
Kenzo tersenyum ketika mengetahui bahwa sebenarnya istrinya itu tidak pernah ada niatan untuk menduakan dirinya, dan juga sebenarnya ingin masalahnya dengan Gerry terselesaikan.
Padahal tadi dirinya sudah berencana untuk mendiamkan Asya hanya karena ingin melihat sampai di mana Asya akan jujur,tapi ternyata tanpa ia minta wanita itu malah mendukung apapun yang di lakukan nya.
"Tapi Yang,Apa kamu lupa hubungan dirinya dengan El kita?" Tanya Kenzo lirih yang sebenarnya ia ingin sekali menentang hal itu.
"Dia itu kan orang asing dan kita berdua adalah orang tua nya,jadi jangan membahas hal yang nanti nya bakal kamu sesali!" Sahut Asya tak terima.
Kenzo tersenyum lalu memeluk erat tubuh istrinya sehingga membuat Asya kesulitan bernafas,padahal tubuh wanita itu sangat mungil dan pas sekali dalam dekapan nya.
"Mas,kamu rencananya mau kawin lagi dengan wanita Jerman?" Tanya Asya sambil memukul kuat bahu suaminya itu.
Kenzo melepaskan pelukan nya dan menatap heran kearah sang istri karena sungguh pertanyaan yang dilontarkan oleh Asya itu membuat dirinya kebingungan sendiri, Bagaimana tidak makan satu saja tidak habis-habis malah dicurigai memikirkan untuk menikah kembali di tempat yang asing yang baru pertama kali didatangi oleh istrinya.
" Maksud kamu mengatakan hal itu apa ya, soalnya aku jadi bingung memangnya kapan Aku mengatakan bahwa akan menikah lagi di sini?" Tanya Kenzo memastikan.
mendengar pertanyaan suaminya itu yang seolah tidak menyadari Apa kesalahannya, membuat Asya mendengus kesal karena suaminya padahal tadi baru saja terjadi.
"Kamu tadi itu memeluk ku dengan begitu erat sampai aku kesulitan bernafas,masa seperti itu saja kamu tidak sadar sama sekali?" Tanya Asya heran.
"Jadi kamu kesulitan bernafas dan apa membutuhkan oksigen buatan,kalau memang iya aku bakal dengan suka rela melakukan hal itu soalnya aku tidak ada niat untuk mencari istri lagi sekarang?" Tanya Kenzo memastikan.
"Oh jadi sekarang tidak ada niat tapi kalau nanti pasti bakal ada,wah kurang ajar sekali kamu ya sampai punya pemikiran seperti itu?" Tanya Asya dengan tatapan menyelidik.
"Yang,aku keluar dulu ya! Soalnya itu bocah tengil sepertinya sedikit lagi dia bakal menangis dan memanggil Mamanya!" Ujar Kenzo sambil terkekeh geli dan setelah mengecup gemas pipi istrinya itu lalu keluar kamar sambil membawa dokumen akta pernikahan dirinya dan Asya.
Sedangkan Gerry baru saja menelpon Mamanya dan mengatakan bahwa dirinya telah menemukan Asya,membuat Norah dari seberang begitu antusias dan ingin datang ketempat itu guna bertemu dengan gadis kesayangan nya itu.
Akan tetapi Gerry menolak hal itu dan mengatakan bahwa diri nya sendiri yang akan membawa Asya pulang,baru setelah itu mereka akan bertemu disana dan Norah bisa melepas kan rindu.
Gerry yang melihat Kenzo keluar seorang diri langsung berusaha mencari Asya,sebab dalam pikiran nya Asya mungkin berjalan dari belakang Kenzo.
"Dimana Asya,apa dia sedang berkemas? Aku akan kesana dan membantunya,agar kami bisa pergi dari sini segera karena Mama sedang menunggu dia!" Ujar Gerry antusias membuat Kenzo menatap heran kearah pria yang tidak jelas itu.
