
Sedangkan tuan Carlos di kamarnya, merasa sangat senang mekipun belum berhasil menyalurkan hasratnya, tapi ia merasa sedikit lebih lega sebab Kania sudah mulai memberikan respon yang baik kepadanya, menunjukkan suatu kemajuan dari sikapnya.
Sesungguhnya dari awal Kania mendekati tuan Carlos, ia sudah terbangun dari tidurnya dan saat Kania, membangunkannya mengucapkan kata tuan, tuan Carlos sengaja tak menjawabnya, sampai akhirnya Kania mengguncang-guncangkan tubuhnya, tuan Carlos sengaja menarik tangan Kania dan membawa tubuh Kania kedalam pelukannya.
Tuan Carlos ingin melihat respon dari Kania, dan ternyata apa yang di lakukan oleh kania membuat tuan Carlos merasa tercengang.
Kania mengecup sekilas bibir tuan Carlos, dan sengaja tidak tuan Carlos respon, Kania malah makin gila mengecup dan me'lum'at bibir tuan Carlos, membuat tuan Carlos tersenyum bahagia dalam hati, lalu perlahan turun Carlos membalas kecupan dan kecupan yang Kania berikan kepadanya. sampai pada saat Cherry terbangun dan menyadarkan mereka berdua.
...
Setelah Cherry siap untuk berangkat sekolah. Kania menyiapkan sarapan paginya dan sekalian membuat bekal untuk Cherry.
Saat sedang sarapan pagi, kemudian datanglah tuan Carlos menghampiri mereka berdua yang sedang sarapan di meja makan.
Kania begitu terkejut dengan kedatangan tuan Carlos yang tiba-tiba. saking kagetnya Kania sampai tersedak makanan yang sedang ia kunyah di mulutnya.
"Uhuk, uhuk, uhuk...!" Kania terbatuk-batuk karena tersedak makanan sebab terkesima dengan kehadiran tuan Carlos.
melihat itu tuan Carlos dengan sigap langsung memberikan Kania segelas air minum "Pelan-pelan nona Kania, jangan terburu-buru" Katanya sambil menyodorkan segelas air putih untuk Kania minum.
"Deg..." Jantung Kania makin berdebar kencang, wajah Kania makin memerah, ketika tuan Carlos mendekatinya Sambil berucap seprti itu, Kania merasa tuan Carlos sedang menyinggung nya.
Karena adegan tadi pagi Kania yang lebih dulu memulainya.
"Anda tidak apa-apa nona Kania?" Tanya tuan Carlos, ketika melihat Kania sudah lebih tenang.
"Ya!!!" Jawab Kania singkat, bahwa ia memang tidak apa-apa.
"Mami, mami kenapa?" Tanya Cherry kepada Kania, sebab Cherry merasa heran mengapa tiba-tiba Kania bisa tersedak ketika menyadari kehadiran papinya.
Kania langsung berusaha mengatur emosinya agar lebih tenang, dengan cara menarik nafas panjang.
"Iya sayang mami tidak apa-apa, ayok habiskan sarapanmu lalu bergegaslah pergi ke kesekolah" Kania mengintruksi kepada Cherry.
"Oke,,, baik mami!" Seru Cherry patuh. sambil mengacungkan ibu jarinya.
Dan Kania pun membalas apa yang di lakukan oleh Cherry "Oke..." Ucap sabil mengacungkan ibu jarinya.
Kania bersikap begitu manis kepada Cherry, sementara, tuan Carlos tak sedikit pun Kania menggubrisnya.
Tuan Carlos hanya berdiri mematung, menyadari bahwa Kania kini tak semanis tadi pagi kepadanya.
Hati tuan Carlos merasa kecewa melihat perubahan sikap Kania kembali tidak memperdulikannya dan kembali menjaga jarak dengannya.
tuan Carlos pikir setelah kejadian tadi pagi kami akan berubah sikap menjadi lebih hangat kepadanya, tapi ternyata tidak.
Kini Cherry sudah bersiap untuk berangkat sekolah, dengan di antara oleh papinya yang sekalian akan berangkat kekantor cabang perusahaan di kota itu.
"Ayok papi cepetan,,, aku sudah telat kesekolah...!" Cherry merengek kepada papinya agar segera berangkat, karena tuan Carlos tidak merespon ajakan nya sedari tadi, pikirannya hanya fokus kepada Kania.
