
Asya menatap heran kearah Kenzo yang malah memilih mengajak dirinya pulang,sebab pria itu tadi mengatakan bahwa dirinya sedang memeriksa berkas yang ada kenapa malah mengajak dirinya pulang.
"Lho tadi katanya mau melihat pekerjaan yang ada disini,kenapa malah pulang sekarang memang nya bagaimana dengan semua yang ada disini?" Tanya Asya heran dan enggan beranjak dari situ.
"Mereka semua itu tidak penting karena kamu yang paling penting,lagian juga kan masih ada hari esok kenapa harus begitu di dipusingkan?" Tanya Kenzo tidak terima dengan semua yang ada.
"Tapi hari esok juga kan masih ada pekerjaan lain yang tidak bisa di tinggalkan,tidak baik menunda nunda pekerjaan hanya karena malas atau ada urusan yang masih bisa di tunda?" Tanya Asya sembari menarik tangan Kenzo agar ikut dengannya.
Sejak kapan Kenzo bisa menolak dengan apa yang di perintahkan Asya padanya,sebab baginya perintah dari Asya itu adalah hal mutlak yang tidak dapat di tolak.
"Baiklah tapi kamu bakal temani aku terus kan disini,soalnya aku lagi butuh semangat yang membara agar ini benda sialan bisa segera habis dan kita pulang." Ajak Kenzo dan hanya di angguki kepala oleh Asya.
Ketika Kenzo sedang bekerja ,Asya hanya bisa menatap sendu kearah pria itu yang terlihat begitu serius tapi sangat tampan apalagi memakai kacamata.
Pria yang selalu saja ingin menjaga dirinya,belum lagi dengan keadaan ruangan tempat dirinya berada begitu banyak foto Asya yang tertempel di dinding mulai dari dirinya yang masih berumur belasan sampai sekarang.
Dirinya saja bingung kira kira mulai dari kapan Kenzo mengumpulkan ini semua, padahal dirinya saja selama ini tidak ada kepikiran untuk menyimpan foto pribadinya mulai dari dulu sampai sekarang karena baginya itu sama saja dengan mengingat masa kelam yang begitu menyakitkan.
Tetapi berbeda dengan Kenzo yang malah terlihat begitu semangat untuk melakukan itu semua,dirinya bahkan tidak tanggung tangung melakukan itu semua hingga bertahun tahun.
Entah mulai kapan pria itu melakukan hal yang menurut Asya konyol,tapi sangat berkesan untuk nya.
"Kamu itu terlalu sempurna untuk orang seperti ku,apa memang kita pantas bersanding atau hanya memaksakan diri saja?" Tanya Asya dalam hati.
Hanya saja dirinya tidak mungkin juga kan bertanya secara langsung,karena itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri dan juga melanggar hak orang lain untuk berpikir ataupun mengemukakan apa yang di inginkan.
Hanya saja tetap saja rasa penasaran itu tak pernah hilang,sebab dirinya sedang di buat kebingungan dengan segala sesuatu yang dipikirkan tapi tidak bisa di ungkapkan.
"Kamu kenapa diam saja,apa mau menonton atau mau ngemil?" Tanya Kenzo yang masih sempat sempatnya memikirkan Asya di sela kesibukan nya.
"Aku bisa sendiri!" Sahut Asya cuek karena masih saja memikirkan hal yang tidak bisa hilang dari benak nya.
"Tapi kalau kamu diam saja tanpa berbuat sesuatu aku jadi tidak enak hati,takutnya kamu menjadi bosan dan tidak betah berada disini?" Tanya Kenzo pelan agar Asya tidak salah paham.
"Aku mau pergi dari sini dan juga...
"Baiklah kalau begitu kita pulang sekarang!" Sahut Kenzo yang langsung memotong apa yang di katakan oleh Asya hingga kata kata yang di keluarkan oleh wanita itu membuat Kenzo menghentikan niatnya itu.
"Aku mau pergi dari sini dan juga dari KAMU serta dan semuanya!" Ujar Asya pelan tapi pasti.
Deg
Nafas Kenzo memburu bahkan seakan tercekat berhenti di tenggorokan nya,pria itu merasa sakit dalam dadanya dan juga seakan ditusuk ribuan jarum yang tidak kasat mata.
Sakit,tapi tak berdarah...
Patah,tapi bukan tulang ataupun kayu...
Sedih,tapi tetap tersenyum..
Itulah yang di rasakan oleh Kenzo,pria itu bahkan mencoba untuk tetap melangkah meskipun langkah kakinya seperti mengambang begitu saja di udara seolah tanpa ada pijakan sama sekali.
"Sayang,kamu...
"Aku capek Mas,aku malu pada kamu dan juga orang tua kamu. Aku yakin meskipun mereka terlihat menerima kehadiran ku,tapi sebagai menantu sepertinya itu sangat mustahil." Lirih Asya yang entah mengapa tiba tiba menjadi berubah pikiran dengan semua yang ada.
