
Kania melihat Cherry terbaring tak berdaya di bed rumah sakit, tangan mungilnya harus di pasang selang infus,
Sekilas Cherry terlihat lelap dalam tidurnya tapi pada kenyataannya Cherry lelap karena menahan rasa sakitnya.
Sakit yang tak hanya di rasakan oleh tubuhnya, karena mungkin akibat ia meronta karena di tahanan oleh papinya, dengan sekuat tenaga Cherry berusaha melepaskan diri dan itu cukup membuat tubuh Cherry terasa sakit.
sakit karena jarum infus yang mencap di pergelangan tangan mungilnya, sakit karena demam yang tinggal, belum lagi karena hilangnya nafsu makannya yang menyebabkan kondisinya makin memburuk.
sakit karena perasaannya, yang terlalu tinggi berharapan akan kebahagiaan yang selama ini ia impikan, ingin mendapat belayan kasih sayang layaknya seorang ibu.
entah mengapa dari semenjak bertemu dengan Kania Cherry merasakan ketulusan dari Kania.
Kania sungguh memberi warna baru dalam kehidupan Cherry, keceriaan dan semangat baru bagi Cherry.
Dan begitu juga sebaliknya bagi Kania.
Cherry terlalu menggemaskan, entah mengapa pula Kania begitu menyayangi Cherry.
Anak sekecil itu sudah tak merasakan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya,
layaknya anak-anak pada umumnya.
Terlalu miris menurut Kania melihat Cherry, mungkinkah itu alasan mengapa Kania sangat menyayangi Cherry.
Cherry memang peribadi anak yang ceria ramah, tapi di hatinya menyimpan banyak kesedihan. ketika melihat momen anak lain mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
sementara Cherry tak pernah merasakan lembutnya belaian tangan sang mami, bahkan melihat sosoknya pun tak pernah.
bertemu sang papi pun hanya sesekali, hanya di waktu tertentu, atau ketika sang papi berkunjung untuk urusan bisnisnya.
Cherry sudah banyak mengalah menerima takdir yang terasa tak adil baginya, dan kini dengan egoisnya sang papi memaksakan kehendaknya, melarang dan memaksanya untuk menjauh dari orang yang membuatnya nyaman.
"Papi Cherry hanya ingin bahagia bersama orang-orang yang tulus menyayangi Cherry, jika karena Cherry papi merasa kecewa, marah dan bersedih maka untuk alasan apa lagi Cherry ada, bahkan papi sendiri melarang Cherry untuk merasakan kebahagian itu meskipun hanya sesaat, Cherry merasa lelah dan ingin beristirahat" Ungkap hati Cherry kepda papinya
Namun tak mampu terucap.
.
.
Kania mendekat ke arah Cherry, menatap wajah polos tanpa dosa, hati alika begitu terasa sakit melihatnya dan ia sempat meneteskan air mata.
Kemudian Kania menggenggam tangan Cherry...
__ADS_1
Lalu berucap perlahan menyebut nama "Cherry..."
Kemudian mengangkat tangan Cherry dan menciumi tangan mungilnya, lalu di sentuhkannya tangan mungil itu di pipinya Kania.
"Cherry, Cherry bisa denger kakakkan ini aku kak Kania, datang untuk menemuimu!" Kania berucap dengan nada penuh rasa sedih.
Cherry sedikit membuka mata, untuk meyakinkan bahwa suara yang ia dengar memang suara Kania orang yang ia nantikan.
Setelah melihat dengan mata yang sedikit terbuka Cherry menutup kembali matanya lalu bibirnya yang bereaksi tersenyum samar hampir tak terlihat tapi Cherry memberikan respon bahwa ia senang akan kedatangan Kania.
"kak Kania!" Gumam Cherry dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Ya ini aku Cherry, Kania" Kania meyakinkan Cherry.
"Kamu kok gak dengerin Kaka sih! Kakakkan kemarin bilang sama kamu untuk jangan sampai sakit, nanti kita gak bisa main kalau kamu sakit, jadi benerkan kita gak bisa main kalau keadaan kamu seperti ini" Kania sangat menyesalkan keada Cherry.
