
Kini alika dan bayi sudah di izinkan untuk pulang.
lega rasanya bagi alika dan seluruh keluarga akhirnya bisa pulang.
mereka bisa bebas bermain dengan dedek bayi.
Ketika akan berjalan menuju keluar rumah sakit Kania paling heboh
ingin menggendong keponakannya.
"Sini bunda biar aku yang bawa Dede alomi nya..." Ucap Kania meminta sang bayi yang sedang dalam gendongan bunda Tiya.
Mendengar ucapan Kania yang memanggil sang bayi dengan panggilan Alomi orang-orang di sana mengerutkan keningnya merasa heran.
"Apaan tuh Alomi? " Tanya Gani, meminta penjelasan kepada kania mewakili semua orang.
"Alomi,,, Alika Romi! di gabungkan jadi Alomi, keren kan." Jawab Kania bangga dengan hasil gabungannya.
"Keren apanya, malah kedengarannya seperti nama mie instan kaya gitu..." Alika Perotes.
"Ya kan bapak nya lagi puasa, sambil makan mie instan! " Jawab Kania ngasal.
"Apa hubungannya nya sih dek...!" Romi terlihat kesal kepada Kania
"Terus, coba siapa nama ponakanku?" Kania malah seakan menantang Romi dan alika menanyakan akan di beri nama siapa bayi mereka.
"Askara putra Rahardian."
"Apa arti nama Askara." Tanya kania ingin tau artinya
Lalu alika yang menjawabnya
"Dalam Islam arti nama askara itu adalah... di ambil dari bahasa Arab, Askar memiliki arti tentara atau prajurit. Artinya seorang dengan nama Askar dapat menjadi sosok yang gagah, kuat, berani, dan berwibawa seperti tentara. Tidak hanya itu, artinya pun mencakup tegas dan tidak mudah menyerah."
"Kenapa aku memilih nama itu, sebab putraku sungguh sangat kuat, hebat, semenjak dalam kandungan banyak hal yang terjadi kepada ku tentunya kepadanya juga, tapi putraku mampu bertahan, dan lahir dengan sehat, selamat, dan sempurna!" Sambung alika.
"Aku harap putraku punya kepribadian sesuai namanya, seperti ayahnya, tapi harus seperti aku juga, ramah, penyabar penuh kasih sayang, humble." Alika pun mengutarakan harapannya terbaik untuk putranya.
semua orang hanya terdiam mendengarkan apa yang alika katakan, apa lagi Romi selama ini mereka tidak pernah membahas tentang nama bayi mereka hanya sibuk dengan masalah-masalah yang mereka hadapi selama alika mengandung.
Tapi ternyata naluri keibuan alika sudah muncul sejak ia masih mengandung, dengan telah menyiapkan semua yang terbaik untuk calon bayinya tanpa Romi ketahui.
Romi makin kagum dan makin sayang saja kepada alika.
" Mudah-mudahan putraku menjadi anak yang Sholeh berbakti kepada orang tua tentu nya, dan bisa jadi kebanggaan seluruh keluarga, dengan semua prestasinya... amiin."
Kemudian alika menambahkan doa di ujung penjelasannya tentang arti nama putranya.
Semua orang yang tadi hanya terdiam mendengarkan, sebab merasa kagum mendengar penjelasan alika, setelah mendengar doa dari alika kemudian mereka semua serempak mengamini doa alika,
"Aamiin....! " Seru mereka semua.
Alika yang awalnya berekspresi serius ketika menerangkan, kini malah tersenyum melihat ke arah semua orang, pipinya terlihat bersemu merah karena rasa malu sebab ia baru menyadari ternyata orang-orang sedang memperhatikannya berbicara.
melihat alika seperti itu Romi langsung mendekat kepada alika lalu memeluk dan mencium pipi alika yang bersemu merah itu.
"Bagus honey,,, Aku suka Nama ini dan juga artinya, beserta doanya." Kemudian ucap Romi setuju dengan semua apa yang alika utarakan.
__ADS_1
Kelakuan Romi sontak membuat suasana ricuh sebab orang-orang heboh melihatnya.
