Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 14


__ADS_3

Rio hanya bisa menghela nafasnya kasar karena tidak mungkin juga akan dirinya marah-marah kepada sang istri yang terlihat begitu cemas, Padahal tadi dirinya bertanya secara baik Tapi tetap saja jika orang sedang emosi pasti menjawabnya bakalan ngegas.


"Mama kok malah marah marah ke Papa,padahal kan hanya tanya saja tidak ada maksud yang lain?" Tanya Rio tapi dengan nada yang biasa saja bukan karena niat mau memarahi istrinya itu.


"Ya habisnya Mama lagi pusing tapi Papa malah bertanya sesuatu yang bikin emosi saja,itu Asya belum bangun terus Mama mau masuk tapi pintunya terkunci dari dalam." jelas Dewi sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Kebetulan buburnya sudah masak jadi ayo kita sama sama panggilkan Asya untuk bangun,kasihan kalau dia belum makan juga sampai sekarang!" Ajak Rio sambil mengusap pelan bahu istrinya itu.


Sedangkan Asya masih betah untuk tidur karena berharap tidak bakal bangun lagi,sebab dirinya tidak ingin hidup di dunia yang penuh dengan kepalsuan.


"Asya, Ayo bangun Sayang ini sudah siang loh Kamu belum minum obat! " Panggil Dewi dari depan pintu kamar Asya namun tidak ada suara yang respon sama sekali.


kedua Suami istri saling pandang terlihat wajah mereka sangat cemas memikirkan keadaan keponakan mereka yang dari semalam sudah tidak enak badan, dengan segera Dewi pergi mengambil kunci serep cadangannya yang biasa dirinya simpan jika keadaan darurat seperti begini harus segera membuka pintu kamar Asya.


" Ya ampun Papa pantesan kita Panggil dari tadi dia nya tidak dengar orangnya masih molor seperti begitu, Kasihan juga sih kalau gangguin Dia mungkin semalam tidak bisa tidur! "ujar Dewi sambil meraba kening Asya berharap agar wanita cantik itu dalam keadaan sudah lebih mendingan.


" Gimana keadaannya sudah mendingan atau belum, , kalau belum kita bawa ke rumah sakit saja kebetulan Papa hari ini masih disini jadi bisa bantuin mama?" tanya Rio memastikan.


" syukur Pa dia sudah sedikit Mendingan jadi kayaknya kalau diberi obat yang semalam nanti sudah ada perubahan, Ya sudah Mama panggil dia dulu biar makan supaya cepat minum obatnya. Oh iya nanti papa ke rumahnya Gery ya bilang dia tolong minta izin sama dosennya Asya kalau dia sedang sakit!" pinta Dewi namun Rio tidak bergeming dari tempatnya sama sekali membuat diri merasa heran dengan sikap suaminya itu.


" Kenapa masih di situ Mama kan tadi minta tolong untuk ke rumahnya Gerry , Papa Kenapa sih masih disini juga kan mama sudah bilang dari tadi takutnya si Gerry nya sudah pergi?" tanya Dewi Tak habis pikir dengan sikap suaminya itu.


Asya yang kebetulan sudah bangun karena mendengar suara orang berbicara di dekatnya langsung terkejut ketika mendengar nama orang yang paling ia benci, dengan secepat kilat ia menarik tangan tantenya itu agar menyuruhnya berhenti dan tidak boleh melibatkan orang lain dalam kehidupannya.


" Tante mau ngapain sama dia, aku bisa sendiri kok telepon dosen buat minta izin tidak perlu harus meminta tolong kepada orang lain kan?" tanya Asya yang secara tak langsung menolak ucapan Dewi tadi yang hendak minta tolong kepada Gerry .

__ADS_1


" kamu kan masih sakit ya mendingan kita minta tolong ke Gerry secara langsung,lagian kamu jangan terlalu bergerak dulu semalam pasti kamu tidur tidak betul Jadi sekarang lebih butuh istirahat lagi?" tanya Dewi yang merasa heran kok bisa-bisanya Asya menolak bantuan Gerry Padahal selama ini keduanya terlihat begitu lengket seperti amplop dan perangko.


" kalau hanya buat menelpon dosen kan tidak perlu banyak tenaga, mulai dari sekarang aku tidak ingin meminta tolong kepada orang itu lagi!" Asya benar-benar ingin menjauh dan tidak mengenal yang namanya Gerry lagi membuat Dewi dan suaminya Saling pandang.


" Kalian sedang berantem, kok bisa perasaan selama ini tu kalian selalu saja adem tidak pernah berdebat ataupun menjauh? suatu masalah itu sebaiknya dibicarakan secara baik-baik jangan malah menghindar, tante juga pengen tanya kenapa semalam sudah tengah malam kok kamu pulang? biasanya kan kamu tidak seperti begitu, kalau sudah menginap di sana ya selesai kuliah baru kamu diantar balik ke sini?" tanya Dewi memastikan.


ketika mendengar pertanyaan dari tantenya itu, entah mengapa air mata yang sedari tadi ditahan oleh Asya keluar begitu saja. Dirinya merasa seperti sangat Dilema antara berkata jujur atau tetap bertahan dengan kebohongan, tapi Biar bagaimanapun sepertinya tidak bisa menceritakan kejujuran yang terjadi kepadanya.


