
Rio memberikan kode kepada Dewi agar menyuruh Asya ikut naik kedalam mobil yang diberikan oleh Dev untuk mereka ikuti, karena dirinya yakin adik perempuannya Riyanti pasti belum sempat untuk datang atau mungkin ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan Mengingat bahwa dirinya yang secara tiba-tiba meminta untuk dijemput tadi.
" Asya sayang, ayo kita ikut saja sama mobilnya Tuan Dev daripada kita menunggu tante Yanti pasti dia bakalan telat datangnya!" bujuk Dewi sambil menggenggam tangan Asya yang terlihat enggan menerima bantuan dari Dev yang menurutnya terlalu sangat menyebalkan.
" tapi Tante, kita kalau bakalan ikut mobilnya Dia lagi orangnya itu sombong banget Terus menyebalkan lagi? nanti pasti dia bakalan ngomong yang aneh-aneh seperti tadi terus berbuat salah kita ini adalah gembel yang harus mengharapkan bantuan dari dia?" Asya benar-benar enggan menerima bantuan dari Dev lagi karena dari tadi mulut jujur pria itu sudah membuat darah tingginya kumat.
" tapi orangnya kan sudah tidak ada disini, Lagian sayang lho mobilnya dibiarkan begitu saja Padahal maksudnya kan untuk kita pakai buat diantar pulang ke rumah tante Rianti?" jelas Dewi pelan agar keponakannya itu lebih rileks dan juga tidak terlalu tersulut emosi sebab fisiknya terlihat sangat lemah.
" Ya sudah deh aku ikut apa kata tante, tapi awas aja tuh orang kalau sampai nyolot yang tidak tidak bakalan ku Sleding dia!" Ketus Asya yang berapi-api ketika mengingat sikap Dev daritadi membuat dirinya ingin sekali menerkam pria itu hidup-hidup.
" awas lho jangan terlalu kelebihan bencinya nanti kalau jatuh cinta urusannya kan bisa berabe?" ledek Dewi membuat Asya mendengus kesal.
" tante ih ngomongnya kok suka kayak gitu, Siapa juga yang bakalan jatuh cinta sama pria aneh seperti begitu yang kalau ngomong tidak pernah memikirkan perasaan orang lain?" ujar Asya merasa kesal karena tantenya itu secara tidak langsung mendukung Dev padahal pria itu sikapnya sangat menyebalkan.
" Iya tadi kan Tante hanya ngomong bukan menyuruh kamu untuk langsung jadian sama dia, sudah jangan marah-marah seperti begitu wajahnya kelihatan cemberut itu jelek banget malahan nanti petugas bandara bakalan mau muntah lihat kita?" ledek Dewi membuat Asya mengerucutkan bibirnya memasang wajah cemberut nya.
" terserah tante deh kalau itu membuat tante bahagia dan Merdeka Aku ikhlas!" Rio tak bisa menahan tawanya ketika mendengar perdebatan istri dan keponakannya itu karena keduanya itu selalu saja berdebat disaat yang tidak penting bahkan apa yang mereka berdebat pun dirinya bingung karena jauh dari kata untuk dimengerti.
" papa kok malah ketawain Mama sih, Ya setidaknya bantu istrinya dong kalau lagi diajak berdebat seperti begini?" tanya Dewi tidak terima dengan sikap suaminya itu ya seolah malas tahu dengan keadaannya sekarang.
" itu kan derita nya Mama, Lagian suruh mama berdebat sama Si Asya siapa? tidak ada kan?" tanya Rio membuat istrinya itu mendengus kesal.
" ya memang tidak ada tapi setidaknya ada niat dong buat bantuin istri kamu ini yang lagi kesusahan dan memerlukan bantuan dari sang suami, tapi papa itu sebagai suami tidak ada inisiatif sendiri masa seperti begini harus dibilangin?" jelas Dewi memasang wajah cemberut nya membuat Asya sudah berada di dalam mobil menatap heran ke arah kedua manusia paruh baya itu.
