
Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ambi barusan mendadak ingin sekali menghajar pria itu, sebab apa yang dikatakan Andi itu terlihat begitu percaya diri entah sesuai kenyataan atau tidak.
" kamu kalau mau narsis jangan di sini deh soalnya kuping aku itu rasanya mau lepas mendengar apa yang kamu katakan, sana pergi ke pinggir laut terus teriak kepada ombak kepada angin kepada matahari dan katakan kepada mereka kalau kamu sedang belajar gila!" usir Vina membuat Andi menatap tak percaya ke arahnya.
" kamu kalau ngomong sadar-sadar dong masa iya pria setampan dan kesempurnaan aku disamakan dengan orang gila, terus kalau misalnya yang lebih sempurna dari aku namanya apa coba?" tanya Andi tak terima dengan perkataan Vina barusan.
apa yang dikatakan oleh Andi itu membuat Vina ingin sekali tertawa karena akhirnya pria itu sadar diri, dan membuat dirinya tidak perlu kesusahan lagi untuk menjelaskan apa sebenarnya yang berada dalam otaknya kini.
"nah Jadi orang kalau sadar diri seperti begitu kan masalahnya tidak bakalan ribet, jangan sudah tahu tampangnya dibawah standar tapi berbuat seolah paling keren dari segala-galanya! jadi karena sudah sadar kalau kamu orangnya tidak ada yang kata bagus menempel pada tubuh kamu, jadi lebih baik kamu menjauh dariku sebab aku kan manusia paling sempurna di jagat raya ini jadi bergaulnya harus orang paling sempurna juga ya itu seperti Asya!" usir Vina sambil mengibaskan tangannya agar Andi menjauh.
Andi yang mendengar kalimat ejekan yang dilontarkan oleh Vina baru akan membuat dirinya menatap tak percaya ke arah wanita itu, kok bisa-bisanya menjatuhkan harga dirinya tidak pakai tanggung langsung turun begitu saja tanpa permisi.
" Eh kamu kalau ngomong sadar-sadar dong Memangnya ada orang di dunia ini yang mengaku dirinya cantik Padahal orang lain bilang jelek, aku itu terkadang kasihan lho sama Asya yang berteman nya dengan manusia yang tidak ada bagusnya sama sekali"! Sindir Andi membuat Vina mendengus kesal karena ternyata pria itu masih saja ingin mengganggu ketenangannya.
" situ sadar tidak kalau sebenarnya ya Kak Gerry juga merupakan manusia yang paling tidak beruntung di muka bumi ini karena dimana-mana selalu dipepet oleh pria aneh seperti kamu, jadi kalau mau ngomong orang lain Lebih baik sadar diri dong Kasihan juga sih kalau makhluk ciptaan tuhan yang seindah Kak Gerry itu dirusak oleh kehadiran kamu!" sahut Vina tak mau kalah ternyata pertemuannya dengan Andi di situ bukannya membawa kebahagiaan malah membuat situasi tambah runyam.
" kamu kalau ngomong jangan sembarangan ya Justru karena ada aku yang selalu dekat dengan Gerry membuat Dia terlihat lebih sempurna, jadi jangan mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal seperti itu!" tegas Andi yang tidak mau dibantah membuat Vina mendelik kesal.
karena Andi yang sudah diusirnya berkali-kali tidak mau pergi dari situ membuat Vina memilih untuk mengalah agar aman, sebab dirinya sudah capek dari tadi harus ngomong terus tetapi tidak didengarkan sama sekali.
__ADS_1
Bukankah kata orang itu Mengalah bukan berarti kalah melainkan mengalah itu agar setelah sesuatu itu bisa lebih baik kedepannya dan membiarkan kita punya waktu untuk berpikir, agar apa yang kita lakukan nanti tidak bakalan merugikan diri kita sendiri.
ingat kata pepatah diam itu emas karena memang itulah kenyataannya tidak bisa dipungkiri lagi, jadi yang dilakukan Vina itu adalah sesuatu yang memang harus dilakukannya dari awal sebab orang seperti Andi itu tipenya keras kepala dan susah sekali diajak kompromi.
" Ya sudah karena kamu tidak mau pergi dari sini aku saja yang bakalan pergi, soalnya capek juga kalau ngomong sama orang yang telinganya itu bolong tembus dari kiri ke kanan jadi tidak pernah mendengarkan apa yang orang katakan!" kesal Vina lalu segera pergi dari situ tanpa mau menoleh kearah Andi yang tengah menatap heran ke arahnya.
" ternyata benar kata orang kalau wanita itu adalah makhluk yang paling hebat di jagat raya ini, memangnya ada kata-kataku yang tadi salah sehingga dia marah-marah tidak jelas seperti itu? atau jangan sampai dia lagi PMS ya jadi selalu bawaannya sensitif kepada semua orang, tapi ya sudahlah untuk apa dipikirkan juga karena nanti hasil akhirnya juga bakalan membuat capek semua orang! " gumam Andi merasa heran dengan sikap Vina yang tiba-tiba memarahinya seperti dirinya melakukan sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa lagi untuk dimaafkan.
" Yah kalau dia sudah pergi itu artinya aku bakalan sendirian di sini, Lebih baik aku juga ikutan pergi saja deh soalnya pohon segede ini terlihat menyeramkan jika duduk dibawahnya hanya seorang diri!" Andi yang terlihat tadi begitu songong dihadapan Fina ternyata jiwa penakut nya itu selalu meronta-ronta minta tolong untung juga Vina sudah berlalu Pergi Coba kalau tidak bisa dijadikan bahan bully-an nya.
sedangkan Vina hari ini mood-nya benar-benar hancur berantakan belum lagi mendengar perkataan Andi tadi yang seolah menjatuhkan harga dirinya sebagai seorang wanita, masa iya Andi dengan Teganya mengatakan jika Asya itu selama ini menderita karena bersahabatan dengan wanita tidak jelas sepertinya.
