Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
episode 85


__ADS_3

Rianti ingin sekali menghajar adik ipar nya itu yang lebih mementingkan ego di bandingkan perasaan orang lain mungkin baginya di dunia ini yang paling benar adalah dirinya sendiri dan orang lain itu selalu salah, Dan mungkin juga apa yang ia pikirkan itu merupakan hal yang mutlak dan harus diikuti oleh semua orang tanpa terkecuali dan tanpa bantahan sedikitpun.


"Kamu bisa tidak kalau saat berbicara,memikirkan juga perasaan orang lain tidak asal nyeplak saja? Tadi yang kamu katakan aneh aneh merupakan keponakan kandung nya aku,dan otomatis kalau kamu menghina dia artinya kamu menghinaku juga!" Ujar Rianti yang benar benar sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Apa ada yang salah dengan semua perkataan ku tadi,bukan kah semua itu karena aku yang bicara jujur kepada kalian semua tentang apa yang pantas dan tidak untuk keponakan ku itu?" Tanya Paula balik karena memang tidak menyetujui dengan apa yang dikatakan oleh Rianti yang selalu saja membuat dirinya menjadi orang yang tidak bisa di bantah padahal apa yang ia katakan tidak ada yang salah.


"Ya sudah kalau begitu silahkan kamu pergi dari sini,bila perlu bawa sekalian saudara lelaki kamu itu yang selalu saja tidak berguna dan hanya diam saja ketika saudaranya bicara seperti orang yang kesurupan!" Teriak Rianti dengan nada yang begitu meninggi membuat George langsung menatap kesal kearah Adik perempuan nya itu.


"Kamu itu kenapa selalu saja cari masalah,apa kamu pikir disini tempat kamu untuk ber bicara yang tidak jelas?" Tanya George.


"Kak,aku tidak terima kalau keponakan ku menikah dengan orang yang berasal dari negara istrimu yang suka sekali diatur dan tidak pernah mau bergaul dengan orang orang dari negara kita kebanyakan memilih jadi nyonya rumah!" Sahut Paula membuat Rianti berdiri sambil memasang tatapan horornya.


Dirinya tidak terima dengan semua yang dikatakan oleh Paula,seolah menyinggung harga dirinya yang tidak suka bergaul.


"Kamu mau macam macam dengan ku,atau memang kamu ingin mencari perkara agar aku menghajar mu sekarang biar kamu tahu bagaimana rasanya emak emak berdaster kalau lagi marah!" Jelas Rianti sambil menunjuk kedalam wajahnya Paula.


George langsung menarik tangan Rianti agar ikut dengan nya,sedangkan Lorrin menatap kesal kearah Mama nya itu.


Begitupun suami dari Paula yang juga tidak menyukai sikap yang di tunjukan oleh istrinya itu,yang malah membuat suasana tidak kondusif akibat dari sesuatu ego yang tidak tertahankan.


"Kamu kalau aku tahu kesini hanya untuk membuat keributan lebih baik tidak usah datang,daripada sudah seperti orang gila yang mengundang keributan di rumah keluarga sendiri !" Ujar Suaminya Paula dengan tatapan yang begitu mengerikan.


Paula yang aslinya memiliki sikap yang keras kepala otomatis dirinya tidak ingin diatur oleh siapapun meskipun itu suaminya sendiri,meskipun dirinya yang salah dan semua orang yang benar.


"Kamu pikir aku tadi melakukan kesalahan dengan ngomong yang tidak jelas,lain kali kalau tidak tahu apa apa lebih baik diam!" Ketus Paula yang memang memilki sikap keras kepala.


"Mah,bisa tidak jadi orang jangan terlalu berlebihan? Memang nya Mama sendiri yang bisa marah marah dan orang lain tidak,Mah itu lihat kan kalau Tante Rianti akhirnya jadi marah ke Mama karena cara Mama bicara itu lebih banyak buat orang lain emosi?" Tanya Lorrin yang jengah dengan sikap sang Mama.


Paula menatap sinis kearah Rianti dan begitu juga sebaliknya,Rianti mana mau harga dirinya di injak injak oleh orang lain meskipun itu adalah adik ipar nya sendiri.


"Kamu itu memang wanita yang tidak punya hati,pantasan saja semua orang tidak suka bergaul dengan manusia menyebalkan seperti mu!" Sinis Rianti.


George yang tidak ingin ada keributan memilih untuk membujuk Rianti agar lebih rileks lagi,tapi karena menang orang sedang emosi otomatis mau di bilang sebaik apapun jatuh nya pasti tetap emosi.


"Mah,sudahlah jangan marah marah lagi! Apa tidak malu sama Mas Rio dan Mbak Dewi yang malah memilih untuk menghindar,kasihan kan mereka kalau tidak nyaman tinggal dengan kita?" Tanya George pelan malah membuat Rianti meradang.


