Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 19


__ADS_3

semua menatap heran arah Dev yang terlihat begitu khawatir kepada Asya, padahal sebenarnya mereka baru saja bertemu dan selayaknya orang asing.


" Maksud Anda apa Tuan menanyakan hal itu kepada Asya?" tanya Rama penasaran membuat Dev akhirnya sadar dengan tingkahnya barusan.


" Maksud kamu apa bertanya balik, nanti kalau dia kenapa-napa di pesawat ini apakah tanggung jawab siapa?" tanya Dev yang pura-pura tidak menyukai Jika sakit di dalam pesawat dan membuat dirinya yang bakalan merasa ribet.


" kamu tenang saja saya bukan tipe orang yang tidak tahu berterima kasih, sampai tempat tujuan pun saya masih sehat walafiat tidak bakalan membuat semuanya susah." sinis Asya karena merasa Jengah dengan sikap Dev yang terlihat berlebihan.


"Baguslah kalau kamu sadar dengan begitu saya bisa tidur dengan tenang, ingat Kalau bisa secepatnya minum obat biar jangan membuat susah semua orang! " ujar Dev membuat semua orang hanya bisa menghela nafas kasar sedangkan Rama senyum-senyum sendiri karena baru kali ini melihat tuhan yaitu begitu perhatian terhadap seorang wanita.


" jangan melupakan Nona Rebecca, tuan. karena saya yakin nyonya besar bakalan marah!" bisik Rama sambil tersenyum mengejek membuat Dev menatap kesal ke arahnya.


" kamu kalau bicara jangan suka sembarangan apalagi menyebut nama wanita yang menyebalkan itu di hadapanku, urusan mama itu menjadi tanggung jawab aku tidak usah kamu pikirkan sama sekali!" Ketus Dev karena tidak menyukai jika ada orang lain yang menyebut nama Rebecca wanita yang paling dirinya benci.


" tapi sepertinya nyonya besar tidak bisa diajak kompromi jika menyangkut Nona Rebecca, sepertinya Anda harus mencari wanita pengganti yang lain agar nyonya besar tidak terlalu memaksakan kehendak!" goda Rama sambil menoleh ke arah Asya dan Dev membuat pria itu mengerutkan keningnya.


" Maksud kamu apa mengatakan hal itu, Lain kali kalau tidak punya bahan untuk dibicarakan Lebih baik diam karena itu terasa lebih menyenangkan!" sinis Dev karena tidak menyukai sikap Rama yang terkesan seperti mengejek dirinya yang tidak tahu menahu soal berhubungan dengan wanita.


" ini orang ngomong apaan sih pakai bisik-bisik segala, jangan bilang kalau mereka bakal melakukan hal yang tidak-tidak?" tanya Asya dalam hati karena merasa aneh dengan Sikap yang ditunjukkan kan oleh Dev dan asistennya itu.


Asya memilih melanjutkan perjalanan dengan tertidur sebab kepalanya sedang tidak bisa diajak kompromi apalagi mabuk perjalanan yang sedang dirinya rasakan.

__ADS_1


sedangkan Dev sekali-sekali mencuri arah pandang ke arah Asya yang terlihat seperti sangat tidak nyaman dengan tertidur Dalam posisi duduk, ingin dirinya membantu wanita itu hanya bingung mulai darimana bicaranya sebab keduanya tidak akrab dari awal bertemu tidak seperti Rama yang selalu saja cepat bergaul.


" aku sepertinya pernah melihatnya tapi dimana ya, kok bisanya melupakan hal sepenting ini? soalnya wajahnya itu sangat tidak asing menurutku tapi di mana kami ketemunya, atau Kami memang tidak pernah bertemu hanya aku pernah melihat wajahnya secara tidak sengaja?" batin Dev mencoba untuk mengingat di mana Dirinya pernah bertemu dengan Asya.


Dewi sebenarnya dari tadi melihat kearah Dev yang terlihat begitu fokus menatap Asya, padahal seingat wanita paruh baya itu selama ini ia tidak pernah memiliki kenalan yang jauh lebih dewasa darinya selain Gerry.


berbicara soal Gerry hari pertama dilaluinya di kota Manchester City dengan hanya bermalasan saja di kamar, dirinya seolah tidak memiliki semangat hidup sebab hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Asya yang dikiranya masih stay di tanah air.


dipandangnya wallpaper ponselnya yang menampakan wajah Asya yang sedang tersenyum, membuat dirinya secara tak langsung merindukan wanita itu. karena sebenarnya rutinitasnya tiap hari yaitu menjemput Asya serta mengantarnya kembali ke rumah dengan selamat.


" gimana keadaan kamu di sana, maafkan aku ya yang sudah sangat jahat kepada kamu! tapi aku mohon dengan sangat Tolong jangan menangis terus, karena nanti aku bakal tidak tenang di sini!" tanpa Gerry sadari ataupun tidak sumber air mata yang Asya keluarkan itu adalah darinya yang sudah dengan tega menghancurkan masa depan gadis itu hingga sekarang layaknya burung yang sedang mencari tempat yang pas untuk ditinggali.


