
Semua urusan dan permasalahan perusahaan sudah Romi serahkan semuanya kepada keluarganya.
Romi juga yakin bahwa semua akan segera selesai sesuai rencana mereka.
Dan hari ini memang rencananya Romi dan alika akan pulang ke kota asal alika,
Selepas duhur.
Romi sudah mengeluarkan semua barang bawaan mereka dan memasukkannya kedalam bagasi mobilnya.
Setelah semuanya telah selesai dan waktunya mereka berdua berangkat menuju kota tujuan mereka.
"Ayo honey!" Ajak Romi kepada istrinya, yang sedang duduk di terasa bersama mama Ranti, Kania dan juga Cherry.
Sebenarnya semua enggan di tinggalkan oleh alika dan romi.
Mereka akan sangat kehilangan dengan kepergian alika dan Romi.
Alika masih saja di dekap oleh, Kania Cherry dan juga Mama Ranti, walaupun Romi sudah mengajak alika untuk segera berangkat.
Kemudian mama Ranti berpindah mencekal lengan putranya Romi untuk membujuk nya agar jangan pergi.
"Romi mama mohon nak, pikiran lagi..."
"Maaf mah, ini juga sudah aku pikirkan berasama alika" Seperti bisa Romi tetap kekeuh, apa lagi sekarang ia sudah bersiap berangkat.
Kania dan juga Cherry pun masih bergelayut bersama alika mereka pun tidak ingin di tinggalkan oleh alika.
"Kak Lika,,, aku gak bisa jauh darimu, kamu teman curhatku, kamu pembimbingku, kalau kak Lika gak ada siapa yang bisa aku pinta nasehatnya, siapa yang mau kasih masukan buat aku,,,," Kania mengutarakan rasa kehilangannya jika di tinggalkan oleh alika.
"Kan masih ada mama, sama yang lainnya kamu masih bisa curhat sama mereka gak usah sedih!"
"Tapi kan mama sibuk kak, gak bisa kaya kakak yang kapan pun aku butuh Kakak selalu ada!" Kania malah makin merajuk manja.
"Duh aku dah kayak jasa online aja 24 jam siap melayani " Alika malah menimpali Kania dengan guyonan.
"Kakak.... Aku serius loh" Kania berubah mood menjadi kesal dan sebagainya ingin menangis.
Melihat itu Romi pun merasa kesal " Udah deh jangan pada derama terus kapan ni kita mau berangkatnya kalau kaya gini!"
Alika hanya melihat kepada Mama Ranti, dan Kania.
Cherry pun sedih tapi Cherry tidak terlalu ketergantungan kepada alika sebab sudah punya Kania yang selama ini cukup baik merawatnya.
Kemudian papa Bagas, Andi dan tuan Carlos ikut bergabung bersama mereka untuk melepas keberangkatan Romi dan alika.
Kemudian Romi berbisik di telinga tuan Carlos.
"Tolong tangani Kania,,, ia sangat menyulitkanku, selalu berusaha menghalangi keberangkatan kami" Padahal Romi sengaja ingin tuan Carlos lebih dekat dengan Kania.
__ADS_1
Setelah mendapat bisikan dari Romi, tuan Carlos langsung bergeser ke arah dekat Kania.
Alika tersenyum menyadari ke beradaan tuan Carlos.
"Tuan Carlos, apa kau bisa berjanji kepadaku,,," Tanya alika tiba-tiba.
"Apa itu...?" Tanya Tuan Carlos, sebab ia belum mengerti harus berjanji dalam hal seperti apa.
"Bisakah anda menjaga adikku ini, berjanji untuk selalu membahagiakannya!" Pinta alika.
"Ya tentu saja,,,!" Jawab tuan Carlos meyakinkan.
"Oke,,, saya pegang janjimu tuan Carlos!" Ucap alika, sebenarnya alika sengaja meminta tuan Carlos berjanji di depan semua orang agar Kania merasa yakin kepada tuan Carlos.
Agar Kania tidak perlu merasa takut dengan sikap tuan Carlos, yang pernah membuat Kania kecewa dan sakit hati.
Setah itu Romi dan alika berpamitan kepada semua orang.
Saat akan masuk ke dalam mobil seseorang memanggil alika.
"Alika...!"
Alika langsung berbalik ke arah orang yang memanggil namanya.
"Iya...!" Jawab alika ketika sudah melihat orang tersebut.
Nina mendekat dan kemudian memeluk alika sambil menangis terisak.
"Heeh apa lagi ini!" Gumam Romi yang merasa jenuh dengan adegan sendu.
"Belum selesai juga ni deramanya" Romi bicara penuh sindiran.
Alika menoleh ke arah Romi, sambil memberi kode agar Romi mau memberikannya sedikit waktu untuk berbicara dengan Nina sahabatnya, orang yang selalu memberi alika dukungan, semangat semenjak menginjakkan kakinya di kediaman keluarga Rahardian.