" Om sama Tante aku kalau bisa minta pindah kuliah boleh tidak?" tanya Asya sambil menundukkan kepalanya membuat Dewi dan Rio merasa heran karena tidak biasanya keponakan mereka itu terlihat begitu gugup.


" Lho emangnya kenapa sama kampus Kamu yang sekarang, ada masalah sama teman kamu atau ada dosen yang kasar? kamu bilang sama Om biar sekarang juga Kamu ke kampus kamu dan mengurus soal ini, bisa-bisanya ya mereka melakukan sesuatu yang membuat keponakan kesayangan Om merasa tidak betah di sana?" tanya Rio memastikan ketika mendengar permintaan dadakan yang dilontarkan oleh Asya barusan.


" aku mohon Om sama Tante mau ya menuruti permintaan ku kali ini saja, Aku janji tidak bakal meminta Hal lain lagi dan bakal rajin kuliah dan mendapatkan predikat yang memuaskan untuk membanggakan Om sama Tante!" pinta Asya lagi dengan tatapan memelas membuat Dewi mengambil tempat di samping Asya dan menatap sendu ke arah keponakannya itu.


" kamu kenapa mau pindah, memangnya kamu tidak betah berada di kampus Kamu yang itu? padahal dari awal itu kan pilihan kamu sedangkan Om sama Tante kan pengen kamu melanjutkan kuliah di Belanda, karena disana ada adik perempuannya Om Rio yang selalu ingin mengurus kamu?" tanya Dewi sambil menahan tangisnya karena dirinya benar-benar tidak siap harus berpisah dengan Asya keponakan yang sudah ia anggap seperti anak kandung.


" kamu jujur sama tante sekarang, Ada hal penting yang kamu sembunyikan yang tidak ingin Om sama Tante ketahui? tolong Jawab dengan jujur Jangan pernah menyembunyikan sesuatu yang membuat tante kepikiran siang dan malam, Kamu kan tahu jika hanya kamu yang kami punya di dunia ini?" tanya Dewi dengan tatapannya yang serius dan Baru kali ini Asya melihat tatapan itu.


"Baiklah kalau itu mau kamu kita semua bakal pindah di Belanda,tapi kamu harus jujur tentang alasan kenapa kamu memilih untuk pindah!" Jelas Rio membuat Asya langsung menegang karena bingung harus berkata apa lagi.


Dewi tak masalah dengan keputusan sepihak suaminya itu,karena baginya tetap bersama Asya itu sudah lebih dari cukup.


Biar pun dirinya harus meninggalkan semuanya ia ikhlas asal tetap bersama dengan Asya,dapat melihat kebahagian yang terpancar di mata Asya.


" lho aku kan tidak ingin membuat Om sama Tante kesusahan Kenapa harus ikut pindah di segala Coba nanti rumah yang di sini terus keluarga yang di sini Mereka bertanya kita harus menjawab apa, biar aku sendiri saja yang ke sana Terus tinggal sama tante Rianti nanti Janji deh Apakah selalu kasih kabar ke Om sama Tante di sini?" tolak Asya yang benar-benar tidak ingin jika Dewi dan Rio harus berpisah dari keluarga mereka hanya karena dirinya.

__ADS_1


" big no, kamu pikir Om sama Tante bakal tenang di sini kalau membiarkan kamu sendirian di sana meskipun sama Rianti sih Kamu tinggalnya? pokoknya tidak ada penolakan kamu bakal pindah ke sana Jika alasan yang kamu Kemukakan itu jelas, Tetapi hanya karena alasan yang sepele dan tidak pantas untuk dipertahankan mau tidak mau kamu tetap bakal selesaikan kuliah kamu disini!" perkataan Dewi itu membuat Asya merasa lemas seketika karena ternyata sepertinya apa yang ingin Ia sembunyikan rapat dalam hidup tidak pisah dirinya lakukan mengingat betapa posesifnya kedua orang tuanya itu meskipun bukan kandung.


" Ya sudah aku ikut saja apa kata om dan tante, Aku bakal kasih tahu kenapa sampai aku memilih keputusan mendadak seperti begini. tapi aku mohon jangan memperpanjang urusannya lagi, karena aku malu dan tidak ingin semua orang tahu apa yang sedang aku rasakan!" pinta Asya mencoba untuk tidak menangis karena dirinya yakin jika setetes aja air matanya keluar maka bisa dipastikan Dewi Bakal pergi mendobrak pintu rumahnya Gerry.


Rio dan Dewi saling tatap melihat wajah begitu tertekan gadis yang berada di hadapan mereka itu, entah apa yang membuat Asya begitu Terpukul sampai-sampai saat hendak berbicara pun terasa begitu berat.


