Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 126


__ADS_3

Keluarga kecil yang tengah berbahagia karena segala masalah sudah beres,mungkin itu akibat buah kesabaran dari Asya dan juga keikhlasan Kenzo.


Elnara terlihat begitu bahagia karena bisa berada di tempat yang menurutnya sangat nyaman,membuat Asya dan Kenzo sangat bahagia karena hal itu merupakan kebahagian tersendiri untuk mereka berdua.


"Mas,adek sangat manis kalau lagi anteng begini!" Ucap Asya..


Kenzo tersenyum mendengar apa yang dikatakan sang istri karena memang apa yang dikatakan Asya itu benar benar kenyataan,putrinya itu sangat terlihat begitu menggemaskan ketika mengeluarkan celoteh anak kecil..


"Kira kira kapan ya kita sampai,soalnya aku sudah pengen melihat kira kira keadaan di sana itu seperti Apa?" Tanya Asya antusias.


"Keadaan nya ya baik baik saja dan juga sama saja dengan Den Haag,terus yang lebih penting nya lagi ada aku yang selalu menemani kamu!" jelas Kenzo narsis padahal Asya sedang tidak membahas keberadaannya.


"Yang ngomong kalau kamu orang penting itu siapa,lain kali kalau mau bicara yang pintar dikit dong jangan asal seperti itu!" Ejek Asya.


"Ya karena aku kan pria yang selalu membuat kamu kangen jadi otomatis akan selalu begitu,jadi kamu jangan pernah meragukan suami sendiri!" Kenzo tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Asya tadi.


Oh My Gerry...


Kini pria itu tengah pusing dengan semua yang terjadi dalam hidupnya seharian ini,sebab kebahagiaan yang baru saja ia rasakan langsung terpatahkan dengan kesedihan serta patah hati dalam waktu yang bersamaan.


Jika ada orang yang melihat keadaan pemuda itu kini pasti yakin jika sebuah kejadian yang fantastis tengah terjadi dalam hidupnya,dan jawaban nya pasti sangat benar sekali dengan kenyataan yang ada.


Bahkan kehadiran Norah dan juga Dito yang berada di samping nya pun seolah tak dipedulikan sama sekali,sebab pria itu tengah larut dalam lamunan nya yang membuat kedua orang tuanya itu sangat merasa bersalah.


"Ger,jangan seperti ini Nak! Apa kamu tidak sayang sama Mama,atau kamu ingin Mama mati saja biar kamu lebih tenang?" Tanya Norah yang tidak tahu harus membujuk Gerry dengan menggunakan kata kata apa lagi.


Dito mengusap pelan bahu istrinya itu yang harus di uji kesabarannya hari ini secara berulang kali,mulai dari Asya dan kini putra satu satu mereka juga yang terlihat seperti mayat hidup.


"Sabar Mah,jangan putus asa begini! Nanti kalau kita semua begini terus Gerry nya bakal siapa yang perhatikan,bukan kah semua masalah itu ada jalan keluarnya tergantung sampai di mana kesabaran yang kita miliki?" Pinta Dito yang masih mencoba bersikap santai dan lebih dewasa karena memang harus seperti begitu..


Karena semua orang tidak bisa harus panik karena itu tidak akan pernah mendapatkan jalan keluar,maka dari itu jika semua sedang panik lebih baik ada orang yang bisa memberikan solusi..


"Tapi Pah,lihat sendiri kan anak kita sekarang seperti apa? Dia itu baru saja mengalami kecelakan yang tidak bisa di anggap remeh,tapi harus langsung di hadapkan dengan masalah yang seperti ini." Lirih Norah yang entah harus berbicara apa lagi agar semua orang paham dengan suasana hatinya kini..


Dito hanya bisa menghela nafasnya kasar dan memilih untuk mendekati Gerry yang hanya bengong saja tanpa ekspresi sama sekali,karena jika di diamkan terus maka otomatis bakal seperti itu saja tanpa perubahan sama sekali.


