Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 176


__ADS_3

Asya harus menatap lemas ke arah kertas yang sedang ia pegang itu, harapannya ingin menyelamatkan Sang Putri sebab itu hanya angan semata tidak bisa diwujudkan.


menjadi orang tua yang tidak bisa diandalkan oleh anaknya sendiri itulah yang dirasakan oleh wanita itu kini, rasa-rasanya seperti tidak berguna dan juga tidak bisa memberikan apapun yang nantinya bakal membuat putrinya itu tetap berada di sisinya.


padahal di saat seperti begini harapan orang tua yaitu bisa menjadi sosok pelindung dan juga berguna, hanya sayang semua itu hanya khayalan belaka ternyata rencana dan juga kenyataan itu kebanyakan bertolak belakang tidak pernah namanya berjalan sama.


dengan langkah kakinya yang begitu yang lunglai dirinya tetap memaksa untuk kembali ke ruangan tempat sang anak dirawat, pasti suaminya bakalan kecewa kepadanya karena sebagai ibu kandung tidak bisa melakukan apapun.


ketika sampai di ruangan tempat Elnara dirawat Asya terasa begitu sungkan untuk masuk ke dalamnya, seolah bahwa memang dirinya itu tidak berguna sama sekali karena dipikiran bahwa sumsum tulang belakangnya itu bakalan cocok dengan anaknya tetapi ternyata kecocokan itu hanya berapa puluh persen saja.


"Pasti Mas Kenzo bakalan kecewa kepadaku karena tidak bisa memberikan yang terbaik buat anakku, namun aku juga tidak ingin hal ini terjadi dan semua sungguh tidak sesuai dengan keinginanku!" lirih Asya di dalam hati.


"kamu pasti kangen sama mama ya soalnya dia sudah pergi beberapa jam tapi tidak kembali lagi, nanti sebentar lagi pasti dia bakalan datang soalnya kan dia ingin memberikan kabar yang gembira untuk kita?"tanya Kenzo kepada putrinya itu yang terlihat masih terlelap.


Dari depan pintu Asya mendengar jelas apa yang dikatakan oleh suaminya itu membuat air matanya langsung menetes begitu saja tanpa permisi, padahal sebenarnya dirinya merupakan harapan satu-satunya untuk bisa menyembuhkan penyakit Elnara tetapi ternyata harapan itu sia-sia.


Ceklek


Asya membuka pintu secara perlahan membuat sang suami menoleh ke arah sumber suara dan ingin sekali langsung bertanya tetapi diurungkan niatnya itu, ketika melihat wajah istrinya begitu Murung tidak bersemangat dan juga kedua matanya itu meneteskan air mata yang tak pernah mau berhenti.


"Kamu kenapa Yang? kok malah kelihatan sedih seperti begitu Memangnya apa yang terjadi di luar sana sampai-sampai kamu seperti begini, kamu ngomong dong jangan buat aku seperti orang bingung?"Tanya Kenzo kepada istrinya itu.


Asya langsung memeluk erat tubuh suaminya itu bahkan tangisnya pun pecah di dalam pelukannya karena dirinya benar-benar Terpukul dengan apa yang terjadi barusan, belum lagi melihat wajah Kenzo yang penuh pengharapan tadi membuat dia sungguh-sungguh merasa bersalah dan juga sangat tidak berguna.


"kamu jangan seperti begini dong apa hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita dan membuat kamu merasa bersalah, kalau memang seperti begitu Jangan pernah menyalahkan diri sendiri karena semua sudah Tuhan yang atur kita tidak bisa untuk mencoba memaksakan harus sesuai dengan keinginan? "tanya Kenzo secara perlahan.


