
Asya merasa heran dengan apa yang di katakan oleh Vina dari sebarang,sebab menurutnya sangat aneh jika mengatakan hal yang sebenarnya tidak masuk akal.
karena menurut pikirannya Vina kan sudah menikah dan datang ke negara itu untuk berbulan madu, otomatis di mana ada dirinya pasti di situ ada Andi suaminya tetapi sekarang kenapa malah mengatakan bahwa dirinya sendirian di hotel.
bercermin dari keluarga kecilnya juga yaitu di manapun Asya berada pasti di situ bakalan ada Kenzo yang selalu saja menempel selayaknya perangko yang tidak ingin dilepas daripada amplopnya, ingin sekali dirinya menjitak jika wanita itu sekarang berada di depannya.
" Kamu kira aku ini anak kecil jadi seenak jidat kamu membohongiku, mana ada pasangan pengantin yang lagi berbulan madu tidurnya pisah-pisah Andi di rumah terus kamunya menginap di hotel? Memangnya kamu mau bertemu dengan om-om Terus mau jadi sugar daddy begitu, makanya memilih untuk tidur sendirian Soalnya kan nanti ada yang bakalan kasih hangat kamu?" pertanyaan Asya itu membuat Vina ingin sekali membanting ponselnya atau mungkin bisa menghubungi Om Doraemon siapa tahu bisa dipinjam itu pintu ke mana saja agar bisa menemui sahabatnya itu dan menjelaskan duduk perkaranya yang sebenarnya.
" kamu ini bukannya malah memberikan solusi malah mengatakan hal yang membuat aku tambah pusing, bisa tidak bertanya Lho kenapa sih Vina kamu malah menginap di hotel?" tanya Vina sambil menirukan gaya bicaranya Asya.
" Memangnya ada gunanya begitu aku harus bertanya seperti yang tadi kamu minta? Lagian kalau misalnya aku nih bertanya pasti jawaban kamu kan ya aku sedang berduaan dengan suamiku lah, Kamu kan orangnya rada menyeh menyeh begitu?" Vina berusaha untuk tetap sabar tidak mengubah nada intonasi bicaranya dan mencoba menelan emosinya sendirian agar bisa terasa lebih rileks padahal sebenarnya emosinya itu bisa dibilang akan meledak suatu saat.
" aku lagi butuh dukungan Bukan butuh nasihat aku itu sendirian merana Sunyi sepi bisu tidak ada yang menemani, kalau mau dibikin lagu galau kayaknya suasana hatiku sekarang ini sedang tepat hanya salahnya aku bingung menggunakan kata-kata puitis yang seperti apa!" terdengar suara Vina begitu Lirih seperti sedang memendam beban yang terasa begitu berat tetapi ingin dikeluarkan hanya saja sepertinya Asya belum terlalu peka dengan apa yang diinginkan oleh sahabatnya itu.
" Astaga Vina kamu itu kalau lagi ada masalah ngomong itu langsung ke intinya saja Sayang jangan berbelit-belit lagi, Kamu pikir aku ini cenayang bisa membaca jalan pikiran orang atau mungkin mentalis jadi bisa langsung mengetahui seseorang dari nada bicaranya?" kali ini Asia berusaha untuk lebih bersabar karena dipikirannya Vina tidak pernah mengeluh jika beban yang ia pikul itu terasa begitu santai dan tidak terlalu membebaninya tetapi sepertinya kali ini begitu serius.
persahabatan mereka berdua sudah terjalin hampir mau 10 tahun otomatis luar dalamnya seorang Vina, Asya sudah sangat tahu maka dari itu dirinya berusaha agar tetap tenang memberikan jalan keluar yang terbaik untuk sahabatnya itu agar lebih rileks karena bayar bagaimanapun demi dirinya Vina bisa datang ke negara itu.
namun yang satu permasalahannya yang tidak disadari oleh Asya jika dirinya tadi itu memanggil Vina dengan sebutan sayang dan Percayalah pria yang berada di belakangnya sedang cemburu, Bagaimana tidak dirinya yang notabene suami Asya sampai sekarang itu tidak pernah dipanggil sayang bahkan yang kata-kata yang paling manis itu yaitu Yang.