Apalagi setelah melihat begitu banyak gambar dirinya di dalam ruangan Kenzo,kalau dulu ia masih suci tidak masalah tapi kini dirinya kotor dan juga tak pantas kehadirannya malah membuat orang lain menjadi tidak bebas untuk menjalani hidup mereka sendiri.
"Sayang...
__ADS_1
"Mas,aku tidak ingin di kasihani. Aku juga tidak ingin menjadi benalu karena anak ini dan demi mendapat seorang Ayah agar tidak di kira anak haram oleh orang sekitar!" Sambung Asya lagi yang entah mengapa tidak ingin mendengarkan sedikitpun dari perkataan Kenzo yang takutnya bakal membuat dirinya menjadi berubah pikiran.
"Asya Malika Delano tolong..
"Stop! Aku Asya Malika Dirgantara dan tidak akan ada pernah nama Kamu di sana!" tegas Asya dengan nada yang sedikit meninggi bahkan terkesan membentak sampai membuat Kenzo lemas seketika.
Pernikahan,,
Padahal tadi pagi merupakan saat yang paling menggembirakan untuknya ketika hendak mendaftarkan pernikahan dirinya dan Asya tapi sekarang....
"Sayang....
Kenzo yang memang menderita darah tinggi langsung pingsan karena tidak mampu mengontrol emosi,untung juga tidak ada yang bermasalah dengan pembuluh darahnya kalau tidak entah apa yang terjadi...
Asya yang melihat Kenzo jatuh tak sadarkan diri di hadapannya membuat dirinya langsung berteriak histeris,sampai Millen yang berada di ruangan nya langsung segera berlari kearah ruangan nya Kenzo.
"Tuan,ini ada apa Nona?" Tanya Millen penasaran.
"Cepat minta bantuan,kita bawa Mas Kenz sekarang!" perintah Asya membuat Millen segera berlari kearah ruangan para staf yang terdekat di situ untuk segera menolong Kenzo.
Asya langsung merasakan tulang tulang nya seperti sudah copot dari tempatnya,bahkan entah masih ada di sana atau tidak.
"Mass,Maaf!" Lirih Asya tapi tidak segera mengikuti Kenzo yang sudah di bawa oleh para staf ke rumah sakit untung juga Millen yang sadar akan Asya segera mendekati nya dan menyadarkan Asya dari lamunan nya.
"Nona,mari ikut saya untuk pergi kerumah Sakit! Apa anda akan ikut dengan mobil Tuan Kenzo,atau bersama dengan saya saja kesana?" Tanya Millen memastikan.
"Nanti saja kamu yang lebih dulu,aku harus mengambil barang nya Mas Kenz yang ketinggalan di dalam!" Bohong Asya membuat Millen percaya dan segera meninggalkan wanita hamil itu tanpa mencurigai apapun itu.
Asya menuju ke meja kerjanya Kenzo lalu mengambil kertas dan pulpen,lalu menulis sesuatu yang entah bagaimana tanggapan Kenzo ketika melihat nya.
Mas Tersayang.
Ini Asya,ini wanita Benalu yang selalu merepotkan kamu...
Mas,,
Asya pamit
Maaf Jika mendadak tanpa memberi tahu hal ini lebih dahulu,soalnya takut nantinya Mas bakal lebih tersiksa lagi.
Asya yang sekarang masih akan tetap sama meskipun nanti nya kita tidak bakal ketemu lagi,karena Asya hanya Untuk Mas Kenzo.
Hanya saja!!
Kalau besok lusa ada wanita yang bisa membuat Mas Kenz berdebar seperti Asya,silahkan pilih dia sebagai pengganti ku karena aku ikhlas!
Sayang Kami...
Baby El
Dan Mommy
ASYA MALIKA DELANO💕💕
setelah menulis kata kata perpisahan yang begitu menguras emosi,Asya pergi dari kantor itu ketika para karyawan kembali melanjutkan pekerjaan.
Asya menghentikan taksi agar mengantarkan dirinya ke Bandara,segala sesuatu sudah ia persiapkan maka dari itu sengaja ponselnya di tinggalkan di rumah agar tidak ada yang menghubungi dirinya.
Ia tahu bahwa Rianti dan George menerima kehadiran nya sepuluh jari,hanya saja ia juga tidak ingin di katakan orang yang tidak tahu diri.
__ADS_1
Dirinya ingin menghilang dari semua orang dan juga dari pada masalah yang selalu saja membuat orang lain kesulitan,padahal dirinya yang merupakan sumber masalah tidak terlalu pusing.
"Aku sayang kamu Mas!" Lirih Asya dalam hati.
Kenzo yang sedang diperiksa langsung sadarkan diri dan menolak semua prosedur yang di lakukan,apalagi di dalam ruangan itu hanya ada kedua orang tuanya dan juga orang tua Asya tapi...
"Bisa menjauh dariku?" Tanya Kenzo dengan nada datar dan menghempaskan kasar tangan Lorrin yang sedang memeriksa keadaan nya.
"Tunggu Kak,Sedikit lagi soalnya...
"Kamu mau ku hajar!" Teriak Kenzo yang sudah tidak peduli mau pria atau wanita yang sedang berbicara padanya.
