
Keadaan Bu sari makin parah, Bu sari kini kembali hilang kesadarannya.
Sementara keputusan Romi tetap menolak permintaan Bu sari.
Alika begitu tidak tega melihat keadaan Bu sari.
"Bagaimana ini nek?" Tanya alika kepada nenek diah.
"Seperti Bu sari akan seperti ini, meskipun alat-alat medis di lepaskan, jika ia meninggal pun akan mati penasaran." Ucapan nenek diah membuat bulu kuduk Alika berdiri.
Alika panik dan ketakutan, "Honey, aku tau ini tidak mudah untuk kita, jujur saja, aku memang tidak rela kamu menikah lagi, tapi cobalah mengalah, kita jalani ini bersama untuk kedepannya kita pikirkan nanti, kasian Bu sari tersiksa seperti ini." Alika kembali membujuk romi
Romi menatap wajah Alika, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak honey!" Romi tetap menolak.
"Aku tidak sanggup untuk menyakiti hati mu, karena aku tau pasti hati mu sangat sakit jika aku melakukannya. Walaupun itu hanya karena terpaksa."
"M'y honey, kamu ingat dulu pas aku ngambek, saat Fitri bilang kamu sering menemuinya dan menyuapinya." Alika mengingatkan Romi.
Romi mengangguk, " Iya, itu buktinya, kamu hanya mendengar aku menemui dan menyuapinya saja kamu ngambek kaya gitu, mana mungkin sekarang kamu ikhlas membiarkan ku menikah dengannya." Romi juga mengingatkan alika betapa emosinya Alika ketika itu.
"Tapi bukan itu maksudku." Alika
"Lalu apa?" Romi
"Saat itu kamu kan berjanji aku mengabulkan permohonanku, jadi inilah permohonan ku, aku mohon nikahilah Fitri, aku berjanji akan berusaha ikhlas dan mengalah."
"Alika kamu tidak boleh begini, hati ku sakit sekali mendengar mu meminta ku untuk menikah wanita lain." Romi kesal mendengar ucapan alika.
"M'y honey ini demi Bu sari yang telah berjasa dalam hidupmu, tidak maukah kamu membalas jasanya dengan mengabulkan permintaan terakhirnya." Alika masih saja membujuk Romi.
Romi kembali menatap wajah Alika, mereka saling bertatap mata di sepersekian detik.
Terlihat jelas dari sorot mata mereka masing-masing bahwa hati mereka sangat hancur satu sama lain.
Kemudian Romi menundukkan pandangannya, karena tidak tahan melihat sorot mata Alika seakan penuh duka.
Romi benar-benar bingung dengan keadaan.
Lalu nenek diah menghampiri mereka berdua, "Nenek mengerti Romi, apa yang ada di pikirkan mu dan yang kamu rasakan, tapi pikirkan kondisi Bu sari juga, dia akan sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini"
"Terus menurut nenek, saya harus bagaimana nek!"
"Menurut nenek Sebaiknya, karena hanya untuk ketenangan batin Bu sari, agar jiwanya tenang dan ikhlas untuk meninggalkan Fitri kamu harus melakukan yang Bu sari minta."
"Tidak nek! aku tidak mau melakukan hal itu." Romi tetap menolak.
" Romi, sesungguhnya menikahi orang dengan gangguan jiwa itu tidak di perbolehkan oleh agama, ini hanya untuk ketenangan Bu sari, jika pernikahan itu terjadi pun, maka pernikahan itu bisa di anggap tidak sah, dan Karena itu kamu juga tidak di wajib kan memenuhi kewajiban mu kepada Fitri, dan meskipun tidak ada pernikahan antara kamu dan Fitri, tetap saja kan kamu yang bertanggung jawab kepada Fitri, karena Bu sari telah menitipkannya kepada mu." Penjelasan nenek diah memberi pengertian.
Romi hanya memaku tidak menjawab.
"Biar setelah ini kita bersama-sama mengurus Fitri, sampai dia sembuh total dan memiliki jodohnya yang sesungguhnya." Sambung nenek diah yang akan turut serta bertanggung jawab atas Fitri setelah kepergian Bu sari.
Romi menatap wajah nenek diah mencari keseriusan dalam wajah tua itu, bahwa ia memang akan membantu merawat Fitri, dan tidak akan memberatkan Romi, atau Romi tidak harus menanggung sepenuhnya tanggung jawab terhadap Fitri layaknya seorang suami.