Terutama kania, " Hey,,, lihat tempat dong kamu kak, lihat di sekelilingmu banyak orang... kalian malah mesra-mesraan kaya gitu." Kania mengingatkan.
"Kayanya ada yang sirik nih, sebab gak bisa nyalurin hasratnya..." Sindiran Romi kepada Kania yang memang sedang LDR (Long distance relationship) dengan tuan Carlos.
"Apaan sih, biasa aja kali" Seru kania.
Ya sebenarnya Kania memang merasa kehilangan suaminya, tapi ketika berkumpul bersama seluruh keluarga rasa itu hilang seketika, sebab banyak hiburan yang di ciptakan oleh mereka sendiri dengan saling berguyon satu sama lain.
"Kalian tuh harus tau tempat! kalau mau bermesraan jangan di tempat umum kaya gini, yang lain bisa berpikiran mesum tau." Protes Kania untuk mengingatkan Romi dan alika.
"Eeh apa bedanya coba, di sini dan di rumah nanti! aku dan suamiku sudah di peringati akan kalian pantau, selama dua puluh empat jam dalam empat puluh hari." Ucap alika seakan membela suami.
Romi tersenyum merasa mendapat pembelaan diri sang istri, " Iya betul itu honey, apa bedanya coba! " Romi setuju dengan ucapan alika.
"Terserah kalian deh." Kania merasa pasrah dan mengalah tidak ingin melanjutkan perdebatan yang bernada candaan itu.
Melihat dan mendengar kania mengalah dan frustasi Romi dan alika tersenyum lebar karena merasa telah menang dari Kania.
"Aku makin suka kepada mu honey,,," Bisik Romi di telinga alika.
membangkitkan hasrat alika, sebab bulu halus Alika meremang di buatnya.
Menyadari itu alika langsung mendorong tubuh Romi agar menjauh darinya sambil berkata, "Menjauh kau dari ku".
Ya seketika itu tubuh Romi terhempas agak jauh dari alika karena tindakan alika yang mendorongnya.
Romi terkejut dengan apa yang alika lakukan, semua orang pun merasakan hal yang sama seperti Romi, atas tindakan alika yang tiba-tiba seperti itu.
"Ada apa honey, apa salah ku" Tanya Romi dengan ekspresi wajah bingung, sebab baru saja alika tersenyum kepadanya tapi mengapa tiba-tiba bersikap seperti itu.
"Ha... ha.. sukurin tuh! makanya jangan kegenitan! " Seru kania meledek Romi.
Otomatis Romi kesal mendapat perlakuan dari istrinya dan Kania, beserta orang yang menertawakannya.
"Emang aku hantu bisa bikin bulu kuduk berdiri...!" Ketus Romi
"Ya, makanya kalian tuh jangan sering-sering berdekatan dulu, takut khilaf." Kali ini bunda ikut bicara dan mengingatkan putri dan menantunya.
"Tapi kan aku suami istri Bun, masa gak boleh Deket-deketan, nanti kita di sangka musuhan lagi! " Alika protes dengan ucapan bundanya.
"Ya boleh deketan tapi jangan menjurus ke hal yang di larang seperti tadi, yang membuat bulu-bulu mu meremang, kan bahaya." Bunda Tiya menimpali ucapan alika.
"Iya, iya Bun!" Kemudian seru alika.
Sementara Romi hanya terdiam, merasa lelah pergerakannya bersama sang istri yang membuatnya candu kini harus di batasi.
"Sabar ya m'y honey." Gumam alika merasa iba kepada suaminya.
Romi menganggukkan kepalanya.
"Demi kamu aku, aku akan lakukan menahannya, sampai tiba saatnya buka puasa nanti!" Gumam Romi.
Alika tersenyum mendengarnya sebab hanya alika yang bisa mendengar gumaman itu.
Karena semua orang sudah beranjak dari sana.
__ADS_1
.
.
Kini mereka tiba di rumah baru alika dan romi, yang Romi beli sudah lama tapi tidak pernah Romi tempat. Romi lebih sering tinggal di villa yang sekarang telah menjadi milik Bu sari.
