
ketika Dev sedang menganiaya lewat kata-kata sang asisten berbeda dengan Dewi yang begitu gembira ketika melihat putrinya yang ditunggunya dari tadi sudah kembali dengan selamat, padahal wanita tadi itu sudah seperti satpam di depan pintu yang celingak-celinguk mencari sebenarnya putrinya itu bakalan datang dari arah mana dan kenapa sudah sore juga belum kembali?
" Ya Tuhan terima kasih Nah akhirnya kamu pulang juga, tahu tidak Mama dari tadi itu sudah kayak orang stres karena kamu yang tidak kunjung pulang dan juga tidak kasih kabar mana ponsel kamu ketinggalan lagi?" tanya Dewi sambil memeluk erat tubuh Asya karena saking khawatir nya membuat Rianti hanya bisa menatap sendu ke arah kakak iparnya itu sambil mengusap pelan bahunya.
" sabar mbak kan dia sekarang sudah pulang jadi otomatis dia tidak apa-apa kan, Jangan khawatir berlebihan begitu dia juga kembalinya bareng Kenzo kan bukan sama orang asing?" tanya Rianti yang berusaha menenangkan kakak iparnya itu yang malah menangis sambil memeluk Asya membuat Gadis itu menjadi heran sendiri.
" Mama kok malah menangis Memangnya ada apa yang terjadi di rumah ini selama kami tidak kembali, Apa ada yang sudah menyakiti Mama atau marah-marah ke mama bilang dong biar aku yang bakal menghadapi dia?" tanya Asya yang balik penasaran dengan Sikap yang oleh Dewi itu.
" nah tuh kan kalian jadi balik saling bertanya kan Terus yang menjawabnya nanti siapa, Sudah ah jangan lebay begitu deh Mbak anaknya juga sehat-sehat saja kok Kenapa jadi kelihatan terlalu berlebihan sih?" tanya Rianti sambil menarik tangan Asya agar ikut dengannya karena sama saja jika berdekatan dengan mamanya Gadis itu bakalan ikutan mewek.
Kenzo yang tadi baru sampai di rumah langsung memilih ke arah kamarnya karena ingin menenangkan pikirannya sambil berendam, sebab memikirkan pekerjaan tidak masalah untuknya karena itu merupakan skillnya selama ini tetapi memikirkan soal hati itu merupakan salah satu hal yang sangat dirinya hindari.
Namun ternyata kehadiran Asya yang baru 1 * 72 jam langsung merubah kehidupan pria itu total, yang biasanya tidak peduli dengan sekitar kini malah berbalik 180° memperdulikan wanita itu tanpa tapi.
" loh tadi kan kamu datang ke sini sama Kenzo? Anaknya ke mana sih sekarang kok tidak kelihatan batang hidungnya, jangan-jangan dia kembali ke apartemennya lagi seperti yang biasa biasanya?" tanya Rianti yang tidak melihat keberadaan Sang putra yang sudah menghilang layaknya tuyul yang datang tanpa diundang pulang tanpa pamit.
" Mungkin dia sudah kembali ke kamarnya soalnya tadi memang sih kita pulangnya bareng tapi setelah itu aku nggak tahu lagi, soalnya sibuk bujukin Mama yang menangis tanpa sebab akibat dan membuat aku juga lupa dengan keberadaan Kenzo!" jelas Asia yang mengangkat kedua bahunya karena memang tidak tahu menahu soal Di mana keberadaan Kenzo sekarang ini.
" tadi ada naik ke kamarnya!" sahut Dewi singkat padat dan jelas membuat Rianti mendengus kesal ke arahnya.
" Oh aku pikir tadi itu Mbaknya sibuknya nangis jadinya tidak perhatikan sekitar, eh tau-taunya Indra ke-6 nya masih berfungsi ya jadi akhirnya membuat aku tidak pusing memikirkan itu bocah?" tanya Riyanti sambil tersenyum mengejek.
