
Dito hanya bisa menjadi pendengar yang setia dan juga tidak ingin menambah beban pikiran sang istri, karena biar bagaimanapun dirinya tahu bagaimana posisi Norah saat ini yang seolah percaya dan tidak kenapa bisa hal ini terjadi kepada anak mereka.
namun terkadang satu hal yang harus kita sadari yaitu terkadang apa yang dianggap sebagai kelebihan kita Hal itu merupakan bumerang yang baik menyerang kita pula, tidak sedikit atlet yang cedera padahal itu merupakan salah satu kelebihan yang mereka miliki karena memang manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna dan juga tidak ada yang bisa lebih dari segala-galanya.
ketika Norah dan juga suaminya tengah duduk dan menjaga Gery di depan ruangan, keduanya menoleh ke arah sumber suara ketika ada pasangan suami istri yang masuk ke dalam ruangan unit gawat darurat sambil menggendong bayi kecil yang tengah menangis.
keduanya seperti tidak asing dengan suara tersebut dan terasa seperti sudah mengenal lama dan juga merupakan bagian dari hidup mereka, apalagi ketika bayi kecil yang digendong oleh wanita itu ketika menangis sambil menatap ke arah mereka berdua tiba-tiba bayi kecil itu langsung tersenyum dan tangisnya pun reda seketika seolah memang Tengah mendapatkan mainan yang pas di dalam benaknya.
" papa, Bukankah itu Asya? Kok bisa dia menggendong anak kecil dan datang bersama dengan pria lain, kalau begitu tadi saat Gerry kecelakaan Dia ada di mana? Papa mau ikut mama atau tidak terserah karena mama mau memastikan apa yang terjadi di sini, soalnya semua terasa aneh dan mustahil membuat Mama mumet memikirkannya." Norah tidak perlu menunggu jawaban yang diberikan oleh Dito karena menurutnya jawaban pria itu bakalan terasa sangat lama dan hanya membuang-buang waktu percuma.
sedangkan Asia dan Kenzo kini tengah menunggu dokter yang sedang memeriksa kondisi ElNara yang tiba-tiba panas tinggi dan juga rewel, takutnya bayi kecil tersebut mengalami sesuatu yang salah di dalam tubuhnya dan hanya bisa dilakukan hanyalah menangis karena tidak bisa menggambarkan apa yang tengah ia rasakan.
Kenzo yang melihat istrinya itu berjalan mondar-mandir ke sana kemari layaknya setrikaan nah sumber diri dan menarik tangan Asya agar ikut Duduk di sampingnya, dirinya tahu wanita itu sedang cemas memikirkan keadaan Bayi Mereka hanya saja bukan dengan cara menyusahkan diri sendiri seperti begitu.
" Aku tahu kamu cemas Tetapi lebih baik duduk dan berdoa agar dia tidak kenapa-napa, jangan menyiksa diri seperti begitu lagi karena aku tidak sanggup melihatnya! " mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu Asya hanya bisa menghela nafasnya kasar dan tidak tahu harus menjawabnya Seperti apa lagi sebab hati dan pikirannya hanya tertuju Di mana tempat bayi kecilnya itu berada.
Norah dan Dito kini sudah berdiri tepat dimana Asya dan Kenzo berada,hanya saja yang menyadari keberadaan keduanya lebih dahulu adalah Kenzo yang menatap kebingungan ke arah mereka berdua yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
Namun yang membuatkan Kenzo bingung karena arah tatapan kedua manusia paruh baya itu hanya kepada istrinya, padahal kini tengah menunjukkan kepala sambil menutupi kedua wajahnya memikirkan bayi mereka yang belum ada kejelasan Sebenarnya sakit apa karena sampai sekarang belum ada yang keluar dan memberitahukan kepada mereka.
