Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 39


__ADS_3

Vina menatap tak percaya ke arah ponselnya yang sudah terlihat tidak ada panggilan yang masuk lagi, padahal dirinya masih ingin berbicara kepada Asya tentang keberadaan sahabatnya itu.


" ya Asya kok tega banget sih Aku kan masih ngomong masa iya langsung dimatikan panggilannya begitu saja, apa dia tidak merindukan sahabatnya yang cantik ini atau dia sekarang sudah mempunyai sahabat yang lebih baik dari aku? "tanya Vina monolog sebab dirinya tidak menyukai sikap Asya yang sekarang biasanya mereka berdua kalau ngobrol lewat Ponsel bakal memakan waktu berjam-jam tapi sekarang 5 menit saja belum sampai.


Vina membuang ponselnya asal karena membenci melihat benda persegi itu yang tidak mendukung keinginan hatinya sama sekali, padahal dirinya masih ingin sekali mengobrol dengan Asya tapi dimatikan secara sepihak bahkan tanpa ingin menanyakan kabarnya seperti biasanya.


" Hei ponsel Sialan gara-gara kamu yang tidak bisa membuat Asya tidak dapat mematikan ponselnya akhirnya kami berdua tidak bisa ngomong kan, Coba saja kalau kamu teknologinya sudah semakin canggih pasti tidak mungkin seperti begini kan?" sungut Vina yang hari ini merasa kesal nya minta ampun padahal dirinya sudah rela tidak ke kampus dan akhirnya keliling kota hanya untuk menghabiskan bensin yang penting pikirannya tidak suntuk eh tahu tahunya saat Asya menelpon ngobrolnya juga tidak lama.


sedangkan Asya hanya bisa termenung di dalam kamarnya karena selama ini dirinya tidak pernah memperlakukan Vina seperti itu, hanya saja dirinya juga belum siap jika mengakui semuanya kepada sahabatnya itu apalagi menceritakan tentang keberadaannya sekarang ini ada di mana.


Jika boleh meminta dan juga masalahnya tidak begitu rumit tidak mungkin dirinya bakalan menjauh seperti begini dari teman-teman yang selama ini mendukung dirinya tanpa Gerry ,nama yang sama sekali tidak ingin dirinya sebut dari sekarang dan selamanya nama yang ingin sekali dirinya tak mendengarkan .


" maafin aku karena sudah menyakiti hati kamu, maafin aku karena berbohong kepadamu untuk pertama kalinya! aku janji jika waktunya sudah pas aku bakalan pulang dan menemui kamu untuk minta maaf sahabatku, tapi untuk sekarang ini biarkan seperti begini saja! "lirih Asya sambil mengerjapkan matanya berkali-kali berharap agar air matanya tidak keluar.


sedangkan di luar Dewi hanya bisa menatap kearah pintu kamar putrinya itu berharap sang empunya segera keluar agar dirinya memastikan jika keadaannya baik-baik saja, karena jika hanya seperti begini saja terus dirinya tidak bakalan tenang sebab terus-menerus mengingat Asia yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya sama sekali.


" Asya kemana ya, kok sampai sekarang belum keluar juga? Memangnya mereka ngobrolin apa sih sampai lapar pun ditahan, Nanti kalau dia sakit gimana pasti bakalan menyiksa? " tanya Dewi membuat Rio Tak Tega ketika melihat istrinya begitu tersiksa.


" sayang, Biarkan saja dia ngobrol dengan teman-temannya siapa tahu dengan begitu dia bakalan melupakan masalahnya? ingat kita jangan terlalu mengekang dia ataupun membatasi semua kegiatannya, karena hal itu bakal membuat dia lebih Tersiksa Lagi dengan segala yang ia alami sekarang!" bujuk Rio agar istrinya itu kembali rileks dan tidak berpikiran yang macam-macam tentang Asya itu.


Dewi tidak merespon apa yang dikatakan suaminya itu dirinya hanya bisa menghela nafasnya kasar karena sepertinya yang dikatakan Rio memang tidak salah, hanya saja hatinya melarang jika dirinya berhenti mencemaskan Asya secara berlebihan.


