Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 35


__ADS_3

Kenzo Yang melihat Asya dari tadi tidak keluar dari kamar mandi membuat dirinya langsung panik, padahal tadi sudah sempat bersantai sejenak namun detik berikutnya dirinya kembali dibuat panik.


Dirinya pun segera mendekat ke arah kamar mandi untuk memastikan keadaan orang yang berada di dalamnya, karena biar bagaimanapun Asya kesal itu akibat dari perbuatannya.


" Sya, kamu masih ada di dalam kan? masih bernafas kah atau sedang molor di dalam sehingga tidak mau keluar, Ayolah jangan seperti anak kecil begitu dong!" tanya Kenzo sebelum mencoba untuk mengetuk pintu karena takut juga sih kalau Asya keluar terus mengamuk kepadanya.


Asya yang sedang duduk termenung di atas closet duduk memilih untuk tidak mempedulikan panggilan Kenzo, karena menurutnya sama saja dengan membuang tenaga dan pikiran.


Kenzo hanya bisa mengusap rambutnya kasar sebab bingung Asya dari tadi kenapa tidak meresponnya, padahal tidak tahu kalau wanita itu juga dirinya sedang cemas.


" Astaga Asya, kamu kalau tidak buka pintunya aku bakalan dobrak nih!" ujar Kenzo yang sudah tidak tahu lagi harus berbicara apa.


Asya mendengus kesal mendengar perkataan Kenzo tadi. padahal dirinya ingin menikmati suasana yang tenang Aman damai dan Sentosa, tapi ternyata apa yang dirinya inginkan sama sekali tidak dikabulkan oleh pria di balik pintu itu.


" itu orang sebenarnya kena penyakit apa sih Kenapa tidak membiarkanku tenang walau sejenak, hobinya yang menggangguku saja memangnya dia pikir aku ini orang yang tidak punya privasi sama sekali?" Sungut Asya kesal habis mau bagaimana lagi melihat Sikap yang ditunjukkan oleh Kenzo dirinya yakin jika besok lusa kebebasan itu sudah semakin jauh darinya.


Ceklek


mau tak mau Asya harus membuka pintu dan keluar serta memasang wajah ketusnya, ia bahkan melewati Kenzo yang tengah menatapnya penuh cemas menoleh sedikitpun Tidak ke arah pria itu.


Kenzo segera meraih tangan Asya untuk memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja dan tidak terluka sedikitpun, sebab dalam pikirannya yaitu jika seseorang sedang stres biasanya jalan pintas akan mereka ambil.


" kamu baik-baik saja kan kamu tidak melakukan hal nekat ataupun sesuatu yang membuat Aku cemas berlebihan, tolong kamu jangan diam saja dong merespon apa yang aku katakan karena aku peduli dengan kamu? " tanya Kenzo beruntun dengan nada penasaran tapi Asya menghempaskan tangannya begitu saja saat dirinya tidak menyukai jika ada orang yang memberikan perhatian berlebih Padahal mereka berdua bukan siapa-siapa.


" kamu itu harus berapa kali sih aku ngomong ngomong kalau aku tidak ingin diganggu sedikitpun oleh kamu, setidaknya kamu pahami dong apa yang aku inginkan?" Sinis Asya lalu segera memilih naik ke atas tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Kenzo hanya bisa menatap kearah gundukan yang besar di atas tempat tidur itu tanpa bisa untuk mendekatinya, apalagi untuk menyentuhnya tidak dimungkinkan sama sekali sebab sang empunya tidak menyukai hal itu. pria itu kebingungan harus bersikap seperti apa atau Mungkinkah dirinya harus melestarikan dan berusaha tak peduli, seperti yang selama ini ia lakukan kan kepada setiap wanita yang selalu saja mengganggu hidupnya.


tapi ini menyangkut Asya wanita yang selama ini dipedulikannya secara diam-diam yang tidak berani ia Tunjukkan penampakannya sendiri, masa iya sekarang sudah berada di hadapannya dengan membawa berbagai macam masalah dirinya harus malas tahu.


