Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 117


__ADS_3

" Ya sudah kalau begitu sedikit sekarang terasa hanya begitu ngilu Kenapa kita membuat langsung terasa ngilu benaran, karena aku juga sudah lama tidak Memukul orang sebab Tiap hari hanya disuruh jadi palang pintu di depan kantornya Tuan Kenzo! "ajak mereka membuat Rama yang dalam posisi sudah mendekati ke arah situ langsung mulai waspada karena dirinya ia yakin sebentar lagi bogem mentah bakalan mendarat cantik di pelipisnya.


" apa mereka bilang tadi, Mereka ingin menghajarku tanpa mengatakan hal yang membuatku harus mewaspadai lebih dahulu? " tanya Rama dalam hati padahal sebenarnya pria itu hanya sedang dikerjai saja dan memang tidak ada niat sedikitpun untuk memukul atau menganiaya dirinya tanpa diperintahkan lebih dahulu oleh pemimpin mereka..


Berlin, Jerman


terlihat seorang pemuda baru turun dari pesawat dengan menyeret kopernya yang begitu besar, seolah akan menetap di tempat itu dalam jangka waktu yang tidak ditentukan dan juga datang ke tempat itu untuk tinggal lebih lama lagi dari yang tidak pernah diperkirakan oleh kedua orang tuanya.


Gerry , pria yang datang ke situ dengan berbagai macam alasan melekat di dalam benaknya. dirinya di samping ingin mengikuti penelitian yang diutus oleh kampus kepadanya untuk datang ke tempat itu, melainkan juga ingin mencari wanita yang sudah setahun lebih ini selalu ia pikirkan siang dan malam sehingga tidak ada tempat lain untuk menoleh ke arah wanita lain.


wanita yang membuat dirinya selalu merasa bersalah dan juga dihantui berbagai pikiran Apakah bibit yang ia tanamkan itu berbuah atau tidak, mengingat beberapa kali dirinya mengeluarkan bibit tanpa pengaman sedikitpun.


Harapan itulah yang selalu dibawa Gerry kemanapun dirinya pergi,walaupun terkadang harapan untuk bertemu Asya itu hanya 1% saja.


Namun ia tidak ingin duduk dan diam saja tanpa berusaha untuk mencari,nanti kalau sudah ketemu terserah reaksi Asya seperti apa yang penting dirinya sudah berusaha mencari nya.


Hanya terkadang dirinya selalu terganggu tiap malam ketika tertidur dan bermimpi jika Asya sedang tertawa bersama pria lain bersama anak kecil,dan membuatnya heran Wajah anak kecil itu sangat mirip dengan pria yang bersama Asya itu.


"Semoga kelak kita dapat bertemu dalam keadaan yang tidak mengecewakan,karena aku sangat merindukan mu lebih dari yang kau tahu!" lirih Gerry yang tetap berusaha tersenyum.


Entah nanti berapa puluh banyak tempat yang bakal Ia datangi untuk mencari Asya,dirinya tak peduli karena memang tujuannya yaitu bisa menemukan Asya.


Vina kini sedang berbahagia sekaligus merasakan kekecewaan di saat yang sama,sebab besok ia akan menikah dengan pria yang sudah setahun lebih menjadi kekasihnya tetapi tanpa kehadiran sahabatnya.


"Vin,besok mau menikah kok malah bengong?" Tanya Metha yang merupakan Mamanya Vina.


"Aku lagi galau Mah!" Sahut Vina malas.

__ADS_1


Metha memberenggut kesal karena melihat tingkah putrinya itu,karena pikirnya pasti Vina galau karena memikirkan Andi yang sudah tidak dijumpai beberapa hari sebab keduanya sedang dipingit.


"Nanti setelah menikah kalian kan bakal selalu bersama 24 jam,kenapa kamu malah lebay begini?" Omel Metha.


Vina memasang wajah cemberut nya karena Mamanya itu malah membahas hal yang tidak ia pikirkan sama sekali,sejak kapan dirinya merindu kan Andi karena justru yang ada merupakan kebalikannya.


"Mama itu bicara apa sih? Memang nya siapa juga yang sedang memikirkan Andi,aku itu lagi merindu kan Asya kembaran ku tapi beda yang jaraknya sangat jauh!" Ujar Vina lemas.


Metha akhirnya juga sadar jika sudah berapa lama dirinya tidak bertemu Asya,padahal dulu dirinya selalu menyuruh Vina untuk mengajak Asya datang kerumah mereka.


"Astaga,Mama juga kok bisa lupa anak Mama yang cantik itu?" Sahut Metha yang merutuki diri sendiri karena bisa melupakan Asya.


"Nah tuh kan baru sadar sekarang,padahal tadi marah marah tidak jelas!" Ejek Vina.


"Jadi,Apa kamu sudah dapat kabar dari dia kira kira kapan balik kesini?" Tanya Metha lagi dan memasang wajah yang penuh harap.


Metha mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan yang sangat tidak masuk akal Vina itu,padahal ia bertanya dengan menginginkan jawaban yang pasti tapi kenapa malah menjawab yang tidak tidak.


"Kamu itu kenapa selalu saja menjawab sesuatu itu membuat orang tua bingung kebanyakan,apa memang tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan Mama tadi?" Tanya Metha membuat Vina hanya bisa menghela nafasnya kasar Karena ternyata sang Mama tidak bisa di ajak Galau berjamaah.