Karena kini villa itu telah Romi berikan kepada Bu sari, jadi Romi memilih menempati rumah lain.
Mengapa alika tidak pulang ke rumah nenek Diah, atau ke rumah bundanya?.
Sebab Romi ingin keluarnya lebih leluasa dekat dengan putranya, jika di rumah nenek Diah, atau di rumah bunda Tiya, keluarga Romi akan merasa tidak leluasa beraktivitas di sana sebab mereka akan merasa seperti tamu.
Beda halnya jika tinggal di rumah Romi dan alika, keluarga Romi maupun keluarga alika akan merasa tinggal di rumah putra putri mereka sendiri, merasa bebas dan leluasa beraktivitas sebab meras tinggal di rumah sendiri.
Sesampainya di rumah itu, alika dan bayinya di sambut, oleh nenek Diah, mama Ranti, papa Bagas, Andi Nina, dan yang lainnya.
Karena yang menjemput atau yang menemani alika dari rumah sakit hanya Romi, bunda Tiya, Kania, gani dan dokter Tasya.
Yang lain hanya menunggu di rumah menyiapkan pesta kejutan dan acara selamatan menyambut tamu baru di dalam dua keluarga mereka.
Rumah itu di hias dengan konsep pesta layaknya pesta ulang tahun di penuhi balon-balon, bunga-bunga, pita-pita, dan pernak-pernik lainnya.
Walau pun hanya dua keluarga yang menyambut kedatangan alika dan sang bayi, tapi terasa begitu meriah dengan segala suguhan yang merek tampilkan.
Alika tidak menyangka kepulangannya dan bayinya di sambut seantusias itu oleh seluruh anggota keluarga.
Alika terlihat menitipkan air mata karena rasa harunya.
Romi merangkul pundak alika lalu mengelus-elus nya.
Alika membalikkan posisi tubuhnya menghadap ke Romi yang sedari tadi berada di sampingnya, kemudian alika membenarkan wajahnya di dada bidang Romi, sambil terisak karena rasa harusnya.
Sebab alika teringat peristiwa yang di sarankan untuk mengangkat bayinya ketika itu, jika saat itu alika menyetujuinya mungkin putranya tidak akan pernah ada seperti saat ini, yang telah memberikan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga.
Termasuk cantika keponakan alika begitu antusiasnya ia menyambut sodara barunya.
"Nenek aku pengen main sama Dede bayi nek! " Seru cantika kepada bunda Tiya yang sedang menggendong Dede bayi, karena tak sabaran ingin bermain bersama sang bayi.
"Ya nanti ya nak! dede bayi sedang tidur pulas, nanti kalau Dede bayi bangun baru deh cantika boleh main sama Dede bayi." Jawab nenek diah kepada cantik.
Kemudian bunda Tiya langsung membawa sang bayi kekamar Alika, di ikuti oleh alika yang di minta untuk beristirahat di kamar nya.
Begitu juga Romi yang masih setia mengekor Alika memapah Alika menuju kamar mereka.
Setelah di dalam kamar bunda Tiya menidurkan sang bayi di tempat tidur.
Lalu bunda Tiya bergegas kembali keluar meninggalkan sang bayi setelah merasa aman dengan posisi sang bayi.
Sementara langkah Alika di hentikan oleh nenek sebelum sampai masuk kamarnya.
"Alika tunggu dulu, ayok duduk dulu di sini... kamu pasti haus, nenek sudah membuatkan minuman untuk mu.." Seru nenek, dan membuat alika berbalik dan kembali duduk bersama anggota keluarga.
"Duh nenek memang pengertian sekali kepada ku..." Gumam alika terlihat senang.
Setelah alika duduk, kemudian nenek langsung menyodorkan segelas minuman berwarna kuning
Tanpa bertanya lagi dan tanpa menaruh kecurigaan, karena memang sedang merasa haus, Alika langsung meneguk segelas minuman yang Nene Diah berikan kepadanya.
__ADS_1
Tapi tiba-tiba... apa yang terjadi?