Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 164


__ADS_3

Asya begitu bahagia ketika mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu sebab menurutnya kasih sayang Kenzo itu begitu besar kepada putrinya, padahal sebenarnya mereka berdua tidak memiliki hubungan apapun bahkan bisa dibilang darah yang mengalir di tubuh putrinya setetes pun bukan miliknya Kenzo.


namun pria itu tidak pernah mengeluh ataupun mempermasalahkan hal itu karena menurutnya dari awal hingga saat ini Elnara merupakan putrinya dan semua orang mengetahui hal itu, maka dari itu jika sampai gadis kecil itu kenapa Kenzo merasa gagal menjadi seorang Papi yang tidak bisa menjaga buah hatinya yang sudah dipercayakan Tuhan kepadanya selama ini.


Asya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami berusaha untuk tetap tenang meskipun rasa panik itu tidak bisa dipungkiri Jika masih ada, hanya saja jika dirinya memilih untuk bersedih bisa dipastikan Kenzo juga akan merasakan hal-hal yang sama maka dari itu ia tidak mau hal itu terjadi.


Kenzo yang melihat istri terlalu memendam beban pikiran yang begitu besar membuat dirinya tidak tega sebab wajah Asya itu terlihat sangat Terpukul, maka dari itu dirinya berharap semoga Tuhan mengamalkan permintaannya yaitu putrinya tetap sehat tidak terjadi apapun yang mereka khawatirkan.


hanya saja manusia bisa berharap tetapi terlepas dari semua itu sudah ada yang mengatur, dan jika sampai hal itu terjadi maka harapannya hanya satu yaitu lebih bersabar dan juga tidak Banyak mengeluh sebab jika engkau mengeluh otomatis dunia maupun bakalan terasa begitu sesak dan juga tersiksa soalnya ngapain kau inginkan tidak terjadi sedikitpun.


"Kamu harus sabar jangan bersedih Meskipun aku tahu itu merupakan hal yang mustahil karena aku pun juga merasakan hal yang sama seperti ini , maka dari itu kita harus tenang tetap berdoa kepada Tuhan meminta agar Putri kecil kita itu tidak kenapa-napa Dan semoga saja hal yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi!"Kenzo berusaha membuat istrinya itu tetap rileks dan juga tidak terlalu memikirkan sesuatu hal secara berlebihan karena takut psikisnya juga bakalan terganggu.


fokus keduanya itu hanya terarah kepada pintu ruangan tempat di mana Elnara sedang diperiksa dan juga dilakukan penanganan agar mimisan yang dari tadi keluar itu segera berhenti, tubuh mereka memang ada di situ tetapi raga mereka seolah ikut ada di dalam bersama dengan Putri mereka yang sama sekali tidak mengeluarkan suara dari tadi.


satu jam kemudian pintu ruangan itu terbuka dan tampak Dokter menyeka keringat di dahinya karena memang perlu kesabaran ekstra dalam menangani pasien yang masih kecil seperti Elnara, setelah itu dirinya langsung menemui kedua orang tuanya yang juga sedang menatap ke arahnya penuh dengan perasaan yang kebingungan dan juga pertanyaan di dalam benak mereka.


"apa kita bisa berbicara sebentar, Soalnya ada hal yang perlu Saya bahas dengan anda berdoa dan ini menyangkut dengan kesehatan Putri anda di dalam sana!"pindah dokter itu membuat Kenzo dan juga Asya Saling pandang karena merasa bingung dengan maksud tujuan pria paruh baya itu mengatakan hal yang sepertinya sangat serius.


Asya menggelengkan kepalanya karena menurutnya jika ingin berbicara lebih baik di samping Putri mereka karena ia tidak ingin meninggalkan dirinya seorang diri dalam ruangan itu, takutnya saat anaknya bangun dan tidak melihat dirinya pasti dia bakalan histeris sebab ruangan itu begitu asing dan juga orang-orang yang ada di dalamnya.


Kenzo yang paham dengan penolakan yang dilakukan oleh Asya tadi langsung berusaha membujuk dokter itu Agar mengikuti apa yang diinginkan oleh sang istri, sebab Biar bagaimanapun seorang ibu tidak akan tega meninggalkan anaknya sendirian di rumah sakit dengan keadaannya lemas dan juga tidak berdaya sama sekali.

__ADS_1


"bisa kita berbicara di dalam ruangan tempat anak saya diperiksa, Dok? karena kami tidak ingin meninggalkan dia sendirian di dalam sana sedangkan kami mengikuti Anda ke ruangan, dan kami mohon juga pengertiannya karena kami adalah orang tua yang tidak ingin meninggalkan anaknya dalam kondisi apapun!"dokter tersebut menganggukkan kepalanya merasa tak keberatan dengan permintaan kedua manusia yang ada di hadapannya kini sebab memang sangat masuk akal dan juga tidak bisa dipungkiri jika dirinya Berada di posisi mereka otomatis bakal melakukan hal yang sama.


kini keduanya sudah masuk ke dalam ruangan itu dan yang membuat Asya sangat terkejut yaitu ternyata tangan Elnara sudah dipasang selang infus, Padahal tadi putrinya itu hanya mimisan saja dan tidak perlu harus dilakukan penanganan sampai berlebihan seperti itu. pikiran yang aneh-aneh pun sudah mulai bermunculan di dalam benaknya membuat nafasnya tercekat di tenggorokan, seolah pasukan Oksigen yang ia dapatkan begitu sedikit melihat keadaan putrinya yang seperti begitu..