" Ya jelas aku sibuk lah sama sekitar orang mata aku kan adanya 2 jadi kalau dipakai nangis sambel buka mata kan tidak masalah, Makanya kamu itu sama anak sendiri juga harus dipedulikan masa iya anak lihat di depan kamu saja kamu tidak sadar sama sekali?" sungut Dewi.
__ADS_1
" aku itu sebenarnya peduli dengan aku hanya saja tidak berlebihan seperti sikapmu Mbak! masa iya anak pergi jalan-jalan Kok kamu di rumah sini sudah kayak kehilangan oksigen gratis, sudah begitu Rencananya mau gantiin setrikaan buat kasih licin lantai rumahku agar lebih kinclong!" ledek Rianti membuat Asya hanya bisa menggeleng kepalanya sebab sebenarnya dirinya itu ingin sekali istirahat mandi dan juga menikmati waktu sendiri.
" kalian kalau masih ingin berdebat sepertinya aku tinggalkan dulu ya soalnya badan aku lengket semua nih pengen mandi berendam yang lama biar puas, Nanti kalau sudah selesai baru deh aku nyusul kalian Soalnya mama kalau dekat sama aku terus aku kan jadi kesel!" Pamit Asya lalu menuju kedalam kamarnya membuat Dewi dan Rianti menatap heran kearahnya.
" terus kita berdua Ngapain berdiri Bengong di sini, masa iya kita hanya duduk terus tidak mengobrol apapun layaknya orang bengong yang kebingungan harus merangkai kata seperti apa? "tanya Dewi kepada Rianti membuat wanita itu mengangkat bahunya karena dirinya juga sama merasa bingung.
" Ya sudah kalau begitu kita pergi ke kamar masing-masing terus ngajakin suami buat kelonan di sore seperti begini kan Rasanya hot, soalnya aku juga pengen mencoba sensasi yang seperti begitu?" Astaga Rianti ini sudah tua tapi semangat begituan nya masih terasa begitu membara membuat Dewi mengerutkan keningnya akibat dari kata-kata vulgar yang diucapkan oleh adik iparnya itu.
" Ya Tuhan Rianti Kamu itu kenapa sih selalu saja membuat otak orang lain terkontaminasi hal yang tidak jelas, aku kadang-kadang bingung lah sama kamu soalnya makin hari makin parah tingkahnya?" tanya Dewi yang tidak habis pikir dengan sikap adik iparnya itu.
" asal Mbak tahu ya orang itu semakin tua harus semakin ganas jangan semakin lemas, Nanti orang bilang pasti takut pinggangnya ijo ke jadi tidak bisa bervariasi kan malu!" setelah mengatakan hal itu Rianti segera menuju ke kamarnya dengan semangat 45 membuat Dewi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan memilih untuk ke arah dapur.
sedangkan Rio terlihat sedang duduk santai sambil membalas email dari para suruhannya untuk mengecek Di mana keberadaan Gerry sebenarnya, karena Rio ingin sekali membalaskan dendamnya kepada pria yang sudah merusak masa depan anak gadisnya itu.
" jadi menurut penelitian kalian dia sudah tidak tinggal di Indonesia lagi dan sedang melanjutkan studi di luar negeri, Emangnya kalian sudah menemukan di mana titik pasnya manusia 1 itu berada?" tanya Rio memastikan.
" Baiklah saya tunggu aba-aba dari kalian tentang keberadaan orang itu dan Ingat jangan bergerak Sebelum saya memberikan perintah, karena dia itu urusannya dengan saya bukan dengan siapapun kalian cukup hanya melakukan tugas yang saya suruh tidak lebih dari itu!" Tegas Rio yang tidak ingin dibantah oleh siapapun.
" Baiklah Tuan kami paham dengan maksud anda tadi dan kami akan melakukan sesuai dengan keinginan anda, Percayakan pada kami semua masalah pasti bakalan beres dan anda tidak akan merasakan kekecewaan!" Rio langsung mematikan panggilan itu ketika mendengar handle pintu berbunyi dan dirinya yakin juga itu adalah sang istri.
