
Namun tidak di sangka, seketika itu Fitri bangunan dengan beringasnya dan mencekal leher Bu sari dengan kedua tangannya.
Bu sari begitu syok mendapat penyerangan lagi dari Fitri.
Bu sari Terengah-engah gerakannya di kunci oleh Fitri sehingga ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain pasaran kepada yang maha kuasa.
.....
Kini napas Bu sari sudah terengah-engah, matanya sudah mengeluarkan air mata.
Sementara Fitri tertawa terbahak-bahak melihat apa yang telah ia lakukan.
Tapi untungnya ada seseorang yang datang dan segera menyelamatkan Bu sari, melepaskan Bu sari dari cengkeraman Fitri.
Bu sari sampai terbatuk-batuk "Uhuk, uhuk, uhuk..." Setelah terlepas dari cengkraman Fitri.
"Terimakasih nona Tasya, den gani" Ucap Bu sari berterimakasih kepada orang yang telah menolongnya.
Ya, orang yang datang tepat waktu itu adalah Tasya dan Gani. mereka datang kesana atas permintaan dari Romi, agar mereka membantu Bu sari, dan memastikan Bu sari baik-baik saja, dan untungnya mereka datang tepat waktu.
" Dokter Tasya, bawa Bu sari keluar" perintah Gani agar Bu sari lebih aman sementara dirinya menangani Fitri melumpuhkan pergerakannya.
Sebab Fitri masih saja beringas ingin menyerang siapa saja yang mendekatinya.
Tasya segera membawa Bu sari keluar dari kamar, mengikuti perintah dari Gani.
Setelah merasa aman Bu sari menangis tersedu di pelukan Tasya "Terimakasih nona..." Ucap Bu sari kembali berterimakasih karena mereka ( Gani dan Tasya) telah menyelamatkan nyawanya.
"Tidak usah berterimakasih Bu, itu sudah keharusan bagi setiap orang untuk menolong sesamanya..." Jawab Tasya.
"Bu kami datang ke mari atas permintaan dari kak Romi, beliau ingin memastikan keadaan Bu sari, tapi kak Romi sendiri tidak bisa datang langsung ke mari, sebab kondisi alika pun sangat mengkhawatirkan" Tasya menerangkan.
Bu sari merasa terharu, ternyata Romi masih mengkhawatirkan kondisinya.
"Lalu bagaimana kondisi nona alika saat ini?" Tanya Bu sari. sebab itu juga salah satu kekhawatiran Bu sari sedari tadi.
__ADS_1
"Ya Bu kondisi alika cukup parah, dokter sampai harus menyarankan untuk dilakukannya tindakan pengangkatan janin!" Tasya menjelaskan kondisi alika.
"Apa! lalu sekarang bagaimana kondisi nona alika...?" Bu sari memikirkan pasti Romi sangat sedih akan hal itu.
Tasya kembali menjawab pertanyaan Bu sari "Alika menolak melakukan tindakan yang di sarankan oleh dokter, ia ingin tetap mempertahankan kandungannya, apa pun resikonya, meski pun ia harus menahan rasa sakit yang luar biasa hebatnya"
"Astaga,,, nona alika...!" Gumam Bu sari tidak tega, dan merasa sangat bersalah, sebab ialah penyebabnya, Bu sari yang meminta Alika untuk datang membantunya.
Namun pada kenyataannya alika harus mengalami hal seperti itu.
Tak lama gani keluar dari kamar dan memberi tau bu sari bahwa ia telah mengikat fitri.
Gani pun meminta maaf kepada bu sari "Maafkan saya bu, saya terpaksa melakukan hal itu sebab tida ada cara lain untuk melumpuhkan kebringasaan fitri" Ucap gani karena merasa tidak enak hati kepada bu sari.
Bu sari pun mengerti dengan tindakan gani.
Kemudian bu sari menghampiri putrinya, sebab sekarang fitri sudah bisa di kendalikan karen kaki dan tangannya telah di ikat.
Bu sari memeluk putrinya lalu menangis pilu "Nak maafkan ibu, karen ibu kau jadi seprti ini!" Sesal bu sari.
