
Kini terjadi perdebatan antara Nina dan Romi, sebab Nina selalu menimpali setiap ucapan Romi.
"Sudah berani ya kamu sekarang sama saya nina, sudah merasa hebat kamu, karena sudah jadi sarjana hukum...!" Ucap Romi kesal karena Nina terus saja menimpali ucapan Romi.
"Eh tuan jangan bawa-bawa sarjana segala, saya hanya ingin membantu Anda dan Alika, jika tuan tidak berkenan tidak usah menyindir saya seperti itu " Jawab Nina, hanya perkara menawarkan diri ingin membawakan mobilnya, harus di sangkut pautkan dengan segala hal pikir Nina kesal.
Itu cukup menyinggung perasaan Nina, " Dasar nasib orang kecil, meskipun punya gelar sarjana tetep saja di rendahkan jika masih jadi ART, tetap saja ART" Batin Nina merasa sedih
Sebenarnya Romi bukan kesal kepada Nina, hanya saja Romi merasa terlalu panik, sampai berbicara sedikit keras kepada Nina.
"Honey kita percayakan saja kepada Nina, biarkan Nina yang membawa mobilnya, aku sudah tidak kuat lagi..." Ucap alika sambil merintis kesakitan.
"Sabar ya honey..." Kemudian jawab Romi menguatkan Alika.
Karena memang tidak ada pilihan lain, akhirnya Romi memberikan kunci mobilnya kepada Nina.
Padahal Nina ingin sekali menolaknya, karena terlanjur di rendahkan oleh Romi.
Tapi Nina tidak mungkin bisa egois, sebab Nina tidak akan tega melihat alika yang merintih kesakitan.
"Tolong Nina, segera kendarai mobilnya, bawa cepat aku ke rumah sakit..." Kali ini alika yang memohon kepada Nina.
dengan sangat terpaksa Nina mengambil kunci mobil yang di sodorkan oleh Romi kepadanya.
Dan Nina segera melajukan mobil itu.
Romi baru menyadari dan percaya bahwa Nina benar-benar bisa mengendarai mobil dengan lihainya.
"Nina aku sungguh tidak menyangka bahwa kamu bisa mengendarai mobil." Ucap Romi.
"Nina maafkan atas sikap saya tadi kepada mu" Sambung Romi menyesali perkataannya.
"Ya, tidak apa-apa tuan, tidak usah meminta maaf kepada saya, kan saya hanya seorang ART mana pantas seorang majikan meminta maaf kepada bawahannya..." Jawab Nina sendu, namun penuh sindiran.
Romi tau hati nina sangat terluka karena ucapannya.
Suasana menjadi begitu canggung.
Tak ada lagi kata dari mereka berempat.
Alika masih terkulai lemas menahan rasa sakit yang datang dan pergi.
Tapi kali ini alika terlihat lebih tenang. meskipun terlihat masih lemas.
nenek hanya fokus dengan kondisi Alika, nenek segera memberikan air minum kepada alika, karena alika banyak sekali mengeluarkan keringat, nenek takut Alika mengalami dehidrasi.
Alika langsung meneguk air minum yang nenek Diah sodorkan kepadanya.
__ADS_1
Setelah minum tiba-tiba rasa sakit itu datang kembali, Alika pun kembali meringis dan merintih.
medusel-duselkan kan wajahnya di ketiak Romi mencari ketenangan dan berharap bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.
Namun tiba-tiba Alika mengigit bagian ketiak Romi. membuat Romi memekik kesakitan "Aaaww..." Pekik Romi.
"Maaf my honey aku tidak Sengaja.." Ucap alika dengan napas yang terengah-engah.
Alika menggigit bibir bawanya, dan berganti menggigit ibu jarinya, untuk menahan rasa sakitnya.
Namun Nina tersenyum sinis ketika mendengar pekikan Romi.
"Hmmm, payah sekali anda tuan, baru segitu saja sudah berteriak kesakitan, lihat Alika yang sedari tadi kesakitan hanya sesekali saja mengeluh tidak berteriak seperti anda." Gumam Nina perlahan tapi semua orang di dalam mobil bisa mendengar nya.
"Eeh Nina aku masih bisa mendengarnya ya...!" Seru Romi.
"Emang sengaja...!" Jawab Nina seakan menantang Romi.
Tapi Romi memilih untuk tidak mempedulikan celotehan Nina dan tetap fokus ke pada alika.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja akhirnya mereka sampai di rumah sakit.
Dokter Tasya dan tim medis yang akan menangani persalinan Alika sudah standby menunggu kedatangan mereka, lalu segera membawa alika keruangan persalinan yang telah Tasya persiapkan sesuai dengan permintaan dari Romi.
Gani, dan yang lainnya pun ternyata sudah ada di sana.
"Nak, yang kuat ya .." Ucap bunda Tiya memberi dukungan kepada alika.
Alika hanya mengangguk tak menjawab.
