
Ketika mereka melihat Nina menangis mereka semua merasa tidak tega melihatnya, lalu menghentikan aksi mereka untuk menjahili Nina.
Mama Ranti menghampiri Nina dan mengajaknya untuk duduk lalu berbicara lebih serius.
"Kenapa Nina, ada apa dengan mu?" Tanya mama Ranti.
Tapi Nina masih belum menjawab.
"Apa kamu tidak menyukai Andi?" Kali ini papa Bagas yang bertanya.
Nina masih menunduk, tidak bisa menjawab.
Andi menggenggam tangan Nina agar Nina tidak merasa minder dengan keluarga Andi.
Tangan Nina terasa dingin sedingin es dan berkeringat.
Alika dan Kania tersenyum melihat tingkah Nina yang biasa periang urakan, pemberani, kini malah terlihat seperti kerupuk tersiram air, menciut.
Kania berseru "Nina,,, iih lucu banget kamu jika kamu sedang seperti itu he,, he,,, he." sambil tertawa merasa lucu melihat ekspresi Nina.
Kania menarik nafas panjang untuk mengatur emosinya.
"Maaf Bu, tuan besar, jika saya lancang..." Ucap Nina merasa canggung dan merasa tidak layak di cintai dan mencium putra dari majikannya.
"Nina kamu tidak usah merasa tidak enak hati biasa saja!" Seru mama Ranti karena sangat memahami apa yang di rasakan oleh Nina.
"Ayo segera katakan apa yang kamu ingin ungkap Nina" Kania sudah tak sabar ingin mendengar apa keputusan Nina.
"Saya memang menyukai mas Andi, saya sungguh bahagia mas Andi pun menyukai saya, tapi saya harus tetap pulang karena saya punya kewajiban untuk membantu keluarga saya." Nina mengucapkan hal itu dengan rasa ragu.
"Nin, aku tidak akan melarang mu untuk pulang, bahkan aku akan mengantarmu pulang." Ucap Andi agar Nina tidak putus harapan akan cintanya.
"Dan bukan hanya Andi yang akan mengantarmu Nin, mama, dan papa akan ikut bersama mu." Mama Ranti menyambung, ucap Andi untuk meyakinkan Nina.
Nina merasa terkejut mendengarnya.
"Apa benar ibu, dan tuan besar akan ikut bersama ku pulang." Nina bertanya untuk meyakinkan dirinya.
__ADS_1
papa Bagas dan mama Rantai menganggukkan kepalanya secara serentak dan berucap "Iya.." untuk meyakinkan Nina.
"Maaf Bu, untuk apa ibu dan tuan ikut bersama dengan saya." Nina bertanya sebab tidak mengerti apa maksud dan tujuan mereka ingin ikut.
"Kami ingin memastikan kamu akan baik-baik saja di sana, dan untuk mencegah hal buruk yang akan menimpa mu." Papa Bagas menerangkan.
"Insaallah tuan saya akan baik-baik saja jadi tidak usah merepotkan kalian." Ucap Nina merasa tidak enak hati dengan majikannya.
"Jadi maksud mu kami tidak boleh ikut dengan mu!" Mama Ranti sengaja berbicara seperti itu untuk menggoda Nina.
"Eeh bukan begitu Bu maksudnya!" Nina makin gugup.
"Lalu." Romi ikut menimpali.
"Saya tidak ingin merepotkan ibu, dan tuan besar, karena kalian sangat sibuk jadi tidak usah mempedulikan saya." Ucap Nina.
"Nina, sekarang kamu calon istri dari anak kami, jadi kamu calon menantu kami, dan selama ini kamu sudah saya anggap seperti anak saya sendiri jadi sudah tanggung jawab kami menjadi keamanan dan keselamatanmu." Mama Ranti menerangkan.
"Lagi pula kami kan! akan melamar mu di sana secara resmi, jadi kami memang harus ikut dengan mu." papa Bagas memperjelas.
Lalu Nina menceritakan semua kebenaran tentang keluarganya, agar mereka tidak syok ketika tau kebenarannya nanti.
