
Gerry menjadi orang yang lebih stress karena rasa-rasanya sepertinya kedua orang tuanya itu belum terlalu memaafkan atas kesalahan yang telah ia lakukan, padahal Ia bisa apa ketika dirinya hanya seorang manusia biasa terus dituntut harus sempurna maka bisa dipastikan tidak akan ada yang bisa Ia janjikan selain daripada mengalah dan diam.
pria itu mencoba mencerna segala yang terjadi dalam hidupnya meski terkadang akal Sehatnya itu menolak untuk mencoba menerima, apalagi ketika semua orang yang berada di sampingnya sekitarnya tidak pernah menerima apa yang telah ia lakukan.
ternyata memang benar pepatah yang mengatakan bahwa 1000 kali engkau melakukan kebaikan tetapi jika satu kali saja engkau melakukan kesalahan maka kebaikanmu yang 1000 itu akan dilupakan saat itu juga, maka dari itu cobalah melakukan sebuah kesalahan itu tetapi harus dipikir lebih dulu apakah kesalahan itu bakalan berakibat fatal ataupun bakal mempengaruhi kehidupan orang lain maka lebih baik tidak usah sama sekali.
terkadang zaman harus menuntut kita menjadi orang yang berbeda dalam hidup padahal itu tidak sesuai dengan kebiasaan ataupun kemauan, hanya saja jika tidak ingin dikatakan sebagai orang yang kampungan ataupun udik maka Kita terpaksa melakukan hal itu mencoba untuk Happy padahal sebenarnya dalam hati meringis karena merasa bimbang dan ragu.
"mama jika hanya diam apa Menurut mama masalah bakalan selesai, tolong Jangan memperlakukan anak kita seperti orang asing dan juga Kamu kan tahu kalau dia itu anak kita hanya satu-satunya di dunia ini!"pinta Dito tidak ingin istrinya itu mengurung diri dalam kamar bahkan bisa dibilang makan pun tidak disentuhnya sama sekali.
"Papa, Mama itu sebenarnya tidak marah sama Gerry Mama juga tidak ingin mengucilkan anak sendiri hanya karena kesalahan yang sudah ia akui, tapi ini menyangkut hati dan perasaan mama yang merasa cemas dan juga memikirkan anaknya Asya sebenarnya itu kan masuk akal. karena kita selama ini kan sudah mengenal dia dengan baik dan juga mungkin karena sikapnya yang tiba-tiba berubah seperti itu membuat mama jadi sedikit kepikiran, jadi tolong Jangan memperlakukan Mama seperti orang yang sebenarnya tidak sadar dengan keadaan ataupun berbuat seolah Mama ini tidak punya anak!"Dito menghela nafasnya kasar memang benar apa yang dikatakan istrinya itu sangat masuk apa tetapi jika dilihat seperti begini Terasa seperti Gerry dan juga Norah tidak akan pernah bisa bersama memecahkan masalah akibat egonya masing-masing yang masih terlalu besar.
Dito tidak mungkin memaksakan kehendak agar sang istri yang lebih dulu menemui putranya karena dirinya paham betul dengan sikap keras kepalanya Norah, jadi yang memilih untuk diam dan melihat sampai di mana Anak dan mama itu akan bertolak belakang Sikap mereka dan ketemunya saat kapan.
"Ya sudah kalau memang mama merasa khawatir Nanti papa bakalan usahakan mengosongkan jadwal Papa selama beberapa minggu agar kita bisa segera menemui Asya dan keluarganya, nanti kita bisa mencari tahu lewat temannya Gerry yang sampai sekarang masih berhubungan dengan dia agar pastinya keluarga Dirgantara itu ada di mana biar kita bisa segera ke sana!"keputusan Dito itu mutlak dan final karena dirinya juga tidak ingin terlalu berlama-lama larut dalam sebuah masalah yang tidak pernah ada ujungnya.
terdengar helaan nafas kasar dari Norah Karena Wanita itu juga bingung dengan dirinya sendiri yang malah memikirkan anaknya Asya, Padahal jelas-jelas mereka tidak punya hubungan darah tetapi kenapa sampai rasa khawatir itu tiba-tiba muncul tanpa dirinya sadari.