"Kamu sedang bicara atau baca puisi? Soalnya semuanya itu terdengar sangat aneh dan membingungkan,atau kamu sedang menanyakan soal tetangga sebelah rumah? Wah kalau begitu maaf sepertinya kamu salah alamat,karena aku orang baru di tempat ini!" Ujar Kenzo ambigu membuat Gerry mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan yang sangat tidak masuk akal Kenzo itu..
"Maksud kamu apa bicara seperti itu,aku itu bertanya dimana Asya? Kenapa dia tidak keluar untuk menemui ku,apa mungkin dia sedang berkemas sekarang?" Tanya Gerry .
Kenzo tertawa mendengar apa yang ditanyakan oleh Gerry barusan,diri nya pun ingin sekali melihat reaksi Gerry bagaimana jika dirinya mengatakan hal yang tidak tidak.
"Oh Asya istriku! Dia katanya capek sekali soalnya tadi kami baru saja habis bermain,ah sepertinya aku tidak perlu menjelaskan hal itu sebab kamu pasti paham jika suami istri bermain pasti soal yang itu saja!" Ujar Kenzo dengan wajah yang begitu membuat Gerry kesal.
"Sudah ku katakan kalau Asya itu bukan milikmu,karena dia itu hanya akan menjadi istriku dan itu tidak akan pernah terbantahkan!" Ujar Gerry.
"Atas dasar apa kamu mengatakan hal itu,apa sudah tertulis dalam garis takdir dan kamu juga sudah memastikan nya?" Tanya Kenzo.
"Aku adalah yang pertama untuk Asya,dan kamu pasti tahu itu dengan jelas sebab ia pindah karena aku sudah mengambil bunga nya!" jelas Gerry penuh percaya diri padahal ada hati yang terluka atas ucapannya itu.
Plakkk
__ADS_1
Kedua pria itu menoleh kearah wanita yang tengah menatap tajam kearah Gerry,terlihat wanita itu akan menampar pria itu sekali lagi namun di cegah oleh suaminya.
"Sayang,tangan kamu sakit nanti! Apa kamu tidak ada niat meminta pertolongan aku,mungkin rasanya bakal lebih panas dan menggigit seperti saat kamu berada diatas tubuhku?" Tanya Kenzo membuat Gerry yang sedang menatap sendu kearahnya langsung beralih menatap tajam kearah Kenzo.
"Lakukan saja Mas,bila perlu sampai dia tidak makan selama seminggu!" Perintah Asya.
"Hei kamu pria asing yang kurang ajar dan tidak berguna yang sukanya menghancurkan anak orang,ingat ya aku doakan agar kamu tidak akan pernah mengenal wanita sehingga tongkat kamu itu tidak berfungsi!" Ujar Asya dengan tatapan yang mengintimidasi.
Gerry mendekati kearah Asya dan berusaha menggapai tangan wanita itu tapi Asya malah memilih menjauh dan berdiri disamping Kenzo,wanita itu seolah tidak ingin di sentuh sedikitpun oleh Gerry .
"Semoga saja kamu kecelakan bersama dengan mobil yang kamu kendarai,Mas lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan karena yang penting intinya cuma satu aku sangat mencintai kamu sampai mati!" Ujar Asya dan langsung pergi dari situ.
Kenzo tersenyum kearah punggung istrinya itu yang ternyata merupakan the strong woman karena berhasil menghajar seorang pria dengan penuh percaya diri,dan hal itu dilihat jelas didepan matanya dan tidak dapat di sangkal itu.
"Kamu masih perlu bukti apa lagi sehingga bisa mengakui apa yang kamu lihat dan dengar,aku tahu kamu yang pertama tapi kamu juga harus tahu jawaban apa yang diberikan istriku atas kata kata yang kamu ucapkan tadi!" jelas Kenzo.
"Aku cinta Asya!" Ujar Gerry pelan.
