
Kini semuanya sudah siap sedia dan menuju ke bandara untuk mengikuti pesawat yang bakal mengantar mereka ke Netherland,karena disana adalah tempat yang dipilih oleh Asya untuk melanjutkan kuliah.
Dewi dari tadi menatap kearah keponakan nya itu karena merasa cemas sebab Asya yang terlihat begitu pucat,hingga membuat wanita itu takut kondisi Asya bakal tambah parah kalau sampai di paksa buat jalan jauh.
"Nak,kamu baik baik saja kan?" Tanya Dewi cemas.
"Aku baik kok Tante,jangan cemas ya kalau aku merasa tidak nyaman pasti bakal kasih tahu kok!"Sahut Asya sambil memaksakan senyuman di wajahnya.
"Pah,kenapa tadi tidak sewa jet pribadi saja? Lihat kan Asya sangat pucat tuh,Mama takut dia bakal kenapa napa?" Tanya Dewi kearah suaminya itu.
"Maaf Mah,tadi itu sudah urgent jadi tidak sempat punya pemikiran yang lain!" Sahut Rio tak enak hati.
"Aku baik baik saja,jangan cemas nanti aku bakal merasa bersalah!" Bujuk Asya agar Dewi dan Rio tak terlalu cemas berlebih kepadanya.
Dewi mengusap pelan kepala Asya agar lebih rileks,sebab dirinya was was melihat kondisi Asya sekarang.
Di dalam pesawat itu ada sesosok yang tegas dan arogan menatap intens kearah Asya yang menurut nya sangat pucat,dirinya terpaksa mengikuti penerbangan kelas ekonomi karena ingin menghindari kekasihnya yang selalu menempel padanya.
"Tuan,apakah tidak apa apa naik pesawat umum seperti ini?" Tanya Rama kepada Dev yang dari tadi lebih memilih fokus kearah Asya.
"Kamu bisa diam tidak,memang nya Jet nya sudah siap?" Tanya Dev balik.
"Selalu siap Tuan!" Sahut Rama santai tapi pasti.
"Ya sudah suruh pilot pesawat ini untuk cancel jadwal yang ada Karena aku mau turun,dan kamu jangan lupa suruh mereka untuk ikut karena wanita itu pucat sekali!" Tunjuk Dev kearah Asya dan Dewi serta Rio yang sedang cemas.
"Tapi mereka....
"Kamu dengar kan saya bilang apa,kenapa selalu saja banyak bertanya?" Tanya Dev kesal lalu tanpa banyak bicara dan turun dari pesawat itu tapi harus terhenti ketika di cegah oleh pramugari di depan pintu.
"Maaf Tuan,tapi pesawat nya mau lepas landas jadi kami minta kembali ke tempat duduk dan pasang sabuk pengaman nya!" Bujuk pramugari itu sambil menahan tangan nya.
Dev menggertakan giginya karena merasa kesal,dirinya yang merupakan tipe orang yang suka memberikan perintah tak terima jika ada orang lain yang mengambil tempat itu.
"Maaf Mbak,tapi ini adalah Tuan Devan Smith!" Ujar Rama yang menarik tangan pramugari itu dari lengan jas nya Dev itu.
Netra pramugari itu membulat ketika mendengar nama yang di sebutkan oleh Rama barusan,dirinya merutuki kebodohan yang telah di lakukan..
"Maafkan saya Tuan,silahkan keluar apakah perlu bantuan karena...
"Tugas kamu itu buka pintunya jangan banyak bicara!" Ujar Dev kesal.
Dev benar benar kesal dengan sikap pramugari itu yang membuat mood nya tambah hancur,padahal dirinya ingin suasana yang tenang jauh dari gangguan.
__ADS_1
"Kamu kenapa masih disini,sudah kerjakan tadi apa yang saya suruh?" Tanya Dev kepada Rama yang malah memilih untuk menatap kearah pramugari yang terlihat begitu gugup.
