Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 27


__ADS_3

Dewi hanya bisa tersenyum ketika mendengar adik iparnya itu memarahi Putra mereka, padahal sebenarnya sedang memikirkan Tasya yang tadi Jangan Teganya Mengunci pintu dari dalam dalam.


" tadi itu ada ketemu dia di atas kok tapi katanya mau mandi soalnya udah lengket banget, jadi Bukannya tidak mau menemani kami hanya saja dirinya tidak mungkin juga akan turun ke bawah dalam keadaan bau keringat! " jelas Dewi membuat George hanya bisa menghela nafasnya kasar.


George tau bagaimana kelakuan putranya itu yang selalu saja lebih menyukai kesendirian, bahkan dirinya sebagai seorang ayah pun kebingungan harus melakukan apa agar pria itu paham.


" sekali lagi maafkanlah anak itu yang tidak pernah menyukai keramaian, jadi biarpun sudah tua itu tapi sampai sekarang kami juga belum kunjung mendapatkan menantu!" jelas George membuat Dewi sama suami tidak bisa berbuat banyak karena Biar bagaimanapun urusan jodoh itu hak milik semua orang tidak ada yang bisa mengganggu gugat.


" Ya jelaslah Dia belum menikah sampai sekarang orang pilih pasangan hidup saja kasih standarnya begitu tinggi, padahal mama tidak pernah keberatan dengan siapapun dia berhubungan karena bagaimama Tuhan itu sudah menciptakan kekurangan dan kelebihan orang masing-masing jadi kita manusia biasa tidak bisa untuk menjelekkan ciptaannya itu!" Ketus Rianti mengingat sikap Putra semata wayang mereka itu.


" ya mungkin dia belum menemukan yang pas jadi kita sebagai orangtua tidak bisa dong memaksakan kehendak, jadi lebih baik Biarkan saja sampai di mana dia bertahan dan sampai dimana dia bakal memilih seseorang yang bakal selalu ada disampingnya!" jelas Rio yang tidak ingin adik perempuannya itu terlalu mencampuri urusan keponakannya.


" Iya tapi mau sampai kapan, umurnya saja sudah mau kepala tiga masa iya harus lebih menunggu lagi? Nanti keburu aku sudah tidak ada nyawa suamiku juga barulah dia menentukan pilihan, Percuma saja dong juga melakukan sesuatu yang pada akhirnya tidak bisa membahagiakan orang yang berada dalam rumah!" ujar Rianti kesal.


" kamu hanya ngobrol saja sudah siapkan makan malam buat kita semua atau belum, jangan jadi kebiasaan deh segala sesuatu harus diingatkan seperti kelakuan putramu itu?" tanya George sambil menyindir istrinya agar tidak menyalahkan orang lain terus padahal dirinya juga jelas-jelas telah membuat kesalahan.


Rianti mendengus kesal mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya barusan memang benar Kenzo itu adalah putranya, tidak perlu juga kan mengaitkan dirinya dengan sikap Kenzo yang menyebalkan itu.


" eh papa kalau ngomong itu sesuai fakta dong Memangnya kamu pikir Kenzo itu adonannya aku sendiri yang buat, Kalau tidak ada campur tangan dari kamu yang mana bisa terjadi seperti sekarang ini?" tanya Rianti tak terima jika hanya dirinya saja yang disalahkan.


sedangkan Rio dan Dewi hanya bersikap sebagai penonton saja tidak ingin mencampuri urusan suami istri yang sedang berdebat itu, sebab terdengar dari tadi keduanya memang merupakan orang yang suka sekali bercanda sambil memainkan peran agar emosi pasangan di ambang batas.


" ya sudah Kenapa malah Bengong di sini Ayo kita ke meja makan tapi nanti aku lagi Panggil Kenzo sama Asya dulu, agar kita bisa makan malam nih sama-sama soalnya kasihan mereka berdua juga pasti kelaparan banget karena sibuk dengan urusan masing-masing!" setelah mengatakan hal itu Rianti segera menuju ke kamar Kenzo yang disampingnya merupakan kamar Asya.