" Kamu memang tidak menyukai keberadaanku di sini, padahal maksudku hanya ingin memastikan kamu tidur dengan nyenyak? Apa semua pria sama saja Menurut kamu, sampai aku yang ingin menjaga kamu pun kamu samakan dengan orang lain? " tanya Kenzo Lirih.

__ADS_1


Asya memilih menulikan telinganya agar tidak mendengar apapun yang dikatakan Kenzo karena menurutnya tidak penting juga kan, Bukannya ingin berlaku tak sopan atau tidak menghargai niat baik orang lain tetapi jika Apa yang dilakukan membuat diri kita tidak nyaman untuk apa dipaksakan menerima hal itu.


Kenzo yang tak kunjung mendapat jawaban dari Asya memilih untuk mengalah dan duduk nyaman di sofa, dirinya bahkan tidak melakukan pekerjaan sama sekali agar Asya merasa bahwa di kamar itu memang tidak ada orangnya lagi selain dirinya.


Asya yakin jika Kenzo masih berada di dalam kamar Itu sebab dari tadi dirinya tidak mendengar bunyi pintu orang keluar, pasrah karena sepertinya genso itu merupakan pria yang sangat susah untuk diperintah begini dan begitu dengan gaya keras kepalanya.


sedangkan di kediaman keluarga Erlangga di Manchester City sedang terjadi kehebohan, Bagaimana tidak heboh Ketika sang Nyonya rumah merasa kesal dengan apa yang dirinya dengar dari asisten rumah tangga mereka yang berada di Indonesia.


" Apa?? Bibi yakin kalau Asya dan keluarganya sudah pindah dari rumah mereka yang sekarang, terus Bibi dengarkan tidak di mana mereka pindah?" tanya Norah sampai setengah teriak karena merasa stres dengan apa yang dirinya dengar barusan.


semua orang yang berada di meja makan itu menatap tak percaya kearah wanita paruh baya yang masih cantik yang tengah terlihat begitu panik, jangan lupakan juga sosok anak muda yang tengah menatap tak percaya dengan apa yang mamanya katakan. bahkan tanpa permisi ponsel yang sedang dipegang mamanya dirampasnya begitu saja, sebab dirinya yang ingin mengambil alih pertanyaan untuk Siti di seberang.


" Bibi Tolong jangan bercandanya kelebihan deh, Memangnya Asya Pindah kemana?" Tanya Gerry kesal sebab dikiranya sang asisten rumah tangga itu sedang nge-prank.


" ya sejak kapan Bibi menjadi seorang pembohong Aden, orang tadi sore itu ada penghuni baru yang datang katanya mengontrak rumah itu. orang Bibi sudah sempat foto kok sama orangnya langsung tepat di rumahnya non Asya, jadi apa yang Bibi katakan itu fakta dengan bukti terlampir jadi Aden harus percaya dong!" sahut Siti dengan gaya bicara sok formal tetapi tidak dihiraukan oleh Gerry sama sekali karena pikirannya sedang melayang pergi entah kemana.


" Bibi sempat tanya-tanya tidak sama penghuni barunya kira-kira Asya pindah ke mana ya, atau mungkin ada sedikit titik terang kira-kira di negara mana atau di kota mana begitu?" tanya Gerry lagi.


dirinya mencari nomor ponselnya Vina agar kampang menghubungi wanita itu dan menanyakan tentang Asya, karena Biar bagaimanapun selama ini Vina itu selalu menempel kepada Asya layaknya prangko.


Rama dan Norah Saling pandang melihat kepanikan yang tangan melanda Putra mereka itu, berbagai macam pertanyaan timbul di benak mereka karena bingung harus bagaimana dan Mungkinkah semua yang terjadi pada Asya itu ada sangkut-pautnya dengan Putra mereka.