"ini maksudnya apa ya dokter, tadi saya bawa anak saya ke sini kan hanya karena keluhannya bukan ada penyakit lainnya? jadi kalau ingin melakukan tindakan otomatis harus mengkonfirmasi kepada kami sebagai orang tuanya lebih dahulu dan Kalian tidak perlu harus mengambil tindakan sendiri, jika pun ada diagnosis yang membuat kami harus khawatir Itu juga setidaknya harus sampaikan agar kami tidak menerka-nerka Sebenarnya apa yang terjadi!" Asya benar-benar dibuat hilang kesabarannya ketika melihat jari jemari mungil itu harus ditusuk jarum yang menurutnya terasa sangat menyakitkan.


dokter itu menghela nafasnya secara perlahan karena memang tidak salah Jika reaksi orang tua seperti begitu sebab Ia sangat paham dengan apa yang sedang dirasakan oleh pasangan muda itu, hanya saja tidak ada waktu lagi untuk mengkonfirmasi semuanya kepada orang tuanya sebab dirinya harus segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan si kecil yang tidak tahu apa-apa itu dan hanya bisa tertidur pulas akibat efek dari obat yang tadi diberikan.


"ini semua saya lakukan demi keselamatan pasien maka dari itu tadi kenapa saya meminta anda untuk berbicara kepada saya secara khusus untuk membahas lebih detailnya, dan saya minta tolong menghormati keputusan yang sudah saya ambil karena ini demi kebaikan Putri Anda juga sebelum semuanya menjadi terlambat! "jelas dokter itu membuat Asya mengurutkan keningnya karena apa dari maksud kata terlambat padahal perasaan tadi ketika tahu marami mimisan Dia dan Kenzo tidak menunggu lama Langsung bergerak ke rumah sakit.


"Maksud Anda apa yang mengatakan sebelum terlambat, anak saya baik-baik saja karena tidak ada masalah serius yang harus perlu dikhawatirkan secara berlebihan? Tolong jangan ada yang bisa di tutup tutupi soal diagnosis yang anda berikan, karena kami itu sangat mengkhawatirkan dia dan juga sangat menyayangi dia tidak ingin dia sakit ataupun kenapa-napa!" Tanya Asya.


"ini hanya dugaan awalnya saya saja karena mengacu pada gejala awal yang bisa kita lihat, nanti besok pemeriksaan darah juga kurang keluar barulah kita bisa tahu sebenarnya apa yang terjadi kepadanya!"jelas dokter itu yang terdengar begitu ambigu di telinga Asya yang sedikit tidaknya lebih paham daripada Kenzo soal masalah medis seperti begitu.


"anak anda seperti diagnosis awal saya tadi bahwa dia menderita leukemia, hanya saja untuk jelasnya kita bakalan melihat besok dari hasil darahnya. untuk sementara pasien tidak bisa kami pulangkan karena dia harus diabservasi lebih dahulu untuk mewaspadai hal-hal yang kemungkinan bakalan terjadi, kalau sudah tidak ada pertanyaan maka kamu semua undur diri dan juga jika memerlukan bantuan silakan menekan tombol yang ada!"penjelasan dokter itu yang singkat padat dan jelas membuat sendi-sendi Asya seakan melepas dari tempatnya karena itu merupakan sebuah kejutan yang bukan menggembirakan tetapi membuat dunianya serasa terhenti saat itu juga.


karena tak kunjung mendapatkan respon dari orang tua para perawat dan juga dokter itu memilih untuk pergi sebab kondisi itulah yang selalu mereka alami ketika memberitahukan kepada keluarga pasien, bisa dibilang respon orang tua yang ada di hadapannya itu lebih tenang daripada orang lain yang pernah ia hadapi yang Bahkan Terkadang ingin menghajarnya karena menurut mereka dia diagnosis diberikan itu salah.


sepeninggal semua orang yang ada di situ Asya langsung mendekati Putri kecilnya itu dan memeluk erat tubuhnya, Ibu mana yang tidak akan Terpukul ketika melihat keadaan putrinya yang masih sangat kecil dengan tangan mungilnya itu harus ditusuk jarum yang terasa begitu sakit kalau kadang-kadang dahulu Selalu ditipu bahwa ketika disuntik itu hanya Terasa seperti gigitan semut saja..


