
Lorrin hanya bisa menghela nafasnya kasar karena bingung harus bagaimana merespon sikap sepupunya itu,padahal ada beribu pertanyaan yang ingin sekali di lakukan.
"Om sama Tante,sebenarnya siapa yang sakit? Soalnya aku bingung harus mendapatkan jawaban dari mana,padahal kan semuanya sudah pada kumpul disini?" Tanya Lorrin penasaran.
"Astaga Riri,lain kali itu kerja dulu baru bertanya nanti Kenzo marah!" Ujar Rianti yang sebenarnya bukan tidak sopan hanya saja dirinya sedang tidak Mood menjelaskan sesuatu.
" Oh ya sudah,nanti saja baru aku tanya kan pada kalian!" Lorrin hanya bisa diam karena takut juga melihat wajah tak bersahabat milik Tantenya itu.
"Kamu itu kan sudah tahu bagaimana sikap Tante kamu,tapi masih saja membuat dia emosi!" Ejek George sambil berbisik membuat Lorrin merasa kesal.
"Ah Uncle itu orang yang tidak setia pada keponakan,setidaknya membantu ku lah barang sedikit masa iya hanya kepada istrinya saja!" Sungut Lorrin.
"Jelas lah yang harus Uncle bela yaitu istri sendiri,kecuali kalau kamu ingin di bela ya sana cepat cari suami jangan hanya orang sakit saja yang diurus tapi hati di biarkan terbengkelai!" Ledek George kepada keponakan nya itu yang selalu saja katanya betah sendiri daripada berdua ribet katanya.
Sedangkan di dalam kamar Asya,terlihat Kenzo sedang merasa gemas kepada kedua orang tua dan juga sepupunya yang berkedok dokter.
"Kalian itu kenapa sih,mau periksa orang sakit tapi gaya jalan sudah kaya lagi fashion show?" teriak Kenzo dari lantai atas membuat semua orang merasa terkejut.
"Etdah,itu Om Om sudah kena penyakit apa lagi sih?Kok bisa bisanya berbuat seperti itu,padahal kan kita juga sedang OTW?" Sungut Lorrin tak terima.
"sudah diam saja kamu,karena memang ini semua salah kamu yang lelet!" Rianti menimpali.
"Ya elah Aunty dari tadi kok bawaan nya marah terus,apa lagi stress duit di Atm habis?" Tanya Lorrin dengan nada yang ingin tahu.
"Shuttt,tuh lihat wajah nya si Kenz! Kamu mau benar benar di makan sama dia ya terserah,tapi Aunty masih pengen hidup dan punya anak satu lagi!" Lorrin hanya menatap jengah kearah Tantenya itu yang selalu saja bikin Orang lain berdecak kesal.
"Seperti mampu buat mengedan saja jadi ngomong nya santai begitu?" Batin Lorrin.
Ketika masuk kedalam terlihat Asya masih belum sadar diri dan ada Dewi dan Rio yang setia menjaga putri mereka itu,dengan wajah yang begitu terpukul serta seperti orang yang sangat kebingungan harus bersikap seperti apa.
"Dia siapa ya,kenapa Kenz terlihat sangat perhatian sampai marah marah tidak jelas?" Gumam Lorrin dalam hati.
"Permisi,apa boleh saya periksa dia sebentar?" Izin Lorrin karena tak bisa menjangkau Asya sebab posisi Dewi dan Rio yang berada di kanan dan kiri Asya.
"Silahkan Dokter!" Ujar Dewi lalu sedikit menepi agar ada tempat yang sedikit menjauh agar Lorrin bisa lebih leluasa memeriksa Asya.
Lorrin tersenyum kearah Kenzo yang nampak panik seolah takut berlian nya bakal kenapa napa,padahal dia nya saja yang lebay.
"Abang Kenz,boleh tidak aku periksa Nona ini?" Tanya Lorrin sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kalau tidak mampu melakukan nya lebih baik kamu pulang,karena aku mampu membayar dan membawa dia kerumah sakit sekarang!" Astaga Kenzo terlihat sangat tidak menyukai orang yang menurutnya terlalu berlebihan dalam bersikap.
" Ishhhh,jadi orang kok marah marah terus?" Sungut Lorrin sambil memasang wajah cemberutnya.
Ketika Lorrin sedang sibuk memeriksa Asya,tampak wajahnya begitu serius dan juga seperti benar benar hendak memastikan sesuatu.