"Kamu tidak boleh berbicara seprti itu nak, kamu pasti sembuh maka dari itu kamu harus mendapatkan perawatan khusus untuk proses penyembuhan mu, ibu akan melakukan apa pun untuk kesembuhan mu" Ucap bu sari.
"Coba kamu ceritakan apa yang membuat mu seprti ini nak!" Bu sarri ingin Fitri menceritakan apa yang membuat emosinya meledak-ledak.
"Aku mencintai tuan romi bu, tapi dia selalu menolak ku bu..." Fitri berbicara jujur, dengan nada penuh kegetiran
Mendengar itu bu sari sungguh sangat terkejut, tak menyangka jika Fitri mencintai tuannya, yang sudah bu sari anggap seperti putranya sendiri.
"Tapi itu tidak akan mungkin terjadi Fitri, sebab tuan romi sudah memiliki istri, dan ia sangat mencintai istrinya" Bu sari memberi pengertian kepada putrinya.
"Bu aku sudah menyatakan cinta kepada tuan romi, jauh sebelum tuan romi menikah bu! Bahkan aku rela menyerahkan kesucian ku saat itu kepadanya..." Fitri menceritakan peristiwa yang membuat romi sangat menghindarinya.
"Apa!" pekik bu sari, ketika mendengar penuturan putri nya.
" Ya tuhan pantas saja selama ini tuan romi sangat menghindari bertemu dengan fitri, ternyata ini kah alasan nya!" Batin bu sari sungguh tak menduganya.
__ADS_1
Kemudian ucap fitri kepada ibunya,
"Ibu, tapi tolong bu! buka ikatan di kaki, dan di tangan ku, ini sakit sekali bu!" Fitri memelas kepada ibunya, membuat bu sari makin tak tega kepadanya.
Tapi bu sari ragu untuk melepaskannya, namun fitri terus saja merengek memohon kepada ibunya, membuat bu sari benar-benar merasa tidak tega kepadanya, dan berniat untuk melepaskannya.
Namun ketika itu juga gani, tasya dan petugas dari rumah sakit jiwa masuk menghampiri bu sari, dan fitri.
Sontak mereka terkejut dengan apa yang akan di lakukan oleh bu sari otomatis mereka semua mencegah tindakan bu sari.
"Hentikan bu sari.. Apa yang akan anda lakukan" Pekik gani terkejut melihatnya.
"Maafkan saya den gani, fitri merintih kesakitan saya tida tega melihatnya" bu sari memberi kan alasannya.
"Ya kami mengerti apa yang ibu rasakan, tapi ini untuk kebaikan kita semua, sebab fitri sudah sangat brutal, membahayakan keselamatan orang lain, ia bisa ngancam atau melenyapkan nyawa seseorang" Tasya memberi pengertian kepada Bu sari.
Untungnya tak Lama petugas dari rumah sakit jiwa segera datang saat itu untuk membawa Fitri, sesuai perintah dari romi.
Kemudian petugas segera membawa Fitri, namun Fitri bisa melepaskan diri, sebab bu sari sudah berhasil mengendurkan ikatan di kaki fitri.
Fitri kembali brutal dan menyerang para petugas. Gani menarik tasya dan bu sari keluar untuk mengamankan mereka berdua
Fitri kembali histeris ketika para petugas mulai mendekatinya.
"Brengsek kalian semua, bu sari... kau ingin membuang ku, lihat bu sari aku akan membalas mu!" Pekik Fitri
Sementara bu sari menangis menyesali perbuatannya, sebab karenanya pitri bisa terlepas dari ikatan yang telah gani ikatkan dengan kuat.
Karen bu sari merasa tidak tega kepada putrinya yang terus merintih kesakitan dan minta di lepaskan.
Bu sari pikir fitri tidak akan memberontak lagi sebab ia sudah bisa di ajak berbicara dengan baik.
Karen fitri terus saja melawan ban memberontak dengan tenaga yang luar biasa kuatnya, membuat dua petugas dari rumah sakit jiwa merasa kewalahan.
Dan akhirnya salah satu dari petugas menyuntikan obat penenang kepada fitri untuk melumpuhkannya.
__ADS_1