" Sebenarnya apa yang dikatakan oleh mas Rio itu tidak salah, hanya saja kita juga tidak bisa dong menyalahkan Mbak Dewi karena terlalu cemas berlebihan kepada putrinya sendiri. Lebih baik kita berdoa dan berharap agar Asya selalu sehat, dan juga mau untuk kembali kuliah lagi karena Takutnya nanti dia bakal Tertinggal pelajaran yang begitu banyak dan mengulang nantinya. " Rianti Bukannya ingin menasehati orang yang lebih tua darinya hanya saja dirinya hanya ingin mencoba membuat pasangan suami istri itu tidak terlalu cemas berlebihan kepada anak gadis mereka.


" benar juga sih Apa yang kamu katakan sudah berulang kali aku mencoba supaya tidak terlalu memikirkan Asya ataupun mencemaskan dia terlalu berlebihan takutnya dia bakalan tidak nyaman, hanya saja terkadang sulit sekali untuk meredam rasa cemas yang berlebihan seperti begini Jadi sepertinya biarkan seperti begini saja tidak masalah yang penting intinya dia tidak merasa terganggu!" jelas Dewi dan semua orang di situ hanya bisa mengakui pemikiran wanita itu lagi yang tidak ada salahnya juga akan dirinya melakukan hal itu.


Kenzo yang hendak turun ke bawah untuk sarapan dirinya merasa bahwa di meja makan itu masih kurang satu orang, dan dirinya berharap jika orang tersebut ada di situ meskipun hanya menatap saja Kenzo merasa itu sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


" di mana dia, apa belum bangun atau dia sudah pergi? " tanya Kenzo dalam hati Karena penasaran dirinya pun memilih tidak langsung ke meja makan tapi berada tepat di depan kamar Asya.


persetan jika orang lain merasa heran dengan keberadaannya di situ karena menurutnya urusannya itu lebih penting daripada pemikiran orang lain, Sebab yang menjalani Ini semua adalah dia Jadi untuk apa mendengarkan pendapat orang lain Meskipun orang tua ataupun paman dan bibinya sekalipun.


ketika Kenzo mengetuk pintu Asya sudah hendak keluar dan menatap heran kearahnya, Bagaimana tidak heran kenapa pria itu lagi dan lagi berada di kamarnya Padahal semua orang sedang menatap kearah mereka berdua.


" Kamu ngapain kesini, arah meja makan itu ke bawah bukan ke kamarku kenapa malah kamu nongol di sini? " tanya Asya sambil memasang wajah cemberutnya membuat Kenzo ingin sekali mencubit gemas pipinya.


" Aku ingin memastikan Kamu kenapa tidak ada di meja makan karena sama saja kalau aku kesana tidak bakalan telan juga makanannya, jadi aku harus memastikan keadaan dan keberadaan kamu setelah itu membawa kamu ke meja makan untuk sarapan!" jelas Kenzo yang Bahkan tak peduli dengan Asya yang memasang wajah tak suka.


" apa peduli kamu kepadaku sudah makan atau belum Memangnya kamu siapanya aku, lebih baik kamu urus saja dirimu sendiri atau tidak kamu cari wanita mana ya mau sama kamu biar bisa kamu pedulikan dia jangan orang lain? " Asya tak tahu harus berbicara apa makanya dirinya mengatakan hal yang berada di pikirannya sekarang.


" Menurut kamu aku cocok tidak dengan wanita lain, soalnya aku merasa semua wanita di dunia ini tidak ada yang cocok selain yang berdiri di hadapanku sekarang! "ujar Kenzo dengan nada yang terdengar datar dan juga ekspresi yang sangat menyebalkan menurut Asya.


" lho kok bisa begitu Memangnya kamu pikir aku mau sama kamu? dari dulu sampai sekarang tidak ada niat didalam hatiku untuk mempunyai pasangan hidup yang tidak jelas sikapnya, terus kamu pikir juga Memangnya kalian pria itu adalah makhluk Tuhan yang paling baik? " setelah mengatakan hal ambigu yang membuat Kenzo Harus berpikir keras untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Asya barusan Wanita itu sudah pergi mendahului dirinya tidak ingin menoleh ke arahnya lagi sebab sudah cukup dibuat pusing setiap kali berdekatan dengannya.


" itu cara dia ngomong seperti tadi itu jangan bilang kalau aku sudah ditolak, Eh tapi kan aku belum mengatakan secara langsung Kalau aku menyukai dia kan tadi? " Kenzo terlihat linglung bahkan pria itu sampai kebingungan harus bersikap seperti apa.