padahal kata Yang itu merupakan suatu kata yang menghubungkan orang lain atau suatu benda masa iya dirinya disamakan dengan hal itu, singkat sih boleh tapi yang sesuai lah kayak Bebeb Cin tuh gitu.
maka dari itu Kenzo menarik ponsel dari tangan Asya tanpa mematikannya Lalu setelah itu mengangkat dagu istrinya agar menghadap ke arahnya, membuat Asya menatap heran dengan sikap pria itu karena menurutnya terlalu aneh padahal dirinya sedang mengobrol serius dengan Vina.
" kamu itu apa-apaan sih Mas, Kamu tahu kan aku lagi ngomong sama Vina masa iya kamu menarik ponsel dari tanganku begitu saja?" tanya Asya heran dengan sikap suaminya yang begitu tiba-tiba Itu.
" kamu harus ngomong ke sahabat kamu itu Kalau kata-kata sayang tadi itu sebenarnya hanya keceplosan saja tetapi sebenarnya bukan untuk dirinya melainkan untukku, masa iya suami sendiri tidak dipanggil kata sayang malah orang lain nanti dikira semangka makan semangka baru Nyaho!" Asya membulatkan matanya sempurna mendengar nada protes dari suaminya itu padahal itu sebenarnya kan hanya masalah sepele dan tidak ada artinya sama sekali.
" Ya Tuhan hanya karena masalah itu kamu ngambil ponsel dari tanganku tanpa permisi? Astaga Mas Cemburu itu bisa lihat tempat tidak sih masa iya sama sahabatku yang Jauh di seberang sana bareng hidungnya saja tidak kelihatan kok kamu cemburu, sudah begitu dia itu wanita kalau bukan pria Jadi wajar dong kalau aku ngomong kayak begitu tidak ada masalahnya?" tanya Asya berusaha untuk menetralkan rasa sesak di dadanya karena memang sangat benar-benar dibuat speechless dengan sikap suaminya itu.
__ADS_1
" pokoknya Hari ini aku dengar kamu terakhir memanggil orang lain dengan sebutan itu karena hanya yang boleh dipanggil begitu tuh aku bukan siapapun, tidak peduli Mau kamu terima atau tidak karena itu adalah keputusanku mutlak dan kamu harus mengikutinya karena aku kepala keluarganya!" ujar Kenzo tegas membuat Asya hanya menghembuskan nafasnya kasar karena jika dirinya menjawab otomatis perdebatan mereka 2 tidak akan pernah habis dan membuat Vina lebih Nelangsa di seberang.
" Iya Baiklah aku tidak akan memanggil orang lain dengan kata laknat itu dan mulai besok lusa aku juga tidak akan memanggil siapapun lagi termasuk kamu dengan kata-kata romantis, soalnya nanti kalau kebiasaan romantisan memanggil orang lain juga sebutan seperti itu bakalan disalahkan terus kan!" Sindir Asya lalu merebut ponsel dari tangan suaminya dan pergi ke arah kamar melihat anaknya yang sedang bermain dengan boneka Teddy kesayangannya itu.
Percayalah Vina yang mendengar percakapan antara Asya dan suaminya hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena sepertinya dirinya bakalan kesusahan untuk berduaan dengan sahabatnya itu, sekedar bernostalgia kenangan indah mereka Dahulu ketika masih duduk di bangku SMA dan juga kuliah serta hobi menonton drama Korea seperti yang sudah-sudah.
" Ya Tuhan Percuma dong aku datang ke sini kalau suami Asya modelnya seperti begitu, Aku dipanggil sayang saja salah apalagi kalau ajak Asya buat berbelanja seperti biasanya dulu wah bakalan perang dunia ke-6 tuh!" lirih Vina yang merasa sepertinya setelah menikah Asya tidak akan pernah seperti dulu lagi.