"Sya, ini beneran kamu Nak? selama ini ke mana saja kok tidak pernah ada kabar sama sekali, bahkan lebih parahnya lagi kamu pindah dari rumah tanpa memberitahukan kepada kami walau hanya sedikit saja?" Tanya Norah.
Asya sangat mengenal suara orang yang tengah berbicara kepadanya kini, dirinya berpikir ini mungkin hanya halusinasi karena terlalu khawatir dengan kondisi Elnara sehingga apa yang tidak terjadi tiba tiba muncul begitu saja.
Asya mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah sumber suara dan seketika netranya membulat sempurna karena memang benar yang ada di hadapannya kini itu Dito dan juga Norah, kedua orang tua Gerry yang selalu saja memberikan perhatian lebih kepadanya Bahkan mereka sudah menganggap dirinya seperti anak kandung mereka sendiri.
" Om sama Tante Kok bisa ada di sini, apa ada yang sakit atau Om sama Tante yang sakit?" tanya Asya penasaran bahkan sampai melupakan pertanyaan Norah barusan.
__ADS_1
" kamu selama ini ke mana saja kok bisa menghilang begitu saja tanpa pamit, apa Gerry melakukan kesalahan ke kamu sampai kamu marah kepada dia dan pergi?" tanya Norah membuat Asya tertegun karena sungguh pertanyaan seperti ini yang selama ini ingin Ia hindari dan juga tidak ada niatan untuk mendengarkannya walau hanya sedikit saja.
wanita itu menoleh ke arah suaminya meminta pertolongan agar Bagaimana caranya supaya dirinya tidak dipaksa menjawab hal itu, karena sungguh ia tidak memiliki niat sedikitpun untuk menjawabnya karena bukan tidak sopan melainkan hatinya sangat tidak sanggup melakukannya.
" Kamu kenapa kok malah diam, Apa pertanyaan Tante tadi berlebihan jadi kamu tidak ingin menjawab? atau sebenarnya tante yang salah karena selama ini terlalu cerewet dan banyak ngomong kepada kalian berdua, kalau memang iya Tolong maafkan tante dan juga tante mohon ke kamu untuk melihat kondisi Gerry sekarang ini!" lirih Norah penuh permohonan membuat Asya mengerutkan keningnya karena heran.
ketika Asya hendak menjawab tiba-tiba pintu ruangan tempat elnara diperiksa sudah terbuka, menampakan dokter yang memeriksa kondisi Bayi Mereka itu sehingga membuat pasangan suami istri itu langsung berlari guna mencari tahu kondisi Putri mereka.
" Bagaimana keadaan anak kami dokter, apa kondisinya baik-baik saja atau perlu penanganan lebih?" tanya Asya yang sudah membuat Norah dan Dito merasa lebih kebingungan dengan situasi sekarang ini.
"Anak?" Tanya Norah pelan.
" kondisi bayi anda tidak ada yang perlu dikhawatirkan nyonya, mungkin bayi kecil itu hanya kecapean saja Paling diberi obat penurun panas dan juga antibiotik pasti bakalan kembali pulih seperti biasanya!" ujar dokter tersebut sambil tersenyum lalu pamit undur diri karena dirinya masih harus memeriksa kondisi pasien yang lain.
" apa bayi kami bisa dibawa pulang sekarang juga, Soalnya kami harus melakukan penerbangan saat ini?" Kenzo sudah tidak ingin berada di tengah-tengah orang yang mengenal dekat istrinya karena yang ia takutkan sekarang adalah Asya memilih untuk kembali kepada masa lalunya dan melupakan dirinya yang jelas merupakan orang yang baru datang dan singgah di dalam hati wanita itu.
Asya pun tersenyum bahagia dan ingin masuk ke dalam ruangan tempat tadi Elnara diperiksa, namun tangannya dicekal oleh Norah yang wajahnya seolah sedang memendam beribu banyak pertanyaan yang ingin Ia lontarkan dan membutuhkan jawaban saat itu juga.