" Baiklah silakan kamu ngomong, Kami bakal mengikuti apa yang kamu katakan!" Dewi sebenarnya mencoba untuk bersikap biasa saja padahal sebenarnya dalam hatinya sedang berkembang takut jangan sampai ada hal besar yang disampaikan oleh Asya.


" Saya ingin pergi dari sini karena aku merasa kecewa dengan Kak Gerry, yang sudah dengan Teganya menghancurkan masa depan Asya tadi malam hanya karena persyaratan dari kekasihnya bahwa bakal menerima lamaran Gerry jika pria itu sudah merusak apa yang aku miliki!" lirih Asya membuat Dewi langsung lemas seketika seolah tenaganya sudah hilang lenyap begitu saja.


sedangkan Rio Yang merasa feeling-nya dari semalam merasa tidak beres tak bisa menahan emosinya, pria paruh baya yang masih kekar karena selalu menjaga kebugaran yaitu memilih keluar rumah untuk menghajar kiri habis-habisan tetapi perkataan dari Asya membuat dirinya mengurungkan niatnya itu.


" Om tolong jangan melakukan hal-hal yang membuat aku lebih malu nantinya, Aku hanya ingin pergi dari sini merupakan semuanya tidak ingin melihat wajahnya lagi untuk selamanya!" pinta Asya sambil menangis membuat Dewi langsung memeluk erat tubuh wanita itu sebab hatinya pun biarpun tidak melahirkan Asya tetapi merasa sakit karena Biar bagaimanapun dirinya yang selama ini merawat Asya sepenuh hati layaknya ibu kandung.


" Ya Tuhan Anakku Sayang kenapa dari semalam kamu tidak ngomong kamu hanya pendam semua sendirian, pria Brengsek itu kurang ajar sekali Kok bisa-bisanya menghancurkan masa depan anak gadisku satu-satunya? kita pergi sayang kita bakal pergi sekarang juga kita tidak boleh lama-lama di sini, tante sakit Nak melihat keadaan kamu karena ternyata orang yang selama ini kita percaya sudah menjadi perusak dalam keluarga kita!" Lirih Dewi sambil mengusap pelan surai hitam milik Asya itu.


suasana haru menyelimuti kediaman itu karena musibah yang sedang menimpa Asya yang merupakan sumber kebahagiaan dalam rumah itu, Rio dan Dewi berjanji dalam hati bahwa bakal membalas semua sakit yang dirasakan oleh Asya itu beribu kali lipat bahkan sampai Giri bakal lupa caranya bernapas.


" Ya sudah kamu tunggu sini Om pergi ke kampus kamu untuk mengurus surat pindah kamu, kalian berkemas bawalah barang-barang yang diperlukan saja nanti kita bakal belanja semuanya di sana! tapi sebelum itu kamu makan dulu bubur kamu ya Nak ya biar minum obat agar lebih enakan, Jangan pernah merasa sendirian karena ada Om sama Tante yang bakal selalu ada di samping kamu dan tidak pernah membuang Kamu ke mana pun!" sambil mengusap pelan kepala Asya setelah itu ia pergi keluar rumah untuk menuju ke kampusnya tapi sebelum itu dirinya ingin menemui Gerry dan membalaskan sakit hati yang dirasakan oleh Asya.


sakit hatinya seorang wanita adalah ketika sesuatu miliknya Islami dijaga terenggut tidak bakal bisa kembali lagi seperti semula, berbeda dengan kaum pria jika sudah tidak perjaka lagi Terkadang mereka berbohong jika masih percaya akan dan hasil akhir kaum wanita lah yang selalu kalah dan salah atau pun mengalah. Asya merasa hancur dengan dirinya yang sudah rusak Mungkinkah ada pria tulus yang bakal menerima keadaannya, karena zaman sekarang banyak cibiran bahkan nanti mungkin perbandingan yang akan disampaikan ketika bertengkar.


banyak yang ingin Dewi tanyakan soal kejadian semalam tapi melihat keadaan Asya sekarang membuat dirinya tidak ingin melakukan hal itu, biarlah berjalan dengan waktu Asya bakalan sedikit terbuka. Meskipun tidak semuanya yang penting intinya secara garis besar mereka sudah mengetahui hal itu, maka dari itu keputusan membawa Asya pergi dari tempat itu memang betul-betul tidak salah karena mengingat kemungkinan yang bakal terjadi hari esok Siapa yang tahu rencana Tuhan.


" tentu pasti kecewa ya sama aku, karena tidak bisa menjadi gadis kebanggaan di rumah ini malah mencoreng nama baik Om sama Tante?" tanya Asya sambil menatap sendu ke arah Dewi.

__ADS_1


" kamu ngomong apaan sih Memangnya pernah Om sama tante marah ke kamu sampai berlebihan, mau apapun keadaan kamu kami bakalan tetap menyayangi kamu dari dulu sekarang dan selamanya karena hanya kamu yang kami berdua punya Tidak ada orang lain!" tegas Dewi membuat Asya yang sangat merasa bersalah.


__ADS_2