" Ayo Mas sama Mbak kita ke meja makan yuk, jangan kaget saat istriku mendadak tidak peduli seperti begini karena biar bagaimanapun dia selalu mementingkan kepentingan Kenzo aku sebagai suaminya pun kadang-kadang merasa iri!" canda George ketika mengingat kelakuan istrinya itu yang selalu saja supersibuk jika menyangkut Putra mereka apalagi sekarang sudah ada Asya.


" Aku sebenarnya juga mau pergi Panggil Asya tapi kalau sudah diwakilkan oleh Riyanti Ya sudah tidak masalah, lebih baik kita ke meja makan agar saat mereka turun kita bisa makan malam bareng!" sahut Dewi lalu bergegas menuju ke meja makan tempat semua santapan yang disukai oleh suaminya telah disediakan oleh Riyanti.


Rio tersenyum ketika melihat isi meja makan itu adiknya memang selalu tahu apa yang dirinya ingin kan, dirinya tidak perlu mengatakan capek-capek ternyata sudah dipahami lebih dulu sungguh beruntung memiliki saudari perempuan seperti itu.


di depan kamarnya Kenzo tampak Rianti ingin mengetuk pintu tetapi niatnya itu langsung diurungkan ketika pintu terbuka dengan sendirinya, ternyata Kenzo sudah anda keluar dengan berpenampilan yang rapi khas rumahan yang biasa pria itu pakai.


" Mama mau ngapain, kok bisa berada tepat di depan kamarku? Padahal aku sendiri juga mau pengen keluar loh, tapi cuma kalau memang mama sudah ada di sini ya sudah!" ujar Kenzo sambil tersenyum.

__ADS_1


" Mama mau panggil kamu untuk makan kan soalnya udah ditungguin tuh sama paman dan bibi kamu, nanti kamu lebih dulu ke sana saja biar mama yang panggil Asya untuk menyusul ke bawah!" ujar Rianti yang sudah membalikkan tubuhnya tapi segera dicegah oleh Kenzo.


pria itu begitu antusias ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Rianti barusan, dirinya juga ingin sekali bertemu dengan Asya yang tadi sengaja menghindari dirinya.


" Mama lebih dulu Turun ke bawah deh biar nanti kalau Asya aku yang panggilkan, aku janji kami berdua tidak bakalan lama pasti sudah langsung menyusul!" tawar Kenzo mencoba untuk bersikap biasa saja agar sama mama tidak curiga yang berlebihan lagi sebab nanti dirinya bakal bohong seperti yang dilakukannya pada Dewi.


Rianti menatap heran ke arah putranya itu yang selama ini sebenarnya tidak mau peduli dengan urusan orang lain, tapi sekarang ini kok bisa bisanya sibuk sekali dengan Asya.


" kamu sehat kan? " tanya Rianti penasaran membuat Kenzo mengerutkan keningnya karena merasa heran dengan pertanyaan mamanya barusan.


" maksud Mama apa ya, Sejak kapan aku sakit orang ada sehat begini Kok malah ditanya yang tidak-tidak?" tanya Kenzo heran.


" Oh syukurlah kalau begitu kamu sehat-sehat saja, soalnya aneh saja sih melihat kamu yang antusias meminta untuk membantu memanggilkan Asya?" Tanya Rianti sambil tersenyum.


" Ih Mama bukannya Terima kasih karena sudah ditawarkan bantuan kok malah meledekku, Memangnya ada yang salah dengan tawaran aku kasih kalau memang salah Ya sudah aku lebih dulu ke meja makan!" kesal Kenzo yang sudah hilang semangatnya untuk bertemu dengan Asya.


setelah mengatakan hal itu Kenzo pun langsung turun ke bawah tanpa menunggu tanggapan dari sang mama, sebab dirinya sebenarnya bukannya marah hanya saja bingung harus merespon seperti apalagi ketika pertanyaan yang dilontarkan oleh Rianti itu sungguh membuat dirinya kebingungan untuk menjawab.