" Astaga ya Tuhan, kenapa sekarang giliran Om sama Tante yang berdebat di pinggiran bandara? tuh lihat semua orang pada menatap kearah kitakan ih sangat memalukan deh, Ayo cepat masuk kedalam mobil sebelum ada negara api yang bakalan datang menyerang!" perintah Asya membuat Dewi menatap tajam ke arahnya.
__ADS_1
" Kamu jadi anak kok nakal sekali sih, Biar Begini itu kami orang tua kamu Loh kenapa sih Malah ngomongnya tidak jelas?" tanya Dewi tak terima membuat Asya ingin sekali tertawa.
" Ya aku kan anaknya Om sama Tante masa iya anaknya orang lain, orang aku saja tiap hari menempel sama kalian layaknya perangko!" sahut Asya membuat Dewi langsung tertegun bingung harus berekspresi seperti apa ketika secara tak langsung anak yang ia besarkan selama ini menganggap bahwa dirinya adalah wanita yang sudah melahirkannya.
" Asya, kamu Beneran menganggap kami seperti orang tua kamu? tahu tidak perkataan kamu barusan itu membuat tante begitu merasakan kebahagiaan yang tak terhingga, tante sama Om tidak meminta apapun di dunia ini selain dianggap sebagai orang tua kandung oleh kamu?" lirih Dewi membuat Asya langsung meneteskan air mata karena ternyata dirinya begitu diinginkan menjadi seorang anak di dalam kehidupan pasangan itu.
" mulai sekarang aku bakalan Panggil Om sama Tante itu Papa sama Mama, itupun kalian kalau tidak keberatan punya anak yang sangat menyebalkan sepertiku!" tegas Asya sambil tersenyum membuat Dewi menggelengkan kepalanya karena mendengar kata-kata terakhir yang diucapkannya.
" yang bilang kamu menyebalkan itu siapa, biarpun menyebalkan tapi Om sama Tante bakalan tetap menyayangi kamu seperti anak kami Dan kamu itu sekarang mulai resmi bakalan menjadi anak dari seorang Dewi Kinanti dan Rio Dirgantara!" jelas Dewi sambil memeluk erat tubuh keponakannya itu yang telah berganti menjadi anaknya Persetan dimanapun keadaan mereka sekarang yang penting intinya kebahagiaan itu harus segera di ungkapkan jangan dipendam karena rasanya pasti bakalan langsung plong.
" papa, kita punya anak lho udah segede ini?" ujar Dewi sambil mengeluarkan air mata menatap sendu kearah suaminya itu yang juga ternyata sedang mengeluarkan air matanya secara diam karena merasa sangat bahagia.
" Baiklah Asya Dirgantara, selamat menjadi pribadi yang baru di tempat yang baru menyongsong kebahagiaan yang baru! doa kami bakalan selalu ada di setiap langkah kaki kamu di setiap hembusan nafas kamu dan juga di setiap kamu membuka mata, kami tidak bakalan membiarkan Kamu bersedih ataupun sendirian kapanpun dan dimanapun ada kami berdua untuk kamu!" Puja Rio membuat Asya benar-benar bahagia dan berharap agar kebahagiaan itu selalu ada tidak pernah lenyap dari dalam kehidupan mereka.
ketiganya pun sudah berangkat menuju ke tempat yang bakalan mereka tinggali selama berada di negara itu, yaitu tempat berada di Den Haag Belanda sebuah kota metropolitan yang yang menjadi tujuan mereka selanjutnya.