"Dek, kami mendoakan mu, semangat ya dek...!" Gani pun ikut memberi dukungan.
Semtara Alif hanya mengelus-elus bahu Alika sebagai isyarat bawah ia pun memberi dukungan kepada alika.
Setibanya di ruang persalinan, dokter kandungan Alika langsung melakukan tindakan yang seharusnya ia lakukan.
Tapi ketika dokter meminta Alika untuk membuka CD nya Alika bersikeras menolak nya.
"Apa-apa in, kalian mau melakukan pelecehan terhadap ku.." Ucap alika menolak untuk membuka CD-nya.
"Maaf nona, memang harus seperti ini, sebab jalan keluar sang bayi memang ada di sana...!" Ucap perawat.
"Honey turuti saja apa yang mereka instruksikan, sebab mereka lebih tau apa yang harus mereka lakukan untuk memberi tindakan kepada mu dan bayi kita." Ucap Romi kepada alika agar mau menuruti apa yang di minta oleh tim medis.
"Tapi aku malu my honey,,, Selama ini kan hanya dirimu yang melihat bentuk nya seperti apa, masa sekarang harus banyak orang yang tau dan melihat nya..." Ucap alika masih bisa protes.
Dokter kandungan dan para perawat tersenyum mendengar ucapan alika.
__ADS_1
"Tenang nona, kami sudah biasa melihat hal ini, sudah tidak aneh lagi bagi kami melakukan hal seperti ini nona!" Ucap dokter sembari terkekeh sebab merasa lucu dengan apa yang alika ucapkan.
Tidak ada yang bisa membujuk alika kecuali nenek Diah, dan akhirnya Romi pun memanggil nenek Diah untuk masuk, agar membujuk alika.
Nenek diah masuk lalu memukul lengan Alika, " Kenapa masih keras kepala di situasi seperti ini." Ucap nenek Diah kesal karena sudah tau betul sipat pembangkang Alika.
nenek langsung menarik kaki alika, lalu mengangkang kan kaki alika menyibahkan baju daster yang alika kenakan.
Alika sempat memberontak dengan tindakan nenek Diah.
"Nenek jangan lakukan ini nenek...." Teriak Alika karena Mesa malu dengan apa yang di lakukan oleh neneknya.
"Gunting!" perintah nenek Diah kepada salah satu perawat, agar menggunting CD yang alika kenakan.
mendengar ucapan nenek Diah yang menyuruh perawatan untuk menggunting.
Alika berteriak histeris, "AA.... ww... nenek jangan lakukan ini kepada ku nek! " Teriak Alika ketakutan, sebab ia pikir vagi**na nya yang akan di gunting.
"M'y honey tolong aku! kamu jangan diam saja lakukan sesuatu, sebab Surga Duni mu akan mereka robek..." Sambung Alika kepada Romi.
Sesungguhnya Romi tidak tega kepada alika, tapi Romi tidak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan istrinya. Romi lebih mempercayai tim medis dan nenek diah yang lebih paham akan hal tersebut.
"Sabar honey! kamu pasti bisa melewati hal ini, Aku percaya kamu wanita kuat." Ucap Romi berusaha menenangkan alika.
Dan ketika gunting sudah terasa menyentuh bagian vagi*nya alika, ia benar-benar histeris...
"Ayah, Bunda tolong aku... mereka semua jahat kepada ku, awas ya kau my honey jika ingin meminta kenikmatan dari ku, aku ingin kau merasakan si Otong mu pun merasakan juga bagaimana rasanya di gunting seperti ku..." Teriak histeris Alika.
Dan Romi merasa ketar ketir mendengarnya. sebab romi pun ikut merasa kan apa yang akan di rasakan oleh istrinya.
Lalu Romi malah ikut memohon kepada nenek dan tim medis untuk jangan melakukan hal itu.
"Aku mohon jangan lakukan itu, kasihan istri ku berbelas kasih lah ku mohon.." Romi ikut memelas kepada semuanya dengan maksud untuk m
Dokter dan para perawat hanya tersenyum melihat kekonyolan suami istri tersebut.
Semtara nenek Diah merasa sangat geram kepada keduanya.
"Dasar pasangan sableng lalu kalian mau bagaimana hah...!" Pekik nenek Diah kesal.
"Kamu lagi nak Romi malah ikut-ikutan, bukannya berdoa mendoakan keselamatan istri dan bayi mu." Sambung nenek Diah.
Lalu nenek Diah menginstruksi kepada tim medis untuk segera melakukan menggunting CD alika.
Kemudian Romi mendekatkan wajahnya ke wajah alika untuk agar alika tidak merasa ketakutan.
Dan ketika mereka sudah melakukan nya, Alika hanya bisa cengo menyadarinya.
__ADS_1
"Hah... apa, jadi, nek!" Seru alika keheranan ketika menyadari bukan Vagi* na nya yang di gunting melainkan CD-nya ternyata.