"Kamu stop bicara atau aku bakal simpan semua pakaian kamu dan pergi dari sini,makanya kalau punya adik perempuan itu di ajar dari dulu jangan terlalu manja akibat nya jadi begini kan? Kakak ipar nya sendiri saja tidak di anggap apalagi keluarga nya,dan kamu tahu aku bakal melawan siapa saja yang berani menghina keluargaku apalagi calon menantu ku termasuk itu kamu sekalipun!" tegas Rianti yang benar benar merasa emosi dengan sikap Paula ditambah lagi dengan reaksi suaminya yang menurutnya terlalu lembek.


"Kamu jangan pernah membentak Kakak ku,Kalau tidak...


"Pergi dari sini atau jurus maut ku akan membuat kamu kapok!" Ancam Rianti membuat Paula seketika bungkam karena memang tidak ada keberanian lagi untuk melawan setiap apa yang di ucapkan oleh Kakak ipar nya itu.


Rio yang sudah tidak nyaman karena keributan yang di timbulkan sang adil,langsung keluar dari kamarnya dan menyuruh untuk berhenti.


Ceklek

__ADS_1


"Yanti,masih mau ngomong atau berhenti?" Tanya Rio datar dan Rianti yang masih ingin marah seketika langsung bungkam karena memang tidak berani membantah Apa yang diperintahkan oleh kakaknya itu jika memang dirinya adalah seorang adik yang mengerti jika rasa pengertian terhadap saudara itu semakin tinggi.


"Maaf Mas,aku bakal diam sekarang juga dan tidak akan bicara lagi!" Sahut Rianti sambil tertunduk karena memang merasa bersalah kepada Kakak nya itu.


Dalam hidup terkadang ala yang di inginkan dan di harapkan tidak sesuai dengan kenyataan,terkadang saudara yang sangat dekat pun berubah menjadi musuh yang bisa menikam kita dari arah manapun.


Percayalah terkadang orang yang bukan siapa siapa mereka adalah pendengar dan juga teman yang bisa di andalkan saat sulit,hanya saja tetap tidak berubah dengan apa yang sudah menjadi kebiasaan.


Author pernah di posisi itu jadi lebih baik mulai dari sekarang jangan pernah membedakan apapun dan dimanapun,karena percayalah penyesalan itu selalu datang nya belakangan.


Paula yang melihat jika Rio adalah sosok yang tegas dan berwibawa,memilih untuk mengajak keluarganya pulang meskipun melihat George yang tampak kecewa tapi wanita itu memilih untuk tidak peduli.


"Aku bakal kembali lagi,kalau memang apa yang aku inginkan tidak ada yang menuruti walau hanya sedikit saja aku bakal melakukan hal yang lebih nekat lagi!" Ancam Paula membuat Rianti yang tadi diam kembali beraksi.


"Aku juga bakal memasukan kamu agar tidur di penjara kalau sampai berani ikut campur urusan keluargaku, ingat ya kamu itu hanya orang asing yang tidak pantas terlalu ikut campur!" tegas Rianti dan memilih masuk kedalam kamar.


Paula dan suaminya memilih pulang setelah berhasil membuat suasana rumah itu layak nya kuburan,begini sunyi karena semua orang yang sedang merasa emosi.


"Uncle,aku minta maaf atas Nama Mama ku!" Ujar Lorrin sambil membungkuk kan badan dan pergi dari situ sebab ia juga harus mengurus sang Mama yang semakin tua semakin gila dan tidak bisa di atur.


Saat George masuk kedalam kamar hendak menyusul kedalam,terlihat Rianti berdiri dan memalang pintu karena ternyata ada udang di balik segalanya.


"Kamu tidur di luar,persetan mau kepanasan atau kedinginan aku tidak peduli sedikit pun!" tegas Rianti dan mengunci pintu tepat di hadapan George.


Pria paruh baya itu hanya bisa menghela nafasnya kasar karena akhirnya begini selalu ceritanya jika Paula sang adik datang kerumah,padahal ia juga tidak pernah mengatakan jika tindakan nya benar tapi tetap saja bakal kena getah nya.


"Mah,memang nya Papa salah apa sih?" Tanya George yang berusaha masih dalam mode membujuk istrinya itu.


"Aku kan sudah bilang kamu itu cocok nya tidur di luar jadi jangan tanya ***** bengek apapun itu,kalau sampai kamu ngomong lagi aku bakal jahit mulut kamu biar jangan terlalu banyak buka buat bicara!" Teriak Rianti ketus bahkan tak ada niat untuk membuka pintu sekedar membuat suami nya itu bisa masuk kedalam.


George hanya bisa menghela nafasnya kasar karena memang tidak bisa berbuat banyak,belum lagi tatapan sang istri tadi yang begitu seolah hendak menerkam dirinya.


Padahal ia juga tidak ada kata kata yang membenarkan apa yang di ucapkan oleh adiknya tadi,tapi tetap saja harus di salahkan dengan apa yang tidak di sengaja.


"Kenapa punya Istri dan adil perempuan yang tidak bisa di ajak kerja sama,padahal aku kan tadi sudah berusaha membuat dia tidak bertingkah banyak tapi tetap saja salah!" George memang tak bisa berbicara banyak karena belum lagi melihat tatapan mengejek dari Rio kakak ipar nya.


"Kenapa malah bengong di situ,apa tidak ada yang menampung kamu buat tidur?" Tanya Rio sambil tersenyum mengejek.