Tuan Carlos berharap Kania ikut bermanja-manja seperti tadi malam kepadanya tapi Kania tetap bersikap kaku, dan dingin kepada tuan Carlos.
"Papi...!"Seru Cherry sedikit memekik untuk mengingatkan papinya karena waktu sudah siang.
"I-iya sayang, ayok Salim Dulu sama mami,,," tuan Carlos terhenyak ketika mendengar pekikan Cherry sampai berucap pun ia terbat.
"Udah papi, aku udah Salim sama Mami... sekarang mami yang harus salim sama papi,,," Perintah Cherry.
Kania menjadi sangat kaku karena salah tingkah, kemudian dengan ragu Kania menyodorkan tangannya lalu berjabat tangan dengan tuan Carlos dan mencium tangan tuan Carlos, layaknya istri yang berbakti.
Tuan Carlos selalu berharap agar rumah tangga nya dengan Kania bisa berjalan sebagaimana mestinya.
__ADS_1
Tuan Carlos sadar betul bahwa ia harus lebih sabar lagi dalam menghadapi Kania yang masih menyimpan rasa sakit hatinya karena ulah tuan Carlos sendiri.
"Udah ayok berangkat sayang...!" Ajak tuan Carlos ketika Kania sudah berjabat tangan dengannya, dan Kania mencium tangannya.
Tapi si anak pinter Cherry masih melakukan protesnya "Belum mami, papi!" Seru Cherry masih menginginkan hal lain.
membuat Kania dan tuan Carlos bingung apalagi sebenarnya yang di inginkan Cherry.
"Apa lagi...!" Seru kania dan tuan Carlos bersamaan
"Kalian belum cipika, cipiki!"Celuk Cherry, membuat tuan Carlos dan Kania kikuk bukan main, Kania sampai kesulitan menelan salivanya, mendengar apa yang di inginkan oleh Cherry.
"Tapi mami belum mandi sayang! nanti papi pingsan kalau cipika, cipiki sama mami" Kania berusaha mencari alasan untuk menghindari apa yang Cherry inginkan.
"Tapi aku nggak pingsan pas mami cipika, cipiki sama aku tadi" Cherry mulai merajuk, ia memanyunkan bibirnya memasang ekspresi wajah cemberut.
"Oke baiklah,,," tanpa aba-aba lagi Kania langsung melakukan apa yang Cherry inginkan, mencium pipi kiri, dan pipi kanan tuan Carlos.
Tuan Carlos hanya bisa terperangah menerima perlakuan spontan dari Kania.
"Hore...!"Seru Cherry senang sambil bertepuk tangan.
"Papi, ayok bales Mami,,,!" kemudian seru Cherry lagi kepada papinya.
"Balas!" Kania dan tuan Carlos berseru secara bersamaan dengan memasang ekspresi wajah bingung.
"Iya papi Balas!" Jawab Cherry meyakinkan sambil memanyunkan bibirnya memberi isyarat kepada tuan Carlos untuk mengecup bibir Kania.
Kania dan tuan Carlos mengerutkan keningnya, merasa heran.
Kania langsung merasa panik, ketar-ketir salah tingkah.
Mereka pikir Cherry melihat adegan mereka tadi pagi.
"C-Cherry mengapa seperti itu siapa yang ngajarin Cherry" Kania memberanikan diri untuk bertanya.
"Cherry sering lihat, papa dan mama teman Cherry suka seperti itu ketika mereka berpamitan untuk berpisah. saat mengantar teman Cherry di sekolah...."Cherry menerangkan.
"Ya ampun gak ada akhlak sekali mereka melakukan hal tidak senonoh di depan anak kecil...!" Kania mengumpat orang tua teman Cherry.
Tapi tanpa basa-basi lagi tuan Carlos langsung membungkam mulut Kania dengan sabun kecupan singkat di bibirnya.
Kania mematung tanpa ekspresi ketika mendapat kecupan itu.
Sedangkan tuan Carlos segera mengajak Cherry untuk segera pergi...
"Dah mami... aku dan papi berangkat dulu ya, jangan lupa jemput aku nanti sore ya !" Seru Cherry sambil berjalan dengan melambaikan tangannya ke arah Kania.
sementara kania masih saja mematung mencerna apa yang di lakukan oleh tuan Carlos kepada nya.