"Gerry kamu dengar Papa bicara tidak sekarang?" Tanya Dito dengan nada yang sedikit ditinggikan.


Gerry langsung menoleh kearah sumber suara yang terdengar sangat tidak bersahabat itu,namun pemuda itu memilih untuk tidak menggubris sama sekali karena menurutnya apa yang ditanya itu sangat tidak ada yang penting.

__ADS_1


"Gerry Erlangga,mau sampai kapan kamu diam? Atau kamu Mau Papa panggil suster sekalian biar menjahit mulut kamu agar tidak usah berbicara sekalian,seolah kamu tidak mendengar hal yang orang lain Katakan?" Tanya Dito karena sikap yang di tunjukan oleh Gerry itu.


Gerry menghela nafasnya kasar karena Papa nya itu sepertinya sedikit terganggu dengan sikapnya tadi,hanya saja bukan kah sikap dan perubahan seseorang tidak bisa di paksakan menurut apa yang kita kehendaki.


"Pah,Mah...Bisa tidak biarkan aku sendiri walau hanya sebentar saja? Apa kalian tidak bisa memahami apa yang aku rasakan kini,hatiku itu serasa mau lepas dari tempatnya apalagi semangat hidupku yang sudah pergi entah kemana?" Lirih Gerry penuh permohonan.


Norah mendekati Gerry dan menatap tajam kearah anak nya itu sebab sudah meminta hal yang tidak mungkin ia kabulkan,karena itu sama saja dengan membiarkan Gerry memikul beban nya sendiri tanpa berbagi kepada siapapun.


"Kalau kamu berpikiran begitu,apa kamu pernah juga memikirkan perasaan Mama? Bisa tidak jangan terlalu egois kalau jadi orang,asal kamu tahu tadi itu Mama sudah berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Asya. Hanya saja dia mengatakan kalau semua hal itu tidak bisa di katakan,karena ada yang harus menjadi sebuah rahasia seumur hidup!" Jelas Norah membuat Gerry langsung lemas karena ternyata Asya memang sangat membenci kejadian itu.


"Sekarang kamu jujur sama Mama tanpa ada yang di sembunyikan,karena ini menyangkut hal penting dan tidak boleh kamu bohong sedikitpun!" tegas Norah yang tak ingin di bantah.


Gerry langsung mengangkat wajahnya dan menatap kearah Mamanya itu dengan tatapan yang keheranan,bukan karena bingung melainkan merasa cemas sebab mungkinkah masalah yang ia hindari selama ini akan hadir kembali dan tak dapat ia hindari.


"Apa sebenarnya masalah kamu dan Asya,kenapa kalian seperti orang asing dan dia juga seolah menghindari kita semua?" Tanya Norah dengan wajah yang benar benar menginginkan kejujuran putranya itu.


Dito yang takut istrinya itu kenapa napa langsung mendekat kearah Norah,sebab bukan kah pembahasan seperti begini bisa di tunda lain kali.


"Mah,tunggu nanti kita pulang kerumah saja dulu Ya?" Tanya Dito pelan.


"Stop Tuan Dito Erlangga! Karena aku mau hari ini semua kelar dan tidak buat pusing,kalau kamu mau pulang ya sudah pergi sana jangan banyak bicara lagi!" Sarkas Norah emosi dengan sikap Dito yang tidak pernah tegas sebagai seorang kepala keluarga..


Karena Gerry yang tidak kunjung menjawab membuat Norah meradang,sebab pemikiran wanita itu bahawa sang putra tidak menghargai dirinya sama sekali.


"Tapi Mah,ini itu merupakan...


"Diam dan bicara sekarang!" Ujar Norah sambil mengangkat kedua tangan nya agar Gerry diam dan jangan mengelak lagi.


"Tapi aku tidak mampu mengatakan hal itu!" lirih Gerry.