Nenek diah mengerti dengan tatapan mata Romi kepadanya.
Tanpa berbicara nenek Diah menganggukkan kepalanya.
Untuk menyakinkan Romi bahwa ucapannya memang sungguh-sungguh.
__ADS_1
Lalu Alika memeluk neneknya, sebagai ungkapan rasa terimakasih, karena neneknya telah memberikan dukungan kepadanya dan suaminya.
Sesuai saran dari nenek diah, dan dengan sangat terpaksa Romi menyetujui untuk menikahi Fitri.
Yunas di utus untuk menyiapkan semuanya.
Dengan sangat sederhana, Fitri pun tidak memakai riasan apapun, dan akhirnya ijab qobul di laksanakan, di depan Bu sari yang sedang tidak berdaya.
Alika berusaha menahan tangisnya, Ia tidak pernah menyangka akan terjadi seperti itu, apa yang ia khawatirkan, apa yang ia takuti, ternyata telah menjadi kenyataan.
Inilah takdir tuhan, jika iya sudah berkendara maka terjadilah, bagaimana pun caranya, tidak bisa di pungkiri dan di hindari.
Setelah ijab qobul itu usai di ucapkan oleh Romi.
Romi bukannya menyematkan cincin pernikahan di jari manis Fitri.
Romi malah berbalik ke arah alika lalu memeluk dan menciumi wajah alika.
"Maafkan aku honey, ini semua sungguh konyol..." Ucap Romi penuh penyesalan.
Alika yang sedari tadi menahan tangisnya dan akhirnya tangis Alika pecah seketika itu.
Alika menangis tersedu-sedu di pelukan Romi.
Saat itu juga Bu sari menghembuskan nafas terakhirnya.
Karena sudah merasa ikhlas untuk meninggalkan Fitri bersama Romi.
Bu sari sadar betul Romi tidak akan bisa bersikap adil terhadap Fitri, namun setidaknya Romi akan menjaga Fitri dengan baik, mengingat jasa Bu sari kepadanya.
Nenek Diah orang pertama yang menyadari bahwa Bu sari sudah mengembuskan nafas terakhir langsung berucap, " innā lillahi wa innā ilaihi rāji'ụn." Seru Nenek Diah.
mendengar seruan itu seketika Romi dan alika mengurangi pelukan mereka.
"Bu sari sudah meninggal." Nenek Diah menegaskan kondisi Bu sari.
"Apa...!" Pekik semua orang merasa tidak percaya.
Tapi ya memang kenyataannya seperti itu.
Romi dan alika tertunduk dengan terus menangis, " Semoga tenang di alam sana Bu." Gumam Alika.
"Maafkan saya Bu telah mempersulit kepergian mu." Romi pun sama bergumam.
Kemudian Romi membenarkan posisi Bu sari, layak orang meninggal dalam Islam, mengusap mata Bu sari yang sedikit terbuka hingga benar-benar terpejam, Romi pun meliputi kedua tangan Bu sari seperti gerakan orang yang sedang shalat, tapi bedanya posisi tangan kanan di bawah dan tangan kiri di atasnya.
Romi pun menutup seluruh tubuh Bu sari dengan kain selimut yang ada.
Melihat apa yang di lakukan oleh Romi kepada ibunya, Fitri mendekat ke arah tempat tidur di mana ibunya berbaring.
Lalu Fitri bertanya, "Kenapa ibu saya kok di tutupi seperti itu." Fitri merasa curiga.
"Bu sari sudah tidak ada Fitri, dia telah meninggal duni, dia telah meninggalkan kita semua.." Romi memberi tau Fitri yang sebenarnya.
Romi lupa cara berbicara dengan Fitri, atau cara memberi pengertian kepada Fitri itu harus dengan cara yang sangat hati-hati, dan lemah lembut.
Sebab ketika mendengar apa yang di katakan oleh Romi, Fitri histeris.
"Tidak mungkin, ibu ku tidak akan mungkin meninggalkan ku, dia sayang kepada ku, ibu pasti akan mengajak ku jika ibu akan pergi." Pekik Fitri sambil menangis dan memeluk jasad ibunya.
"Ibu bangun Bu... ibu denger aku kan, ibu nakal sekali tidak mau mendengar ku, ayo bangun Bu... bangun!" Fitri mengoyak tubuh Bu sari, berharap Bu sari akan meresponnya, tapi tubuh Bu sari telah terbujur kaku.