"Mah,bisa tidak jangan membuat ku tambah pusing?" Tanya Vina yang sudah tidak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan Mamanya itu yang dari tadi kebanyakan anehnya.


"Dasar katanya seorang dokter dan suaminya dokter pula tapi penyakit bodohnya dibawa bawa,apa memang tidak ada obat untuk penyakit satu itu?" Tanya Metha tetapi dengan nada yang mengejek membuat Vina hanya mengusap wajahnya pelan karena dari dahulu sampai sekarang jika berdebat dengan Emak emak yang berdaster pasti tidak bakal menang.


"Iya Mah,soalnya Bodoh itu bukan penyakit yang hanya datang sebentar melainkan merupakan penyakit bawaan,jadi para pakar susah sekali menemukan obatnya!" Ujar Vina.


Metha membulatkan matanya sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Vina,karena dirinya yakin jika gadis itu sedang menyindir dirinya sekarang.

__ADS_1


"Terserah kamu saja,Mama mau cek persiapan di gedung sudah sampai dimana? Kamu ingat ya jangan galau terus,nanti bjsa gagal nikah besok terus Mama rugi dong karena sudah kasih keluar banyak!" Ucap Metha.


"Dasar pelit,masa sama anak sendiri kok perhitungan sekali?" gerutu Vina.


"Eh Nak,asal kamu tahu saja ya Kalau anak itu ketika orang tua minta uang buat pesta pasti sungut banyak. Akan tetapi kalau orang tua pasti bakal memberikan apapun yang bisa di lakukan tanpa anak yang meminta nya terlebih dahulu,karena itu maka masuk akal dong jika Mama marah marah?" jelas Metha dan pergi dari situ karena capek mendengar setiap kata kata yang dijawab oleh Vina.


Andi merasakan galau yang berat meskipun tanpa ia ketahui kalau Vina sedang memikirkan sahabatnya dan bukan dirinya,hanya saja namanya perasan sejak kapan bisa di paksakan karena itu hak seseorang.


"Mama,kenapa sih jaman sudah modern begini tapi acara pingit memingit masih saja di gunakan? Apa tidak malu pada generasi milenial seperti kami ini,yang sudah ada jaman canggih sistem online?' Tanya Andi gusar.


"Untuk apa malu,asal kamu tahu ya sebelum jaman modern ini ada terlebih dahulu jaman primitif maka dari itu kalian harus menghargai kaum yang lebih tua!" Ujar Mama nya Andi yang mencoba untuk lebih bersabar menghadapi calon pengantin yang sedang galau karena tidak bisa berjumpa dengan jantung hatinya berada di seberang sana.


" gara-gara peraturan konyol kalian itu membuat aku harus seperti begini terus entah sampai kapan, tau tidak menunggu besok pagi itu merupakan waktu yang paling terlama serasa seperti menunggu seumur hidup!" Andi pasrah tidak tahu harus berbicara apa lagi.


"Ya kalau begitu kamu cari kesibukan lain biar tidak bosan daripada duduk dan bengong,padahal orang lain boleh sibuk sana sibuk sini sedangkan kamu seperti orang stress!" Perintah sekaligus saran yang diberikan oleh Mama nya itu menurut Andi hanya membuat dirinya bosan tambah parah.


"Nanti kalau aku cari kesibukan terus cedera nanti kan bisa lebih parah urusan nya,jadi lebih baik aku main game saja!" Sahut Andi membuat Mama nya hanya menatap kesal kearah putranya itu.


"Kalau begitu kenapa tidak melakukan hal itu dari tadi malah hanya duduk bersungut,nanti diperintah baru mulai memberikan saran yang tidak masuk akan dan membosankan!" Gerutu Mamanya dan Andi hanya menyengir.


Norah kini tengah menatap Nanar kearah kamar putranya yang sudah tidak ada penghuninya, oleh karena Gerry yang sudah pergi ke tempat lain dan melakukan penelitian sekaligus mencari keberadaan Asya yang masih abu abu menurut mereka.


"Pah,apa dia bakal baik baik saja dan akan kembali secepatnya jika Asya tidak ada di sana?" Tanya Norah kepada Dito suaminya.


"Mah,Gerry pergi nya sangat jauh otomatis kita sebagai orang tua harus tenang agar dia juga bakal tenang disana. Karena biar bagaimanapun kekuatan seorang anak yaitu berasal dari orang tuanya,bukan dari siapa dan juga apapun harta yang ada di dunia ini!" Sahut Dito yang berusaha lebih dewasa dan lebih tenang.


"Tapi Papa kan tidak pernah merasa jadi Mama,yang harus khawatir dengan keadaan anak sendiri yang selama ini selalu kita tinggalkan karena urusan Bisnis Papa!" Norah tahu selama ini ia lebih mementingkan urusan duniawi sampai melupakan tanggung jawab sebagai orang tua.

__ADS_1


"Setiap manusia tidak ada yang sempurna maka dari itu dengan Mama menyesal dan mengurus Gerry setahun ini Papa rasa dia pasti paham,jadi jangan menyesal dengan yang sudah terjadi karena itu sama saja dengan menambah beban pikiran !" Bujuk Dito.


__ADS_2