"Mmm,Maaf kalau boleh tahu dimana suaminya?" Tanya Lorrin penasaran karena tidak mungkin Kenzo adalah suami dari gadis itu sebab masa iya saat menikah dirinya tak diundang dan juga gadis itu begitu asing di wajahnya.
"Kenapa menanyakan hal itu? Tugas mu adalah memeriksa nya dan juga memastikan kondisi nya sekarang,bukan menanyakan hal yang tidak penting?" Tanya Kenzo gusar bukan karena apa apa tapi dirinya sudah dapat menebak sebenarnya apa yang terjadi sekarang.
Demi apapun tapi satu yang pasti degup jantung pria itu sudah tidak karuan,dirinya merasa seperti ada ribuan paku yang bersiap siap menerjang dirinya kapan saja.
"Sepertinya Nona ini sedang hamil,dan saya perkirakan sudah tiga minggu hanya saja karena saya adalah dokter umum maka dari itu lebih baik dibawa kerumah sakit untuk pemeriksaan secara nenyeluruh!" Jelas Lorrin.
Duarrrr
Bagai disambar petir di siang bolong begitulah perasaan yang di rasakan oleh Semua orang,tidak terkecuali pria yang berdiri tanpa ekspresi yang sedang berusaha tetap berdiri walau kakinya sudah tak mampu menopang.
"Apa,Dok?" Tanya Dewi yang langsung lemas seketika seperti seorang Ibu yang mendapatkan kabar anaknya yang berada di medan perang.
"Maksud Anda,putri saya hamil dan usia kandungannya sudah tiga minggu?" Tanya Rio pelan tapi pasti.
"Iya benar sekali Tuan,maka dari itu saya tadi sengaja bertanya di mana suami Nona ini!" Jelas Lorrin dengan ekspresi kebingungan pasalnya kabar hamil adalah sebuah kabar yang gembira tapi kenapa semua orang disitu malah memasang raut wajah yang tak percaya dan seakan menolak nya.
"Saya suami nya dan yang akan membawanya kerumah sakit,tolong kamu hubungi dokter kandungan terbaik di Rumah sakit tempat mu bekerja dan ingat harus yang wanita!Aku tidak ingin istri dan juga anak ku kenapa napa,akibat dari sikap mu yang terlalu banyak ingin tahu urusan orang lain!" Tegas Kenzo lalu segera mendekati tubuh Asya untuk menggendong nya.
Akan tetapi Rio langsung mencegah nya karena tidak paham dengan jalan pikiran keponakan nya itu,sebab memutuskan sesuatu secara sepihak tanpa kompromi lebih dahulu.
"Tunggu,maksud kamu apa tadi bicara begitu?" Tanya Rio yang sudah menarik tangan Kenzo.
"Om,bisa tidak nanti sebentar baru saya jelaskan yang penting sekarang kondisi Asya?" Tanya Kenzo dengan tatapan memelas membuat Rio langsung melepaskan tangan nya.
"Ayo Nak,kita bawa Asya kerumah sakit karena Mama tidak ingin Cucu Mama nanti kenapa napa!" Ajak Rianti yang mendukung keputusan nya Kenzo 100%.
Melihat putra nya dan sang Istri sudah pergi ,George memilih untuk mengajak Dewi dan Rio juga menyusul bahkan mereka sampai melupakan keberadaan Lorrin yang malah duduk bengong dari tadi.
"Abang Kenzo sudah menikah dan sekarang Kakak Ipar sedang hamil tapi aku kok tidak tahu,wah ini orang semua harus aku marahin!" Sungut Lorrin karena sebagai sepupu kandung tapi Abang nya menikah dirinya tak tahu menahu.
Ketika hendak melayang kan protes akhirnya Lorrin sadar jika dirinya sudah ditinggalkan sendirian saja disitu,bagaikan istilah habis manis sepah di buang.
__ADS_1
"Woiii aku masih di sini, kenapa malah ditinggalkan sih?Bukan nya terima kasih karena aku sudah ikhlas datang malam begini,eh malah ditinggal seperti suami yang hendak pergi selingkuh!" Sungut Lorrin lalu segera keluar dari situ.
Kenzo, Asya dan Rianti satu mobil sedangkan yang lain di mobilnya yang satu,terlihat Rianti memangku kepala Asya sedangkan Kenzo yang menyetir.
"Kasihan sekali kamu Nak,kenapa harus terjadi seperti begini?" Lirih Rianti pelan.
