Antara Asya Dan Rasa

Antara Asya Dan Rasa
Episode 141


__ADS_3

Millen ingin sekali menghajar Rama yang bukannya memberikan alasan yang terbaik untuk pergi segera dari situ malah sekarang terlihat duduk manis dan menyimak apa yang dikatakan oleh Marco, seolah bahwa dirinya yang sedang mengikuti meeting itu dan juga proyek yang sedang dilaksanakan itu di bawah kuasanya.


maka dari itu Millen berbuat seolah dirinya bukanlah siapa-siapa di tempat itu karena ingin melihat kira-kira sampai di mana kemampuan Rama dalam bernegosiasi, bagian daripada sayang kan datang ke tempat itu tanpa melakukan apapun dan bisa dibilang hanya menghabiskan uang dengan tidak mendapatkan penghasilan sedikit.


Marco dari tadi tidak mempedulikan dengan keadaan sekitarnya karena memang dalam pikirannya itu bahwa Millen datang bersama dengan rekan kerjanya, Jadi otomatis Jika ia membahas hal itu dengan Rama maka tidak ada masalahnya sama sekali kan.


sedangkan Rama juga bersikap santai saja karena menurutnya Kapan lagi bisa duduk dekat dengan Millen tanpa harus diselingi dengan perdebatan atau nada-nada sinis dari wanita itu, sehingga membuat hidupnya terasa sedikit berwarna kali ini meskipun sebenarnya itu karena unsur ketidaksengajaan dan juga ketidaktahuan oleh Marco.


" kalau Boleh saya tahu kira-kira kapan Tuan Kenzo bakalan kembali Soalnya ada hal yang perlu dibahas mengenai proyek ini antara saya dengan dia, karena memang sih Saya juga mengakui kalau Nona Millen dipercaya untuk mengurus semuanya hanya saja tidak ada salahnya Kalau bertemu dengan pemimpin yang langsung kan?" tanya Marco memastikan.


Millen menatap sinis ke arah Rama yang ia yakini tidak tahu menahu soal jawaban yang bakal diberikan nanti, oleh karena dirinya memang tidak punya hubungan kerja apapun sehingga membuat gerak-gerik pria itu otomatis Rama tidak tahu mau sama sekali.


" itu bisa anda tanyakan langsung kepada rekan kerja saya, soalnya waktu tuanku pergi Saya kurang tahu juga kapan dia bakalan kembali ke sini!" nah kali mau tidak mau Rama harus mengembalikan sesuatu kepada Millen yang mengurus karena memang dirinya bukan siapa-siapa di tempat itu.


" masa iya seperti begitu Bukankah kalian itu rekan kerja jadi otomatis segala sesuatu masalah internal yang terjadi dalam perusahaan kalian berdua harus tahu, apalagi soal keberadaan pemimpin kalian dan juga menyangkut segala macam proyek yang sedang kalian urus?" tanya Marco Yang sepertinya sedikit sengaja mempersulit Rama karena biar bagaimanapun pria itu sudah kebingungan harus menjawab Seperti apa lagi.


Percayalah jika pihak yang paling diuntungkan saat ini yaitu Millen Karena Wanita itu sangat menyukai wajah frustasi milik Rama Yang sepertinya ingin sekali menjawab tapi bingung memulainya dari mana, maka dari itu ia ingin melihat sampai sejauh mana akal sehat pria itu berfungsi sehingga membuat dirinya tidak terlihat seperti orang be*o.


" apa yang Anda katakan benar sekali Tuan karena memang kami sesama rekan kerja otomatis harus tahu menahu kejadian yang di dalam perusahaan, Jadi silakan tanyakan saja apa yang ingin anda tanyakan kepadanya karena dia ini salah satu pegawai yang patut diperhitungkan!" Waduh kali ini Millen balik mengerjai Rama.


" ah Anda bisa saja Nona, Saya tidak sampai berlebihannya seperti begitu kok soalnya semuanya kan Anda yang mengatur jadi otomatis pasti yang lebih tahu ya Anda sendiri kan?" terlihat keduanya saling tarik ulur tidak ada yang mau mengakui ataupun mempermudah satu sama lain.


Marco Sebenarnya tadi hanya iseng saja bertanya karena memang dirinya sudah tahu soal Millen dan Rama dari kakaknya Millen yaitu Maxwell, Sebab semua orang sudah tahu bagaimana sikap Millen ketika bertemu dengan lawan jenis jadi tidak ada salahnya kan kalau mengerjai sedikit wanita yang super serius itu.


" Kamu kenapa jadi orang terlalu serius sekali padahal kalian itu sebenarnya terlihat sangat cocok dan serasi satu sama lain mungkin dalam saling melengkapi juga salah satunya, jadi Ayolah jangan canggung seperti begitu karena kita di sini kan bersikap layaknya profesional tapi tidak sampai formal itu kan?" Millen mendengus kesal ketika ada yang dengan sengaja mengatakan dukungan kepada Rama.