Padahal sebenarnya dari awal rencana Gerry untuk pindah ke sini yaitu melupakan kejadian yang telah dirinya alami bersama Asya, sehingga rasa bersalah itu tidak terlalu nampak di permukaan dan membuat dirinya harus terngiang-ngiang seumur hidup.


setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh dan melelahkan pesawat yang mereka tumpangi sudah mendarat sempurna di Bandar Udara Den Haag Rotterdam, Belanda.


Asya dan Om serta pantun yang merasa lega karena Akhirnya bisa sampai dengan selamat dan ingin segera pergi ke tempat tujuan mereka, tapi berbeda dengan Dev yang sepertinya enggan berpisah dengan Asya.


" akhirnya kita sampai juga, Selamat datang di kehidupan yang baru jangan bersedih atau pun mengingat masa lalu karena kamu ke sini untuk membangun masa depan dan membanggakan orang yang selama ini selalu ada untuk kamu!" gumam Asya yang tanpa sadar didengar oleh Dev yang berada di belakangnya pria itu mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Asya itu.


" kamu tidak lagi sedang menjadi seorang buronan kan, karena aku tidak ingin menjadi orang yang ikut terlibat dengan masalah kamu?" tanya Dev tiba-tiba muncul di belakang Asya membuat wanita itu terlonjak kaget.

__ADS_1


" kamu tuh kenapa sih selalu saja muncul secara tiba-tiba, kamu punya memaksa kamu buat ikut ke pesawat kamu bukan kamu yang minta ataupun memelas kayak pengemis? lagian yang mesti dicurigai sebagai penjahat itu kan kamu bukan kami, sebab dari kemarin tingkahnya selalu aneh!" Sungut Asya tajam sebab dari kemarin Dev selalu saja menguji kesabaran nya.


" habisnya tingkah kamu tuh selalu mencurigakan, mau tidak mau orang pasti punya pemikiran yang aneh-aneh tentang kamu! Lain kali itu kalau mau melakukan sesuatu dipikir dulu, agar jangan menimbulkan kecurigaan di dalam pemikiran orang lain sehingga mereka bakal ngomong yang aneh-aneh!" jelas Dev membuat Asya kesal kepadanya.


" Om sama Tante kita pergi yuk, Soalnya kalau lama-lama di sini sepertinya aja nggak bakalan sembuh deh soalnya bawaannya pengen marah terus!" ajak Asya sambil menoleh ke arah Dev yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Ya sudah kalau begitu, Terima kasih tuan Dev karena sudah memberikan tumpangan untuk kami!" ujar Rio dan Dewi Tulus dan hanya di anggukan kepala oleh Dev tanpa niat untuk menjawab membuat Asya bertambah kesal.


" Kak Rama Makasih banyak ya sudah nemenin kita selama di sini, Coba kalau tidak ada kakak pasti bakal merasa bosan karena Tiap hari hanya melihat tembok yang mukanya sudah seperti Kanebo kering!" Asya tersenyum ke arah Rama yang sangat berguna sekali saat-saat yang seperti begini.


sedangkan Dev menatap tak percaya ke arah Asia yang seolah tak menghargai keberadaannya di situ, padahal yang jelas-jelas menawarkan bantuan adalah dirinya kenapa malah ucapan terima kasih itu ditujukan kepada Rama?


" kamu tidak ada niat mau ucapkan terima kasih kepadaku begitu?" tanya Dev meyakinkan.


" tidak ada!" sahut Asya singkat padat dan jelas membuat Rio dan Dewi hanya bisa menggelengkan kepala karena melihat keceriaan keponakan mereka yang sudah kembali hanya karena berdebat dengan Dev.


" mama senang deh kalau lihat dia kembali ceria seperti begitu, daripada dia hanya menangis di mengurung diri di Mama juga ikutan bersedih?" Dewi mengatakan hal itu sambil mengusap air matanya yang turun tanpa diminta.


" iya Ma. Papa juga harus Semoga dia kembali tersenyum dan tidak lagi memikirkan kesedihannya, Apapun Yang terjadi kita tidak boleh menyalakan dia ataupun mengabaikannya karena hanya kita yang dia punya dananya dia yang kita punya!" pinta Rio sambil mengusap pelan bahu istrinya itu.


" Tadi Papa sudah hubungi Rianti atau belum kalau kita sudah sampai, soalnya Asya perlu istirahat mukanya Masih kelihatan pucat gitu?" tanya Dewi memastikan.

__ADS_1


Dev yang kebetulan memiliki salah satu unit apartemen di negara itu, langsung buru-buru menawarkan tumpangan kepada Rio dan juga para pengikut nya. karena kasihan juga jika pergi tapi mereka masih tetap menunggu jemputan kita seolah-olah dirinya merupakan pria yang paling tidak punya hati, Minta lah terserah dirinya mau menawarkan bantuan atau tidak.


__ADS_2