"Sya, tante Mohon tolong jawab pertanyaan tante kali ini saja! Siapa pria ini dan juga anak kecil yang tadi kamu sebut sebagai anak kamu, karena setau Tante kamu masih kuliah dan juga berjanji bakal melakukan penelitian bersama dengan Gerry Lalu setelah itu bakal membangun klinik milik kalian berdua?" tanya Norah membuat Asya hanya bisa menghilangkan nafasnya kasar karena dirinya inginkan sekarang yaitu bisa segera menemui Putri kecilnya yang pasti Tengah menunggu dirinya sebab kini berada di antara para suster yang terasa begitu asing baginya.
" Tante nanti biar Mas Kenzo saja yang menjelaskan nya tapi sekarang Asya harus Memastikan kondisi anak Asya Seperti apa di dalam, Maaf bukannya tidak sopan Tetapi dia masih kecil dan aku tidak tega meninggalkannya begitu terlalu lama!" setelah Asya mengatakan hal itu dirinya pun masuk ke dalam ruangan tempat Elnara berada dan terlihat bayi kecil itu Tengah bermain dengan para suster yang berada di situ.
Norah menatap ke arah pintu yang sudah tertutup kembali itu dirinya merasa tidak percaya dengan Sikap yang ditunjukkan oleh Asya sekarang ini, karena terlihat jelas wanita muda itu seolah menghindari kehadiran dirinya dan juga suaminya di tempat itu.
" saya adalah suaminya Asya dan kami sudah menikah lebih dari setahun ini, dan yang berada di dalam ruangan itu merupakan bayi kecil kami berdua yang tadi dibawa ke sini karena badannya tiba-tiba demam!" penjelasan Kenzo yang singkat padat dan jelas membuat Norah dan Dito saling tatap dan juga nampak jelas kekecewaan di dalam mata mereka yang tidak bisa dibohongi.
ini merupakan sebuah pukulan tolak yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun terlebih Norah yang sudah menganggap Asya seperti anaknya sendiri dan juga berharap wanita itu bisa bersatu dengan putranya, namun terkadang Harapan tidak sesuai dengan kenyataan dan itulah yang tengah dirasakan oleh Norah.
__ADS_1
"Tuan, Maafkan saya jika Lancang dan meminta lebih! Hanya saja sebelum Anda pergi Bisakah mengizinkan Asya walau hanya sebentar untuk menengok Gerry yang sedang berada di ruangan ICU, mungkin dengan kehadirannya anak saya bisa sadar dan setelah itu saya berjanji Kami tidak akan pernah mengganggu kehidupan rumah tangga Anda lagi ataupun menampilkan Wajah kami di hadapan kalian!" minta Norah dengan tatapan memelas membuat Kenzo Dilema tetapi juga tidak bisa berbuat apapun semua keputusan ada di tangan Asya.
" saya tidak bisa membuat keputusan karena biar bagaimanapun semuanya ada di tangan Asya istri saya, kalau memang dia mau Saya tidak keberatan tetapi permintaan saya hanya satu yaitu Tolong jangan sampai putra anda itu mengganggu rumah tangga kami lagi seperti yang tadi ia lakukan!" Sahut Kenzo lalu memilih untuk menyusul Asya di dalam.
Ketika masuk di dalam pria itu langsung tersenyum ketika melihat istrinya Tengah bercanda dengan Putri kecil mereka yang terlihat sudah lebih tenang dan tidak rewel seperti tadi, begitu pula dengan wajah Asya yang tadi begitu Murung kini berubah menjadi lebih mudah untuk tersenyum.
Asya menoleh ke arah suaminya itu yang seperti Tengah memikirkan sesuatu dan dirinya bingung kira-kira apa yang ada dalam pikiran pria itu, namun satu yang membuat dirinya yakin ini pasti ada sangkut pautnya dengan kemunculan Norah serta suaminya yang merupakan kedua orang tua Gerry tadi.
