Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 15


__ADS_3

"Maafkan Asya yang menjadi anak yang tidak berguna karena sudah membuat Om sama Tante kecewa,kalau memang begitu biar Asya pergi jauh saja!" lirih Asya yang tak bisa menahan tangisnya karena dirinya antara malu dan merasa bersalah karena kejadiannya secara tak langsung mencoreng nama baik Rio dan Dewi itu.


Dewi menatap tak percaya kearah Asya yang menurutnya mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka pikirkan sama sekali, Padahal selama ini apapun kejadian yang menimpa Asya tidak pernah mereka mengeluh karena bagi mereka itu adalah ujian saat menjadi orangtua.


" Kamu itu ngomong apaan sih ih lama-lama tambah ngelantur, Memangnya kamu dengar Om sama Tante mengeluh selama ini dengan apa yang terjadi? kamu lain kali kalau membicarakan sesuatu hanya untuk menambah beban pikiran lebih baik tidak usah, sebab nanti kesannya Om sama Tante tidak menyayangi kamu sepenuh hati padahal sebenarnya itu tidak pernah kami pikirkan sama sekali!" Ketus Dewi yang benar-benar tidak menyukai perkataan Asya barusan.


Asya hanya bisa menundukkan kepalanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Dewi barusan, dirinya tak berani membantah atau pun mengatakan yang tidak tidak karena tidak ingin membuat wanita paruh baya itu bertambah marah kepadanya.


" Maaf tante!" ujar Asya Sendu membuat Dewi Tak Tega karena sudah dengan kasarnya memarahi Asya tadi.


Dewi mendekati gadis cantik itu lalu memeluk erat tubuhnya sambil terisak, akibat kelalaiannya tidak menjaga Asya dengan becus sehingga Gery dengan gampangnya melakukan hal yang tidak terpuji kepada keponakannya itu.


" kita bakal memulai Semuanya dari awal sayang di sana, apapun kedepannya yang bakal terjadi kita tidak akan terpisah!" Dewi coba menguatkan Asya agar tidak terpuruk ataupun merasa kebingungan.


" tapi kalau misalnya pas hamil gimana, aku nggak mau Tante menanggung beban yang sama sekali tidak ingin aku pikul?" tanya Asya lirih karena memang tidak siap dengan apa yang bakal terjadi kedepannya dan juga tidak ingin menerima hasil dari perbuatan kurang ajar nya Gerry.


Dewi langsung bungkam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Asya barusan, dirinya Kenapa sampai bisa melupakan hal yang penting seperti itu? dalam benaknya ingin dirinya bertanya secara detail hanya saja itu seperti terkesan memaksa agar Asya mengingat kejadian yang tidak ingin diingatnya, dan sebagai orang tua Dewi tidak ingin hal itu terjadi dan membuat beban wanita 22 tahun itu semakin terpuruk.


" kita manusia tidak bisa menyalahkan takdir ataupun menentang kehendak Yang diatas, karena Biar bagaimanapun jika yang maha kuasa sudah berkehendak semesta tidak dapat menolaknya sama sekali! " Asya tidak dapat berbicara lagi karena memang benar apa yang dikatakan oleh tantenya itu bahwa Apapun yang terjadi kedepannya dirinya harus menjalaninya dengan lapang tidak boleh mengeluh.


" Ya sudah ayo kamu minum obat habis itu siapkan barang-barang kamu apa saja yang dibawa saat kita pergi nanti, maafin Om sama Tante ya jika tidak bisa meninggalkan kamu sendirian maka dari itu Kemanapun kamu pergi Kami bakal ikut!" setelah mengatakan hal itu Dewi pun langsung keluar kamar dan menyiapkan barang bawaan untuk dirinya dan sang suami yang secara mendadak mengambil keputusan singkat dalam hidup mereka jika menyangkut Asya.


sedangkan Tasya tubuhnya langsung Terpuruk di bawah lantai karena mengingat ternyata Tuhan masih sayang padanya dengan mengirimkan kehadiran Dewi dan Rio suaminya, dengan ketulusan yang mereka berikan Asya bahkan sampai lupa jika mereka hanyalah om dan tante nya saja bukan orang tua kandung.