" mama, ada yang ingin Papa bicarakan tapi bisa kita ngomongnya di kamar? soalnya ada yang membuat Papa bingung tapi entah apa itu, kalau ngomong berdua dengan Mama pasti semua masalah bakalan gampang terpecahkan!" pinta Rama sebelum memberikan kode kepada istrinya agar membiarkan Gerry yang mengurus semuanya.


" Oh ya sudah Papa ayo kita ke dalam, Gerry kamu tolong cari tahu di mana keberadaan calon menantunya mama! kalau sampai kepergiannya dia ada sangkut-pautnya sama kamu, Mama dan Papa tidak bakalan tinggal diam untuk menghukum kamu sampai lupa caranya bernafas!" tegas Norah sambil menatap tajam kearah Gerry yang hari ini tingkahnya sangat menyebalkan sebab dengan percaya dirinya menyerobot panggilan antara dirinya dan juga Siti di seberang.


" Astaga Mama tadi kan Papa bilang Papa mau ngomong penting sama Mama ngapain juga mengurus hal yang tidak penting, dia itu sudah besar otomatis pasti tahu dong mana yang benar mana yang salah kecuali otaknya lagi bego makanya dia melakukan hal aneh!" Sindir Rama lalu segera memilih menarik tangan istrinya agar menghentikan semua pembahasan yang akan berakhir dengan perdebatan.


Gery menatap sendu kearah punggung kedua orang tuanya yang sudah menghilang di balik kamar, merutuki kebodohannya yang telah ia lakukan dan juga bingung bagaimana harus berbicara kepada kedua orang tuanya tentang keadaan Asya yang disebabkan olehnya.


akan tetapi untuk saat ini memastikan keadaan dan keberadaan Asya itu lebih penting dari segala-galanya, daripada nanti dirinya yang bakalan pusing karena selama ia berada di Manchester City selalu berharap agar Asya selalu sehat dan baik-baik saja.

__ADS_1


" aku pergi berharap kamu selalu baik saja dan tidak menghilang karena aku bakalan kembali, tapi kenapa aku pergi kamu pun ikut pergi seolah ingin hilang ditelan bumi! Apa ingin memberikan hukuman kepada aku tentang apa yang telah kulakukan,tapi jangan yang seperti inu aku tak sanggup kalau kamu di ambil orang!" lirih Gerry sampai mau berjalan kekamar pun dirinya tak sanggup.


Vina yang merasa heran dengan adanya panggilan masuk tetapi id nomornya itu seperti berasal dari luar, sebenarnya dirinya juga penasaran sih siapa yang meneleponnya sekarang. padahal seingatnya dirinya tidak mempunyai keluarga yang tinggal di luar negeri, maka dari itu ketika ada yang menelepon nya dadakan seperti ini Terkadang ingin mengabaikan tetapi jiwa kepo nya selalu meronta minta tolong.


" ini orang gila dari planet mana sih kok bisa-bisanya tidak punya kerjaan menelpon orang sembarangan, tapi kalau yang nelpon itu cowok keren tampan membahana rugi dong kalau tidak diangkat?" ujar Vina yang akhirnya memilih untuk mengangkat panggilan tersebut toh tidak ada salahnya juga kan mengangkat panggilan yang orangnya juga jauh disana.


" Ya halo, ini dengan siapa ya? soalnya....


belum selesai Vina menanyakan apa yang ingin dirinya tanyakan orang dari seberang sudah menyerobot perkataannya, seolah rasa penasaran itu tidak bisa ditahan dan harus dituntaskan saat itu juga.


" Asya di mana, Memangnya tadi tidak masuk ke kampus?" tanya Gerry to the point.


Vina tidak perlu bertanya lagi tentang orang yang ada di seberang itu karena suara itu tidak begitu asing di pendengarannya dan sangat familiar, orang yang ingin dijumpainya kemarin pagi hanya ingin menanyakan Dimana keberadaan Asya.