" Mas gimana tadi ngomongnya ke Tante Norah sama Om Dito, apa mereka sudah pergi dari sini dan juga tidak bertanya yang aneh-aneh lagi?" tanya Asya memastikan membuat cancel hanya bisa menghilangkan nafasnya dan berusaha mencari jawaban yang paling terbaik.
" Mereka ingin kamu menemui diri yang tengah tidak sadarkan diri dan kini berada di ruangan ICU di dalam rumah sakit ini, tapi tadi mas tidak menjawab karena Biar bagaimanapun semua keputusan ada di tangan kamu!" jelas Kenzo membuat Asya segera menggendong Putri kecilnya itu dan mendekati suaminya.
" lain kali jika itu menyangkut aku dan Elnara maka kamu yang harusnya kamu yang menjawabnya karena semua keputusan tentang kami berdua itu ada di tangan kamu, kalau kamu mengizinkannya maka akan aku lakukan tapi jika kamu tidak mengizinkannya aku pun tidak bakalan memaksakan diri ataupun memaksakan kamu untuk harus sepemikiran denganku!" ujar Asya sambil tersenyum.
Kenzo tidak tahu harus berkata seperti apa lagi karena memang usia istrinya itu sangat mudah tetapi pemikirannya Seluas Samudra, tidak pernah wanita itu meminta lebih di dalam kehidupan rumah tangga mereka selama ini Karena rasa pengertiannya itu lebih dari segala-galanya.
" Ya sudah nanti kamu temui saja dia dan setelah itu kita bakal langsung pergi dan tidak akan pernah bertemu dengan mereka, dan itu juga tergantung dari kamu setuju atau tidak dengan keputusanku itu!" jelas Kenzo.
" Ya jelas aku tidak bakalan menemui Mereka lagi lah Orang aku kan hidupnya bareng sama kamu bukan sama mereka, Ya sudah ayo kita keluar terus menemui tante Norah sama Om Dito soalnya aku pengen cepat pergi dari sini kasihan kan ElNara kalau terlalu lama di rumah sakit!" ajak Asya tetapi sepertinya wanita itu tidak terlalu bersemangat untuk bertemu dengan Gerry tetapi Demi rasa kemanusiaan maka ia tetap harus melakukan hal itu.
ketika mereka sudah sampai di luar terlihat Norah sedang menatap ke arah mereka dan berjalan mendekati Asya tetapi tatapan matanya itu tertuju ke arah anak kecil yang sedang digendong oleh wanita itu, bayi itu begitu manis seperti ibunya dan juga wajahnya mirip sekali seperti pria yang berada di samping Asya.
" Bagaimana kondisi anak kalian, apa dia baik-baik saja dan kondisinya tidak perlu terlalu di cemaskan?" tanya Norah perhatian.
" dia baik-baik saja kok tante sekarang sekarang juga sudah bisa pulang, hanya saja Asya ingin menemui Gerry dulu Lalu setelah itu kami bakalan pamit!" Sahut Asya yang menurut Norah sudah tidak seakrab dulu dengannya karena wanita itu terkesan menghindari dan juga tidak ingin banyak berbicara hal-hal yang tidak perlu.
" itu beneran anak kamu Sya? Soalnya tante antara percaya atau tidak dengan apa yang dilihat sekarang ini?" tanya Norah pelan tetapi hanya dibalas Asya dengan senyuman.
__ADS_1
" terkadang apa yang kita lihat tidak sesuai kenyataan ataupun bisa berbanding terbalik dan juga terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu merupakan sebuah kenyataan dan begitupun juga sebaliknya, jadi di mana ruangannya di mana ruangannya agar kita bisa segera ke sana dan setelah itu Maafkan Asya karena harus langsung pamit?" Norah tidak bisa berkata banyak lagi ketika Asya memang menolak untuk menjelaskan apa yang ingin Ia dengar.