"Tidak Mampu karena Apa? Memang nya kamu membuat Asya marah atau sakit,atau mungkin karena kamu berpacaran dengan wanita jadi jadian yang bernama Mona itu?" Terka Norah.


Gerry hanya bisa menatap kearah Mamanya itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Namun Norah tak mempedulikan itu sama sekali,Karena menurut nya putranya itu sedang mencoba membujuknya agar dirinya berubah pikiran, karena dirinya sangat tahu apa yang ada di dalam pikirannya Gerry sekarang ini dan apa yang sangat diinginkan oleh pemuda itu.


" jangan memperhatikan Mama seperti itu tetapi Tolong lakukan perintah yang Mama inginkan, karena setiap pertanyaan di dunia ini sangat membutuhkan jawaban bukan hanya jawaban yang hanya ditunjukkan oleh sikapmu itu!" tegas Norah membuat Gerry hanya pasrah dalam keadaan dan mungkin tidak bisa mengelak lagi.


sebelum melakukan hal itu Gerry mencoba untuk berusaha mengumpulkan keberanian yang ada, karena entah nanti Bagaimana sikap yang bakal ditunjukkan oleh kedua orang tuanya ketika mendengar pengakuannya itu.

__ADS_1


"Sebelum pindah ke Manchester City,aku telah mempe*k*s* Asya!" Lirih Gerry.


Duarr


Bagaikan disambar petir di siang bolong itulah yang dirasakan oleh Norah dan suaminya kini, kejadian ini tidak pernah mereka Pikirkan dalam hidupnya bahkan untuk menyebutnya saja pun tidak pernah tetapi ternyata apa yang tidak mereka pikirkan itu yang sudah dipikirkan oleh Putra mereka dan bahkan sudah melakukannya .


Norah pun merasa seperti kakinya sudah berpijak lagi pada bumi ini dirinya begitu Terpukul mendengar apa yang terjadi, dan akhirnya sadar kenapa Asya berubah dan selalu menghindari mereka dan tidak ingin membahas soal Gerry sedikit pun tahu-tahunya Wanita itu sudah diperlakukan secara tidak adil oleh anaknya sendiri.


Plak


Plak


Plak


Plak


Norah dengan sekuat tenaga tidak peduli jika putranya itu baru saja sadar dari komanya, dirinya berulang kali menampar hanya untuk melampiaskan kekecewaan yang tengah ia rasakan saat ini.


" kalau ditanya oleh semua orang Apakah aku norak Erlangga menyesal telah melahirkan kamu ke dunia ini Maka jawabannya adalah Iya sangat benar, karena Putra yang aku Didik sepenuh hati aku sekolahkan dengan keikhlasan penuh yang aku temani kemanapun dia pergi malah dengan tega menyakiti anak gadisnya orang. Jika saja selama ini saya tahu bahwa kamu pergi dari negara kita dan pindah ke Manchester City hanya untuk menghindari masalah ini, maka dalam benakku sedikitpun Tidak ada niatan untuk ikut dan menemani kamu tinggal di negerinya orang! " kekecewaan yang dirasakan oleh Norah itu bukanlah sebuah perkara yang mudah apalagi bisa dibilang sebagai hal yang sepele dan hanya didengar sepintas lalu dibiarkan begitu saja.


Begitu pula yang dirasakan oleh Dito saat ini yang tidak beda jauh dari istrinya itu, yaitu kekecewaan yang begitu sangat besar pada seorang anak yang selama ini sangat ia banggakan dan harapan melakukan hal yang tidak membuat mereka berdua malu.


namun begitulah manusia ketika kita memberikan Pengharapan yang tinggi kepada seseorang terkadang Harapan itu tidak sesuai dengan yang diinginkan, karena bakal berakhir kekecewaan dan juga keputus asaan sebab orang yang kita harapkan melakukan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya..