" Ya Tuhan aku kotor, aku sudah hancur tidak bisa disebut sebagai seorang wanita yang sesungguhnya ketika belum ada yang halal! apa yang harus aku lakukan kedepannya, semoga kau tak pernah meninggalkanku sendirian?" lirih Asya dalam hati.
sedangkan di tempat lain Vina yang baru saja menghentikan mobilnya tepat di rumah Asya mendadak heran, karena rumah itu terlihat begitu sunyi melompong seolah tidak ada kehidupan sama sekali. Padahal selama ini setiap kali dirinya sampai di situ pasti bakalan disambut oleh Tante Dewi, wanita yang ramah yang Bahkan diketahui oleh Vina kalau wanita itu sangat menyayangi Asya layaknya anak kandung.
" Lho ini rumah Kok sunyi sekali ya seperti tidak ada orang di dalam, mana aja ditelepon nomornya susah dihubungi lagi? Kak Giri juga sama biasanya kalau nelpon soal Asia cepat tetapi giliran kita telepon leletnya minta ampun, ini orang berdua sebenarnya terdampar di planet mana sih sampai tidak nongol-nongol batang hidungnya?" sungut Vina sambil berjalan mondar-mandir kesana kemari masih menghubungi Asya yang dari tadi nomornya di luar jangkauan.
" ya Tuhan Aku bisa gila kalau setiap hari ketemu sama orang yang seperti begini, setidaknya kalau mau menghilang itu kasih kabar dulu biar aku tidak cemas memikirkan mereka? terus Om Rio tadi Tujuannya ke sana juga mau ngapain coba, masa kita bertanya soal Asya saja tidak mau kasih tahu?" gerutu Vina sambil menghentakkan kakinya karena merasa emosi.
" apa sebaiknya aku ke rumahnya kak Gerry saja siapa tahu mereka berdua ada di sana, daripada menunggu disini tanpa kepastian lama-lama bisa stres akunya?" sambung Vina lagi karena kebetulan jarak antara rumahnya Asya dan Gerry itu hanya melewati beberapa rumah saja.
__ADS_1
Sesampainya di sana terlihat asisten rumah tangga itu sedang membuang sampah membuat Vina langsung Segera mendekatinya sambil memasang senyum termanisnya, Ya iyalah bertamu di rumah orang apalagi hendak meminta tolong otomatis harus memberikan sebuah senyuman yang termanis agar orang tidak curiga bahwa dirinya adalah seorang wanita yang sangat jahat ingin ingin membuat sesuatu yang tidak mengenakkan.
" Permisi bibi, Kak Gerry nya ada?" tanya Vina pelan membuat asisten rumah tangga itu menatap heran ke arahnya.
" kamu bukan pacarnya Den Gerry kan yang Mengaku tidak jelas seperti tadi pagi, soalnya tadi pagi itu ada yang datang terus mengaku sebagai kekasihnya Aden terus mengamuk lagi sama tuan dan nyonya?" tanya asisten rumah tangga itu balik membuat Vina mengerutkan keningnya Kenapa dirinya malah dicurigai yang tidak tidak.
" lho saya kan hanya bertanya Kak Gerry nya ada atau tidak bukan mengaku sebagai pacarnya dia, Bibi kalau curigaan yang kira-kira dong saya begini-begini sudah punya pacar malah lebih tampan dari Gery?" tanya Fina balik karena tak terima dicurigai menjadi wanita yang aneh-aneh hancur harga dirinya Padahal maksudnya untuk bertamu bukan untuk mengatakan hal yang membuat harga dirinya seperti wanita murahan.
asisten rumah tangga Gerry itu hanya tersenyum malu malu karena sudah mencurigai orang yang salah, sebab dirinya waspada jangan sampai Vina sikapnya seperti Mona tadi dipagi yang judes nya minta ampun hingga membuat mamanya Gery marah-marah tidak jelas.
" ya maaf maklumlah Aden Gerry itu kan orangnya tampan membahana jadi otomatis saya sebagai asisten rumah tangganya harus mewaspadai dengan berbagai macam godaan, soalnya nanti kalau bakalan karena Amuk dari nyonya besar itu kan perkaranya lebih ribet lagi!" ujar wanita paruh baya itu dengan gaya anak-anak yang soal alay membuat Vina sampai menatap tak percaya ke arahnya.
