
DI pagi hari, alika telah rapih, telah mandi dan berpakaian, juga sarapan tentu saja romi yang membantunya.
Kini waktunya romi pergi untuk menemui fitri, seperti yang telah romi dan alika bicarakan semalam.
"honey aku pamit ya, aku akan menjemput bu sari dulu di villa" romi meminta izin kepada istrinya
Alika menganggukkan kepalanya, tanpa banyak berkata lagi sebab telah mereka bicarakan semuanya sebelum nya.
Padahal di hati kecil alika enggan sekali di tinggalkan oleh romi.
Padahal romi sudah meminta izin kepada alika, dan alika telah mengizinkan nya tapi mengapa romi berat sekali rasanya untuk meninggalkan alika.
sebab romi tetep duduk di samping alika, alika sendiri bingung melihat tingkah romi.
"m'y honey ayo pergi, kenapa dirimu masih tetap duduk di sini." Ucap alika
"Aku tida tega untuk meninggalkan mu." Kemudian ucap romi.
"Ayo lah cepat pergi sana, agar kau cepat kembali, aku tida apa-apa kok ada nenek , bunda dan yang lainnya yang menjaga ku kamu tida usah khawatirku m'y honey." Ucap alika menyakinkan romi.
"Sesungguhnya aku malas sekali harus menemuinya, tapi aku tidak enak hati kepada bu sari jika menolaknya." Romi malas sekali untuk pergi.
Tapi alika terus saja membujuknya karena alika pun merasa kasihan kepada bu sari, sebab alika yakin bu sari pasti sangat berharap kepada romi, Jika romi tida memenuhi permintaan nya pasti bu sari akan merasa sangat kecewa.
"Ayo lah! m'y honey bunny sweety, kasihan bu sari menunggu mu."
Karena alika terus saja memaksa akhirnya Romi mengiyakan, "Oke, oke aku pergi sekarang." Ucap Romi sambil bangunan dari duduknya.
"Tapi ingat ya kamu harus jaga kesehatanmu, kondisimu." Romi mengingatkan alika agar jangan ceroboh dalan bergerak atau bertindak.
"Iya m'y honey... Kamu juga hati-hati dan cepat kembali."Jawab alika.
Tapi nenek diah mendengar semu pembicaraan Alika dan Romi, kemudian nenek diah menghentikan langah Romi.
"Maaf nak romi kalau nenek boleh tau kamu mau kemana?" Tanya nenek diah.
Seketika itu Romi langsung menghentikan langkah nya, lalu berbalik ke arah nenek diah.
"Bu sari meminta ku untuk menemui fitri di rumah sakit jiwa nek! tapi sesungguhnya aku merasa enggan sekali untuk melakukan hal itu, hanya saja aku tida enak hati untuk menolak permintaan bu sari."Jawab Romi panjang lebar menjelaskan.
__ADS_1
Nenek pun mengerti dengan apa yang Romi utarakan kepadanya.
Lalu nenek berkata, "Apa nenek boleh ikut nenek juga ingin menjenguknya." Ucap nenek ingin menemani Romi untuk menunjukan rasa keperdulian nya kepada bu sari.
Romi sungguh senang mendengar penuturan dari nenek diah, "Nenek beneran mau ikut sama aku nek!" Seru Romi.
Nenek menganggukkan kepala sambil berucap, "Ya, nenek ingin ikut menjenguk fitri." Nenek meyakinkan ucapannya
"Apa tida merepotkan mu nek?" Tanya Romi kembali.
" Tentu saja tidak" Jawab Nenek diah dengan yakin.
"Oke kalau begitu, apa bisa kita berangkat sekarang." Ucap Romi merasa ada pendamping.
"Oke siap takut!" Seru Nenek diah sebab iya pun telah siap untuk pergi.
Alika hanya tersenyum melihat suami dan neneknya.
Sesungguhnya alika pun merasa lega sebab nenek diah bisa di perca bisa menangani sesuatu yang tida di inginkan jika fitri kembali brutal seperti sebelumnya.
.
.
.
Karen yang di tunggu pun sudah datang, tak menunggu waktu lama lagi mereka semua langsung berangkat menuju tempat tujuan.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung menuju ke ruangan di mana fitri di rawat,dengan bu sari yang menunjukan arahnya.