"Aku haus kak pengen minum!" Satu lagi respon yang sangat baik, dan satu kemajuan untuk kondisi Cherry agar lebih membaik
Kania langsung menyodorkan segelas air putih untuk Cherry minum di bantu oleh tuan Carlos yang sedikit membangunkan posisi sandaran Cherry agar bisa minum dengan mudah.
nenek nely begitu senang melihat mereka bertiga terlihat begitu serasi meski pun usia Carlos dan Kania terhitung sangat jauh, tapi mereka begitu cocok jika bersanding.
karena penampilan tuan Carlos yang maskulin terlihat tampan terlihat lebih muda dari usia nya.
nenek nely menyodorkan semangkuk bubur kepada Kania sebagai isyarat, agar Kania menyuapi Cherry.
Tapi Cherry menggelengkan kepalanya tanda ia menolak.
"Makan dulu sayang, kalau gak mau makan kak Kanianya jadi sedih ni, Cherry makan biar Cherry cepat sembuh, supaya kita bisa main bersama lagi!" Kania berusaha membujuk Cherry.
Cherry tetap menggelengkan kepalanya.
"Cherry gak enak makannya kak!" Kemudian ucap Cherry dengan suara lemahnya.
"Dikit-dikit aja ya penting perut Cherry terisi, oke kalau Cherry mau makan, terus makanya abis Cherry boleh minta apa aja sama kakak pasti kakak turuti"Kania berjanji sebagai imbalan agar Cherry mau makan.
"Beneran kak" Cherry meyakinkan
"Ya!" Seru kania sambil menganggukkan kepalanya.
Terlihat senyum mengembang dan bibir mungil Cherry.
Sepertinya Cherry sangat bahagia, sebab ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dari perjanjiannya dengan Kania kali ini.
__ADS_1
Cherry pun langsung membuka mulutnya sebagai tanda ia mau makan.
kemudian tuan Carlos meninggikan sandaran tempat tidur Cherry agar mempermudah Cherry ketika makan.
Kania mulai menyuapi Cherry dengan sabar sembari terus saja bercerita hal-hal yang menyenangkan, membuat Cherry tersenyum meskipun senyum itu masih terlihat lesu tak sesumringah senyum Cherry biasanya.
Dan tak terasa semangkuk bubur itu hampir habis.
"Hore,,,,! Cherry pintar sekali, lihat makannya sudah hampir habis, sesuai janji Cherry mau minta apa dari kak Kania? " Tanya kania.
"Papi Cherry minta minum dulu!" Seru Cherry kepada papinya agar papinya mendekat.
karena tuan Carlos sedang duduk di sofa yang berjarak aga jauh dari tempat tidur Cherry.
Tanpa berpikir apa pun, tuan Carlos mendekat dan menyodorkan segelas air minum kepada Cherry.
Setelah Cherry minum tuan Carlos meletakkan kembali gelas minumnya ke tempat semula, dan Cherry langsung mencekal lengan tuan Carlos agar jangan pergi dulu.
"Papi!" Seru Cherry
"Iya nak" Jawab tuan Carlos
kemudian
"kak Kania!" Seru Cherry kepada Kania sambil memegang tangan Kania.
"Iya Cherry sayang!" Jawab Kania.
Kini kedua tangan Cherry masing-masing memegang tangan Tuhan Carlos dan tangan Kania.
"Papi, sama kak Kania sudah janji sama aku mau menuruti permintaanku kan!" Seru Cherry
Kania dan tuan Carlos langsung menganggukkan kepalanya, pertanda mengiyakan ucap Cherry.
"Aku gak mau minta apapun dari kalian berdua, aku cuma pengen kalian menikah seperti om Romi dan Tante mami agar Kita bisa tidur bersama!" Permintaan Kania sontak membuat mereka berdua ketar-ketir.
"APA!" Pekik mereka berdua Secara bersamaan, dengan ekspresi wajah terkejut mata yang terbelalak, dan mulut yang terbuka.
Tak pernah terpikirkan sedikit oleh tuan Carlos apa lagi oleh Kania jika Cherry akan meminta hal seperti ini.
"Cherry itu tidak akan mungkin nak!"tuan Carlos mencoba untuk menjelaskan kepada Cherry.
sementara kania masih terperangah tak percaya dengan permintaan Cherry.
__ADS_1
bagaimana mana bisa ia menikah dengan tuan Carlos semtara ia sangat membenci tuan Carlos.
.....