" Hello Vin, Kamu kenapa sih wajahnya kok ditekuk seperti begitu? terus itu the couple Goals kok dari kemarin tidak kelihatan sama sekali, Memangnya Mereka lagi sedang liburan atau mau menghilang sejenak dari kesibukan yang ada? " tanya Abel ketika melihat Vina yang datang sendirian dengan wajah yang begitu tidak bersahabat.
" Aduh Abel bisa tidak jangan menanyakan hal yang sedang membuat aku pusing dari kemarin, mana bisa aku jawab pertanyaan kamu sedangkan aku saja lagi bertanya-tanya dan tidak ada jawabannya sama sekali? " sungut Vina karena dirinya sedang tidak ingin diajak berbicara oleh siapapun Lagi Cukup Sudah hanya dengan Andi tadi membuat Kepalanya pusing.
" Ya habisnya tidak seru saja kalau tidak ada Asya jadinya itu simpanannya genderuwo yaitu si Mona Lampir terlihat begitu membanggakan diri, karena kita merupakan fans garis keras nya Asya otomatis Kita harus mencari kepala geng kita agar muncul kembali ke permukaan biar yang lagi muncul sekarang kembali tenggelam!" jelas Abel membuat Vina sudah tidak tahu lagi harus menjawab apa karena jika menyebut nama Mona emosinya tiba-tiba ingin meledak.
" Sudahlah sabar saja nanti juga dia pasti kembali kok ke sini hanya untuk yang pastinya mereka berdua ada di mana Aku saja lagi kebingungan, jadi tolong kamu jangan menanyakan hal yang tidak aku ketahui sama sekali karena pusing loh memikirkannya?" kesal Vina lalu memilih pergi dari situ daripada nanti dirinya bakalan menjadi narasumber dadakan karena dikasih pertanyaan yang aneh-aneh oleh Abel.
__ADS_1
" Yah kok dianya pergi Padahal aku kan masih mau tanya-tanya, kenapa dia jadi orang setega itu ya? tapi ya sudahlah memang Mungkin dia mood-nya lagi hancur karena Asya yang tidak datang ke kampus dari kemarin, daripada si Slavina nya ngamuk-ngamuk kan sangat mengerikan kelihatannya?" gumam Abel menolong.
" aku kalau ada di sini terus bakalan teriak sama semua orang agar jangan terlalu kepo dong urusannya Asya, sebab dianya Enak tidak dibuat pusing dan harus menjawab pertanyaan mereka sedangkan aku yang berpikiran sendiri jadi kayak orang gila kelihatannya!" Vina yang merasa sudah tidak betah berada di kampus memilih untuk menikmati hidup tapi di dalam hatinya berdoa agar tidak bertemu dengan pria yang bernama Valdi.
" semoga saat aku pergi nanti tidak ada orang yang bakalan mencari perkara lagi denganku seperti kemarin kalau tidak Demi Tuhan bakalan kuhajar batang lehernya sampai bengkok, karena Siapa suruh mau mencari masalah dengan orang yang lagi galau karena saat begitu kan emosinya lagi sedang tidak stabil?" Ketus Vina lalu pergi dari situ.
Andi merasa tidak tahu menahu soal keberadaan Gerry akhirnya memilih untuk mendekati Mona, dan bertanya secara langsung walaupun dirinya sebenarnya tidak ingin mendekati wanita simpanan genderuwo itu.
" eh Mon, Gerry di mana sih kok dari kemarin tidak masuk? " tanya Andi kepada Mona dengan wajah datarnya.
Mona yang lagi asik melihat chat yang masuk menjadi terganggu dengan kedatangan Andi yang sebenarnya ingin meminta tolong tapi dengan wajah yang kurang ajar menurut nya, jadi otomatis jiwa sok kaya itu merasa tak terima ketika harga dirinya diinjak-injak.
" kamu kalau datang mau bertanya ke orang itu bisa tidak wajahnya dibuat sopan-santun atau memelas begitu, tapi kalau wajah kamu yang sombong seperti begitu jangan kan jawaban yang kamu dapat orang menoleh ke kamu pun ogah?" tanya Mona kesal sambil menatap tajam ke arah Andi yang Bahkan berdiri tapi tinggi.
" Ya sudah kalau kamu tidak ingin berurusan denganku ya jawab saja pertanyaanku yang barusan, lagian susah amat sih jadi orang Terlalu ribut melakukan sesuatu!" kesal Andi karena perkataan Mona barusan.
" ya Mana aku tahu Si Gery nya ini ada di mana? emangnya kamu pikir kami berdua ini perangko jadi harus selalu menempel tidak terpisahkan, kami berdua itu kan banyak kehidupan masing-masing yang tidak bisa harus saling ikut campur terlalu dalam dong!" sahut Mona kesal berharap agar setelah mendapatkan jawaban Andi segera pergi.
" Oh baguslah kalau kalian tidak terlalu saling menempel soalnya kelihatannya memang sangat tidak cocok, coba nanti kalau kamu lihat aja sama kiri jalan bareng Oh my God terlihat sangat Tak Terpisahkan dan merupakan pasangan yang paling ideal sejagat!" Sindir Andi lalu segera pergi karena untuk apa menunggu disitu sedangkan jawaban yang dirinya ingin kan sudah didapatkan.
__ADS_1