__ADS_1


" Tuhan kenapa sih aku selalu kau hukum seperti begini, padahal aku tidak pernah meminta lebih ataupun menuntut banyak cukup membanggakan orang di sekitarku dan juga berguna bagi mereka? apa dengan menjadi yatim piatu masih belum cukup hingga harus membiarkan sesuatu milikku diambil secara paksa, jika bunuh diri tidak membuatku tambah berdosa maka pasti sudah ku lakukan saat semua orang harus kesusahan dengan kehadiranku? " lirih Asya yang begitu Terpukul meskipun dihadapan Dewi wanita itu mencoba Tegar Tapi percayalah hati yang tersembunyi Siapa yang tahu jika sebenarnya dirinya tak sedang baik-baik saja.


Asya sebenarnya yang hanya ingin menenangkan pikiran dan juga menjauh dari semuanya dan juga dirinya tak sanggup jika harus bertemu Gerry nantinya, hanya saja keputusan Dewi dan Rio yang tidak ingin berpisah darinya membuat ia tak dapat menolak hal itu dan hanya bisa pasrah.


jika memang pergi dari situ merupakan keputusan terbaik dirinya sangat bahagia menerima semuanya karena tuh disini juga dirinya hanya mempunyai dua orang sahabat, salah satunya adalah Gery Tapi semua itu sudah hancur lebur bahkan mungkin ingin Ia lupakan yaitu hal itu.


" semangat Asya kamu bisa Jangan kecewakan Om sama Tante yang mau melakukan apa saja demi kamu, ingat hidup kamu itu berharga bukan hanya habis untuk hari ini saja tetapi esok Siapa yang tahu!" Asya mencoba memberikan semangat untuk dirinya sendiri agar lebih Tegar dalam menjalani sesuatu karena dengan hanya menangis masalah tidak bakalan kelar.


setelah itu mereka sibuk dengan urusan pribadi yaitu pindah dadakan sedangkan Rio sedang berada di depan rumahnya Gerry untuk bertemu dan berbicara secara jantan kepada pria itu, bukan untuk meminta tanggung jawab karena Rio tidak Sudi keponakannya itu berhubungan dengan pria yang bercat dan tidak punya hati nurani seperti Gerry.


kebetulan saat Gary berada di situ asisten rumah tangganya juga sedang berjalan keluar sambil membawa keranjang belanjaan, dengan langkah kaki yang cepat Rio mendekati wanita paruh baya itu untuk menanyakan keberadaan majikannya itu.


" Permisi bibi Gerry nya ada, Tolong panggilkan bilang Omnya Asya ingin ketemu?" tanya Rio penasaran.


" loh non Asya nya belum tahu kalau tuan muda Gerry nya sudah udah pindah kuliah ke luar negeri, lebih tepatnya di mana Bibi tidak tahu hanya tadi pagi tuan dan nyonya besar yang mengatakan hal itu kepada saya?" tanya wanita paruh baya tuh heran karena tidak biasanya Gerry ketika melakukan sesuatu tanpa memberitahukan lebih dahulu kepada Asya'


" dia pindahnya kapan Kok Asya tidak tahu ya, padahal semalam kan Asya dari sini?" tanya Rio yang berpura-pura bingung untuk mencari tahu sebenarnya semalam wanita paruh baya yang bekerja di keluarganya Geri itu mendengar tidak apa yang dilakukan Gary kepada Asya.


" semalam itu memang saya sempat mendengar keributan di kamarnya tuan muda Gerry hanya saja saya tidak berani untuk mencari tahu, tapi yang saya ingat kalau tuan muda Gery itu pergi dari semalam entah kemana tapi yang jelas katanya sudah berada di pesawat sekarang ini katanya mau pindah kuliah!" Rio melihat wajah asisten rumah tangga itu penuh dengan ada keseriusan tidak ada kebohongan di dalamnya membuat dirinya sudah tidak ada niat lagi untuk bertanya panjang lebar karena urusannya sekarang yaitu mengurus kepindahan Asya.


Tuhan sudah mengatur jodoh manusia tanpa disadari oleh manusia itu sendiri meskipun Sudah di pasang target tinggi tinggi yaitu ingin mendapatkan pria yang baik hati setia dan tulus, tapi terkadang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan karena memang apa yang sudah digariskan kepada kita tidak bisa untuk ditolak lagi ya jalan satu-satunya Tinggal melanjutkan saja hidup yang ada.


Rio yang tak menemukan Gerry memilih untuk lanjut ke kampus mengurus segala sesuatu yang diperlukan untuk pindah, sepanjang perjalanan banyak hal yang dipikirkan mulai dari ingin membalaskan sakit hati Asya kepada Gerry tapi mulainya dari mana karena tidak mungkin juga akan perbuatannya itu kalau diketahui oleh Asya urusannya bisa berabe.