" ya kok dia main pergi begitu saja perasaan aku tadi hanya bercanda saja deh, tapi ya sudah terserah dari dianya saja anak zaman sekarang coding omongin orang tua bukannya dengar malah merasa diri paling benar sendiri?" sungut Rianti lalu segera menuju ke kamarnya Asya dan mengetuk pintunya dari luar.


Asya yang sudah selesai mandi mengerutkan keningnya ketika mendengar teriakan Rianti dari pintu, karena tidak ingin dikatakan sebagai anak yang tidak sopan dengan segera Asya pun membuka pintu dan mempersilahkan Rianti masuk.


" Iya Tante Ayo masuk ke dalam!" ajak Asya.


" Ih bukan tante ya masuk tapi kamunya yang keluar soalnya sudah ditungguin tuh sama semua orang di meja makan, Lagian kamu kok mau saja sih tidur dalam keadaan lapar Memangnya bisa tahan ?" tanya Rianti sambil tersenyum.


" Oh ya sudah kalau begitu aku nanti ke sana deh, tante lebih dulu saja nanti aku bakal nyusul!" sahut Asya.


" big no, Nanti mama kamu itu bakalan ngambek kalau tante kesananya sendirian! Kamu kan tahu dia orangnya seperti apa kalau sampai kamu tidak ikut muncul, Sudahlah cari aman itu kan lebih indah daripada nanti bakalan ribet urusannya!" sahut Rianti tegas sambil menggoyangkan tangannya memberikan tanda penolakan.


Asya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena dirinya tidak mungkin juga akan membantu wanita paruh baya yang tengah berdiri di hadapannya kini, karena Biar bagaimanapun ajakan yang dilontarkan oleh Rianti itu tidak ada salahnya.


" Baiklah Tante nanti aku bakalan nyusul kok sekarang juga Tante Jalan lebih dulu Aku ingin ikut dari belakang, aku juga sedang kelaparan Jadi tidak mungkin dong mau menunggu saja di sini dengan memakan angin!" jelas Asya membuat Rianti tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar perkataan yang dilontarkan oleh keponakannya itu.

__ADS_1


" sudah tahu kalau makan angin itu tidak ada enaknya sama sekali tapi kamu masih saja tetap mempertahankan ide pemikiran kamu yang tidak jelas satu itu, rasanya sudah tidak enak perut bikin begah dan lebih parahnya duduk berdiri pun salah. nanti dikiranya kita tidak kasih makan Kamu lagi, Kamu sudah tahu kan Gimana rempongnya mama kamu itu kalau sampai anak gadisnya kenapa-napa bisa-bisa seisi rumah ini didobrak hancur habis sama dia!" jelas Rianti membuat Asya benar-benar tak bisa menahan tawanya sampai keduanya berbincang-bincang menuju ke meja makan.


Tanpa Asya sadari jika dari tadi ada sepasang mata yang sedang menatap kearahnya,bahkan bisa di bilang sampai tidak berkedip.



Asya yang merasa badannya tidak enak memilih untuk menggunakan sweater tebal agar lebih merasakan hangat, apalagi cuaca yang sedang memasuki musim dingin membuat dirinya yang sedang tidak fit menjadi lebih tidak bisa bertahan.


di pemandangan Kenzo jika Asya malam ini terlihat begitu imut, dan dirinya mengakui jika sangat mengagumi sosok yang tengah berjalan bersama Mamanya itu sambil bercengkerama.


George melihat Ke mana arah tatapan putranya itu menjadi tersenyum sendiri karena merasa lucu, dirinya pun mendekati Kenzo dan membisikkan sesuatu yang membuat Kenzo menatap heran ke arah Papanya Itu.


" Woi jangan terlalu dilihatin ingat di di depan kamu sekarang ada Papa sama mamanya dia, nanti kalau kedapatan kamu sedang mengamati anak gadis orang kan urusannya bisa berabe?" goda George membuat Kenzo menatap tak percaya ke arah Papanya Itu yang Ternyata pengamatannya begitu jeli.


