
mereka yang sudah sampai di situ lebih dahulu memilih untuk segera mencari pertolongan terlebih Rianti yang terlihat sangat sibuk kesana kemari, baginya lebih cepat menolong Asya itu lebih baik daripada menunggunya sampai waktu yang tidak jelas.
" ini para suster semuanya pada kemana sih sudah tahu kalau ada pasien gawat darurat,ini nanti pasien nya tewas semua baru mereka bilang bukan karena unsur kesengajaan. dasar manusia aneh semuanya bisa bisanya melakukan pekerjaan berkedok kemanusiaan, padahal sebenarnya mereka melakukan semua ini semata karena uang!"Sungut Rianti .
Padahal jika ditelisik secara baik sebenarnya itu bukan pingsan melainkan karena kelelahan menangis tadi sehingga memilih untuk istirahat,hanya saja respon yang di berikan oleh Rianti yang kesan nya terlalu berlebihan.
"Kalian semuanya ayo keluar,bawa brankar kesini untuk menanduk!" Teriak Rianti tapi tidak sadar jika Kenzo sudah datang dari samping Rianti sambil menggendong Asya.
Ketika para suster sudah datang sambil mendorong Brankar Kenzo malah menolak nya,karena menurutnya tempat tidur itu sudah terkena Virus dan bakal membuat Asya tambah sakit.
"Silahkan di letakan istrinya di atas Tempat ini Tuan!" perintah salah satu Suster yang bertugas disitu.
"Singkirkan tempat itu karena aku masih kuat untuk menggendong nya,lagian memang nya benda persegi itu sudah steril jadi mau langsung di pakai?" Tanya Kenzo sambil mendelik kesal.
Wow ini orang orang lama lama bakal Author dakwa dengan perbuatan yang tidak menyenangkan,karena sudah membuat Salah satu tokoh AUTHOR yang single menjadi punya suami dadakan tanpa prosesi.
Rianti mendelik kesal sambil berlari mengikuti langkah kaki putranya itu yang terlihat santai tanpa beban ketika mengangkat tubuh mungil Asya,bertepatan dengan Rio dan Dewi serta George yang baru sampai di situ.
"Bagaimana keadaan Asya sekarang,dan dimana dia?" Tanya Dewi karena tidak melihat putrinya yang sudah di bawah keruangan pemeriksaan.
"Tuan,bisakah anda keluar sebentar karena kami harus fokus memeriksa pasien!" Jelas salah satu dokter pria yang bertugas membuat Kenzo meradang.
"Sebelum batang leher anda lenyap dari tempatnya,lebih baik segera pergi dari sini sebelum saya benar benar emosi!" Ancam Kenzo membuat dokter itu menatap heran kearah nya.
__ADS_1
"Kalau saya keluar siapa yang bakal memeriksa pasien ini,anda kalau bicara sadar sadar Tuan?" Sahut Dokter itu karena sikap keluarga pasien yang menyulitkan pekerjaan nya sekarang ini.
"Permisi Dokter Damien,saya yang akan menggantikan anda memeriksa keadaan pasien karena tadi sudah di beri kabar oleh dokter Lorrin!" Ujar salah satu Dokter wanita yang sudah lanjut usia.
"Ok baiklah!Tuan posesif itu boleh tapi jangan berlebihan kecuali anda bisa melakukan yang semua orang bisa lakukan!" Sinis Dokter pria itu sambil tersenyum mengejek membuat Kenzo merasa kesal.
"Apapun akan saya lakukan untuk orang yang saya cintai dan saya yakin anda tidak mengalami hal itu?" Ujar Kenzo tak kalah ketus.
Suasana di dalam ruangan itu mulai memanas jika Asya tidak terbangun maka mungkin bakal merambat kemana mana,syukur kalau berhenti di meja bundar tapi kalau sampai di meja hijau bisa berabe urusan nya.
"Mas,aku dimana?" Tanya Asya penasaran.
Kenzo yang ingin sekali menghajar pria yang menurutnya terlalu songong langsung mengurungkan niatnya,sebab baginya Asya lebih penting dari segala galanya.