" Halo Vin kamu masih ada di situ kan, jangan bilang kamu tidur karena aku melipir sedikit tadi?" tanya aja memastikan hanya saja dirinya yakin jika sahabatnya itu masih ada di seberang karena terdengar helaan nafas yang begitu besar.
" Iya aku masih di sini terus bilang sama suami kamu itu kata-kata sayang sebagai sahabat kamu itu aku kembalikan deh soalnya Sepertinya aku juga tidak butuh, nanti yang ada bakalan disalahin terus padahal aku tidak minta Lho kamu menyebut kata itu!" Asya tertawa mendengar nada bicara sahabatnya itu yang terdengar kesal tetapi sengaja dibuat natural mungkin agar mungkin dirinya tidak ikutan tertawa ataupun menyalahkannya.
" Sudahlah kamu jangan banyak komentar Anggap saja dia lagi berpantun tadi soalnya memang orangnya seperti begitu, nanti kalau kamu dengerin dia terus yang ada masalah itu tambah rumit dan membuat kepala kita tambah puyeng? " bujuk Asya.
" Asya kamu dengerin aku nyanyi ya soalnya aku lagi patah hati patah jantung patah tulang rusuk, mau berkeluh kesah Tapi kayaknya susah jadi makanya aku bersenandung aja deh kalau kamu mau bobo ingat ya bilang biar aku berhenti nyanyi!" ujar Vina dan Asya mengiyakan saja karena memang kebiasaan sahabatnya itu selalu bersenandung ketika dirinya sedang kesal ataupun galau seperti mungkin saat ini.
Nanti Mungkin setelah wanita itu bersenandung dan merasa hatinya sedikit lega baru bisa Asya bertanya apa masalahnya, sebab kebiasaan Vina ya seperti begitu selalu mencari kelegaan di dalam hatinya dulu dengan cara bernyanyi barulah setelah itu dirinya akan curhat kepadanya.
Baru pertama aku merasakan
Serba salah Bila di depan dirimu
Entah mengapa aku begini Wajahmu selalu terbayang-bayang
Sehari saja kita tak bertemu
Gelisah hatiku ingin jumpa kamu
Kerinduanku semakin mendalam
__ADS_1
Cintaku padamu semakin membara
Bila malam kupeluk bayang dirimu
Dalam tidur pun selalu ku impikan
Aku takut berteriak memanggilmu
Ditengah malam sunyi kusendiri
Ingin Memeluk Dirimu🌷
setelah Asya mendengarkan Vina bersenandung dan terdengar Wanita itu sudah menghentikan nyanyiannya dirinya mulai mencari tahu sebab dan akibat, karena jika tidak bisa dipastikan keduanya bakalan tidak ada bahan pembicaraan yang begitu penting dan juga Sebentar lagi Kenzo pasti kesal kepadanya karena lebih merespon Vina daripada dirinya.
" Ya sudah karena kamu sudah selesai sekarang aku tanya ke kamu Sebenarnya kamu Ada masalah apa Sama siapa dan juga kenapa, soalnya perasaan waktu itu saat menelponku kamu tidak seperti begini tetapi sekarang kenapa tiba-tiba jadi kayak begitu?" tanya Asya memastikan membuat Vina yang tadi sedang galau berusaha lebih Tegar dan kuat karena biar bagaimanapun wanita zaman sekarang itu jangan terlalu cengeng karena kalau tidak laki-laki bakalan besar kepala.
" aku lagi berantem guys sama suamiku yang tukang marah yang tidak jelas kayak begitu, masa tadi kan Kita ceritanya lagi liburan kemudian menikmati spot-spot wisata yang ada yaelah sebelum kita mau cari makan tiba-tiba itu mukanya sudah kayak apa ya ditekuk terus dari tadi terus aku tanya eh malah marah-marah! Ya sudah aku balik marahin dia juga soalnya Memangnya dia pikir dia sendiri yang bisa marah, aku marah terus dianya juga tidak mau kalah Ya sudah aku tinggalkan saja terserah mau mencariku sampai pakai gaya apapun suka-suka dia lah aku bodo amat!" jelas Vina Ketus membuat Asya hanya bisa menggelengkan kepalanya karena memang dari dulu sikap Vina itu terlalu keras kepala tidak suka setiap perkataannya dibantah Oh my God.