"Oh iya Maaf Tuan!" Sahut Rama sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Kamu kenapa masih di sini, cepat buka pintunya Saya mau keluar Jangan membuat saya menunggu lebih lama lagi akibat dari sikap kamu yang lelet?" tanya Dev yang merasa kesal dengan sikap semua orang tidak ada yang benar menurutnya.
sedangkan Rama memilih untuk mendekati Dewi dan Rio untuk menyampaikan pesan yang di berikan oleh Dave tadi, karena jika tidak tuannya itu pasti bakalan marah besar kepadanya karena tidak melakukan apa yang ia inginkan.
" papa, ini pesawat kan sudah pengumuman dari tadi bakalan jalan tapi belum jalan-jalan juga Emangnya mau sampai kapan?" tanya Dewi penasaran.
" entahlah, Papa juga bingung kapan baru berangkat?" sahut Rio sambil mengangkat kedua bahunya pertanda tidak tahu-menahu.
" Permisi tuan dan nyonya, saya disuruh sama majikan saya untuk mengajak anda bertiga ikut Kami menggunakan jet pribadi miliknya. kalau anda tidak keberatan silakan ikut saya nanti barang-barang anda ada pramugari yang bakalan mengurusnya, tolong Ikuti saya karena tuan saya juga sedang buru-buru!" pinta Rama membuat Dewi dan Rio Saling pandang sedangkan Asya memilih untuk memejamkan matanya karena tubuhnya sedang tidak fit.
" Emangnya Apa hubungan majikan kamu dengan kami, perasaan kami tidak masalah kalau ikut pesawat ini?" tanya Rio penasaran sebab dirinya merasa diri tidak mempunyai teman yang memiliki jet pribadi.
" itu karena Tuhan Dev memiliki hati yang begitu dermawan, dia tidak tega melihat nona ini begitu pucat padahal perjalanan sangat jauh!" jelas Rama membuat Rio dan Dewi Saling pandang dan juga menatap kearah Asya yang hanya menutup matanya sedari tadi.
" Jadi gimana Papa, soalnya kasihan aja Kalau dipaksa buat jalan jauh dengan kondisi Hanya duduk saja?" tanya Dewi kepada suaminya itu toh tidak ada salahnya kan jika menerima bantuan Orang Asing Siapa tahu maksudnya baik.
" ya sudah, apa ikut Apa kata Mama saja deh soalnya kasihan Asya juga sih?" sahut Rio lalu segera membantu istri dan keponakannya itu untuk turun dari pesawat.
Asya merasa heran kenapa tiba-tiba mereka harus turun dari pesawat padahal terbang saja belum, jangan sampai ada masalah yang terjadi sehingga membuat mereka tidak jadi pergi.
" loh kita kok tidak jadi jalan malah turun dari pesawat, apa kita tidak jadi berangkat karena ada dokumen yang masih kurang?" tanya Asya penasaran.
" itu manusia aneh model apa sih Tante kok bisa sih mengurus masalah orang lain, aku jadi bingung nanti kalau ketemu sama manusia seperti begitu?" tanya Asya memasang wajah penasarannya dan itu tidak mengurangi kadar kecantikannya meskipun bibirnya begitu pucat.
" Perkenalkan nama saya Rama Satria, saya merupakan asisten dari tuan Devan Smith yang menawarkan bantuan kepada anda!" Rama memperkenalkan dirinya meski tanpa diminta agar semua orang yang berada di situ tidak salah paham dan berpikiran yang tidak-tidak tentang tuannya.
" oh, Hai tuan Rama perkenalkan saya Asya Malika. ini adalah Om sama Tante saya, mereka adalah orang yang paling baik yang pernah saya temui dalam hidup saya!" ujar Asya memperkenalkan diri dan juga Rio dan Dewi sambil memasang senyuman termanisnya membuat Rama yang merupakan asisten ter ganjen di jagat raya langsung meleleh.
sedangkan di dalam jet pribadi Dev sedang merasa kesal kepada asistennya yang terlihat begitu lelet datangnya, padahal dirinya sebenarnya sedang menghindari Rebecca wanita yang mengaku sebagai kekasihnya dan merupakan hasil perjodohan dari kedua orang tuanya.