"mungkin inilah yang terbaik agar masalah kita bisa selesai karena jika kita Hanya berdiam seperti begini otomatis keluarga Dirgantara merasa bahwa kita tak peduli, mungkin dengan kehadiran kita ke sana Asya bakalan kembali berubah hangat Seperti Dulu tidak datar dan dingin seperti yang baru-baru kita temui itu!"ujar Norah lirih karena memang ketika melihat Asya rasa bersalahnya pasti bakalan muncul.
"tapi Papa minta sama Mama kalau memang nanti Sambutan keluarga Dirgantara tidak seperti dulu lagi tolong dipahami dan jangan dimasuki dalam hati, karena Biar bagaimanapun kita ini berada di pihak yang bersalah jadi apapun yang orang Lakukan terima saja dengan lapang hati tanpa mengeluh sedikitpun!"begitulah permintaan Dito kepada istrinya karena ia tahu Norah itu merupakan tipe wanita yang sangat sensitif jika diperlakukan sesuka hati bahkan bisa dibilang kehadirannya Tidak Dianggap maka di saat itulah dirinya akan emosi.
__ADS_1
"sebelum Papa Bicara pun Mama sudah tahu kalau kita ini adalah penjahat, jadi tolong jangan diingatkan lagi biar nanti mama tidak memikirkan hal yang membuat kita seperti begini!"pinta Norah karena memang kewaspadaan suaminya itu sangat benar tapi entah mengapa dirinya merasa risih ketika mengingat hal itu.
Gerry yang saat itu hendak memanggil mamanya karena dari tadi tidak melihat kehadirannya langsung menghentikan niatnya untuk mengetuk pintu karena mendengar percakapan kedua orang tuanya, hatinya begitu tersayat ketika mendengar keluh kesah secara tidak langsung yang diucapkan oleh Norah tadi membuat dirinya sadar ternyata Mamanya itu sedang melakukan beban pikiran selama ini.
pantesan saja belakangan ini Norah terlihat berubah tidak lagi ceria seperti dulu ataupun mengomeli dirinya ketika melakukan kesalahan, bahkan rumah itu yang dahulu ramai dengan suara celotehan sang Mama tidak lagi ada terdengar bahkan bisa dibilang seperti tidak ada kehidupan bernyawa di dalamnya.
perasaan bersalah dalam dirinya pun muncul kembali karena yang ia pikirkan setelah dirinya mengakui kesalahan Nqorah-memarahinya dan setelah itu kembali baik dan tidak akan mengingat hal itu lagi, tapi ternyata apa yang dia pikirkan itu salah besar karena sampai sekarang setelah lebih dari 2 bulan Mamanya masih menyimpan perasaan bersalah itu.
"maafkan aku mama jika selama ini sudah membuat kalian malu dan juga menjadi anak yang sangat tidak berguna, aku janji bakalan memperbaiki semuanya sebelum kalian menemui keluarga Dirgantara. oleh karena aku yang melakukan kesalahan maka aku yang bakalan menebusnya dengan bertemu secara langsung dengan mereka, Aku tidak ingin kalian malu hanya karena mempunyai anak yang tidak berguna seperti itu dan yang melakukan kesalahan bahkan bisa dibilang sangat tidak akan bisa termaafkan!"lirih Gerry dalam hati karena memang benar-benar Terpukul dan sadar jika sebenarnya sang Mama sedang begitu banyak memendam rasa kecewa yang begitu amat dalam di dalam benaknya dan itu sangat tidak baik bagi usia yang sangat rentan dengan berbagai macam penyakit seperti Norah itu.
setelah itu Gerry tidak jadi mengetuk pintu kamar orang tuanya dan memilih untuk kembali ke kamarnya untuk berkemas, dirinya akan secara langsung terbang menuju ke kediaman keluarga Dirgantara saat ini Entah berada di negara manapun ia akan mencari mereka sampai ketemu.
namun sebelum itu dirinya ingin memastikan keberadaan mereka lewat Andi sahabatnya meskipun itu sangat mustahil jika ada Vina, mengingat betapa bencinya wanita itu kepadanya sampai-sampai tidak ingin suaminya itu berkomunikasi dengan dirinya.