" Kamu kenapa wajahnya kok seperti orang yang lagi penasaran, Memangnya Apa yang membuat Kamu jadi kelihatan seperti orang bego begitu? "tanya Rianti penasaran dengan ekspresi putranya itu yang terlihat berbeda dari biasanya yang santai dan tidak ingin direpotkan dengan hal-hal yang membuat dirinya pusing memikirkan segala sesuatu yang tidak penting.


Dewi yang melihat Asya sudah kembali dirinya langsung tersenyum ketika melihat ekspresi putrinya itu yang tenang seolah tidak terjadi apapun, dan dirinya yakin jika memang obrolan dengan Fina tadi tidak membuat putrinya itu menjadi terbebani dengan berbagai macam pikiran yang entah apa itu Dewi pun bingung harus memikirkannya.


" kamu ambil makanan yang baru nak soalnya tadi kayaknya sudah dingin, nanti kalau kamu paksa makan yang sudah dingin kamu bakalan sakit perut loh! " perintah Dewi sambil menyodorkan piring baru yang masih bersih yang belum dipakai sama sekali.


"enggak apa-apa mah makanan ini masih enak kok Lagian aku juga perginya belum sampai beberapa menit kan, daripada sayang makanannya menjadi terbuang percuma pada orang lain di luaran sana lagi kesusahan lho hanya untuk mencari makanan sisa!" tolak Asya sambil tersenyum membuat Rianti begitu tersentuh dengan perkataan keponakannya itu.


" hatimu Mulia sekali nak hanya saja tolong apa yang dikatakan oleh Mama kamu itu benar sekali, Lagian makanan ini di atas meja masih banyak Loh kenapa harus memakan makanan yang sudah dingin seperti begitu." jelas Rianti menimpali perkataan kakak iparnya itu karena memang tidak ada yang salah dengan perkataan Dewi barusan.

__ADS_1


" tidak masalah sih akunya yang penting Intinya bisa makan dan kenyang, nanti urusan yang lain tuh dipikirkannya belakangan saja yang penting intinya yang ada di depan mata pakailah! "ketika Asya hendak menyendokkan makanan kedalam mulutnya tiba-tiba cancel muncul dari arah samping dan mengambil piring serta sendok yang sedang dipegang oleh Asya.


setelah itu Kenzo duduk di tempat yang biasa dirinya duduk dan memakan makanan yang tadi Asya hendak makan, di dalam satu piring dan juga sendok bekas siap pakai bukan gak itu kata para penulis novel ciuman secara tak langsung?


" Hei kamu tuh kenapa sih selalu saja nyerocos lebih dulu, Itu kan makanannya aku Kenapa kamu main ambil begitu saja? "tanya Asya kesal karena sikap Kenzo yang menurutnya terlalu berlebihan.


Kenzo memilih tak merespon Apa yang diucapkan oleh semuanya karena menurutnya makanan itu dia mah kan bukan dibuang, jadi untuk HP Mereka terlihat begitu heboh ataupun penasaran kenapa dirinya melakukan hal itu padahal menurutnya tidak ada masalah sedikitpun yang harus dicemaskan.


" Kamu kenapa mengambil makanan miliknya Asya, Padahal di meja ini kan ada banyak makanan? kamu jadi orang itu kenapa tidak sopan sekali sih Kenzo, kamu mau buat mama marah secara langsung kepada kamu karena melakukan hal yang seperti begini ini? "tanya Rianti tak mengerti dengan jalan pemikiran putranya itu yang berbuat seolah-olah tidak ada orang lain lagi yang berada di situ.


" Mama kan tadi aku sudah bilang kalau makanan ini kan aku makan bukan ku buang, jadi Kenapa semuanya pada kepo ataupun terlalu menganggap sesuatu yang berlebihan, Memangnya ada yang salah ataupun ngelarang juga aku mengambil makanan bekasnya Asya yang sudah kalian suruh buang"? tanya Kenzo membuat semuanya bungkam tidak tahu harus berbicara apa karena nada bicara pria itu sudah mulai terdengar sewot tetapi tetap stay cool.


" Ya sudah tidak apa-apa lanjutkan saja Nak makannya, kamu juga mau ke kantor kan Nanti telat? Oh iya Asya bagaimana kalau mama ambilkan makanan kamu yang baru soalnya makanan Kamu tuh yang tadi kan sudah dimakan tuh sama Kenzo, nanti setelah itu baru Terserah kamu mau ngapain aja yang penting Intinya kamu makan!" tawar Dewi sambil menyerahkan piring kepada putrinya itu.