Kenzo sangat tahu bagaimana sikap istrinya selama ini jika ingin memberikan kabar baik atau buruk ataupun bahagia, selalu saja langsung spontanitas jika kabar itu membuat dirinya bahagia maka Asya bahkan langsung tersenyum tetapi kabar itu buruk maka wanita itu langsung menangis dan memeluk dirinya.


maka dari itu ketika responnya diberikan oleh istrinya itu yaitu memeluknya sambil menangis maka bisa Kenzo ambil kesimpulan bahwa sebenarnya sumsum tulang belakang istrinya itu tidak cocok dengan Putri mereka, membuat dirinya kembali merasa bersalah karena menjadi seorang Papi yang tidak berguna yang tidak bisa memberikan apapun di saat istri dan juga anak yang membutuhkan bantuan .

__ADS_1


"Maafkan aku Mas, karena tidak bisa memberikan yang terbaik buat anak kita! aku ini memang seorang ibu yang tidak berguna sama sekali, sampai-sampai tidak bisa berbuat banyak ataupun menolongnya ketika anak sendiri membutuhkan pertolongan. "lirih Asya yang masih sesegukan dipelukan sang suami.


"Hei siapa yang bilang kamu itu ibu yang tidak berguna? setiap orang itu akan berguna ketika dirinya selalu ada untuk orang yang sangat memerlukannya, bukan hanya di saat-saat seperti begini saja melainkan di saat-saat mulai dari itu hari sampai sekarang? "Kenzo tahu istrinya pasti merasa bersalah tetapi mau bagaimana lagi tidak mungkin dong memaksakan bahwa barang yang tidak cocok menjadi harus cocok .


"aku memang ibu yang tidak berguna karena tidak bisa memberikan apa yang ku punya untuk anak, padahal ingin sekali aku memberikan Bila perlu diambil sampai habis pun tidak masalah karena aku ikhlas melakukannya ." ujar Asya.


Kenzo mencoba untuk tertawa karena menurutnya perkataan istrinya itu terlihat secara berlebihan, kalau memang sumsum tulang belakang wanita itu diambil semuanya mau bertahan hidup pakai apa pasti bakalan keok juga.


"kamu itu kalau bicara keenakan sekali loh, Kalau kamu pergi dari dunia ini terus kaminya sama siapa juga? sudah nanti kita cari jalan lagi mungkin pasti di antara ribuan orang ada satu orang baik yang bakalan melakukan hal itu, dan kamu jangan pernah berkecil hati ataupun patah semangat karena kalau bukan kita yang mencari jalan dan mencari pertolongan ya siapa lagi?"begitulah tugas pasangan suami istri ketika pasangannya merasa begitu berada di titik terendah harusnya sebagai pasangan yang dianggap dapat menolong harus memberikan dukungan dan juga semangat agar tidak terus terpuruk.


"aku bakalan telepon mama sama papa Biar mereka juga bisa membantu untuk mencari jalan keluarnya, dan juga aku bakalan menghubungi Vina agar datang ke sini bersama suaminya soalnya mereka berdua kan dokter pasti Mungkin kita bisa aja konsultasi. "setelah mengatakan hal itu Asya pun mengambil ponselnya membuka blokiran nomor kedua orang tuanya yang selama ini tidak dihubungi sama sekali sebab menurut Kenzo mereka butuh privasi.


Dewi yang berada di meja makan terlihat begitu tidak semangat karena pikirannya hanya tertuju kepada sang putri yang dipikirannya sedang berada di Berlin Jerman, padahal dirinya tidak tahu jika sebenarnya Kenzo sudah membawa istrinya serta cucu mereka itu Milan Italy hanya untuk sekedar menghindari Gerry .


"Kamu kenapa Kelihatannya tidak semangat begitu, apa kamu kurang enak badan biar kita bawa ke rumah sakit saja supaya diperiksa tekanan darah kamu? "tanya Rio penasaran karena istrinya pagi ini terlihat begitu tidak semangat seperti sepertinya malah sekali diajak berbicara sudah begitu makanan yang lezat pun terlihat tidak berselera sama sekali.