"Hatiku sakit Mas,ingin mau mati saja!" Lirih Asya pelan membuat Kenzo langsung bungkam karena tidak tahu harus berbuat apa lagi.
"Permisi apa bisa kami periksa pasien sekarang,kalau mau bernostalgia nanti lain kali saja jangan sekarang!" Ujar Dokter itu jengah karena sikap yang di tunjukan oleh Asya dan Kenzo.
Kenzo yang masih tetap berada disitu memang tidak ada niat untuk pergi,karena jiwa dan rasanya yang merasa sudah menyatu dengan bayi yang ada di dalam perut rata milik Asya itu.
"Silahkan saja Dok,tapi saya tetap ada disini karena biar bagaimanapun saya tetap akan memantau keadaan Istri saya,anda silahkan lakukan pekerjaan anda yang semestinya saya tidak akan menggangu!" Pinta Kenzo dengan tatapan nya yang tidak lepas dari Asya.
"Nah Ibu,kira kira sudah berapa lama anda tidak mengalami Menstruasi?" Tanya Dokter itu.
__ADS_1
Asya termenung bukan karena tidak ingat hanya saja dirinya merasa tidak ingin mengingat hal itu,hal yang menurutnya adalah masa kelam dan sangat menyakitkan untuk di ingat.
"Aku lupa!" Akhirnya hanya kata itu yang bisa di ucapan Asya dengan membuang wajah nya asal.
"Tak masalah kalau begitu,lebih baik kita USG bayi kalian saja agar lebih jelas lagi!" Sahut dokter itu santai seolah memang tidak terjadi apa apa antara Asya dan kehamilan nya itu.
"Wah dia sempurna,ini dia bayi Kalian masih sebesar biji jagung hanya saja terlihat sangat cantik!" Ujar Dokter itu yang entah mengapa tiba tiba begitu terhipnotis dengan keadaan bayi Asya.
Begitu juga Kenzo yang malah tak kalah antusias ketika membayangkan jika anak itu yang bakal lahir dan memanggilnya dengan sebutan Daddy,dan Asya bakal sangat mencintai dirinya kini dan Nanti.
"Selamat Ya kepada anda berdua telah menjadi calon orang tua,untuk usia kehamilan Nyonya Asya sudah memasuki usia Minggu ke-tiga!" Asya antar bingung harus merespon bagaimana ingin dirinya berteriak agar mati saja tapi tak tega juga dengan wajah antusias milik Kenzo itu.
"Kalau untuk berhubungan suami istri saya anjurkan di tahan dulu,soalnya masih rentan kondisi Ibu hamil muda apalagi usianya juga terbilang masih sangat muda!"jelas Dokter itu membuat Kenzo dan Asya mendadak jadi salah tingkah.
Gimana mau berhubungan ataupun berpuasa jika selama ini membuka jalan mendaki gunung menerjang alang alang serta menuruni lembah saja tidak pernah.
Setelah Asya selesai di periksa dirinya di ijinkan pulang karena kondisinya yang fit dan stabil serta tidak ada yang perlu di cemaskan.
Semua orang yang berada di luar ruangan pemeriksaan hanya bisa menatap tanoa ekspresi kepada Asya,bukan karena tidak iba melainkan hanya sedang menjaga perasaan wanita muda itu saja.
"Mah,Asya sudah hancur!"Lirih wanita itu sambil memeluk erat tubuh Dewi yang kedua matanya sudah sembab karena tak hentinya menangis dari tadi.
"Ada Mama sama Papa,Nak! Jangan pernah merasa sendiri karena hal itu tidak akan pernah terjadi!" Bujuk Dewi agar Asya tidak merutuki nasib.
__ADS_1
"Kamu lupa kalau ada aku yang tidak bakal meninggalkan kamu sedikitpun,karena aku adalah orang yang bakal bertanggung jawab untuk kalian!" Ujar Kenzo menimpali apa yang dikatakan oleh Asya.