Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
BAB - 228


__ADS_3

Ketika mendengar alika tertawa kencang, hati Romi sungguh senang, baru saja Romi akan bangkit untuk menemui alika, Tapi kak Gani menahannya,


"Jangan dulu, biarkan saja dulu, nenek seperti masih membujuknya." Gani memberi tau Romi.


"Oo gitu ya,,,?" Ucap Romi dan kembali duduk.


....


Di kamar Alika bersama nenek Diah.


"Nenek hentikan aku mohon, aku menyerah ..." Alika meminta kepada nenek diah agar menghentikan aksinya.


"Oke, tapi kamu harus dengerin semua yang nenek katakan." Nenek memberi persyaratan.


"Oke, oke,...!" Alika menyanggupinya agar nenek tidak lagi menggelitikinya.


Kemudian keduanya duduk bersama.


Nenek mulai memberi pengertian, agar alika menghilangkan rasa kesal di hatinya kepada suaminya.


"Alika, tanya hatimu, apa yang di katakan oleh hatimu, apa suamimu berniat untuk macam-macam dengan Fitri." Ucap nenek Diah.


Alika menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau nek!" Jawab Alika.


"Menurut penilaian mu, apa mungkin Romi ingin bermain api dengan Fitri."


"Ya, untuk saat ini mungkin tidak ya kalau di biarkan dan keseringan kan bisa saja."


"Lalu mau mu bagaimana?"


"Entahlah nek, aku tidak tau."


"Menurut nenek, suamimu tidak berniat untuk menyakitimu justru dia ingin menjaga perasaanmu, ya mungkin itu salah, tapi dia sudah mengakui kesalahannya dan telah menyesalinya, bahkan dia telah berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


"Kita harus memberikan kesempatan kepada orang yang memang ingin memperbaiki kesalahannya, dalam prosesnya kita lihat seberapa seriusnya ia ingin berubah, apa ia sungguh-sungguh atau hanya sekedar ucapan saja."


"Jika ia mengulang kesalahan yang sama barulah kita ambil keputusan untuk memaafkannya lagi, tau tidak."


"Nenek tau kamu kecewa, itu hal yang wajar dan manusiawi, tapi jangan berlarut-larut dengan perasaan mu seperti ini, tidak baik dampaknya kepada kesehatan mu, kepada bayimu, kepada hubunganmu dengan suamimu, kepada semuanya."


"Cobalah melunakkan hati dan mencoba memaafkannya." Panjang lebar nenek Diah memberi pengertian kepada alika.


Sesuai persyaratan Alika hanya diam dan mencerna setiap ucapan dari neneknya.


"Kamu mengerti Alika!" Nenek diah menyakinkan, jika Alika memahami apa yang Neneknya ucapkan.


Alika menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Ya sudah, nenek keluar dulu ya!" kemudian nenek Diah berlalu meninggalkan Alika.


Dan tak lama Romi yang masuk menemui alika, sambil menggendong putra mereka.


"Hay mami... aku kangen sama mami!" Romi berkata seakan putra mereka yang berbicara.


Mendengar ucapan Romi Alika hanya memasang ekspresi wajah juteknya.


"Mami udah dong ngambeknya aku pengen di peluk sama Mami." Romi makin menggoda alika.


Tapi alika masih saja menampilkan ekspresi wajah yang sama, malah makin memanyunkan bibirnya dengan ekspresi wajah yang Sengaja di buat-buat.


Romi malah makin gemes melihatnya.


Dan malah tersenyum lega, sebab itu lebih baik bagi Romi dari pada alika tidak meresponnya.


Alika mengambil putranya dari pangkuan Romi berniat akan memberikan ASI kepadanya.


Namun ketika sang putria sudah di pangkuan Alika, Romi malah memeluk keduanya dari belakang tubuh alika.

__ADS_1


"Honey,,, aku mohon jangan lama-lama ya marahnya, aku tidak tahan kamu musuhi walaupun hanya sebentar saja, lebih baik hukum aku dengan cara lain honey!" Ucap Romi ketika mendekap tubuh sang istri dan putranya.