"Aku bahkan lebih dahulu mencintai dia sebelum dirinya belum tahu bicara dan mengenal dunia,aku bahkan ikhlas ketika dia dekat dengan kamu tapi ternyata kamu hancurkan semua harapan itu dengan menyakiti nya!" Kenzo benar benar membenci saat dirinya harus bisa mengajak pria lain untuk berkompromi tentang istrinya.
"Tapi...
"Pulang lah sebelum aku berubah pikiran dan melakukan hal yang tidak tidak !" potong Kenzo yang tidak ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Gerry karena hanya membuat dirinya pusing.
Gerry tersenyum penuh kesedihan dan tidak tahu harus berbicara apa lagi ketika semua orang pada menolak kehadirannya,padahal dirinya Ingin sekali memperbaiki semuanya dan juga ingin bertanggung jawab dengan apa yang terjadi.
"Aku sangat mencintai kamu tapi kenapa malah dia yang harus mendapatkan hatimu. Apa ini karma yang diberikan Tuhan untuk ku karena telah menuai nyiakan kamu dahulu,tolong maafkan aku karena tidak bisa melakukan yang terbaik dulu dan malah membuat orang lain yang bahagia!" Lirih Gerry tanpa sadar jika air mata yang ia tahan dari tadi akhirnya lolos juga dan ia biarkan saja hal itu terjadi.
Kenzo yang melihat Gerry sudah pulang langsung memilih masuk kedalam rumah sebab suasana hati yang tidak bisa digambarkan, ingin sekali mau marah ingin sekali teriak tetapi untuk siapa hal itu tertuju.
Asya yang melihat ekspresi suaminya itu merasa sedikit takut untuk bertanya tentang keadaannya,sebab dalam hati dirinya berpikir kalau Kenzo menyesal karena telah menikahi wanita sepertinya.
Maka dari itu dirinya memilih untuk tidak menggangu suami nya dan pergi ke Taman belakang,sebab tempat itu sudah di lihatnya tadi sekilas sekalian ingin menenangkan pikiran.
Kenzo yang melihat istrinya itu seolah menghindar darinya membuat pria itu segera menuju kearah Asya dan memeluknya dari belakang,pria itu bahkan membuat Asya terkejut karena sikap yang di tunjukan oleh Kenzo secara tiba tiba.
"Mas,kamu..
"Sayang,Aku itu lagi galau tapi kamu malah membiarkan aku sendirian saja!" Ujar Kenzo memelas.
"Tapi kamu galau kenapa,apa menyesal karena telah menikahi wanita yang tidak sempurna seperti ku?" Tanya Asya lirih membuat Kenzo menatap heran kearah wanita yang sedang membelakangi dirinya itu.
"Yang mengatakan hal itu,siapa tadi?" Tanya Kenzo heran.
Asya menggelengkan kepalanya karena memang tidak ada yang mengatakan hal itu,hanya saja itu hanya pemikiran dirinya saja dan juga takutnya itu juga yang sedang di pikirkan oleh Kenzo..
"Hah,Aku itu galau karena hari pertama bukan nya menciptakan kenangan yang tak terlupakan malah harus mendapatkan gangguan yang bikin pusing!" Lirih Kenzo membuat Asya langsung membalikkan badan nya dan menatap tak percaya kearah Pria itu.
"Kamu ini kok malah berpikiran aneh aneh seperti itu,memang nya sudah tidak ada hari esok lagi?" Tanya Asya heran..
__ADS_1
"Iya sudah tidak ada hari esok karena aku ingin kita pergi nanti malam saat Elnara sudah bangun,karena nanti itu manusia bakal menggangu bulan madu kita!" sungut Kenzo.
"Apa? Astaga Mas,ini biaya sewa sangat besar tapi baru beberapa jam sudah ditinggalkan begitu saja?" Tanya Asya sangat tidak paham dengan apa yang ada di pikiran suaminya kini.