Ketika pintu ruangan di buka alangkah terkejutnya merek melihat kondisi fitri yang sangat memperihatinkan, dengan tubuh yang sangat kurus, terbaring lemah tak berdaya.
Berbeda jauh drastis dengan keadaan fitri sebelum di bawa ke rumah sakit jiwa.
Tubuhnya banyak di pasangi alat-alat rumah sakit selang infus, oksigen, dan beberapa alat lainnya untuk menunjang tindakan medis yang di berikan kepada fitri.
Kania enggan masuk mendekat kepada fitri, sebab terlalu ekstrim menurut Kania melihat kondisi fitri yang seperti itu.
Sementara yang lain masuk dan menghampiri fitri mencoba berinteraksi dengannya, tapi tidak mendapat respon sama sekali dari fitri, iya seperti sudah kehilangan kesadarannya.
__ADS_1
Tapi terlihat jelas bibirnya bergerak berusaha menyebutkan satu nama yaitu nama Romi, memang sedari awal hanya nama Romi yang fitri sebutkan.
Romi hanya mematung di belakang orang-orang, kemudian bu sari memahami apa yang di inginkan oleh fitri, sehingga bu sari menarik lengan romi untuk mendekat kepada fitri.
"fitri, nak lihat siapa yang datang menemui mu, bukan hanya keluarga tuan romi yang datang tapi tuan Romi sendiri juga datang ke mari untuk menemuimu." Ucap bu sari
Mendengar ucapan ibu nya Fitri langsung bereaksi lebih sering dan lebih kerasa menyebutkan nama romi.
Sehingga bu sari meminta romi untuk menyentuh telapak tangan fitri.
Tentu saja Romi menolak nya, tapi busari terus memohon dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan menaruh nya di dadanya, bu sar melakukan gerakan memohon.
Dengan wajah yang terus saja memelas, membuat romi tida tega melihatnya. Dan dengan terpaksa Romi melakukan apa yang di minta oleh bu sari.
Dengan ragu dan perlahan romi mulai menyentuh telapak tangan fitri .
Dan fitri langsung bereaksi menggenggam tangan romi meskipun tanpa tenaga hanya secara perlahan,
Sepertinya fitri bisa merasakan sentuhan Romi, dengan mata yang terpejam, fitri menangis sebab air mata terlihat mengalir deras dari sudut matanya, bibir nya terlihat mengulum senyum. memberi isyarat bahwa ia merasa sangat terharu dengan kedatangan romi yang telah sudi menemuinya,
Tak lama romi pun langsung menarik tangannya kembali, entah mengapa ketika menyentuh telapak tangan fitri, hati romi terasa sangat sakit, sebab Romi teringat akan Alika.
Karen tangan fitri lah alika mengalami cedera mereka hampir kehilangan bayi merek.
Tapi melihat kondisi fitri romi juga merasa perihatin dan merasa tidak tega melihatnya, romi juga teringat perasaan bu sari pasti merasa sedih melihat keadaan putrinya seperti itu
Setelah itu romi langsung keluar menemui kania yang menunggu di luar.
" Kenap kak, kok sepertinya kakak tidak baik-baik saja, apa ada yang terjadi?" Tanya kania merasa curiga ketika melihat ekspresi Romi yang terlihat tegang.
"Entahlah kania, aku bingung harus bersikap septi apa, dan harus bagaimana!" Ucap Romi dalam kebingungan.
Kania mengerutkan keningnya merasa tak mengerti dengan ucapan kakaknya.
Tapi kemudian Romi meneruskan ucapannya "Aku sangat membencinya, tapi aku jug tida tega melihatnya apa lagi melihat ibunya aku sungguh merasa bersalah semua ini karena aku" sambung Romi
Setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh romi kania pun mengerti perasaan apa yang di rasakan oleh romi.
"Tapi ini semua bukan salah mu kak ini takdir bu sari dan juga fitri, kak romi tida usah menyalahkan diri kakak sendiri." Ucap kania mencoba menenangkan kakaknya.
__ADS_1
Lalu tak lama andi dan tuan carlos pun ikut keluar dari ruangan menyusul Romi.
Ekspresi wajah mereka pun sama seperti romi ketika romi keluar dari ruangan yang sama dengan mereka.