" ini asisten sialan dari tadi tidak nampak batang hidungnya Dia sedang bertanya atau sedang mandi di kali, enak sekali lho membuatku menunggu seperti begini?" sungut Dev kesal sambil sesekali menatap kearah arlojinya.
pendengaran Dev sedikit dipertajam ketika mendengar ada yang berbincang semakin dekat ke arahnya, dilihatnya Rama Tengah mengobrol dengan wanita yang dari tadi hanya memejamkan matanya saja di dalam pesawat.
" Kenapa wajahnya begitu tidak asing ya, aku seperti mengenali dia tapi di mana? ini Lagi Rama, Kenapa terlihat sok dekat sekali pada ya aku saja hanya bisa menatap dari jauh!" sungut Dev dalam hati ketika melihat Rama yang begitu akrab secepat itu dengan Asya dan lebih parahnya lagi Asya seolah tidak mempermasalahkan hal itu.
__ADS_1
" kalian sudah selesai mengobrol nya, kalau sudah Bisakah kita berangkat sekarang? karena aku masih punya kesibukan lain selain menunggu kalian, bukan begitu Rama yang merupakan asistenku tapi leletnya minta ampun?" tanya Dev dengan Tatapan yang begitu serius membuat Asya mengerutkan keningnya.
" jadi ini majikan kamu?" bisik Asya kepada Rama.
" Iya kamu benar sekali wajahnya terlihat seperti orang tukang marah kan, lain kali jangan coba memancing emosinya karena Nanti dia bakalan meledak!" bisik Rama membuat Asya tersenyum karena sedikit terhibur.
sedangkan Rio dan Dewi memilih untuk mendekati Dev sekedar untuk mengucapkan terima kasih, karena sudah memberikan kenyamanan kepada keponakan mereka sehingga tidak perlu duduk berlama-lama di dalam pesawat.
" Terima kasih banyak tuan, karena sudah mau memberikan kami tumpangan menuju ke Netherland!" ujar Rio Tulus.
" Iya benar sekali, kami tidak tahu apa jadinya kepada keponakan kami jika sampai dia harus bertahan di dalam pesawat itu!" sambung Dewi menimpali perkataan suaminya.
" pesawat saya luas jadi tidak masalah harus menampung berapa orang lagi, Bisakah kalian duduk agar pesawat ini bisa segera berangkat!" begitulah seorang Dev Smith yang angkuh nya minta ampun bahkan terlihat seperti tidak ada niat untuk membalas ucapan Rio dan Dewi.
Asya yang melihat om dan tante nya tidak dihargai membuat dirinya merasa kesal kepada pria yang daritadi hanya memasang tampang datarnya, jika tahu bakal seperti ini maka lebih baik dirinya duduk manis biarpun sengsara di dalam pesawat yang tadi.
" ini orang menyebalkan sekali, dia yang menawarkan tumpangan malah sekarang dia yang kebalikannya nyolot nya minta ampun!" sungut Asya dalam.
" Kamu ingat kan kataku tadi kalau dia itu orangnya paling Setengah Mati diajak bercanda soalnya hobinya dia adalah tukang marah, jadi untuk cari aman lebih baik kita diam Soalnya kalau Dia sekalinya marah bakal Mengundang emosi kita sampai habis di permukaan!" bisik Rama membuat Asya yang tadinya ingin marah langsung mengurungkan niatnya itu.
" syukur juga kamu di pesawat ini coba kalau hanya kami saja dengan dia, bisa dipastikan perjalanan ini bakalan terasa sangat membosankan!" Asya sambil tersenyum.