Dito memilih untuk keluar dari ruangan itu tidak ingin lagi banyak berbicara karena sama saja semua sudah terjadi Mau menghentikan waktu dan mengulang kembali di masa yang lalu itu sangat mustahil, mau marah-marah yang tidak jelas ataupun memukul Gerry sampai babak belur pun semua sudah terjadi dan pria itu juga sudah melakukan kesalahan yang mungkin tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan itu.


Gerry yang melihat Papanya sudah pergi dari ruangan itu tanpa mengeluarkan satu kata pun mendadak lemas seketika, Hal inilah yang membuat dirinya selama ini bungkam dan memilih untuk memikirkan semuanya sendirian karena tidak siap dengan respon orang sekitarnya.


namun mau bagaimana lagi Bukankah sebuah kejahatan biar ditutupi serapat mungkin tetap bakalan ketahuan juga, apalagi dengan melihat reaksi penolakan yang ditunjukkan oleh Asya tadi membuat kedua orang tuanya pasti bakalan berpikir yang tidak-tidak dan itu sudah terbukti.


Norah masih menatap tajam ke arah Gerry dengan berbagai macam pikiran dan juga kecurigaan yang tengah bersarang dalam benaknya kini, Hanya Satu Yang Pasti pikirannya kini tertuju kepada bayi yang sedang digendong oleh Asya dan suaminya tadi namun dirinya juga tidak bisa berharap lebih mengingat wajah gadis kecil itu sangat mirip dengan suaminya Asya.


" Mama pikir kamu selama ini menjaga dia dengan sepenuh hati setulus ikhlas tanpa mengeluh hanya karena menganggap dia sebagai adik kamu sendiri, Namun ternyata Apa yang kamu pikirkan itu salah besar sebab kamu Ternyata menginginkan sesuatu dan saat ada kesempatan kamu lancarkan aksi kamu yang kurang ajar itu. " ujar Norah yang Bahkan menoleh ke arah Gerry pun dirinya enggan melakukannya itu dan memilih untuk menatap ke arah luar jendela yang menurutnya Pemandangan itu lebih pantas disaksikan daripada orang yang berada di hadapannya.


" mulai dari sekarang terserah kamu mau melakukan apapun yang kamu inginkan mau ke mana saja seperti yang kamu harapkan, kami berdua tidak akan melarang kamu sedikitpun sebab Bukankah kamu selalu mengambil keputusan itu benar dan kami yang selalu salah?" ujar Norah membuat Gerry menatap tak percaya parah Mamanya itu yang dengan tega seolah membuang keberadaannya dan tidak mengakui kehadirannya sama sekali.


"Mama pernah dengar kan apa yang aku katakan dahulu,bahwa aku akan bertanggung jawab untuk kesalahan yang telah aku lakukan tidak peduli dengan keadaan serta status Asya kini?" Tanya Gerry pelan.


Norah yang mendengar apa yang dikatakan oleh putranya itu menatap tajam kearah nya , sebab Norah bukannya menyesali kesalahan yang telah ia lakukan malah merencanakan sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sedikitpun.

__ADS_1


sikap ini yang selama hidupnya sangat dibenci oleh Norah yang menurutnya orang yang suka melakukan pemaksaan itu adalah orang yang tidak punya hati nurani dan tidak punya belas kasihan sedikitpun, dan ternyata sikap yang ia benci itu malah dipilih oleh anaknya sendiri.


" kalau seperti begini yang ada bukan asya kembali ke kamu tapi dirinya malah merutuki kamu seumur hidupnya, Memangnya mau taruh di mana wajah kamu itu kalau sampai melakukan semuanya dan Apakah kamu pikir Asya bakalan mau berhubungan dengan pria seperti kamu ini?" tanya Norah sinis membuat Gerry tidak tahu lagi harus menjawab kata-kata apa yang pas menggambarkan perasaannya kini.


__ADS_2