"Yu tuhan,,, anak sama papinya, bisa bukan aku jantung jika sering seperti ini" gumam Kania ketika Cherry dan tuan Carlos sudah benar-benar pergi.
...
Di hari yang sama Romi dan alika sedang berkemas mereka berdua berencana untuk pulang ke kota alika dan mungkin menetap di sana melanjutkan kehidupannya.
Tentu saja alika merasa sangat senang, karena ia bisa dekat dengan keluarganya.
Masalah materi alika tak butuh kemewahan asal hidup serba berkecukupan itu sudah lebih dari cukup bagi alika.
karena kakaknya bisa membantu perekonomian alika jika hanya sekedar untuk makan atau tempat tinggal.
__ADS_1
Tapi Romi juga tidak akan tinggal diam, ia akan berusaha menjalankan bisnis-bisnis barunya di sana, Romi tidak pernah merasa takut miskin, sebab itu Romi menyerahkan semua aset miliknya kepada Robert.
Hanya saja Romi merasa tak rela jika perusahaan hancur begitu saja di tangan Robert, dan penghianatan yunas yang membuat Romi merasa sangat kecewa.
.
.
Alika duduk di sofa di dalam kamar mereka, sedangkan Romi memilih barang-barang miliknya dan milik alika yang hendak mereka bawa.
Dan seperti biasa Kania selalu berkunjung ke rumah Rahardian, setelah tuan Carlos berangkat kerja dan Cherry berangkat ke sekolah.
Kania langsung mencari kakak dan Kakak iparnya di kamar mereka.
Tanpa mengetuk pintu dan memberi salam, Kania langsung masuk.
"Hay... I coming....!" Seru kania tapi terhenti ketika melihat kamar mereka berantakan dengan barang-barang yang berserakan.
Kania terkejut melihat nya, dengan ekspresi wajah bingung, celingukan, Kania masuk ke kamar itu dan menghampiri alika yang sedang duduk di sofa.
"Nyonya Romi, apa maksudnya ini semua?" Kania bertanya meminta jawaban dengan apa yang terjadi di kamar itu.
Alika tersenyum mendengar pertanyaan dari Kania "Tanya sendiri tuh tuan Rominya!" Alika menunjuk suaminya hanya dengan lirikkan matanya.
Kania langsung menoleh ke arah kakaknya dan menghampiri Romi yang sedang sibuk mengemasi barang-barang mereka.
Kania langsung memeluk kakaknya dari belakang dan berucap "Kak apa sudah semiskin inikah dirimu, sampai harus menjual semua barang-barangmu seperti ini..." Kania sengaja berguyon dengan nada meledek Romi.
Romi langsung menoleh melihat wajah Kania dengan ekspresi wajah datarnya, Kania malah mengedip-ngedipkan mata, dan memanyun-manyunkan bibirnya menggoda Romi.
Romi langsung menjitak kepala Kania karena kesal dengan tingkahnya.
"TAK...!!!" Sebuah jitakan berhasil mendarat di kepala Kania.
"AAWW..." Kania memekik.
"Sakit tau kak..." Sambung Kania sambil melepaskan pelukannya lalu memegangi kepalanya.
"Lagian kalau ngomong tuh jangan sembarangan...!" Romi menimpali ucapan Kania, tanpa melihat ke arah orang yang ia ajak bicara.
Sedangkan alika hanya tersenyum melihat adik kakak berseteru.
"Kalian mau kemana,,,?" Kali ini Kania serius bertanya.
Lalu alika yang menjelaskan bahwa mereka berdua (Romi dan alika) berencana akan pulang ke kota alika.
"Kapan kalian akan berangkat,,," Tanya Kania lagi.
Alika hanya mengangkat dua bahunya sebagai isyarat bahwa ia tidak tau, alika hanya mengikuti instruksi dari suaminya.
Saat memilih barang-barang yang akan di bawa dan mengemasinya semua Romi yang mengerjakannya.
Alika hanya di minta untuk duduk dan menemaninya.
Alika hanya bisa patuh menuruti semua perintah Romi.
"Kakak aku gak rela, di tinggalkan oleh kalian..." Kania begitu sendu
"Dek kamu harus, temani Mama kasian, jangan sampai Mama sedih, di tinggalkan oleh anak-anaknya" Romi memberi amanat kepada Kania.
Kania hanya tertunduk lesu.
__ADS_1