" papa kalau ngomong jangan sembarangan dong memangnya aku sedang memperhatikan anak orang apa, orang aku saja dari tadi tidak terlalu merespon kehadirannya kok bisa bisanya Papa berpikiran sampai begitu?" tanya Kenzo tak terima sehingga membuat George ingin sekali tertawa untuk membungkam rasa percaya diri putranya itu.


" iya benar sekali apa yang kamu katakan, tapi apa jadinya ya kalau mulut berbicara tidak sedangkan mata sedang jelalatan ke sana ke mari menatap ke arah yang tak seharusnya?" tanya George sambil menaik turunkan alisnya membuat Kenzo mendengus kesal karena papanya itu sudah merusak mood-nya hari ini.


Dewi dan Rio menatap heran ke arah Ayah sama anak itu yang dari tadi berbisik-bisik, entah apa yang mereka bisikan belum lagi wajah Kenzo yang begitu tidak bersemangat. seolah ada kata-kata dari George yang menyinggung perasaannya, tapi mau bagaimana lagi bukan ke obrolan seperti begitu bisa mendekatkan mereka berdua agar terlihat tidak terlalu jauh dan Canggung.


" holla semuanya kok malah duduk bengong, Memangnya yang melarang kalian untuk makan lebih dulu itu siapa? Asya Kamu duduk tuh di samping Kenzo biar kalian lebih akrab, soalnya dia yang akan mengantar kamu pulang pergi ke kampus daripada kamu jalan sendirian terus naik angkutan umum kan jadinya ribet!" tawar Rianti membuat Asya menatap tak percaya kalau wanita terbaik yaitu ku bisa-bisanya menawarkan sesuatu yang paling dirinya tak suka.


" aku kalau jalan sama dia lebih baik sekalian jadi pengangguran kelas kakap saja, lagian ini Tante Rianti tega banget sih sudah tahu anaknya itu kaya Kanebo kering Kok bisa bisanya menyuruh aku untuk akrab dengannya?" gumam Asya dalam hati karena tidak tega juga sih menolak secara langsung tawaran yang diberikan secara tulus seperti itu.


" nanti dia aku bakalan belikan mobil saja dek, soalnya kasihan kalau harus nebeng terus sama Kenzo sedangkan kan dia tinggal di sini terus kami bakalan membeli rumah sendiri!" tolak Rio yang menyadari dari tadi wajah putrinya itu sedang tidak bersahabat.


mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya itu membuat Rianti menatap kesal, baru saja dirinya merasa senang karena rumah kembali ramai eh sekarang malah sudah menyebut untuk tinggal rumah sendiri kesal tidak?


" Mas kok gitu sih Perasaan baru datang deh tadi sekarang langsung ngomongin untuk pindah rumah, Memangnya disini kurang nyaman atau kurang luas sampai-sampai pengen tinggal sendiri?" tanya Rianti memastikan.


" Iya benar sekali apa yang dikatakan Rianti tadi, rumah ini luas untuk kita berenam. jadi otomatis tidak bakalan terganggu atau pun merasa seperti tidak nyaman, kalau memang jika merasa rumah ini tidak terlalu luas kita beli yang lebih besar lagi agar ukurannya!" George menimpali perkataan istrinya itu.


" aku tidak bakalan keberatan kok jika tiap hari mengantar jemput saya pulang, kesibukanku di kantor juga tidak sepadat amat sih jadi tidak terlalu memakan waktu!" sahut Kenzo sambil menatap kearah Asya yang malah membuang muka tidak ingin melihat pria itu.

__ADS_1


" kalau kamu mau itu artinya aku yang bakalan keberatan, karena aku tidak ingin ada namanya balas budi atau pun balas jasa Lebih baik sendiri untuk Mandiri daripada sendiri untuk membuat orang lain kesusahan!" jelas Asya Ketus karena tidak menyukai dengan jawaban yang diberikan oleh Kenzo tadi.


__ADS_2