Dan akhirnya Romi hanya bisa mengalah dan pasrah menunggu.
Sementara Nina masih tetap saja menangis.
"Hey,,, udah dong jangan nangis, aku nya kan jadi ikut sedih!" Sebenarnya Alika pun merasa sangat sedih ketika Nina memeluknya.
Sebab Nina orang yang memberi warna kehidupan di kehidupan alika selama di sana dan Nina orang yang memberi Kania kekuatan ketika ia sedang terpuruk karena tingkah orang di sana apa lagi sikap Romi yang dari awal sudah sangat menyakitkan hati alika saat baru mengenalnya.
Ninalah orang yang selalu menghibur alika.
"Hiks,,, hiks,, Lika kamu jahat sekali sama aku, kamu habis manis sepah di buang itu ungkapan yang cocok untuk sikapmu kepada ku....!" Ucap Nina merasa kecewa kepada alika.
"Maafkan aku Nina, tapi bukankah aku sudah berpamitan kepadamu, dan malah aku sengaja menemuimu di kamarmu untuk berpamitan berbicara lebih khususk denganmu!" Alika tidak mengrti mengapa Nina masih berucap seakan menyalahkan alika.
Padahal alika memang telah menemui Nina Husus hanya untuk berpamitan kepadanya.
__ADS_1
"Tapi setidaknya kamu ajak aku ikut bersamamu" Tangis Nina makin pilu
"Oo jadi kamu ingin ikut dengan ku...?" Tanya alika yang sama sama merasa sedih.
Alika berbalik ke arah Romi meminta pendapat Romi mengenai keinginan Nina yang ingin ikut dengan mereka.
Tapi Romi menggelengkan kepalanya memberi isyarat untuk tidak mengajak Nina.
Alika menjadi sangat bingung, padahal dalam hatinya alika ingin sekali mengajak Nina bersamanya.
"Alika...!" Seru Nina dalam tangisnya dengan hanya menundukkan kepalanya membuat alika benar benar merasa tidak tega kepadanya.
"Iya Nina!" Sahut alika
"Kamu tau gak, hidup ku sebatang kara di sini, aku anak yang terbuang, tujuan hidup ku hanya untuk diriku sendiri, kamu tau hidupku sungguh hampa ketika belum mengenalmu, tapi setelah kedatanganmu di sini semua jadi berubah, aku merasa punya sahabat dan saudara, karena kamu sungguh baik kepadaku" Nina mencoba mengungkap jati dirinya.
Tapi Nina belum bisa mengatakan secara terang-terangan siapa sesungguhnya dirinya.
"Nina kamu juga sungguh baik kepadaku..."
"Kalau begitu ajak aku bersamamu...!" Nina sedikit memaksa.
Mendengar ucapan Nina yang terkesan memaksa Romi melirik kepada Andi dan langsung mendapat respon dari Andi dengan membalas lirikkan Romi dan memasang ekspresi wajah seakan bertanya "apa" karena lirikkan Romi pun memberi isyarat kepada Andi agar Andi menangani Nina.
Agar menghentikan deramanya karena Romi dan alika harus segera berangkat.
Andi mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Romi. Lalu Andi menghampiri alika dan Nina.
"Hey Nina,,, tugasmu sekarang menjadi ART peribadiku, mana boleh kamu pergi!" Andi memotong perbincangan sendu alika dan Nina.
"Ini yang tidak aku mau, menjadi ART pribadi mas Andi" gumam Nina menimpali ucapan Andi.
Sebab Nina mempunyai perasaan lebih kepada Andi, Nina takut tidak bisa mengontrol perasaannya. Karena Nina takut terluka dengan perasaannya sendiri.
Sebenarnya Nina ingin mengatakan hal itu kepada alika, tapi semenjak pulang berlibur alika dan Nina belum punya waktu berbicara lebih leluasa sebab kesibukan mereka di tambah Romi dan Kania yang selalu menempel dengan alika menyulitkan Nina untuk menceritakan tentang perasaannya kepada alika.
Andai alika tau apa yang Nina rasakan dan yang Nina takutkan, mungkin alika bisa membantu Nya.
"Kenapa kamu tidak mau menjadi ART peribadiku, aku akan menggajihmu sama dengan yang di berikan kak Romi!" Protes Andi.
"Bukan masalah gaji, tapi kenyamanannya...!" Celetuk Nina.
Semua merasa bingung mendengar penuturan Nina yang mengatakan tentang kenyamanan.
Pasalnya selama ini Nina ATR yang penurut tidak pernah menolak di beri tugas apa pun tapi kali ini mengapa Nina mempermasalahkan kenyamanan.
Sedangkan selama ini Andi selalu bersikap baik kepada semua orang terutama kepada Nina.
"Ada apa dengan Nina...?" Pertanyaan di benak semua orang mencurigai sikap Nina.
__ADS_1