" Terima kasih ya Bibi atas kewaspadaannya itu Tapi jujur saya sebenarnya datang itu karena tidak melihat Asya dirumahnya maka dari itu saya ke sini untuk bertanya ke Kak Gerry, tapi kalau memang kak Gerry nya tidak ada ya sudah saya pulang jangan dong curiga saya yang aneh-aneh seperti tadi kesannya seperti gimana gitu! padahal asal bibit tahu ya saya itu merupakan fans garis keras nya kak Gerry sama Asya, tidak ingin dengan yang lainnya karena mereka berdua yang paling markotop!" jelas Vina dengan semangat yang menggebu-gebu jika menyangkut soal sahabatnya itu.
mendengar apa yang dikatakan oleh Vina barusan asisten rumah tangganya Gerry itu tidak kalah semangat, wanita paruh baya itu jika menyangkut soal Asya dirinya sangat menyayangi gadis cantik itu apalagi jika disandingkan dengan Tuan mudanya pokoknya paling the best katanya.
" Ya ampun Neng Kenapa kita satu aliran ya pemikirannya, Bibi juga selalu punya pemikiran yang seperti itu kalau menyangkut mereka berdua. tapi yang saya bingung semalam itu itu mereka berdua kayak berantem, soalnya Neng Asya yang rencananya tidur di sini langsung pulang padahal sudah tengah malam loh?" ujar Bibi membuat Vina mengerutkan keningnya karena selama ini yang dirinya ketahui Gerry Selalu Mengalah ketika Asya sedang marah-marah.
" Masa sih, perasaan selama ini Kak Gerry tidak pernah dia marah ke Asya? Memangnya Bibi tidak dengar apa yang mereka perdebatkan atau yang sedang mereka bicarakan begitu, Siapa tahu dengan hal itu kita bakalan tahu titik terangnya kenapa sampai mereka berdua bisa berantem di tengah malam?" tanya Vina penuh selidik karena Biar bagaimanapun masalah tidak boleh dibiarkan berlarut-larut dengan dirinya yang masih mengalami rasa penasaran di ambang batas.
" ya Mana saya tahu, orang Bibi kan di kamar belakang terus mereka berduaan di dalam kamarnya Den Gerry entah apa yang terjadi Iya Bibi juga bingung?"jelas Art itu.
Vina sebenarnya tidak ingin mempunyai pemikiran yang macam-macam karena dirinya tahu bagaimana persahabatan kedua manusia itu, yang menjadi pemikirannya sekarang yaitu di mana kira-kira Asya berada karena rumah yang ia datangi selama ini terlihat seperti tidak ada orangnya sama sekali.
" Semoga saja kamu hanya pergi liburan karena melepaskan penat akibat dari lomba yang sedang kamu hadapi, setelah itu aku bakal menunggu kamu untuk kembali dan menjelaskan Sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian!" lirih Vina dalam hati lalu pamit kepada wanita paruh baya itu dan pergi dari situ sebab dirinya yakin Asya pasti bakalan kembali dan menjelaskan semuanya kepadanya.
__ADS_1
" kenapa ya kisah cinta remaja itu sangat menyebalkan jauh dari kata manis, untung juga tadi aku berbohong Jika punya pacar yang lebih tampan dari Kak Gerry dengan begitu kan harga diriku tidak bakalan dijatuhkan oleh asisten rumah tangganya?" ujar Vina yang tertawa sendiri ketika mengingat pengakuannya yang tanpa fakta itu itu seolah dirinya sering membohongi keadaan dan membohongi orang lain yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya. untung juga Asya tidak ada kalau tidak bisa dipastikan dirinya bakalan menjadi bahan ledekan, karena telah menyiratkan bahwa dirinya tidak ingin menjadi jomblo.