" Asya, Kamu duduk di samping tante sini nak biar bisa rebahan!" Panggil Dewi sambil tempat duduk yang berada di sampingnya.
Dave menatap kearah wanita cantik yang dipanggil oleh Dewi barusan dan dirinya baru mengetahui tentang nama dari seorang wanita itu, dirinya begitu Terpukau pada Asya hanya saja kebiasaannya yang tidak pernah memuji orang secara langsung membuat dirinya merasa kaku untuk melakukan hal itu.
" Kamu tidur saja di kamar saya yang kosong, karena saya tidak ingin kamu kenapa-napa dalam pesawat ini dan membuat semua orang bakal menjadi panik!" perintah Dev sambil memberi kode Rama untuk menunjukkan tempatnya kepada Asya.
" Mari Sya, kamu ikut saya masuk kedalam kamarnya Tuan Dev!" Panggil Rama sambil tersenyum.
sedangkan Asya menolak karena dirinya tidak ingin meninggalkan Om sama Tantenya sendirian dengan manusia yang paling kaku di jagat raya ini, dan dirinya yakin jika itu adalah hal yang paling tidak menyenangkan.
" Kayaknya tidak perlu dia tuan, Soalnya kalau untuk duduk saya sepertinya masih bisa dan tidak perlu harus pakai tiduran segala? sayang lho perjalanan yang selama dan seindah ini tidak dinikmati walau hanya dari atas pesawat, kalau memang Anda mau istirahat silakan saja saya juga tidak bakal memaksa anda buat duduk!" tolak Asya berusaha dengan nada sopan agar Dev tidak tersinggung.
" Ya sudah terserah kamu saja tapi yang seperti saya ngomong kalau jangan coba-coba mengeluh sesuatu, karena tadi sudah tawarkan bantuan untuk kamu tapi Siapa suruh kamu menolak?" sinis Dev memilih untuk memejamkan matanya Tak ingin lagi mengobrol hal-hal yang menurutnya sangat tidak penting.
" ini orang Kenapa sih tadi yang memaksa kami buat ikut ke pesawatnya kan dia sendiri, jangan bilang kalau dia ini sebenarnya adalah seorang psikopat yang hanya ingin mengambil keuntungan dalam kesempitan seperti begini?" batin Asya was-was karena merasa cemas jika sebenarnya Dev itu merupakan seorang pembunuh berdarah dingin.
" Om sama Tante tiduran saja nanti aku yang bakalan jaga, Siapa tahu jangan sampai ada orang yang bermaksud jahat kepada kita kan kita tidak tahu?" Asya sengaja menyindir Dev yang dirinya yakin jika pria itu sendiri masih bisa mendengar apa yang ia katakan.
" kamu pikir saya ini penjahat, untuk dapatkan apa coba saya melakukan hal itu jika semuanya sudah saya punya?" sungut Dev sambil memejamkan matanya membuat Asya menepuk pelan bibirnya karena sudah salah ngomong.
" ini orang menyebalkan banget sih kok bisa-bisanya aku ketemu sama manusia seperti begini, semoga saja cepat sampai biar ini merupakan pertemuan pertama dan terakhir kami berdua!" batin Asya frustasi.
__ADS_1
" kamu yang tidur saja Nak soalnya kondisi kamu itu belum sehat betul, nanti kalau lapar kamu bangun ya Tante sudah bawa makanan dulu yang banyak di dalam tas. ingat kamu tidak boleh tahan lapar biar bisa minum obat secepat mungkin agar sampai di sana tidak ngedrop, kalau tidak bisa berabe kan jadinya?" jelas Dewi membuat Dev membuka matanya karena ternyata Asya sedang tidak sehat.
" kamu Beneran sakit, sudah minum obat atau belum sebelum naik ke pesawat tadi?" tanya Dev takut Asya kenapa-napa dan dirinya tidak ingin disalahkan sama bakalan lebih ribet lagi urusannya.