"Aku itu lagi memikirkan Asya, Mas! kenapa sampai sekarang tidak ada kabar padahal aku tuh siang malam mencemaskan keberadaan mereka, dan juga dari semalam itu pikiranku hanya tertuju kepada dia sama Elnara seperti ada sesuatu yang bakalan terjadi atau memang sudah terjadi!"ujar Dewi pelan.


"nanti kita bakalan mencoba untuk hubungan mereka lagi kalau memang masih tidak ada kabar, aku bakalan hubungi salah satu temanku yang berada di Jerman agar bisa mengecek keberadaan mereka di sana. "Sahut George yang sebenarnya juga sempat khawatir tetapi tidak mengutarakan hal itu secara langsung karena tidak ingin membuat seisi rumah gempar .


"tapi aku merasa...


perkataan Dewi itu mengambang begitu saja di udara ketika ternyata ponselnya itu bergetar dan merupakan panggilan dari anaknya, wajah yang tadi begitu Murung langsung sumringah saat itu juga sebab ini yang dirinya tunggu beberapa waktu lamanya akhirnya muncul juga.


"halo nak, kamu Kenapa baru menelpon mama sekarang? apa Kamu sengaja mau membuat Mama kamu ini jantungan dan juga jantungnya pun langsung lepas dari tempatnya, karena saking mengkhawatirkan keadaan kalian di sana yang tidak ada kabar berita seolah-olah lenyap Ditelan Bumi? "tanya Dewi tanpa mau mendengarkan kata-kata basa-basi dari Asya dulu.


"Mama Tolongin aku mah, adik sakit terus aku tidak tahu harus seperti bagaimana?"lirih Asya sambil menangis membuat Dewi langsung lemas ketika mendengar nada suara putrinya yang begitu menyayat hati.


ponsel yang dipegangnya pun rasa-rasanya sudah tidak sanggup karena benda itu entah kenapa tiba-tiba berubah menjadi sangat berat, Rianti yang duduk di samping kakak iparnya langsung Segera mengambil alih ponsel tersebut.

__ADS_1


"Hallo, ini kamu Sya? Kamu kenapa di sana apa ada masalah sehingga membuat kalian tidak ada kabar, atau hal yang tidak diinginkan terjadi sehingga kamu baru menghubungi saat ini?"tanya Rianti penasaran.


"Elnara sakit mah, Aku bingung harus seperti bagaimana membuat dia bisa sembuh seperti semula!"Rianti sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh keponakan sekaligus menantunya itu.


"Apaaa? Maksud kamu Elnara sekarang itu sakit, ya sudah katakan kamu sekarang ada di mana biar kami semua menyusul ke situ agar kita bisa cari jalan keluarnya sama-sama,"pinta Rianti yang terlihat lebih kuat dari Dewi karena biar bagaimanapun dirinya sudah terbiasa ketika mendengar kabar yang mengejutkan.


Asya yang mendengar suara mertuanya itu sangat merasa bersalah karena selama ini tidak memberi kabar tetapi sifat Riyanti tidak pernah marah-marah, padahal kesalahannya itu sangat fatal yaitu hilang kabar tanpa ada kepastian yang jelas dan muncul kembali dengan membawa kabar yang sangat mengejutkan.


"Maafkan aku Mah, selama ini tidak memberi kabar kepada kalian. Sekali lagi maafkan aku karena sudah tidak menjadi Ibu yang sangat berguna untuk anak sendiri, namun sekarang aku bingung harus bersikap seperti apa dan juga tidak tahu lagi harus ngomong ke siapa!"Rianti mencoba untuk tetap tenang mendengar keluh kesah dari menantunya itu agar Mungkin dengan cara seperti begitu pikiran Asya kembali tenang.