"Kenzo yang bakal tanggung jawab Mah,dan tolong jangan melarang nya!" Pinta Kenzo memelas.
"Mama dukung kamu,dan kita akan berjuang sama sama agar kamu mendapatkan restu dan juga Asya!" Sahut Rianti tanpa ragu.
Bahagia itu sederhana ketika Orang di sekitar kita adalah mereka yang selalu menjadi pendukung dan juga penyemangat ketika kita jatuh,dan juga disaat kita butuh arah yang pasti di saat kita merasa dilema yang sangat.
Apalagi dukungan seorang Ibu,yang pastinya adalah doa mujarab di setiap masalah yang ada di dunia ini.
"Makasih Mah,karena tidak menentang keputusan Kenzo saat ini!Kenz,bakal berjanji akan selalu berada di samping Asya sampai kapan pun,meskipun anak yang di kandung bukan anak ku!" Ujar Kenzo penuh semangat seolah anak Asya adalah hasil dirinya membuat adonan tiap saat.
"Aku tidak menginginkan anak ini,Mas!" Ujar Asya lirih bahkan dirinya sudah tidak sanggup bangun lagi karena tubuhnya yang saking lemas dan tak bertulang.
Rianti begitu terkejut sampai jantung nya serasa mau copot dari tempat nya,karena respon yang di berikan Asya begitu tiba tiba.
"Kamu sudah bangun,Sayang?" Tanya Kenzo sambil tersenyum.
"Mas,kita pergi ke klinik aborsi ya karena aku benci anak ini sama seperti aku benci Ayah nya!" Pinta Asya membuat hati siapa saja yang mendengar nya merasa begitu teriris akibat tangis pilu yang di rasakan wanita itu.
"Aku Ayah nya,apa kamu membenci ku?" Tanya Kenzo yang mencoba untuk tidak terpengaruh dengan tangis Asya yang begitu menyayat hati.
"Mas,aku serius tidak becanda tolong antarkan aku sekarang!" Lirih Asya lagi.
"Shutt,Nak jangan begitu karena biar bagaimanapun seorang Ibu tidak mungkin mau mencelakai anak nya! Coba lihat kisah nyata dalam hidup mu yaitu Papa sama Mama kamu,sampai sekarang mereka kunjung tidak di kasih kepercayaan sama Tuhan. Apa kamu mau membantah anugerah kehidupan baru yang sudah di kasih oleh nya,atau kamu mau menyangkal apa yang sudah ia takdir kan?" Tanya Rianti sambil mengusap pelan kepala Asya hingga membuat wanita itu kembali tertidur.
Kenzo hanya diam saja tak tahu harus berbicara apa karena jujur ini adalah keputusan spontanitas yang ia lakukan selama hidup,namun satu yang pasti tidak akan pernah ada penyesalan selanjutnya karena bukan kah memiliki Asya itu anugerah apalagi memiliki anak itu artinya bonus yang di berikan Tuhan untuk nya.
"Aku akan menjaga kalian dari siapapun apalagi dari pria brengsek itu,yang tidak akan mendapatkan apapun mulai dari sekarang!" janji Kenzo dalam hati.
Dewi hanya bisa diam karena bingung apalagi Rio yang dilema,bagaimana tidak dirinya berada di antara pilihan sulit yaitu putrinya bakal melahirkan tanpa suami dan juga keponakan satu satu nya yang malah memilih mengorbankan masa mudanya untuk mengurus anak orang lain.
"Mas dan juga Mbak Dewi,saya mewakili Kenzo hanya ingin menyampaikan jika keponakan kalian itu adalah orang yang tidak sembarang mengambil keputusan jika itu bukan berasal dari dalam hatinya!" Jelas George.
"Tapi dia masih muda dan juga masa depan nya masih panjang belum lagi pasti banyak wanita yang lebih sempurna dari Asya?" Ujar Dewi merendah karena sekarang anak gadisnya bukan lagi gadis murni melainkan calon Ibu.
__ADS_1
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,dan percayalah jika Kenz adalah pria yang tanggung jawab nya diatas rata rata!" Wow hebat Opa George karena bisa sekali menjual putra mu hanya untuk merealisasikan kemauan Kenzo itu.
Rio tak ingin menjawab karena baginya yang ingin bertanggung jawab itu Kenzo bukan Papa nya,jadi untuk apa ia membahas sesuatu pada orang yang tidak ada sangkut pautnya karena sama saja kerja dobel.