__ADS_1


" kalau sudah tidak ada yang perlu dibahas misalnya kita bubar sekarang soalnya kalau lama-lama berada di tempat ini otak saya sudah berfungsi dengan benar lagi, karena semua orang yang ada di sini itu sudah tidak waras dan malah pembahasannya meluber kemana-mana jauh dari kenyataan yang seharusnya? " tanya Millen sinis tetapi tidak ditanggapi oleh Marco sedangkan Rama mulai kelabakan karena takutnya bakalan ditinggal pergi lagi.


" Ya kamu jangan asal pergi begitu saja dong meninggalkan aku sendirian di sini, aku ke sini kan tujuannya hanya untuk bertemu dengan kamu bukan untuk mau melakukan pekerjaan yang lain! " bujuk Rama agar Millen tidak pergi.


" eh manusia aneh ini semua kan gara-gara kamu coba kalau dari tadi jujur ataupun berbicara yang sepantasnya tidak mungkin kan manusia satu ini mencurigai hal yang tidak-tidak, ya sekarang kalau sudah begini tanggung jawab sendiri enak saja mau melempar kepadaku untuk mengurus kebodohan yang kamu lakukan barusan! " Sungut Millen tidak terima.


Marco hanya bisa menghela nafasnya kasar ternyata memang susah sekali menaklukkan hati dari adik di temannya itu, padahal taruhan yang diberikan oleh Maxwell itu bukan sesuatu yang main-main.


" Kenapa Jadi kalian berdua yang bertengkar perasaan tadi saya bertanya hal yang mudah tidak ada rumit-rumitnya juga, Ayolah jadi orang setidaknya bersikap lebih dewasa Janganlah Segala sesuatu harus pakai emosi seperti begitu dong? kamu itu sudah tua kalau sikap kamu seperti begini terus kapan nikahnya, sudah begitu menurut kamu ada pria yang mau sama wanita galak seperti kamu itu? "tanya Marco santai berbeda dengan Millen yang tidak terima sama sekali.


" mau aku punya suami atau tidak atau mau 10 tahun lagi itu urusanku bukan urusannya kamu, lebih baik itu kamu urusi saja dirimu sendiri Memangnya sudah nikah sampai sekarang jadi mau sok mengatur hidup orang lain?" tanya Milen Ketus lalu pergi dari situ tidak peduli dengan segala kata-kata bujukan yang dikeluarkan oleh Rama karena menurutnya ini Semua masalah terjadi gara-gara ulah pria itu yang sok dekat sok akrab.


" Kamu kenapa malah Bengong di situ ya pergi kejar sana anaknya orang, Nanti kalau dia tinggal pergi terus gandeng sama pria lain kamunya yang bakalan kedapatan jatah hangusnya? " tanya Marco yang tidak menyukai sikap Rama yang begitu lambat menurutnya sebagai seorang pria.


" Sebenarnya saya Bukannya tidak mau mengejar ataupun membujuk dia agar bisa mau kembali ke sini, tapi anda pasti tahu sendiri kan Bagaimana Perangai wanita itu kalau lagi marah?" tanya Rama sambil cengengesan.


" jadi pria kucing yang sekali masa iya kena tonjok sekali saja langsung mewek Setidaknya kalau sudah sampai patah tulang bengkok urat Nah itu baru boleh, Ayo cepat pergi ke sana jangan kamu malah memasang wajah tidak berdosa kamu di hadapanku soalnya aku mau muntah melihatmu! " perintah Marco sambil mengibaskan kedua tangannya berharap agar Rama segera pergi.


Millen yang sudah berada di parkiran langsung menuju ke dalam mobilnya bahkan lebih parahnya lagi wajah wanita itu sangat tidak bersahabat, jangan sampai ada seseorang yang melakukan kesalahan padanya maka bisa dipastikan hari itu juga batang leher manusia itu tidak bakalan selamat.


" Halo cantik jangan lari-lari dong tungguin aku yang dari tadi sudah menunggu kamu masa sekarang giliran kamu menungguku Kok tidak betah seperti begitu, biar begini Aku adalah calon pendamping kamu yang tidak akan pernah mengecewakan kamu sampai kapanpun!" teriak Rama yang begitu percaya diri bahkan dirinya persetan dengan tatapan semua orang karena menurutnya urusannya itu hanya dengan Millen bukan dengan orang lain.


" apa kamu bilang tadi calon pendampingku? kamu kalau bicara ingat ya harus sadar-sadar jangan berlebihan atau bakalan aku hajar kamu sampai benyok, dengan adanya kamu di sini saja sudah membuat mood ku menjadi hancur berantakan apalagi mendengar kata-kata kamu tadi!" Ketus Millen tetapi Rama tidak peduli sama sekali.


" Seharusnya kamu itu yang harusnya berbangga diri karena memiliki pria sesempurna diriku ini, yang selalu saja bersabar di segala cuaca tidak pernah mau mengeluh apalagi meninggalkan kamu sendirian!" ucapan Rama itu membuat Millen mengerutkan keningnya sebelah.