Alika tidak memberontak, dan ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh Romi Alika langsung menoleh ke wajah Romi yang menempel di pipinya.


sambil bergumam, "Hukuman.!" Sepertinya Alika mendapatkan ide untuk mengerjai suaminya.


Mendapat respon dari alika, Romi merasa sangat senang.


"Ya, hukuman!" Seru Romi dengan penuh semangat.


"Kamu boleh minta apa saja, sampai bikin aku bangkrut juga gak papa, pasti akan aku patuhi."


"Hhhmmm enak sekali ingin di buat bangkrut, ya aku menderita lah kalau kamu bangkrut." Ketus Alika sambil berjalan membawa bayinya ke tempat tidur untuk ia koloni.


"Kok gitu sih honey!" Seru Romi.


"Ya, iya lah kalau kamu bangkrut siapa yang akan memenuhi kebutuhan ku dengan putraku."


Romi tersenyum mendengar ucapan alika yang seakan tak rela Romi bangkrut.


Romi segera menghampiri alika di tempat tidur, dan ikut berbaring di samping putranya, yang sedang minum ASI dengan lahapnya.


Kini posisi mereka terbaring di atas tempat tidur dengan saling berhadapan dan sang putra berada di antara mereka.


Romi menatap wajah Alika dengan terus tersenyum, membuat alika jadi salah tingkah.


"Honey, kamu makin hari makin cantik aja ya!" Romi sedang merayu istrinya.


Alika tau hasrat Romi sedang muncul, "Jangan macem-macem ya kamu, inget mie instan mu belum abis." Ketus Alika, mengingatkan suaminya karena tau maksudnya.


Romi tertawa mendengar ucapan alika yang bisa menebak apa yang Romi ingin kan, "ha,, ha,,, ha,, !"


Membuat alika makin ketar-ketir melihat Romi seperti itu, Alika takut Romi tidak bisa menahan diri, dan memaksanya untuk melakukan hal yang tidak di inginkan.


Kemudian Alika memangil Orang-orang yang berada di luar, "Nenek, bunda, kak Gani, dokter Tasya, Kania." Pekik alika.


"Aku gak perlu apa-apa, aku cuma perlu jaga-jaga aja." Jawab alika makin membuat Romi bingung.


"Jagain kamu supaya gak macem-macem sama aku." Alika berterus-terang.


"Oalah... gitu rupanya!" Seru Romi.


"Dah kamu tenang aja, aku ngantuk pengen tidur gak bakal ngapa-ngapain kamu, gak usah manggil-manggil orang segala." ketus Romi, lalu ia membalikkan badan membelakangi alika.


"Takut banget kayanya sama aku!" Gumam Romi kemudian.


"M'y honey, kamu ngambek ya!" Seru alika melihat dan mendengar respon Alika.


"Gak" Jawab Romi singkat.


Padahal dalam hatinya ia tersenyum senang karena alika sudah memanggilnya dengan panggilan sayangnya. itu artinya Alika sudah tidak marah lagi kepadanya.


"M'y honey...!" kini Alika yang seakan agresif kepada Romi.


"Hhhmm...!" Sahut Romi.


Karena hanya itu respon dari Romi Alika malah mendekat kepada Romi, karena sang putra pun sudah terlelap tidur.


Setelah mendekat Romi tetap saja tidak merespon Alika dan tetap memejamkan matanya.


Membuat alika kesal, "Oo gitu ya, mau nyuekin aku, oke kalau begitu!" Ucap alika kesal dan hendak bangkit dari tempat tidurnya.


Tapi Romi malah menarik tubuh alika dan mendekapnya.


Membuat alika ketakutan Romi akan khilaf.


"Hay m'y honey jangan macam-macam ya,,,!" Seru alika.


"Salah siapa kamu menggodaku terus, membuat ku makin tidak tahan saja." Ucap Romi.

__ADS_1


Dan baru saja Alika akan berucap untuk memimpin ucapan suaminya.


Romi malah membungkam mulut Alika dengan melu*mat habis bibir alika.


Alika yang awalnya memberontak Kini melemah, dan seakan pasrah menerima setiap luma*tan dan kecupan dari Romi, karena merasakan hal yang sama seperti yang Romi rasakan.