" Jadi ceritanya kamu kabur terus meninggalkan suami kamu sendiri dan sekarang alhasil kamu nginep di hotel, Wah Vina kamu keterlaluan sekali loh Itu nanti Andi bakalan kebingungan model apa jika sampai kamu seperti begitu! kamu tahu kan kalian berdua sama-sama asing di situ tidak ada orang yang bisa dimintai pertolongan, apa kamu tega melihat itu anak orang kesana kemari tidak jelas sudah kayak orang stres?" tanya Asya ingin membuka pikiran Vina agar lebih dewasa sedikit lah dalam bersikap jangan sedikit-sedikit main kabur seperti Bocil yang masih labil.
" Ais kamu kenapa malah membela dia aku kan lagi curhat ke kamu jadi otomatis kamu harus membela aku dong, Lagian dia itu kan pria ya tugasnya seorang pria ya itu berusaha maka dari itu kalau sampai aku nongol di depannya besok lusa pasti dia bakalan tidak pernah berubah!" ujar Vina yang tetap saja pada pendiriannya.
" aku tanya sama kamu ya dari awal sebelum kalian berdua memutuskan menikah Kamu sudah tahu kan konsekuensi dalam berumah tangga, Woi tidak selamanya enak terus kebanyakannya bikin kepala pusing jadi kalau kamu tidak kuat mental tidak tahan banting otomatis ya seperti begini sedikit-sedikit kabur. lagian kalau kamu tidak menyukai Sikap suami kamu ya ngomong biar dia tahu apa yang tidak kamu sukai dari dia, kan tadi aku sudah bilang tidak semua orang itu bisa membaca pikiran setiap orang mengetahui kemauannya secara langsung meski hanya dilihat dari bahasa tubuhnya!" jelas we Asya yang sudah terdengar seperti seorang motivator dalam berumah tangga.
" masa iya begitu saja aku harus ngomong dia kan sudah gede risiko jadi kepala keluarga yang harus seperti begitu, tetapi jangan terlalu berlebihan juga kan aku punya perasaan Masa harus diperlakukan seperti begitu aku hanya diam saja!" ujar Vina yang merasa tidak terima jika Andi marah yang tidak jelas kepadanya terus dengan begitu tiba-tiba mendiamkan dirinya mana dia tahu apakah letak kesalahannya kalau respon suaminya harus seperti begitu.
" Yaelah Kalau memang dia tidak sadar dengan kesalahannya atau kamu yang tidak sadar dengan kesalahan ya kamu ngomong toh, kalau dia diam kamunya juga diam kapan sampainya yang ada ya seperti begitu terus! " Asya terlihat Jengah dengan sikap sahabatnya itu yang masih saja keras kepala padahal salahnya lebih banyak.
" pokoknya mau ada gempa bumi tsunami atau apapun Sekalipun Aku tidak bakalan pulang ke rumah apalagi menelepon dia, biar dianya kapok semalaman mencariku sampai keok pun tidak masalah!" Vina masih tetap kokoh pada pendiriannya membuat Asya pun menyerah soalnya capek kalau ngomong sama orang yang keras kepala biar mau dibicarakan ataupun dinasehati seperti apapun mulai dari besar kecil panjang kali lebar sampai membentuk jajargenjang pun tidak akan pernah bisa.
__ADS_1
" Ya sudah suka-suka kamu lah mau bertengkar dengan suami kamu sampai 1 tahun atau satu abad sekalipun, soalnya kan dia suami kamu bukan suaminya aku masa iya aku juga harus ikut repot berpikir sedangkan kamu istrinya saja malas tahu!" setelah mengatakan hal itu Asya pun langsung mematikan panggilan tersebut soalnya sama saja hanya bikin capek tapi tidak ada yang mau mendengarkan.