Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
BAB -195


__ADS_3

Walau dokter sudah menjelaskan sedemikian rupa, tentang bahayanya jika tidak segera melakukan tindakan untuk mengeluarkan janin dari rahim alika, tapi alika tetap kekeuh dengan pendiriannya.


Alika tetap ingin mempertahankan calon bayinya.


Romi pun berusaha untuk memberi pengertian kepada alika agar ia mau melakukan tindakan yang di sarankan oleh dokter.


"Honey aku mohon, kamu mau melakukan apa yang di sarankan oleh dokter, aku tidak ingin melihat mu tersiksa, menderita menahan rasa sakit, setelah ini kita masih bisa punya bayi lagi honey! asalkan kamu sehat..." Ucap Romi membujuk istrinya.


Tapi alika merasa sangat tersinggung dengan ucapan Romi.


"Kamu tidak menginginkan anak ini...?" Alika sungguh kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh Romi.


"Bukan begitu honey, aku sangat bahagia dengan hadirnya dia di antara kita, bahkan karenanya kita bisa bersatu seperti sekarang ini!" Jawab Romi


"Justru karena itu aku ingin mempertahankan nya...!" alasan alika mengapa ia kekeuh dengan pendiriannya.


"Tapi honey! ini akan membahayakan mu, kesehatan mu, aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu honey,,,!" Romi sangat takut kehilangan istrinya.


"Aku akan baik-baik saja...!" alika meyakinkan Romi.


"Iya kan nek...!" alika meminta dukungan dari neneknya.


Nenek Diah sudah paham betul bagaimana watak alika, ia akan sangat keras kepala untuk sesuatu yang di sayanginya.


Kemudian nenek menggenggam tangan alika.


dan berucap " Alika apa yang kamu rasakan sekarang, apa masih terasa sakit?" Tanya nenek ingin memastikan


Alika menggelengkan kepalanya, memberi jawaban atas pertanyaan neneknya.


"Alika nak, jangan siksa dirimu seperti ini, nenek tau apa yang kamu rasakan alika!" Ucap nenek yang tau alika sedang menahan rasa sakitnya, agar terlihat baik-baik saja.


"Lakukan lah sarana dokter, agar kamu tidak tersiksa seperti ini!" ucap nenek mencoba ikut membujuk alika.


Tapi alika malah menangis sesenggukan tapi bukan karena rasa sakitnya, melainkan karena tak satupun orang yang mendukung keputusannya.


"Honey, apa sakit sekali...?" Romi panik melihat alika menangis.


Alika menggelengkan kepalanya "Aku kecewa kepada kalian, harusnya kalian mendukung keputusan ku memberiku semangat, menguatkan ku tapi apa yang kalian lakukan tetap memaksaku untuk membunuh anakku" Ucap alika di sela-sela tangis.


Romi dan nenek hanya saling memandang. lalu nenek menganggukkan kepalanya memberi isyarat kepada Romi agar mengikuti apa yang alika mau, untuk alika lebih tenang.

__ADS_1


Romi mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh nenek Diah.


"Oke, honey jika itu memang keputusanmu, kita akan tetap mempertahankan anak kita tapi ingat, jika dirimu tidak kuat jangan memaksa dan jangan siksa dirimu.." akhirnya Romi pasrah dan mengikuti apa yang alika mau.


Apa lagi nenek Diah, ia sudah tidak bisa lagi membujuk alika jika sudah begitu.


Kemudian nenek mengurut di bagian pinggul alika secara perlahan, sebagai ikhtiar dari nenek untuk membenarkan posisi janin alika agar kembali ke posisi semula.


tentu itu tidak mudah, nenek hanya melakukan apa yang ia bisa untuk hasilnya kita kembali kan Kepada yang maha kuasa.


Hanya Allah penentu segalanya, sekali pun Alika kekeh menaruhkan nyawanya, jika Tuhan berkehendak akan mengambilnya tentu saja anak itu akan tetap kembali kepada sang pencipta.