" Ya ampun Kak Gerry Terima kasih banyak akhirnya muncul juga di permukaan, tahu tidak betapa paniknya aku dari kemarin sampai tadi hingga mood ku harus hancur dan tidak ingin mengikuti mata kuliah hanya karena mencari keberadaan Kak Gerry dan Asya yang hilang bagai Ditelan Bumi. Sebenarnya kalian itu lagi sibuk liburan atau sedang berhibernasi sampai jejak pun tidak diketahui oleh ku sama sekali, Kalau boleh tahu Asya di mana Soalnya aku pengen banget ngobrol sama dia?" pertanyaan Vina itu secara tak langsung sudah mewakili apa yang ingin diketahui oleh Gerry .


Gerry bingung harus merespon apa ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Vina tadi, kalau sudah begini Siapa lagi yang harus dia cari tahu tentang keberadaan Asya. Tidak mungkin juga kan dirinya harus bertanya kepada Mona? Yang ada bukannya jawaban yang didapat tetapi pertanyaan beruntun dari wanita itu, yang membuat dirinya merasakan sakit kepala yang sampai tak tertahankan.


" jadi menurut kamu Asya itu sedang pergi, Memangnya kamu tidak tanya ke orang rumahnya begitu itu dia sebenarnya sedang berada di mana sekarang? " Tanya Geri mencoba untuk memberi saran agar pikiran Vina lebih terbuka.


Vina mengerutkan keningnya mendengar apa yang ditanyakan oleh Gerry dari seberang, Padahal tadi kan dirinya mengira bahwa Asya sedang bersama pria itu tapi kenapa malah menanyakan tentang keberadaan Asya seolah mereka berdua tidak ketemu sama sekali.


" Loh kok gitu kalau Kak Gerry menanyakan keberadaan Asya padaku itu artinya kalian sekarang tidak bersama-sama, ya kalau begitu dia sekarang ada di mana coba soalnya rumahnya itu ke gembok kemarin?" tanya Vina ambigu membuat Gerry hanya bisa menghela nafasnya kasar.


" nanti kalau ada kabar terbaru dari dia Tolong kamu kasih tahu ke aku ya, save saja nomor ini karena mulai dari sekarang aku bakalan memakai nomor ini untuk berkomunikasi Dan tolong jangan kasih ke siapapun termaksud ke Mona!" pinta Gerry membuat Lagi Dan Lagi Vina tambah kebingungan.


" Kak Gery mau jadi pacar yang durhaka dengan tidak mau memberi kabar kepada ada wanita simpanan genderuwo itu, soalnya dia sekarang itu tambah parah loh tingkahnya sudah melebihi seperti wanita-wanita sosialita yang hidupnya jadi tante girang!" ujar Vina tapi tak ditanggapi sama sekali oleh Gerry karena menurutnya hubungannya dengan Monas sudah berakhir.


" kamu jangan lupa pesanku tadi Ya itu sangat penting dan amat penting yaitu jika ada kabar terbaru dari Asya Jangan lupa kasih kabar ke aku, aku sangat menunggu kabar penting itu dari kamu Terserah mau kamu telepon aku jam berapa pun itu!" ketika Gary ingin mematikan panggilan itu Vina menahan nya karena dirinya penasaran kok bisa Gerry menggunakan nomor telepon dari luar negeri.


" ke Gerry Kok bisa pakai simcardnya dari luar negeri, Memangnya sekarang Kak Gerry ada di mana?" tanya Vina penasaran.

__ADS_1


" Aku sedang berada di tempat untuk merenungi dan merutuki kebodohannya yang telah kulakukan, entah kapan aku kembali doakan saja semoga Asya mau memaafkanku!" setelah mengatakan hal itu Gerry langsung mematikan panggilannya membiarkan Vina memecah otak sendiri memikirkan kata-kata atau arti yang pas dengan kata-kata ambigu yang dikeluarkan oleh Gerry tadi.


__ADS_2