"sayang bangun Nak ngomong sama mami seperti biasanya soalnya kan adik selalu cerewet kalau sakit tidak pengen Disuntik katanya tidak ingin merasakan gigitan semut, kamu bangun biar kita bisa cepat pulang dari sini Soalnya Mami juga tidak ingin lama-lama di tempat ini!"bujuk Asya yang terdengar begitu lirih seolah ada rasa putus asa di dalamnya hanya saja mau bagaimana lagi Bukankah semuanya sudah ada yang mengatur.

__ADS_1


Kenzo mengusap bahu istrinya itu secara perlahan karena ia sangat tahu perasaan Asya Sekarang pasti begitu Terpukul dan juga seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, inilah yang ia khawatirkan dari tadi yaitu sang istri tidak sanggup mendengar berita secara langsung tentang kondisi Elnara .


"kamu tenang saja ini kan masih diagnosis awal nanti besok pagi kan hasil yang jelasnya bakalan keluar baru kita tahu sebenarnya apa yang terjadi, Aku minta ke kamu tolong tenang Jangan panik secara berlebihan karena nanti takutnya adik tidurnya itu bakalan terganggu!" bujuk Kenzo.


terkadang mencoba untuk biasa saja tidak ingin peduli dengan sekitar dan juga berbuat seolah masalah itu tidak terjadi merupakan sebuah hal yang sangat sulit untuk dilakukan, karena terkadang kita mencoba untuk tidak peduli tetapi jika masih melihat hal yang membuat kita tak peduli itu masih ada di hadapan kita otomatis rasa Peduli itu bakalan kembali muncul.


"Aku ingin mencoba untuk tenang Mas tapi kamu tahu sendiri kan kalau aku itu sangat cepat sekali untuk khawatir, jadi aku mohon kamu tolong jangan memaksa untuk bersikap seolah tidak ada terjadi sesuatu hal yang mengkhawatirkan karena itu akan susah!"lirih Asya sambil terus mengecup pelan tangan putrinya yang sedang dipasang jarum infus pasti itu terasa sangat sakit dan juga menyiksa apalagi anak masih kecil yang baru mau menginjak usia 2 tahun itu selalu saja aktif di manapun ia berada.


Elnara yang sedang tertidur langsung terbangun ketika tangannya dipegang oleh Maminya, bukannya menangis gadis kecil itu malah tersenyum membuat hati Asya dan Kenzo seperti tersayat karena memang senyuman itu sangat menyiksa keduanya.


"Papi sama Mami kok nangis Memangnya kenapa, apa karena aku nakal sampai Mami nangis?"tanya Elnara sambil mengusap pelan pipi Asya.


Asya menggelengkan kepalanya karena tidak ingin membuat Putri kecilnya itu bertambah sedih karena dirinya tahu elmara sangat sensitif terhadap sesuatu, apalagi melihat dirinya menangis pasti bakalan menyalahkan dirinya sendiri yang katanya sudah nakal makanya Asya bersedih.


"Siapa bilang anak mami nakal, orang anak mami itu paling pintar kok dari anak yang lain bahkan tidak pernah buat mami itu marah ataupun sedih?"tanya Asya sambil pura-pura merajuk membuat Elnara tersenyum.


"Terus kalau begitu Kenapa Mami sama papi nangis, Kalau tidak ada yang nakal terus Siapa yang nakal?"tanya Elnara yang sepertinya telah berpikir berusaha untuk mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi.


Mendengar perhatian dari Putri kecilnya itu membuat hati Asya rasa-rasanya begitu sakit seolah ditusuk dengan ribuan jarum, jika sudah seperti begini ingin sekali ia menghilang sejenak berusaha untuk tidak ikut campur dengan segala masalah yang terjadi namun mau bagaimana lagi.


"Mami sama papi itu lagi akting buat menangis kalau Siapa yang menangis air matanya lebih banyak dia yang menang, tidak ada yang nakal kok Soalnya kan Adik lagi bobo masak Mami sama papi nakal?"Apa yang dijelaskan oleh Asya itu membuat Kenzo ingin sekali tertawa karena dirinya saja bingung Siapa yang sedang akting menangis dan juga anak kecil seperti yang Elnara Memangnya paham jika dikasih alasan yang tidak masuk akal seperti begitu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau lain kali mau menangis kasih tahu biar Adik juga ikutan,Tapi akting itu apa ya?"Elnara meskipun usianya masih kecil tetapi daya berpikirnya itu sudah seperti orang dewasa mungkin karena kedua orang tuanya memiliki kepintaran Yang Tidak diragukan membuat bibit yang mereka hasilkan pun tidak kalah dari mereka.


"Adek lebih baik tidur tidak usah mendengarkan keanehan Mami kamu itu soalnya Papi saja bingung, Kalau Adek terus-terusan di sini memangnya tidak bosan?"Asya melototkan matanya tajam menatap ke arah suaminya karena ketika mendengar perkataan Papinya itu Elnara langsung menatap ke arah tangannya yang sedang dipasang jarum infus.


__ADS_2