
Lilian tidak suka berdebat dengan para sahabatnya itu karena menurut mereka dirinya adalah orang yang paling tersengsara di dunia ini, padahal sebenarnya yang ia inginkan itu adalah segala sesuatu yang simpel tidak terlalu rumit apalagi membuat kinerja otak semakin parah nantinya.
" Jadi gimana kamu masih mau di sini atau lebih baik kita pulang saja soalnya kamu akan tahu sendiri di rumah itu pekerjaan masih banyak yaitu mengurus suami mengurus Bungaku dan juga mengurusi yang lainnya, karena aku itu mau samakan dengan Kamu sepertinya sulit deh Soalnya kita kan beda server dan juga beda keadaan!" tanya Desi yang sebenarnya ingin pulang dari tadi karena sang suami memintanya untuk pulang lebih awal Tidak seperti biasanya Terserah mau molor Sampai jam berapa.
" aku itu heran sama suami kamu sudah tua itu kok masih saja mepet terus sama kamu, padahal kamu kan lagi menghiburku bertemu dengan para sahabatmu Tapi tetap saja selalu direcoki terus!" sungut Lilian karena sikap suaminya Desi yang selalu saja ingin agar istrinya itu kembali.
" ya Habisnya gimana aku kan separuh nafasnya dia Jadi otomatis kalau terlalu jauh Nanti dia bakalan kehilangan oksigen alami maka dari itu harus segera pulang, Lagian kamu kok jadi orang sensi banget sih ini kan urusan rumah tangganya aku beda lagi kalau urusan rumah tangganya kamu terus aku ikut campur Pasti kamu nggak suka!" ejek Desi membuat lilin mendengus kesal.
" kamu kalau jadi orang tidak asik banget sih, sudah jauh-jauh datang ke sini Malah ditinggal pergi begitu saja! ayolah nanti lain kali saja baru kamu kembali kemungkinan satu dua jam lagi begitu, soalnya aku juga lagi males pengen pulang ke rumah soalnya tidak ada siapa-siapa di sana Dan juga masa iya aku sendirian saja berteman dengan angin!" pinta Lilian memelas membuat Desi kebingungan harus membalas apa yang dikatakan sahabatnya itu.
" kamu jangan seperti begitu dong, lebih baik kamu ikut anak kamu ke kantornya terus menyeleksi kira-kira ada calon menantu tidak di tempat itu? daripada kamu bengong sendirian terus tidak punya pekerjaan dan alhasil mengganggu orang lain kan jadinya tidak bagus, lebih bagus itu kamu mengurus diri sendiri dan juga anak kamu agar cepat segera punya menantu dan bisa menggendong cucu!" saran Wanda yang dari tadi memilih sebagai pendengar yang setia tidak ingin mengganggu gugat perdebatan antara sahabat itu hanya saja kali ini dirimu tidak mau harus turun tangan agar tidak ada pihak yang dikecewakan ataupun kembali ke rumah dengan rasa emosi yang begitu memuncak.
" iya juga ya Apa yang kamu katakan tadi kenapa dari tadi aku bisa tidak berpikiran sampai ke arah situ, Ya sudah kalian kembali sana ke rumah aku juga tidak bakalan mengganggu kok Soalnya ada misi yang harus segera Aku selesaikan saat ini juga!" setelah mengatakan hal itu tanpa menunggu lagi Lilian langsung pergi membuat semua teman-temannya menatap heran ke arahnya karena dari tadi yang paling kekeh bertahan di tempat itu ada Lilian Tetapi setelah mendapatkan saran langsung pergi begitu saja Bahkan bisa dibilang tanpa pamit dan dengan sengaja mengusir mereka tanpa perasaan.
" itu orang keterlaluan sekali ya setelah dikasih saran yang pas dalam otaknya langsung pergi begitu saja Bahkan kita di sini pun tidak dipedulikan sama sekali, Kalau tahu nanti akhirnya Begini lebih baik aku diam tidak usah ngomong sama sekali biar dianya kapok?" tanya Wanda sampai setengah tertawa membuat Desi pun ikutan tertawa karena memang Sikap yang ditunjukkan oleh Lilian itu begitu lucu.
" Kasihan dia sebenarnya soalnya selalu kesepian selama ini semenjak ditinggal oleh Mas Satria, Maka dari itu dia selalu saja mengganggu kita agar lebih perhatian kepadanya Soalnya kalau menunggu anaknya memberikan perhatian maka bisa dibilang kembali ke tahun baru 1.100 pun tidak akan pernah terjadi!" sahut Desi yang sangat paham dengan perasaan sahabatnya itu.
sebenarnya segala sesuatu dalam hidup itu jangan terlalu memasang target terlalu berlebihan ataupun setinggi langit karena nanti kalau dapat di bawah dari itu otomatis kekecewaan Begitu Terasa, hanya saja jika kita tidak berharap maka kita tidak akan pernah tahu sebenarnya apa yang kita inginkan dan yang kita mau dalam kehidupan yang akan kita jalani ke depannya.