"terserah Vina mau berbicara apa biar dia mau memakiku sekalipun Aku tetap akan menelpon Andi, nanti kalau saat sudah ketemu dengan mereka aku bakalan meminta maaf secara langsung agar dendam kesumat wanita itu bisa menghilang!"gumam Gerry dalam hati lalu mengambil ponselnya dan segera menghubungi cs-nya.
panggilan pertama memang tersambung tetapi Andi tidak merespon sebab pria itu juga Tengah gundah Gulana mengingat istrinya yang tidak ingin dihubungi sama sekali, kalau sekarang dirinya merespon Gerry otomatis masalahnya bakalan lebih renyah lagi sebab Vina bakalan lebih mengamuk dan mungkin tidak akan pernah mau kembali kepadanya.
Gerry mendengus kesal ketika tahu bahwa panggilannya itu tidak direspon dan pria itu dengan giginya kembali menelpon Andi, berharap mungkin panggilan pertamanya tadi pria itu sedang pergi ke toilet membuang menara dalam yang sedang ingin dikeluarkan.
Namun ternyata panggilan kedua itu pun tidak direspon sama sekali oleh pria dari seberang itu membuat Gerry ingin sekali menonjok wajah Andi yang sok jual mahal, Padahal sebelum pria itu menikah dengan Vina setiap kali Gerry menghubunginya tidak pernah namanya Andi tidak merespon pasti bakalan merespon meskipun di waktu dan jam yang tidak tepat.
__ADS_1
"ini anak Kok bisa sih tidak mengangkat panggilan dariku, Padahal dia sendiri kan tahu kalau aku itu lagi cemas memikirkan Asya dan hanya dia merupakan jalan satu-satunya untuk mengetahui keberadaan keluarganya?"omel Gerry yang berjalan ke sana kemari layaknya setrikaan rusak sebab apa yang ia inginkan tidak terlaksana sedikitpun.
kini Gerry mencoba untuk menelpon Andi membuat Andi yang dari tadi sedang memikirkan istrinya mau tidak mau mengangkat panggilan tersebut, sebenarnya Ia juga malas berbicara dengan Gerry yang beberapa hari ini telah menjadi sumber masalahnya bersama Vina tetapi yang ia yakini jika sahabatnya itu pasti memerlukan bantuan maka dari itu mau meneleponnya berulang kali Padahal selama ini Gerry paling anti melakukan hal itu.
"Ya halo kenapa kamu menghubungiku di pagi buta seperti begini Memangnya kamu pikir aku tidak sedang mengantuk, asal kamu tahu semalaman aku itu tidak tidur memikirkan Istriku yang sedang kabur Eh pagi-pagi kamu malah menelponku membuat hariku tambah runyam!" Sungut Andi tak suka.
Gerry menghela nafasnya kasar ketika mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu yang seolah menyalahkan dirinya ketika mempunyai masalah dengan Vina, padahal Ia saja tidak tahu menahu Kenapa mereka berdua bisa bertengkar kenapa malah dirinya disangkut pautkan dengan hal yang tidak jelas seperti begitu.
"kamu bertengkar dengan istrimu Kenapa jadi aku yang harus disalahkan, Lagian aku kan punya kepentingan dengan kamu bukan dengan siapa-siapa jadi tolong jangan sangkut pautkan dengan yang lain?"ujar Gerry membuat Andi mendengus kesal karena sahabatnya itu tidak mengerti dengan keadaan hatinya saat ini.
"Ah kamu memang tidak akan pernah mengerti Soalnya kamu kan jomblo sejati mana paham soal masalah rumah tangga, jadi Ya sudah kamu diam saja Terus ngapain Mau telepon jangan bilang ingin curhat soalnya aku juga lagi mumet!"ujar Andi membuat Gerry mengerutkan keningnya kenapa ketika berbicara dengannya malah segala sesuatu bertambah runyam padahal kan Gerry dari tadi tidak mengatakan hal yang aneh-aneh.