" Asya sudah pulang, Sayang?" tanya Rio Yang berusaha bersikap santai saja agar Dewi tidak curiga jika sebenarnya pria itu sedang merencanakan sesuatu perbuatan yang mungkin ntah disetujui Dewi atau tidak.
" sudah pulang dari tadi Terus sekarang dianya lagi di kamar katanya mau mandi kemudian beristirahat soalnya katanya capek sekali hari ini, kamu lagi ngapain sih Mas betah sekali dalam kamar?" Rio gelagapan harus menjawab apa pertanyaan sang istri tetapi dirinya cepat mengembalikan ekspresi wajahnya agar Dewi tidak curiga.
__ADS_1
" Oh itu tadi ada email dari perusahaan tanya ke Mas katanya Kapan selesai cutinya, terus katanya kalau memang Mas mau pindah di sini bakalan diberikan apartemen buat tempat tinggal yang merupakan salah satu fasilitas dari perusahaan juga!" jelas Rio memang tidak berbohong sih karena dari perusahaan memberikan email kepadanya seperti itu sebelum dirinya menghubungi orang suruhannya.
" ya sebenarnya tergantung lokasinya sih kalau memang strategis dan dekat dengan kampusnya Asya. Ya Aku tidak masalah, tapi kalau letaknya di pinggiran kota kasihan Asya akan bakalan bolak-balik nya jauh!" sahut Dewi yang memang tidak keberatan tapi mau bagaimana lagi mereka punya gadis yang harus dijaga.
" Nah itu dia Mas tadi juga belum memberikan jawaban yang pasti soalnya harus mensurvei tempatnya dulu sesuai dengan keinginan kita atau tidak, karena Biar bagaimanapun prioritas utama kita yaitu Asya dan juga sekolahnya. Dia harus menjadi orang yang besar dan berpengaruh agar tidak ada yang berani macam-macam nantinya." Rio menimpali perkataan istrinya tadi dan benar-benar sangat terlihat sekali ketulusan dari pria itu meskipun Asya tidak mempunyai hubungan darah sedikit pun dengannya.
Dewi sampai meneteskan air matanya karena Melihat kesungguhan hati dan juga ketulusan suaminya itu yang tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya, bukan karena mereka berdua tidak memiliki anak tetapi karena pria paruh baya yang sudah puluhan tahun menemaninya itu selalu menyayangi Asya kapanpun dan dimanapun.
" Terima kasih Mas, Terima kasih karena selama ini sudah mau memberikan kasih sayang yang tulus kepada Asya. Dan juga mau menerima kekuranganku yang tidak bisa memberikan kamu keturunan, bahkan dengan sabar menghadapi bawelnya kami berdua tanpa mengeluh sedikitpun!" Lirih Dewi yang benar-benar tersentuh dengan sikap suaminya itu yang Bahkan dibilang tanpa pamrih melakukan semuanya.
Rio tersenyum sambil menunjuk ke arah pahanya agar sang istri datang dan duduk di atas pangkuannya, Dewi pun mengikuti kemauan sang suami sambil duduk dan memeluk erat leher Rio itu.
" Entah sudah berapa ribu kali kita mengulang pembahasan ini hanya yang Intinya cuma satu Mas juga bakalan tidak pernah berhenti jika kamu membahas mengenai hal itu, yaitu kalian berdua itu adalah mahkotanya Mas yang harus Mas jaga agar tidak rusak dan juga celaka. kalian adalah penyemangat Mas setiap hari ketika berada di atas udara yang hanya mempunyai 2 harapan yaitu hidup atau mati, Mas tidak pernah mengeluh sedikitpun karena hanya kalian berdua yang masih punya di dunia ini yang jika nanti mas tua kalian lah yang bakalan merawat dan menjaga Mas!" ujarnya sambil tersenyum membuat Dewi memeluk erat tubuh suaminya itu karena benar-benar terharu dengan segala macam ketulusan yang diberikan oleh pria.