__ADS_1
maka dari itu bersyukur dengan menerima semua yang diberikan secara lapang dada itu merupakan sebuah perbuatan yang sangat terpuji, karena itu sama saja kita lebih menghargai apa yang diberikan oleh pencipta tanpa niat untuk melebihkan ataupun mengatur-ngatur dengan apa yang sudah ditakdirkan dalam hidup.
" semoga saja saat sampai di kantornya Dev ada gadis cantik yang bisa aku ajak kenalan dan aku cari tahu latar belakangnya agar bisa kelak dijadikan calon menantu, daripada menunggu Dev yang hobinya mengganggu istri orang dan alhasil suaminya marah-marah melakukan hal yang tidak-tidak!" gumam Lilian monolog dan terlihat begitu bahagia dengan ide cemerlang yang diberikan oleh Wanda Tadi.
karena jalanan masih begitu lengang Soalnya parah pekerja kantoran belum pulang maka tidak membutuhkan waktu yang lama Lilian sampai ke kantor putranya itu, terlihat di sana masih ada para pegawai yang terlalu Lalang ke sana kemarin sambil ada yang memegang berkas ada yang bercengkrama dan ada pula yang sedang sibuk di belakang komputer.
resepsionis yang bertugas di situ tahu siapa wanita paruh baya yang datang ke tempat itu Karena Wanita itu adalah mama dari pemilik perusahaan, mereka otomatis mendekatinya dan menawarkan bantuan karena itu merupakan salah satu bentuk perhatian dan juga rasa hormat kepada Lilian.
" Selamat siang Nyonya Lilian, anda ingin bertemu dengan Tuan Dev?" tanya Hera yang merupakan salah satu resepsionis berpakaian kantor tetapi terlihat begitu sopan dan rapi.
Lilian tersenyum ketika ada yang menyapanya begitu hangat dan juga terlihat sangat menghargai dirinya mungkin karena ia lebih tua atau juga karena dirinya merupakan salah satu wanita yang berkuasa di situ, namun Satu yang Pasti dirinya menghargai setiap orang apapun itu status sosialnya derajatnya maupun pekerjaannya karena menurutnya semua orang itu di mata tuhan sama saja tidak ada yang lebih dan juga tidak ada yang kurang.
" kalau Dev sekarang lagi bekerja Biarkan saja soalnya saya ke sini itu bukan untuk bertemu dengan dia melainkan hanya untuk jalan-jalan soalnya suntuk di rumah sendirian, kamu masih ada pekerjaan yang harus diurus Ya silakan lanjutkan saja dan jangan pedulikan kehadiranku di sini Anggap saja sebagai tamu yang sedang melakukan sebuah kunjungan!" jelas Lilian tetapi membuat Hera merasa tidak enak hati karena memang pekerjaan resepsionis yaitu melayani para tamu dan jika tidak ada tamu lagi otomatis dirinya mengecek berkas ataupun dokumen segala sesuatu keperluan kantor yang masuk.
" Terima kasih atas tawaran kamu Tapi nanti kalau pekerjaan kamu terbengkalai saya tidak ikut campur loh soalnya tadi kan Saya tidak memaksa, hanya saja memang saya juga butuh seorang tour guide yang lebih paham tempat ini dan juga tahu soal pegawai di sini!" ujar Lilian membuat Hera tertawa karena ternyata mama dari majikannya itu lebih ramah daripada putranya yang selalu saja memasang wajah arogan di mana pun dirinya berada.
" Maaf Nyonya Saya ingin berkomentar sebentar saja Bukannya ingin tidak sopan ataupun tidak menghormati, hanya saja saya bingung Anda sangat ramah kepada siapa saja tetapi kenapa Tuhan Dev terlihat begitu ke aku dan juga dingin terhadap orang sekitarnya bahkan salam yang diberikan pun terkadang tidak dijawab sama sekali?" ujar Hera membuat Lilian tak bisa menahan tawanya karena memang kebiasaan putranya itu Sama persis dengan kebiasaan sang suami yang katanya tidak ingin senyum ke arah wanita lain takutnya Senyumnya itu bakalan disalahgunakan.
" sebenarnya sifatnya Dev itu turunnya dari sang papa karena memang Papanya itu selalu bilang tidak suka senyum karena nanti pesonanya bakalan nyangkut pada orang yang melihatnya, maka dari itu katanya Senyumnya itu hanya buat saya saja dan itu pun dilakukan di dalam rumah tanpa dilihat oleh orang-orang sekitar ataupun siapa saja!" jelas Lilian membuat Hera hanya bisa menggelengkan kepala karena ada saja pemikiran orang di dunia seperti begitu padahal senyum itu merupakan ibadah loh.