"aku tahu kalau memang kamu punya masalah dengan istrimu Ya sudah kalian berdua selesaikan dengan kepala dingin dan juga bersikap dewasa, Lagian untuk apa menikah kalau hanya untuk bertengkar seperti begitu? untung juga aku belum menikah karena aku juga tidak ingin tertimpa masalah sialan seperti yang kamu alami sekarang, jadi jangan menyesali apa keputusan yang sudah kamu ambil lebih baik kamu memperbaikinya sebelum semuanya jadi terlambat seperti yang aku alami saat ini!"Andi terdiam karena mendengar perkataan sahabatnya itu ia yakin Gerry Tengah ada masalah karena tidak biasanya pria itu mau curhat tentang keadaan dirinya karena selama ini Gerry selalu tertutup.
"Ya sudah kalau begitu aku bakalan mengesampingkan masalahku dan Vina saat ini Tetapi hanya beberapa menit saja setelah itu kamu stop menghubungiku sampai masalahku dengan Vina kelar baru aku yang menghubungi kamu, Memangnya kamu ada apa menelponku si pagi ini jangan bilang kamu mau minta bantuan yang aneh-aneh karena aku tidak akan pernah mau mengabulkannya?"tanya Andi memastikan karena dirinya ini memang yakin dan sangat yakin kalau sebenarnya Gerry itu ada masalah.
mendengar pertanyaan sahabatnya itu Gerry hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar berusaha untuk bersikap tenang dan mencoba merangkai kata yang pas agar Andi bisa meloloskan apa yang ia inginkan, karena memang dirinya tahu meminta alamat Asya dan keluarganya saat ini itu merupakan sesuatu yang paling sulit untuk andikabulkan mengingat ada Vina yang sangat tidak menyukai dirinya.
seorang suami pasti bakalan mengikuti apa yang diinginkan oleh sang istri karena tidak ada keinginan untuk terjadi perang dunia dalam rumah tangga, hanya saja jika untuk kebaikan pasti Andi bakalan menurutinya karena ini dilakukannya untuk semata-mata memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan kepada Asya dan keluarganya.
"Aku ingin meminta alamat Asya dan keluarganya saat ini!"ujar Gerry membuat Andi menghela nafasnya kasar karena ia yakin pasti pria itu menelponnya untuk masalah yang bersangkut pautnya dengan Asya.
__ADS_1
"Astaga Kamu ini kenapa sih malah menambah beban Pikiranku lagi, Kamu kan tahu kalau Vina itu sangat membenci Jika kamu itu mencari masalah atau berhubungan kembali dengan Asya?"tanya Andi yang benar-benar frustasi dengan pertanyaannya dilontarkan oleh Gerry barusan karena menurutnya yang bukan permasalahan hanya Gerry saja otomatis dirinya juga yang akan disalahkan.
"sobat bukan masalahmu saja yang sedang engkau pikirkan aku juga sedang punya masalah dan maka dari itu aku sedang berusaha untuk memperbaikinya, jika aku hanya berdiam diri tidak meminta maaf secara langsung kepada Asya dan keluarganya menurut kamu masalah yang sedang kami alami bakalan selesai. aku itu di sini Kamu tahu tidak tenang karena mama menjadi pendiam hanya karena masalah aku dan Asya belum kelar sampai sekarang, mereka bahkan berencana akan mencari keluarga Asya itu karena mereka ingin meminta maaf secara langsung. dan kamu tahu kalau sampai mereka pergi mencari tanpa ada kepastian yang menjadi beban pikiran ya aku karena secara tidak langsung sudah membuat mereka kesusahan, maka dari itu lebih baik aku yang bertindak lebih dulu Bukankah yang bersalah itu aku biarpun nanti Saat di sana Om Rio atau siapapun itu bakalan menghajarku sampai puas pun tidak masalah!"jelas Gerry membuat Andi terdiam karena memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu tidak ada yang salah.