Mereka seakan terbang ke Awang-awang, meskipun hanya bermain lidah dan bibir saja, karena hasrat yang mereka pendam cukup lama, dan hanya sekedar bermain seperti itu saja, memberi sensasi kenikmatan tersendiri bagi Romi.


Ia bisa melepaskan hasrat yang menggebu-gebu dengan mudahnya,


Sehingga si Otong bisa memuntahkan larvanya tanpa harus masuk ke sarangnya.


Meskipun tidak senikmat berhubungan seperti seharusnya, tapi itu cukup membuat Romi merasa lega, karena bisa menyalurkan hasratnya.


Setelah mencapai puncak kenikmatannya Romi terkulai lemas, dengan nafas yang bergemuruh, Romi melemaskan pelukannya.


"Terimakasih honey!" Ucap Romi pelan dengan nafas yang Terengah-engah.


Begitu juga dengan alika, tubuhnya melemah setelah melakukan pergulatan emosi yang membuatnya makin meminta lebih dari sekedar hal itu.


"Kamu nakal m'y honey..." Alika menimpali ucapan Romi dengan nafas yang Terengah-engah juga.


"Maaf ya honey,,, aku sudah tidak bisa menahannya lagi."


"Lagian tidak apa-apa jika tidak memasukkannya."


Alika hanya menganggukkan kepalanya sebab ia pun mengerti kebutuhan Romi sebagai seorang lelaki normal dan terus berdekatan dengan sang istri.


Entahlah Alika pun tidak tau hukumnya jika melakukan hal itu, pikir Alika dari pada Romi tersiksa menahan hasratnya, dan malah mencari pelampiasan nafsu di luaran mungkin akan lebih berdosa.


Alika termenung menyadari kelakuannya dengan sang suami.


Sedangkan Romi bergegas untuk bangun.


Alika pun bertanya melihat suaminya ingin beranjak dari tempat tidur, " M'y honey mau kemana?"


"Aku mau ganti dulu, lihat aku jadi seperti bayi yang ngompol." Romi menunjuk celananya yang basah karena muntahan si Otong.


Alika malah terkekeh mendengar ucapan Romi sebab merasa lucu.


" He,,, he,,, he,,, apa bedanya kamu dengan putra kita, sama-sama suka susuku, dan suka ngompol juga." Ucap alika.


Romi pun ikut tertawa "he,,, he,,, he.. iya juga ya, cuma bedanya putra kita bayi kecil, aku bayi besar."


Dan mereka malah terkekeh bersama, dengan guyonan nyeleneh mereka.


Dan tiba-tiba, bunda masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu melihat suami istri itu sedang tertidur bersama.


"Dasar pasangan aneh baru saja habis marahan, sekarang sudah tertawa-tawa lagi." Bunda Tiya bicara sendiri dengan maksud menyindir putri dan menantunya.


Melihat bunda Tiya masuk, tawa mereka (Romi dan alika) pun terhenti, ekspresi wajah mereka berubah menegang, terutama Romi yang langsung bergegas ke kamar mandi tanpa berucap apa pun, sebab Romi takut bunda melihat celananya basah.


Sedangkan alika terlihat mengulum senyum menyadari tingkah suaminya yang panik bukan main melihat sang Bunda.


Dalam hati Romi menggumam, 'Untung bunda masuknya pas kita udahan, kalau tadi tertangkap basah waduh bisa gawat aku, bisa di pecat jadi menantunya aku...' Ada rasa lega di hatinya karena merasa aman.


...


"Ada apa Bun? kok masuk gak ketuk pintu dulu...!" Alika menegur bundanya.


"Oo ya maaf bunda lupa, ya pikir bunda kalian juga gak bakal ngelakuin hal yang dilarangkan! jadi bunda nyelonong masuk aja."


"Bunda mau ngajakin kalian makan siang, udah di tunggu sama semua orang." Bunda menyampaikan maksudnya datang ke kamar Alika.


"Iya benar Bun, kebetulan aku lapar banget, Ayo bun." Alika malah yang lebih antusias.


"Eeh tunggu suamimu dulu!" Bunda Tiya mengingatkan.


"Nanti dia nyusul Bun!"

__ADS_1


__ADS_2