"Ya biarkan saja mungkin ini memang rejeki yang punya rumah,lagian yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya agar rencana mencari adek untuk El bisa terlaksana!" jelas Kenzo.
Uang bukanlah hal yang susah didapatkan oleh Kenzo Delano,karena pria itu selama ini sudah bekerja dan menabung serta membangun kerajaan bisnisnya sendiri.
Percayalah itu adalah demi Asya meskipun dahulu masih belum ada kepastian bagaimana perasaan wanita itu,namun ternyata kesabarannya selama ini malah berbuah manis.
"Mas,seperti nya isi otak kamu memang harus di pernak ulang biar lebih lurus jalan pikirannya!" Omel Asya karena tadi dirinya sempat merasa seperti di prank oleh suami nya.
"Aku mau lihat El dulu,soal nya kalau kelamaan bareng Papi nya lama lama Mami nya bisa stress!" Asya memilih menghindar karena sikap Kenzo yang mulai memegang sana sini di area tubuhnya.
Di lain tempat Norah begitu gelisah ketika Gerry sampai sekarang belum memberi kabar sama sekali,padahal dirinya sedang menunggu kabar dari putranya itu.
"Papa,ini anak kok sampai sekarang belum memberi kabar sama sekali? Apa dia tidak tahu kalau kita sedang cemas memikirkan dirinya dan Asya,sebab ia sangat ingin bertemu Asya yang sudah lebih dari setahun tidak bertemu.
"Sabar Mah,atau Mama yang menelepon dia saja Siapa tahu Gerry sibuk dan tidak sempat memberi kabar! Mama sendiri kan tahu bagaimana sikap Gerry kalau sudah ketemu Asya,pasti bakal melupakan segala galanya dan tidak tahu harus berbuat apa lagi!" jelas Dito.
Tanpa banyak bicara Norah langsung menghubungi Gerry dan berharap agar anaknya itu merespon panggilan tersebut,karena ini merupakan hal yang sangat ia nanti kan bahkan ia harus tidak bisa duduk berdiri dengan tenang.
Gerry yang sedang duduk disalah satu danau buatan yang ada di pinggir kota berlin,merasa jengah dan juga ingin membuang ponselnya kearah danau itu.
Mau tak mau ia harus mengangkat panggilan itu karena jika tidak otomatis maka Norah bakal menelpon terus,padahal dirinya sedang tidak ingin diganggu.
"Hemm kenapa?" Tanya Gerry malas.
"Anak nakal,kamu dimana terus Asya nya mana Mama mau ngomong dengan dia sekarang?" Tanya Norah antusias.
"Mama,bisa tidak jangan ganggu aku dulu!" Pinta Gerry pelan.
"Tidak bisa,karena kamu yang sudah membuat Mama Terganggu masa iya di suruh menunggu lagi!" Gerutu Norah tak mau kalah.
Tut
Sudah...
Gerry mematikan panggilan itu sepihak kareja jika tidak maka Norah bakal terus berbicara yang tidak jelas,padahal dirinya sedang sangat tidak ingin di ajak bicara.
Norah membulatkan matanya sempurna ketika Gerry mematikan panggilan itu begitu saja,padahal dirinya saja tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari anak muda itu.
"Pah,kita ke Jerman sekarang!" Perintah Norah tak ingin di bantah membuat Dito hanya bisa menghela nafasnya kasar.
Pria itu selalu saja dihadapkan pada dua pilihan yang sulit karena sikap Anak dan istrinya itu,yang selalu saja ingin agar apa yang mereka inginkan harusnya di ikuti.
"Mama,biarkan saja dia mengurus masalahnya sendiri dan juga kita jangan terlalu ikut campur karena dia bukan anak kecil lagi!" Bujuk Dito..
"Terserah dia mau anak kecil atau bukan,karena Mama hanya ingin bertemu dengan Asya bukan dengan Siapapun!" tegas Norah dan memilih pergi ke kamar untuk berberes dan pergi dari situ.
__ADS_1