"Nina seperti apa pun watak ayah mu, tidak masalah bagi kami karena yang akan menjalani kehidupan mu ya dirimu, yang kami kenal begitu baik, cerdas, humble, jadi tidak usah berkecil hatinya karena latar belakang mereka." Ucap mama Ranti agar Nina tetap percaya diri.
Nina begitu senang mendengar apa yang di ucapkan mama Ranti, bahwa mereka menerima semua kekurangan dirinya.
"Jadi kapan kita akan berangkat ?" Tanya Andi ingin memastikan.
"Ya sekarang juga." Ucap Nina seperti sudah tak sabar lagi ingin segera pulang.
"Kania lalu bagaimana denganmu, apa akan tetap di sini, atau mau ikut kami, apa malah akan pulang untuk mengurus Cherry putri mu?" Mama Ranti menanyakan apa rencana Kania.
"Untuk sementara waktu aku ingin di sini dulu, menghabiskan waktu dengan keponakan ku Dede alomi, sebelum aku berangkat di jemput suamiku, dan untuk beberapa waktu Cherry akan ikut bersama kami nanti terlebih dahulu..." Kania memberi tau rencananya besama suaminya.
Mama Ranti, papa Bagas dan yang lainnya mengerti dengan penuturan Kania.
Tapi Romi perotes kepada Kania karena selalu menyebut nama putranya dengan sebutan Alomi.
__ADS_1
"Eeh lu, putraku dah punya nama dengan arti nama yang begitu bagusnya, jangan asal sebutkan nama begitu dong." Romi terlihat kesal sebab sudah berkali-kali di ingatkan agar jangan menyebut putranya dengan sebutan itu.
Tapi Kania masih saja menyebutnya dengan sebutan itu.
Kania pun menimpali ucapan Romi, "Eeh kak, apa yang salah dengan sebutan itu, arti nama itu tak kalah bagusnya dengan nama askara, nama Alomi kan gabungan dari nama kalian berdua, orang tuanya, aku juga tak sembarang memberikan nama untuk putra kalian." Kania tak kalah sewotnya dengan Romi.
"Lagian aku sukanya dan nyamannya memanggil si dedek dengan panggilan Alomi, jadi suka-suka aku dong." Sambung Kania masih dengan nada kesalnya.
"Dasar kerasa kepala!" Seru Romi.
"Ya kepala memang harus kerasa, kalau kepala lembek apa jadinya!" Kania tetap tidak mau kalah.
"Terserah kamu deh,,, !" Kemudian Romi mengalah dan menggendong bayinya lalu membawanya keluar kamar untuk di jemur di matahari pagi, di ikuti Alika yang ikut mengekori mengiringi Romi dan bayinya.
Sementara mama Ranti dan papa Bagas beserta Andi sedang bersiap untuk melakukan perjalanan mengantar Nina pulang ke kotanya.
Yang berada di luar kota dan harus menggunakan pesawat untuk transportasinya untuk memudahkan perjalanan mereka.
Tapi dengan cepat Andi telah mengurus hal tersebut, agar mereka bisa berangkat pada hari itu juga.
Ketika Kania menyadari semua orang telah meninggalnya di sana seorang sendiri, Kania pun berteriak, "Heey mengapa semua orang meninggalkan ku." Lalu Kania berlari mengejar Romi dan alika.
...
Tapi ketika mereka akan melintasi ruang tamu ternyata di ruang tamu sudah ada tamu yang sedang menunggu mereka.
Karena rasa penasarannya, Romi dan alika segera menghampiri tamu tersebut dan melihatnya.
Alangkah terkejutnya Alika dan Romi ketika melihat siapa tamu yang datang.
"Bu sari, Fitri..." Gumam alika.
Karena memang mereka lah yang datang untuk menemui Romi dan alika.
Mereka ingin mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertama Alika dan Romi, karena memang Bu sari belum sempat untuk menemui mereka.
Sebab sibuk dengan Fitri dan harus memberi pengertian terlebih dahulu kepada Fitri sebelum menemui Romi dan alika agar Fitri bisa mengontrol emosinya ketika bertemu Romi dan alika.
__ADS_1