" Ya sudah nggak apa-apa Ma daripada aku kelaparan soalnya makanan aku kan diambil sama orang yang tidak tahu malu, yang inginnya hanya mencari ribut denganku agar aku merespon setelah itu bakalan terjadi perang dunia kesekian kalinya Karena sikapnya yang sangat menyebalkan itu! " jelas Asya sambil menatap sinis ke arah Kenzo.


" kamu mau ke kantor, Memangnya rencana kamu untuk membangun perusahaan properti jadi? " tanya Rio kepada keponakannya itu sebab dulu waktu dirinya datang ke situ Kenzo masih kuliah dan rencana setelah lulus dirinya bakalan membangun perusahaan properti yang bakal mengalahkan perusahaan yang ada di negara itu.


" Iya paman karena memang dari dulu hobiku adalah bisnis properti jadi setelah kuliah Papa membantuku untuk modal berupa pinjaman, setelah aku berhasil baru kuganti uangnya dan semuanya itu sudah terlaksana baru-baru ini juga sudah membuka satu lagi cabang di daerah Rotterdam! " Jelaskan Kenzo sambil tersenyum tetapi percaya tidak senyumannya itu bukan ke arah Rio melainkan ke arah Asya yang sedang menatap sinis ke arahnya.


" ini orang aneh banget deh masak ngomong sama paman sendiri tapi matanya ke arah tempat lain, setidaknya dikondisikan lah memangnya Dia pikir di dunia ini yang hidupnya dia sendiri dasar manusia tidak jelas? " gumam Asya dalam hati karena tidak mengerti dengan jalan pikirannya Kenzo yang seolah semua yang ia lakukan itu tidak bakalan mengundang pertanyaan orang lain yang berada di situ.


" Mas tahu tidak waktu dia mau mendirikan perusahaannya kan aku nggak mau soalnya perusahaannya Mas George dan juga showroom nya tidak ada yang bantu urus, tapi ternyata anak kami yang semata wayang ini maunya Mandiri terus dan akhirnya George yang sudah tua tetap saja harus bekerja karena tidak ada yang melanjutkannya! " Rianti mengatakan hal itu karena memang sesuai dengan kenyataan sikap keras kepalanya Kenzo yang dari dulu tidak pernah berubah.


" sebenarnya lebih bagus sih Om Kalau dianya Mandiri agar Sombongnya itu sesuai dengan kenyataan, daripada hanya ngomong doang tapi tidak ada buktinya sama sekali kan Percuma saja? jadi Lain kali kalau memang dia tidak mau menerima bantuan Om sama Tante ya biarkan saja, Soalnya kita juga bukan pengemis jadi harus memaksakan seseorang yang sebenarnya tidak ingin." Sindir Asya sambil menatap kearah Kenzo yang seolah sedang mencerna apa yang ia katakan barusan.


" ya maka dari itu Tante selalu membiarkan saja kalau memang dia mau melakukan sesuatu sekehendak hatinya dia, ngapain juga terlalu memikirkan seolah di dunia ini hanya tenaganya saja yang harus dibutuhkan orang lain tidak bisa bergerak sama sekali begitu. "sungguh jika Rianti gabung jurus dengan Asya keduanya adalah perpaduan yang sempurna tidak mudah terbantahkan tapi seorang Kenzo juga tidak mungkin diam begitu saja dan hanya mendengar harga dirinya dijatuhkan.

__ADS_1


" kalian itu sebenarnya merasa iri kepada kemampuan saya atau memang mempunyai maksud yang baik dibalik semua perkataan Kalian tadi, memangnya kalau saya Mandiri apa ada hidup yang langsung berhenti Bernafas saat itu juga atau mungkin rumah yang tidak mendapat jatah makanan karena saya yang memilih untuk memakai sebidang tanah membangun sebuah bangunan? "tanya Kenzo telak membuat Rianti dan Asya kebingungan harus menjawab apa sebab apa yang dikatakan oleh Kenzo saya tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


" Apa yang kamu katakan barusan itu tante juga setuju nak, karena dengan kamu membuka sebuah perusahaan baru otomatis pasti banyak sumber daya manusia yang bakalan terserap dan dengan begitu tidak ada yang bakalan menganggur ataupun kelaparan di luar sana karena secara tidak langsung kamu sudah menyediakan kehidupan bagi mereka." Kenzo menaik-turunkan alisnya sambil menatap ke arah Asya karena dirinya merasa di atas angin sebab Dewi membelanya.


__ADS_2