam saja dan membiarkannya di situ, padahal sebenarnya kenyataannya tidak seperti yang pria itu pikirkan Asya memilih cuek agar pria itu sadar diri dan segera keluar.
__ADS_1