"Kak,jangan aneh aneh lagi deh soalnya aku lagi bingung jadi tolong jangan tertawa membuat aku merasa seperti mau menangis sekarang ini!" Sungut George membuat Rio tak bisa menahan tawanya.


"Kasihan,siapa suruh punya istri yang hobinya tukang marah!" Ejek Rio.


"Siapa suruh juga punya adik yang hobinya bikin suami tersiksa?" Sahut George tak mau kalah.


Keduanya tertawa karena memang tidak bisa di ucapkan dengan kata kata,sebab ternyata masalah soal keluarga didunia ini adalah tentang seorang wanita.

__ADS_1


"Maka nya punya istri itu seperti ku yang baik hati sampai aku disuruh nikah lagi!" Goda Rio sambil tersenyum.


George menatap tajam kearah kakak ipar nya dan juga sangat tidak percaya dengan apa yang di katakan,masa iya ada istri yang ikhlas membiarkan suami menikah lagi.


"Masa iya,memang nya Mbak Dewi Ikhlas melakukan hal itu?" Tanya George penasaran.


"Ya jelas lah,karena istriku paling terbaik dan juga tercinta di dunia! Tapi karena cinta kita ku kepadanya paling terbaik,otomatis tidak akan pernah goyah walaupun banyak wanita cantik yang mengantri!" Ujar Rio yang begitu bahagia karena memiliki istri yang sangat pengertian.


"Wah itu kalau sampai terjadi kepada istriku maka bisa di pastikan aku akan bahagia karena memiliki istri yang pengertian,tapi sayang hanya di angan saja dan tidak akan pernah menjadi kenyataan!" George sangat bahagia membayang kan apa yang di katakan oleh nya sendiri padahal tanpa ia ketahui jika Rio tengah menatap tak percaya kearah nya.


"Kamu berani melakukan hal itu kepada adik ku,wah jika sampai itu terjadi sepertinya kamu sudah siap menjadi seorang duda dadakan!" Sinis Rio.


"Ah hanya bercanda saja tidak beneran kok,Mas!"Sahut George sambil tersenyum.


Sedangkan Asya yang sudah di bawa pergi oleh Kenzo untuk keluar dari rumah karena memang sangat tidak nyaman dengan kehadiran Paula,merasa harus tahu sebenar nya apa yang terjadi dengan Kenzo selalu saja menghindar dari wanita itu.


"Mas,tadi itu siapa ya?" Tanya Asya saat keduanya sudah berjalan keluar dari mobil untuk menikmati suasana petang yang tidak begitu ramai di taman.


"Siapa yang Mana?" Tanya Kenzo seolah lupa dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Asya itu apa.


"Ishh jangan sok pikun,aku itu tanya wanita yang tadi datang terus Marah marah itu siapa?" Sungut Asya tak terima.


"Orang yang tidak penting,karena hanya yang tidak punya kerjaan akan melakukan hal itu!" Sahut Kenzo seolah malas menjelaskan Orang yang bernama Paula itu.


"Kalau orang yang tidak penting kenapa malah berani marah marah,memang nya dia itu siapa sih Mas?" Tanya Asya gemas karena sikap Kenzo yang tidak mau menjelaskan apapun.


"Dia itu adik nya Papa,dan juga orang yang sangat menyebalkan serta manusia yang mulutnya paling kurang ajar!" Sahut Kenzo malas.


Asya akhirnya memilih untuk diam karena tahu dan sadar jika Kenzo sudah tidak mau berbicara tentang seseorang,maka lebih baik ia tak usah bertanya panjang kali lebar.


"Kamu mau makan Apa Yang,kebetulan kita sudah di sini siapa tahu kamu lapar biar arah ke Apartemen bisa sekalian?" Tanya Kenzo sambil mengusap pelan perut Asya yang bentuknya begitu lucu karena bulat seperti Bakpao.


"Apa saja deh Mas,yang penting Baby El bisa kenyang dan kantong kamu tidak menipis!" Goda Asya membuat Kenzo menyentil kening nya.


"Awww,Mas Ih nakal banget sih jadi orang. Ini sakit tahu tidak,masa iya kamu tambah pukul lagi?" Tanya Asya tak terima sambil mengusap pelan kepalanya.


Ketika Kenzo hendak menjawab tiba tiba dari arah perut Asya ada yang bergerak,membuat wajah pria itu menegang karena memang benar benar sangat terkejut.


"Kamu kenapa Mas?" Tanya Asya heran.


"Baby El gerak, Yang?" Tanya Kenzo pelan tapi masih tetap berusaha mencoba meraba gerakan Baby El nya lagi.


"Coba saja di ajak bicara pasti Adek nya bakal senang." Pinta Asya.


"Hello My Baby El,kamu sehat kan di dalam sana? Wah ayo cepat keluar ya jangan sembunyi terus,masa iya Daddy lagi nungguin kamu tapi tidak muncul juga?" Tanya Kenzo sambil berusaha terus membangun kan bayi yang berada di dalam situ sambil terus mencium perut Asya itu.

__ADS_1


__ADS_2