"Asya kesayangannya mama, jangan lagi membahas hari lalu sekarang lebih baik kamu katakan kalian sekarang ada di mana biar kami segera menyusul secepat mungkin! nanti pembahasannya yang lain-lain lagi itu nanti kalau sudah ketemu agar lebih gampang ngomongnya, yang penting itu kamu ngomong sekarang ada di mana Biar Mama Papa Dan juga semuanya bakalan langsung terbang hari ini juga!"ujar Riyanti membuat Asya menghela nafasnya kasar karena ternyata sikap mertuanya itu tidak pernah berubah.


"kami ada di Milan Italy, Nanti Mama pakai jet pribadinya Mas Kenzo saja karena mereka yang merupakan orang yang bekerja dengannya sudah tahu Kami sekarang ada di mana, biar nanti kalian tidak kebingungan Oh iya jangan lupa kalau mau ke sini tolong kabari juga dengan Vina dan juga suaminya biar barengan!"setelah mengatakan hal itu Asya pun mematikan ponselnya dan segera menghubungi sahabatnya.


Vina yang kebetulan sedang gelud-gelud dengan sang suami langsung menegakkan tubuhnya ketika mendengar ada panggilan masuk, dan nada panggilannya itu dirinya tahu siapa yang menelpon karena Asya itu mempunyai nada dering khusus di dalam ponselnya..


"aku angkat telepon dulu ya Mas sepertinya dari Asya deh, mungkin ada keperluan penting makanya dia menelpon soalnya selama ini anak itu tidak pernah!"Andi menganggukkan kepalanya karena dirinya juga sebenarnya ingin menghubungi Gerry.


Tetapi sebelum itu ia ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh istrinya dan juga Asya di seberang, karena kalau Asya menelepon seperti begini pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh wanita itu.


"Halo Sya, tumben kamu menelponku Padahal selama ini kan selalu jengkel kalau setiap kali aku telepon soalnya katanya mengganggu, jangan bilang kamu merindukan sahabatmu yang paling cerewet membahana ini?" Tanya Vina yang belum sadar akan situasi yang tengah dihadapi oleh Asya.


"kamu sama Andi bisa menyusul aku ke Milan Italy sekarang tidak, soalnya elmara sakit dan perlu penanganan khusus jadi aku butuh kalian semua untuk berada di dekat kami?"tanya Asya tanpa basa-basi bahkan bisa dibilang ledekan Vina tadi tidak dipedulikannya sama sekali.


"Sya, kamu lagi tidak bercanda kan padaku? Memangnya Elnara sakit apa, apa sangat mengkhawatirkan sampai-sampai kamu harus menyuruh kami ikut ke acara bulan madunya kalian?"tanya Vina yang masih mencoba berpikir positif.


"kamu pikir dengan sakitnya anakku itu merupakan bahan lelucon, Ayo kamu cepetan pulang ke rumah itu mama sama papa sudah siap-siap mereka bakalan menggunakan jet pribadinya Mas Kenzo!"setelah mengatakan hal itu Asya pun langsung mematikan panggilan tersebut dan menoleh ke arah Putri kecilnya yang sudah terbangun sambil tersenyum ke arahnya.


"Ya ampun anaknya mami udah bangun toh? jangan sampai tadi Mami ngomongnya terlalu keras jadi adiknya nggak nyaman saat tidur, Maafkan Mami ya nak karena sudah tidak sengaja membangunkan adik yang lagi lelap?"tanya Asya sambil mengusap pelan kepala Putri kecilnya itu yang meskipun sakit dengan wajah yang terlihat pucat tetapi masih saja tetap tersenyum dan anteng tidak rewel sama sekali.

__ADS_1


"Mami nangis, Apa karena adik sakit? Mami Tenang saja nanti Adik bakalan cepat sembuh kok biar kita bisa pulang ke rumah, soalnya adik bosan di sini semua pakaian Suster itu warnanya putih kayak hantu!"ujar Elnara membuat Asya terpaksa tersenyum meski hatinya begitu terluka karena kata-kata yang sangat lucu yang diucapkan oleh Elnara tadi.


__ADS_2