"Kenz; kamu itu harus diperiksa takutnya di dalam tubuh kamu tuh ada sesuatu penyakit yang tidak kita ketahui dan nantinya bakalan Terlambat untuk disadari!" Rianti cemas dengan sikap Kenzo itu.
"Aku sehat aku mau Asya sekarang Mah!" Pinta Kenzo dan mencabut infus yang sedang dipasang dan memilih untuk pergi.
George dan Rio yang berada disitu langsung menarik tangan Kenzo agar menghentikan aksinya itu,tapi pria itu malah menatap kesal kearah mereka.
"Asya tidak ada kan disini?" Tanya Kenzo dengan wajah datar.
"Mungkin dia sedang pergi ke suatu tempat dan nanti...
"Nanti Apa? Nanti sampai dia pergi dan aku bakal kesusahan untuk bertemu dengannya, nanti Di Antara Kalian ada yang bakalan bertanggung jawab dengan yang terjadi kepadaku dan dia atau kalian bakalan mengembalikan dia dalam waktu 1 jam mulai dari sekarang?" Tanya Kenzo dengan nada membentak dan segera pergi dari situ tapi sebelum itu ia menghubungi Millen yang sudah kembali ke kantor satu jam yang lalu.
Millen yang sedang memeriksa berkas di atas mejanya menjadi bingung,karena Kenzo yang tadi diantar ke rumah sakit kenapa sekarang malah menghubungi dirinya.
"Iya Tuan,ada yang bisa...
"Nona Asya masih di situ atau tidak?" Tanya Kenzo yang tidak sabar menunggu kata kata penghabisan dari Millen itu.
"Bukan nya dari tadi itu Nona Asya sudah pulang, karena Setahu saya saat kami mengantarkan anda kerumah Sakit dia sudah keluar juga dari kantor.Saya pikir dia hendak datang,tapi sampai saya pulang dia belum juga...
Tut
Millen hanya bisa menghela nafasnya kasar karena bingung harus bagaimana Lagi,tadi itu Kenzo yang menghubungi dirinya tapi belum juga ia mengatakan hal hal yang lain ponsel nya sudah di matikan tanpa berbicara apapun.
"Beginilah seorang Sultan,kenapa selalu saja membuat orang lain kesusahan dan juga penasaran? Masa iya sudah tahu aku tadi belum habis bicara malah langsung di matikan?" Sungut Millen.
Sementara itu Kenzo yang mendengar jika Asya sudah pergi,dan sampai sekarang belum juga sampai di tempat itu langsung segera berjalan keluar tapi sebelum itu dirinya memberikan ultimatum kepada semua yang berada disitu.
"Jangan ada yang menghubungi ku sebelum aku menemukan Asyaku,dan jangan ada yang menangis atau kalian langsung aku habisi!" Tegas Kenzo sengaja mengatakan hal itu agar semua orang tidak terlalu berlebihan dalam menanggapi hal yang terjadi.
Kini Kenzo sudah berada di dalam mobil yang tadi sengaja di bawa oleh Para karyawan nya agar nanti bisa memudahkan dirinya,pria itu hanya ingin menuju kesuatu tempat dengan mengendarai mobil begitu ngebut tanpa peduli dengan rambu rambu lalulintas agar cepat sampai dan juga tidak terlambat.
"Kamu kenapa selalu mengambil kesimpulan yang sesingkat ini,apa kamu tidak tahu kalau aku cemas sampai rasanya ingin mati saja?" Gumam Kenzo bahkan air matanya menetes begitu saja biar di bilang cengeng tapi begitulah manusia.
Terkadang akan berubah menjadi pribadi yang cengeng ketika menyangkut orang yang paling mereka sayangi,dan juga menjadi pribadi yang kuat ketika orang yang mereka sayangi di sakiti tanpa ampun.
Sedangkan Asya entah mengapa merasakan mual yang tidak bisa di tahan ketika berada di Bandara itu sendirian,seolah bayi yang berada dalam kandungan nya menolak untuk pergi dari situ.
"Baby El anak yang pintar,tolong ya jangan seperti ini! Apa kamu tega melihat Mommy sengsara dan juga tak bisa berbuat apapun,padahal ini adalah keputusan yang berat dalam hidup Mommy." Lirih Asya dalam hati sambil mengusap pelan perut nya yang sudah mulai membuncit.
Huek Huekkk
Demi Tuhan,Asya begitu sengsara merasakan gejolak yang berasal dari dalam perutnya,namun sebisa mungkin dirinya menahan agar rasa itu tidak kembali menyerang.
Namun sayang apa yang ia mau tak sesuai harapan membuat dirinya mau tidak mau harus mencari keberadaan toilet umum agar bisa membuang isi dalam perutnya.
Huek huek huek
__ADS_1
"Mas,ini menyiksa banget!" Lirih Asya yang tanpa sadar sudah memanggil Kenzo.
Tak berselang lama terasa ada yang sedang memijat pelan tengkuknya agar lebih nyaman,karena sungguh tersiksa ketika sesuatu yang tidak bisa di keluarkan taoi begitu menyiksa.