__ADS_1
" ya mungkin pemikiran mereka sama soalnya kan Papa sama anak, ayo Nyonya silakan mau kita ke kantin lebih dahulu atau ke tempat para pegawai biasa santai Kalau kerjaannya lagi longgar?" tanya Hera.
mendengar kata tempat para pegawai biasa santai membuat Lilian begitu bersemangat karena dirinya yakin jika jodoh anaknya tepat berada di situ, memang dirinya tahu tempat itu ada di mana ya itu di samping kantor sebuah taman yang disulap dengan berbagai kursi agar pegawai lebih rileks dan juga tidak merasa monoton karena hanya berada dalam ruangan saja.
" nah ini yang saya harapkan dari tadi yaitu bertemu dengan para karyawan yang bekerja di tempat ini dan ingin mengetahui kira-kira bentukan mereka tuh Seperti apa ya, dan terima kasih juga karena kamu sudah mengatakan hal yang tidak pernah saya pikirkan dari tadi maka dari itu Ayo sekarang kamu temani saya!" ajak Lilian sambil menarik tangan Hera agar ikut dengannya membuat wanita itu tersenyum canggung sebab yang berada sangat dekat dengan ia adalah Mama dari pemilik perusahaan besar yang tempat dirinya bekerja dan mencari uang nanti kalau Dev melihat entah apa nanti respon pria itu.
" Nyonya Maaf apa bisa tangan saya dilepas saat ini juga, soalnya saya tidak enak dengan karyawan yang lain pasti mereka mengira bahwa saya sudah melakukan hal yang tidak tidak kepada anda?" bisik Hera pelan tetapi Lilian tak peduli karena memang dirinya tidak ada niat melakukan apapun dan juga Hera masih batas wajar sebagai seorang bawahan.
" mereka itu Kalau sampai ada pemikiran yang aneh-aneh seperti yang kamu bilang tadi tandanya mereka itu iri dan juga merasa tidak mampu, Lagian saya kan mengajak kamu jalan karena hanya ingin ditunjukkan arah ke mana jalan yang benar Bukannya ingin melakukan hal yang lain!" jelas Lilian tetapi tetap saja Hera merasa tidak enak hati namun bagaimana lagi tidak mungkin juga kan dirinya harus membantah terus secara yang sedang berbicara dengannya itu adalah orang penting di tempat itu.
" Ya Tuhan Semoga nanti besok lusa tidak ada yang bakalan gosip aneh-aneh kepadaku dan mengatakan bahwa aku sudah mempengaruhi Mama dari majikanku, Lagian siapa juga mau punya suami seperti anaknya Nyonya Lilian yang mamanya begitu baik hati tetapi putranya sungguh berbanding terbalik seperti bumi dan juga langit!" Lirih Hera dalam hati tetapi tidak mungkin bisa berkata secara langsung karena nanti pasti Lili yang tidak bakalan mendengar apa yang dia inginkan.
" Astaga kok bisa ya si Hera dekat sama Nyonya Bos, Padahal selama ini kan Nyonya Bos jarang datang ke tempat ini tapi kenapa mereka berdua akrab seperti begitu? " bisik Elin yang merupakan si biang keladinya gosip di kantor itu.
" Iya ya apa yang kamu katakan itu benar sekali kok bisa mereka berdua sampai Sedekat Itu, perasaan selama ini Hera kan selalu berada di balik meja saja kalaupun ada tamu yang penting pasti yang mengurus itu Tuan Rama ataupun Intan?" sahut temannya juga yang ikutan merasa heran.
" tapi kamu tahu sendiri kan kalau Intan tadi keluar dari ruangannya Tuan Dev sambil memasang wajah cemberutnya, itu pasti habis kena dampet Karena melakukan hal yang aneh-aneh. maka dari itu pasti sebentar lagi giliran Hera yang mendapatkan ganjaran dari Tuhan Dev yang super duper kejam itu, entah waktu mamanya hamil dikasih makan apa sampai-sampai anaknya sudah gede separah itu!" bisik Elin yang sangat tahu dengan Perangai Dev yang hobi sekali marah-marah itu.
" Halo semuanya Kenapa kalian malah Bengong di sini Apa pekerjaan kalian sudah beres, awas loh Nanti kalau Dev keluar dari ruangannya dan melihat kalian malah asik bergosip pasti bakalan kena hukuman nantinya?" sapa Lilian membuat Elin dan yang lainnya langsung aja pergi ke tempat duduk masing-masing tidak berani merespon apa yang terjadi di sekitar mereka lagi.
__ADS_1
" Ayo Nyonya silakan ikut saya kita ke samping kantor ini soalnya di sana kayaknya teman-teman lagi ngumpul deh, atau mungkin Nyonya Mau ke ruangannya Tuan Dev saja soalnya sepertinya meeting dengan kliennya sudah selesai?" tanya Hera membuat Lilian mendengus kesal ke arahnya Karena Wanita itu sudah berubah pikiran secara tiba-tiba entah apa yang merasukinya.
" kamu kok malah berubah pikiran, perasaan tadi kamu kan yang menawari saya untuk pergi berkeliling tempat ini tapi kenapa sekarang malah ubah?" tanya Lilian tak terima membuat Hera hanya bisa menggaruk kepalanya tak gatal.