
kalau tidak suka skip saja guys, karena autor tidak bisa memaksakan kehendak Agar kalian menyukainya.
Oke lanjut"""
kini Asya setelah berpamitan kepada Dewi dan Rio suaminya sudah berjalan kaki menuju ke rumahnya Gerry, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh membuat jalan kaki adalah opsi yang paling dipilih Asya kini.
" Ya Tuhan Semoga Asya tidak jadi datang kesini, karena aku rasanya seperti tidak tega melakukan hal bejat itu padanya. Lagian Mona kok ada saja kasih persyaratan, Memangnya sebenci itu dia kepada Asya sampai-sampai berpikiran melakukan hal yang tidak-tidak dan akulah yang harus menjadi eksekutor utama!" gumam Gerry monolog.
" Permisi Den, itu kayaknya non Asya di depan deh. apa Bibi suruh langsung masuk kedalam sini saja atau Aden yang keluar?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di situ membuat Gery terkejut karena Lagi Dan Lagi harapannya tak sesuai dengan realita.
" Ah tidak usah nanti biar saya saja yang menyusul ke depan, nanti Bibi tolong buatkan minuman dan tolong dipisah punyanya saya dan punyanya Asya. karena Asya tidak suka yang manis jadi nya Bibi tolong buatkan dia teh hangat saja, saya Bibi tolong buatkan jus nanti baru diantar saja ke dalam kamar!" begitulah kebiasaan Asya selama menginap di rumahnya Gerry yaitu tidur di dalam kamar pria itu Sedangkan pemiliknya di sofa.
__ADS_1
mungkin karena saking percayanya kepada pria itu membuat Asya tidak merasa sungkan ataupun was-was karena dirinya yakin Gery tidak mungkin melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya, karena selama ini Gerry selalu memperlakukan dirinya layaknya Adiknya sendiri.
dengan langkah kakinya yang panjang Gerry menyusul Asya yang sudah berada di depan terlihat keringat menetes di tubuh pria itu, bukan karena AC yang mati melainkan karena rasa gugup yang tengah ia rasakan.
"Kak Gerry itu ke mana saja sih makin hari tinggalnya makin lebay tahu tidak, apa juga harus menyusul keluar Padahal aku bisa masuk sendiri loh sudah semakin tua kok sifatnya tambah aneh!" sungut Asya yang merasa diperlakukan seperti orang asing oleh Gerry sendiri.
" maaf jangan marah-marah dong, tadi itu Bibi lagi sibuk makanya aku yang menyusul ke sini. Lagian kamu baru datang kok marah terus apa tidak capek, wajahnya dibawa bete tidak ada tampang manis-manisnya sedikit padahal air saja manis?" goda Gerry yang ingin mencairkan suasana tapi Asya menangkap hal yang tidak biasa.
" kamu itu lama-lama bisa jadi cenayang loh mengatakan hal yang tidak-tidak, karena mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal orang Aku biasa saja kok!" Gerry yang entah mengapa menjadi sewot membuat kecurigaan Asya semakin bertambah parah.
" bisa tidak jadi orang itu kalau ditanya baik-baik menyambutnya juga yang baik dikit dong, jangan ngegas terus Memangnya tadi aku ngomong apa sampai kamunya kayak sensi begitu?" tanya Asya sambil mengerutkan keningnya membuat Gery hanya bisa menghela nafasnya kasar karena memang dirinya terlihat seperti orang yang berbeda kali ini.
__ADS_1
" Maafkan Aku Soalnya dari tadi selalu kasar ke kamu tapi kamu tidak bakalan pulang kan tetap menginap di sini, nanti kalau kamu pulang aku bakalan disini sama siapa?" Tanya Gerry memelas membuat Asya menjadi Tak Tega jika memarahi pria itu lagi.
"Kak Gerry lagi punya masalah sama si Mona, soalnya tidak biasanya bersikap aneh seperti tadi?" tanya Asya memastikan.
" kamu itu kalau ngomong sembarangan saja Sudah aku bilang kan tidak cocok jadi cenayang?" ujar Gary sambil mengacak gemas rambut Asya membuat wanita itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah kalau begitu aku boleh tidak ke kamar langsung, Soalnya ada tugas yang harus aku selesaikan dan dikumpulkan besok?" tanya Asya minta izin kepada Gerry.
" Ya sudah kamu lebih dulu ke sana nanti kakak nyusul dari belakang sambil membawakan minuman, kamu mau cemilan apa biar disiapkan sekalian sama Bibi!" Tanya Geri memastikan.
" Terserah Kakak aja deh kalau tidak merepotkan!" setelah mengatakan hal itu tanpa sungkan Asya menuju ke kamarnya Gery.
__ADS_1