" Mas katakan bahwa itu tidak bakalan berhenti mengulang sampai ribuan kali aku juga bakalan mengatakan ini tidak berhenti sampai ribuan kali bahkan sampai nyawa sudah tidak dikandung badan. Terima kasih banyak atas segalanya Terima kasih banyak juga untuk pengorbanan dan perbuatan baik yang selama ini sudah diberikan untuk kami, aku janji bakal menjadi istri yang baik karena sempurna itu miliknya orang dan aku tidak mempunyai hal itu." Dewi membalas perkataan suaminya itu membuat Rio sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa Ketika sang istri selalu saja merendahkan dirinya.
" Kamu lupa atau apa sih kalau kita itu kan sudah punya anak gadis yang sudah gede yang sekarang sedang mengejar gelar kedokteran nya, Nanti kalau dia tahu Mamanya jadi orang cengeng pasti dia bakalan kesal ke kamu? Kamu sepertinya melupakan deh tabiat Putri kita itu yang selalu saja kesal ketika hal yang tidak disukai malah dilihatnya secara nyata, dan ingat ya Kamu harus menjadi Ibu yang paling kuat di jagat raya ini agar putrimu juga ikutan kuat tidak lemah!" keduanya langsung tersenyum air mata yang tadi dikeluarkan sirna begitu saja karena Hidup itu harus dilanjutkan bukan berhenti saat itu juga Ketika masalah datang sendirinya.
" asal Mas tahu saja ya tadi itu aku baru habis dimarahin sama Asya gara-gara cengeng sebab dia nya Pulang terlalu lama, Makanya karena tidak ingin melihat wajahku yang sembab dia memilih untuk ke kamar katanya mau berendam biar pikirannya tidak mumet!" tawa Dewi pelan membuat Rio menyentil kening istrinya karena dirinya baru saja mencemaskan hal itu tahu-tahu sudah terjadi lebih dahulu.
" Aaw kenapa sih aku disentil seperti itu, Emangnya kamu pikir aku nih anak kecil Apa? Tadi kan katanya anakku sudah gadis, Awas aja kalau lain kali aku disentil lagi Bakalan kuhajar kamu pakai Kanebo biar tobat sekalian tanganmu itu agar tidak nakal lagi?" sungut Dewi sambil memasang wajah cemberut nya membuat Rio bisa tertawa pelan.
" ya makanya sudah di ngomongin berapa kali kamu masih saja tidak paham, kamu masak apa sih di luar biar kita keluar makan soalnya kasihan Asya itu sebenarnya sudah makan atau belum Nanti kalau perutnya sakit kan ribet lagi urusannya?" tanya Rio penasaran karena istrinya itu dari tadi terlihat sibuk di luar Bahkan tidak memikirkannya sama sekali jadi tidak ada salahnya dong kalau dirinya meminta makan.
__ADS_1
" Udah tadi aku masak ayam kecap kesukaannya Asya dan juga sate padang kesukaannya kamu, Nanti kalau kamu sudah mandi bersih baru kita keluar sekalian ajak George sama Rianti!" Dewi yang hendak bangkit tiba-tiba langsung terhenti langkahnya ketika suaminya itu sudah mengangkat tubuhnya membawanya ke kamar mandi.
" nah Kebetulan aku belum mandi dan otomatis kamu juga jadi tidak ada salahnya dong kalau kita mandi bareng biar cepat selesai dan cepat keluar dari dalam kamar, jadi istri tidak boleh menolak keinginan suami karena itu namanya dosa besar dan tidak ada toleransi sama sekali!" Rio benar-benar melakukan eksekusi di dalam kamar mandi bahkan dengan posisi yang paling dirinya sukai yaitu gaya belakang.