Tapi setelah mendapatkan pijatan (setelah di urut) setelah alika mendapat penanganan dari neneknya, rasa sakitnya berkurang.


Alika sudah bisa bergerak meskipun perlahan-lahan.


"Nek! sekarang sudah tidak sesakit tadi" Seru alika Karena senang harapannya akan bayi nya bisa terselamatkan.


"Ya sukur alhamdulilah jika begitu..." ucap nenek diah ia pun meras lega ada perkembangan dengan kondisi alika


"Berarti kita harus sering melakukan hal seperti tadi" saran nenek diah.


"Aamiin!" Romi dan nenek diah mengamini doa alika.


Romi mengelus kepala alika lalu mencium kening alika "Maafkan aku honey, aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu kepadamu, aku sangat takut kehilangan mu" Ada rasa penyesalan di hati Romi, dan juga kecemasan.


Alika menarik tangan Romi menggenggam kemudian menciumi tangan itu.


sebagai tindakan dari alika bahwa alika sangat membutuhkan dukungan dari suaminya.


Romi mengerti dengan apa yang di maksud oleh alika.


Romi benar-benar berharap istri dan anaknya bisa selamat dari berbagai ujian.


"Honey jika bisa, biar aku saja yang merasakan semua kesakitan mu" Gumam Romi lalu kembali mencium kening istrinya.


.


.


.

__ADS_1


Kondisi Bu sari dan Fitri di villa Romi.


Bu sari masih meratapi nasibnya dan nasib putrinya. Bu sari tidak menyangka mereka akan mengalami hal yang seperti itu.


Belum lagi Bu sari memikirkan kondisi alika yang sempat tak sadarkan diri akibat penyerangan dari putrinya.


" Ya Tuhan bagaimana kondisi nona alika sekarang semoga ia baik-baik saja..." Pikiran Bu sari menghaturkan kondisi alika.


Setelah beberapa waktu, Fitri di kamarnya tidak lagi terdengar teriakan-teriakannya.


Seperti ia sudah lebih tenang tapi Bu sari takut untuk menghampirinya, Bu sari takut Fitri akan menyerangnya kembali, tapi Bu sari pun khawatir telah terjadi sesuatu kepadanya sebab tak lagi terdengar pergerakan dari Fitri.


Bu sari mencoba mengetuk pintu kamar yang di mana Fitri berada.


"Tok, tok, tok" bunyi suara pintu.


"Fitri nak, kamu bisa denger ibu..." Bu sari mencoba berkomunikasi dengan Fitri.


Tapi Fitri tidak meresponnya ia hanya diam.


membuat Bu sari panik, mengkhawatirkan kondisi Fitri.


Sebab berkali-kali Bu sari mencoba berkomunikasi dengan Fitri dari luar kamar tapi tetap tidak mendapat respon dari Fitri.


Karena rasa kekhawatirannya akhirnya Bu sari mencoba untuk membuka pintu, untuk melihat kondisi Fitri dan memastikan Fitri baik-baik saja.


Perlahan Bu sari membuka pintu, lalu mengedarkan pandangannya melihat ke seluruh isi kamar, Bu sari sudah waspada ia takut mendapat serangan dari Fitri.


Namun pandangannya menangkap sosok yang ia khawatirkan sedang meringkuk di lantai.


Hati Bu sari sungguh tidak tega melihat pemandangan itu.


Bu sari langsung menghampiri sosok putrinya, untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja.


Kemudian setelah mendekat secara perlahan Bu sari mencoba untuk berinteraksi dengannya "Nak apa kamu sudah lebih tenang sekarang" Ucap Bu sari sambil menyentuh tubuh putrinya.


Namun tidak di sangka, seketika itu Fitri bangunan dengan beringasnya dan mencekal leher Bu sari dengan kedua tangannya.


Bu sari begitu syok mendapat penyerangan lagi dari Fitri.


Napas Bu sari Terengah-engah gerakannya di kunci oleh Fitri sehingga ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasaran kepada yang maha kuasa.

__ADS_1


__ADS_2