__ADS_1


" kamu kalau mau bicara ingat ya jangan membuat aku benar-benar menjadi emosi, Emangnya kamu pernah dengar Aku memaksamu untuk mengejar-ngejar aku ataupun meminta untuk mengemis? pria seperti kamu itu lebih baik enaknya pulang ke habitat kamu di jauh sana terus mengganggu semua wanita bodoh yang mau saja diganggu oleh kamu, tetapi jika wanita seperti itu sorry Kami punya target dan juga kelas tertentu untuk calon suami bukan hanya asal ambil saja!" setelah mengatakan hal itu Milen langsung membanting pintu mobilnya kuat dan pergi dari tempat itu meninggalkan Rama yang Nelangsa.


harga dirinya sebagai seorang pria hancur berantakan hanya mendengar apa yang dikatakan oleh Millen barusan, Padahal maksudnya itu baik dan selama ini juga dirinya tidak pernah melampaui batas sehingga membuat Millen merasa tidak nyaman.


" ternyata Karma itu memang ada dan juga berlaku kepadaku saat ini, jika dulu aku dikejar-kejar oleh beribu wanita kini giliranku mengejar seorang wanita saja susahnya minta ampun!" lirih Rama yang terlihat begitu frustasi.


pria itu bahkan melupakan sejenak pekerjaan pokoknya yang merupakan asistennya Devan Smith, meskipun tuannya itu sudah kembali ke tanah air dirinya bahkan masih stay di tempat itu entah apa yang dicari.


" kamu sudah hubungi asisten Sialan kamu itu yang pergi tapi tidak tahu pulang-pulang, Kalau sudah tolong bilang sama dia Mama menyuruhnya untuk pulang sekarang juga dan jangan membuat Mama bakalan melakukan hal yang nekat baru dianya mau pulang ke sini?" tanya Lilian yang merupakan Mama dari Dev.


" ini semua kan gara-gara mama coba saja kalau datang jemputnya tidak terburu-buru seperti begitu ya Otomatis Aku juga bakalan masih ada di sana, dan pastinya saat kembali nanti dia juga bakalan ikut karena tidak tega meninggalkanku sendirian di sini!" kali ini Dev malah menyalahkan mamanya padahal jelas-jelas Lilian melakukan hal itu karena tidak ingin merasa malu yang lebih lagi.


" kamu itu bukannya terima kasih kepada orang tua karena sudah menyelamatkan kamu daripada tingkah konyolnya kamu itu, memangnya kamu mau didandani lagi Sampai sebegitunya terus dijadikan viral di seantero negeri?" Lilian ingat betul ketika anaknya dikerjain Sampai sebegitunya bahkan bisa dibilang lebih dari kata tidak pantas bahkan dijadikan Stand Up Comedy pun akan membuat orang tertawa selama 7 hari 7 malam.


" Mama seorang pria sejati itu menghadapi badai dalam sebuah pertempuran saja tidak masalah apalagi hanya menghadapi rasa malu, tinggal mengeluarkan uang sebanyak mungkin pasti semua media bakalan bungkam dan tidak akan membahas hal itu lagi kan?" tanya Dev yang masih tetap mempertahankan idenya.


" kamu ini lama-lama bisa jadi orang stres beneran tahu tidak, sudah dikasih jalan yang terbaik eh malah pilih jalan yang tersulit! setidaknya kamu harus berterima kasih dong sama mama karena Akhirnya bisa membawa kamu kabur kembali ke sini , bukan malah menanggung malu sangat membuat keluarga Smith di sini bakal malu!" sungut Lilian yang sangat tidak menyukai sikap putranya itu yang masih tetap membenarkan dirinya bahwa menculik istri orang itu merupakan perbuatan seorang pria sejati.


" Mama kan tahu kalau aku tidak melakukan hal seperti begini ya kapan lagi bakal menikah, maka dari itu sebagai orang tua Mama harus mendukung dong gerak-gerik anak sendiri bukan malah mematahkan semangatnya seperti begini." jelas Dev.


" untung juga mama itu bukan suami dari wanita itu Coba kalau misalnya Mama ini adalah suaminya otomatis Bukan hanya didandani saja terus diviralkan seantero Negeri tetapi langsung dieksekusi saja itu sih Jeki miliknya kamu itu, agar kamu bisa puasa seumur hidup dan tidak akan pernah merasakan yang namanya kenikmatan surga dunia biar menangis darah sekalipun juga terserah!" Lili yang tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa agar putranya itu paham maka dari itu dirinya memilih untuk menghindar sejenak untuk mencegah darah tingginya kumat..


" Mama jangan seperti begitu dong harusnya mendukung setiap apa yang anak sendiri lakukan agar aku bisa merasakan kalau doa ibu itu yang paling mujarab, tapi kalau misalnya mama malah meninggalkanku seperti ini otomatis aku bakalan kehilangan penyemangat hidupku!" bujuk Dev tetapi Lilian malah mengangkat bantal sofa dan menghajar ke arah kepala pria itu.


" Eh kalau mau berbuat dosa itu sendiri-sendirian jangan ajak-ajak orang lain, Mama ini biar begini pun masih normal dan juga masih bisa berpikir waras bukan seperti kamu yang sebelah otaknya sudah berwarna ungu karena error dan tidak berfungsi dengan benar!" omel Lilian.

__ADS_1


__ADS_2