__ADS_1


" Ya Tuhan Apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Asya kembali tersenyum, Mas sama mbak yang sudah di surga pasti bakal kecewa kepada aku karena tidak bisa menjaga anak gadis mereka dengan baik!" gumam Rio monolog.


Vina yang kebetulan sedang menunggu Asya dari tadi di parkiran merasa heran ketika melihat Rio, Omnya Asya turun sendiri dari dalam mobil. dirinya pun mendekat ke arah mobilnya Rio sekedar mencari tahu keberadaan sahabatnya itu, sebab sebentar lagi jam pelajaran bakalan dimulai tapi belum ada tanda-tanda kalau Asya bakalan datang belum lagi Gerry juga menghilang seolah Ditelan Bumi.


" Permisi Om, Asya mana ya Kok dari tadi belum kelihatan?" Tanya Vina celingak celinguk mencari keberadaan Asya.


" Asya nya sakit jadi untuk sementara dia izin sampai kondisinya memungkinkan!" sahut Rio yang bahkan tidak ingin jujur tentang keadaan Asya sekarang.


karena menurut pikir Rio makin sedikit orang yang tahu keadaan Asya makin bagus, karena dengan begitu tidak ada yang bakal mengganggu kepergian keponakannya itu untuk menghindari masalah yang ada.


" Kak Gerry ada di rumah ya? Soalnya dia juga tidak ada di kampus, kalau begitu saya bakal menyusul ke sana deh melihat keadaannya Asya daripada di sini saya khawatir tidak tahu apa-apa tentangnya?" tanya Vina yang berpikiran jika Gerry kini tengah menemani Asya di rumah.


" sepertinya tidak perlu karena Asya perlu istirahat tidak ingin diganggu oleh siapapun, dan satu lagi pria yang tadi kamu maksud itu dia sekarang entah dimana kami pun tidak peduli!" tegas Rio yang tidak mau jika keponakannya itu selalu disangkutpautkan dengan Gerry.


Vina mengerutkan keningnya ketika melihat pria paruh baya yang ada dihadapannya itu sepertinya memasang tampang emosi ketika menyebut nama Gerry, padahal setahu nya dari dulu sampai sekarang itu Asya memiliki teman pria yang hanya satu yaitu Gery itu tidak ada yang lain.


tanpa pamit kepada Vina, Rio langsung menuju ke ruangannya dosen untuk mengatur kepindahan Asya sesegera mungkin.


Sedangkan Mona uring-uringan karena dari tadi nomor ponsel Gerry tidak bisa dihubungi sama sekali, padahal dirinya sedang membutuhkan uang untuk biaya party bersama teman-temannya nanti malam dan parahnya lagi dirinya sudah mengatakan bahwa bakal mentraktir Mereka minum sampai puas.


Dirinya bahkan berjalan mondar-mandir di parkiran layaknya setrikaan yang sedang dipakai oleh ibu-ibu, bahkan tidak peduli dengan tatapan para mahasiswa yang lain yang mencibir dirinya karena terlihat terlalu memaksakan diri untuk dekat dengan Gerry padahal sebenarnya Gerry itu lebih nyaman dan cocok bersama Asya.


" itu lihat nenek lampir jadi-jadian tunangannya genderuwo, terlalu memaksakan diri banget sih untuk cocok sama Kak Gerry padahal sebenarnya kalau Kak Gerry disandingkan sama Asya sangat cocok pokoknya the couple goals deh!" Sindir mereka yang membuat Mona menatap tajam karena tak terima.

__ADS_1


" kalian kalau iri sama saya bilang saja tapi jangan menyindir secara halus begitu deh rasanya seperti orang yang tidak kebagian rezeki, Lagian Gerry saja setengah mati kesengsem sama saya Kenapa kalian yang repot?" Ketus Mona jutek yang sedang memikirkan nasibnya malah ada saja bahan gunjingan.


" Idih apa kamu bilang tadi kita iri sama kamu? kamu pikir kita tidak punya kerjaan apa harus merasa iri sama kamu, kita hanya kasihan sama Kak Gerry karena nasibnya tidak beruntung mendapatkan wanita aneh seperti kamu!" kali ini Vina yang menimpali perkataan Mona karena baginya pasti sahabatnya itu sakit hati dengan perkataan Mona kemarin.


__ADS_2