__ADS_1
Fitri makin histeris, menangis menjerit-jerit, semua telah berusaha untuk menenangkannya.
Tapi Romi malah memegangi Alika agar tidak mendekat kepada Fitri, Romi dan alika masih merasa trauma atas penyerangan Fitri tempo hari.
Akhirnya Faisal berhasil melemahkan Fitri, Faisal memeluk tubuh Fitri dari belakang tubuhnya,
sambil berucap, "Tenang Fitri, tenang ibu mu balik-baik saja, Ibmu hanya sedang tertidur pulas."
Dan cara Faisal berhasil menenangkan Fitri.
"Kamu jangan seperti ini, kasihan ibu mu, tidurnya akan terganggu dengan tangisan dan teriakan mu,"Faisal berusaha memberi pengertian kepadanya.
Dengan begitu Fitri mengerti, dan kembali bisa mengatur emosinya.
Yunas segera menyodorkan air minum kepada Fitri, agar ia bisa lebih tenang lagi.
Faisal yang mengambil air minum dari tangan yunas lalu meminumkannya kepada Fitri.
Setelah emosi Fitri mereda, Faisal meminta maaf kepada Romi, karena telah lancang memeluk tubuh Fitri yang kini setatusnya telah menjadi istri Romi.
Tapi Mendengar permohonan maaf dari Faisal atas apa yang telah Faisal lakukan, Romi merasa hatinya lebih sakti dari sebelumnya.
"Tidak apa-apa kok saya mengerti, kondisinya seperti apa!" Romi tidak mempermasalahkan hal itu.
Kemudian Romi meminta yunas untuk mengurus semua persiapan untuk Bu sari.
Jasad Bu sari kini telah di bawah pulang ke villanya, sebelum pemakamannya selesai di persiapkan.
Banyak para warga dan kerabat yang datang untuk melayat menyampaikan turut berdukacita.
Mama Ranti, papa Bagas dan Andi pun telah hadir di sana.
Tapi Nina tidak ikut hadir sebab setelah acara pernikahannya dengan Andi tempo hari, Nina memutuskan tetap tinggal bersama keluarganya untuk semtara waktu.
Sedangkan Andi harus kembali bersama kedua orang tuanya, karena harus mengurus pekerjaannya, Tapi Andi selalu menyempatkan mengunjungi Nina pada waktu senggangnya.
Kania pun kini telah ikut bersama tuan Carlos, Tinggal di sana sambil meneruskan pendidikannya di sana.
....
Fitri masih termenung sendu, iya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya, mengapa ibunya di mandikan dengan sambil tiduran, ibunya di bungkus kain kafan, dalam hatinya Fitri bertanya, mengapa banyak orang yang datang.
Dan ternyata dengan setia Faisal masih mendampingi Fitri, karena saat ini hanya Faisal orang yang bisa menangani Fitri.
Dia pagi hari semua telah siap untuk menyolatkan Bu sari, lalu membawanya ke pemakaman untuk di kebumikan.
Saat jasad Bu sari di masukkan ke liang lahat, tiba-tiba Fitri kembali histeris, "Ibu... kalian mau apakan ibu ku...!" Teriak Fitri seakan ingin menjatuhkan tubuhnya bersama sang ibu yang sudah berada di liang lahat.
Semua menahan tubuh Fitri yang berusaha keras memberontak.
Nenek Diah memberi isyarat kepada Alika agar memberi tau Romi untuk menenangkan Fitri.
Alika mengrti dengan isyarat yang di berikan oleh Neneknya.
Alika yang berada di samping Romi menggenggam tangan Romi, lalu Romi menoleh kearah alika, sebab Romi tau ada hal yang ingin di sampaikan oleh istrinya.
Kemudian Alika berbisik di telinga Romi, " Sepertinya hanya kamu yang bisa menenangkan Fitri saat ini."
Tapi Romi sepertinya menolak, karena Romi tidak bergeming sedikitpun.
Sesungguhnya hati Romi sedang sangat berduka, orang yang sangat berpengaruh dalam hidupnya kini telah pergi meninggalkannya selamanya.
__ADS_1
"Selamat jalan Bu sari, terimakasih pengabdian mu kepada ku, kau telah mengasuh, merawat, dan mendidik ku, jasamu akan selalu ku kenang selama hidup ku..." Romi merasa sangat kehilangan sosok seorang ibu, karena Bu sari sudah seperti ibunya sendiri.