
Hari ini adalah hari di tentukan keluarnya hasil visum.
Fitri bersama fihak-fihak yang terkait hadir untuk mengetahui hasil visum tersebut.
Dokter menjelaskan, bahwa di bagian ****** Fitri tida ada kerusakan selaput keperawatan, dan tidak terdapat ******, dengan begitu Fitri masih suci Atau keperawatan nya masih terjaga.
Namun di tubuh Fitri terdapat beberapa luka memar, dan luka cakaran yang di sebabkan oleh tindakan kekerasa yang di lakukan oleh Robert.
Dengan demikian Robert tetap di nyatakan bersalah karena telah melakukan tindakan pelecehan.
Robert di tuntut sesuai hukum yang berlaku sesuai Kaskus tersebut.
...
Fitri dan semua orang yang perduli dengan Fitri merasa lega, karena Fitri telah mendapatkan keadilan.
Terlebih dengan Faisal, ia merasa lega karena ternyata kesucian Fitri masih terjaga, meskipun awalnya Faisal tidak mempermasalahkan hal itu.
Fitri benar-benar berterimakasih kepada semua keluarga Romi dan Alika yang selalu membantunya, memberi dukungan kepadanya.
Terlebih kepada Alika dan Romi beserta Faisal.
"Terimakasih kepada kalian semua, atas bantuan dan dukungannya." Fitri menangis haru, lalu memeluk satu persatu orang-orang yang tengah bersamanya.
...
Ketika di villa semua berkumpul mengadakan acara syukuran Atas kasus yang di alami Fitri kini telah selesai.
Tapi hanya sekedar acara makan bersama antara keluarga.
Di tengah-tengah Acara, Romi bertanya kepada Faisal, "Kapan rencana mu akan menikahi Fitri?"
"Aku sih ingin secepatnya tuan!" Jawab Faisal.
"Lalu kapan?" Romi meminta kepastian dari jawaban Faisal.
"Bagaimana kalau besok, cukup pergi ke KUA saja." Jawaban Faisal.
Sontak membuat semua orang yang mendengarnya kaget.
"Besok!" Seru mereka semua.
"Apa tidak terlalu mendadak?" Tanya Alika.
"Ya gak usah besok juga kali!" Fitri menimpali.
"Wiih Faisal kayanya udah ngebet banget pengen cepat belah duren!" Sindiran Andi mengundang gelak tawa semua yang mendengarnya.
Faisal sendiri tersenyum simpul karena merasa malu.
Kebetulan Gani dan Tasya sedang melakukan persiapan pernikahan mereka yang akan di gelar dalam waktu dekat.
Kemudian Gani menyarankan bagaimana jika pernikahan Fitri dan Faisal di laksanakan bersama mereka ( Gani dan Tasya).
"Ya kalau kita sih setuju saja, tidak tau bagaimana dengan calon pengantinnya (Faisal dan Fitri)." Ucap Romi menimpali ucap saran dari Gani.
"Aku ikut aja bagaimana baiknya menurut kalian." Faisal pun setuju.
Fitri hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia pun setuju.
__ADS_1
"Oke, jika begitu berarti nanti akan ada dua pasangan pengantin ya." Seru Romi menegaskan.
Semua orang pun setuju dengan keputusan yang telah di tetapkan.
Romi dan Alika ikut mendukung persiapan pernikahan itu secara moral dan materil, agar lancar Acara pernikahan dua pasangan pengantin tersebut.
Dan sampai lah pada saat hari yang telah di tetapkan, yaitu hari pernikahan Gani dan Tasya, Serta pernikahan Faisal dan Fitri.
Dua pengantin wanita telah di mekeup dengan begitu cantiknya, Tasya dan Fitri telah siap dengan mengenakan kebaya moderen bernuansa putih-putih di padu padankan dengan mekeup natural, yang terlihat memberi kesan sederhana namun elegan begitu cantik mempesona.
Ketika mereka digiring keluar menuju tempat acara akad, semua tamu terpana melihat penampilan dua calon mempelai wanita.
Terlebih dua calon prianya yang telah siap menunggu untuk melakukan ijab qobul, mereka berdua (Gani dan Faisal) seakan sulit mengedipkan mata saking terpesonanya melihat calon mempelai wanita mereka masing-masing.
Melihat suasana yang seakan terhipnotis oleh pesona kedua pengantin wanita, Romi malah merangkul pinggang Alika yang sudah makin melar karena kehamilannya.
Alika langsung tersadar dengan kelakuan suaminya.
Lalu berbisik, "Kamu kenapa m'y honey?" bisik Alika di telinga suaminya yang memang berada tepat di sampainya.
"Bagi ku, tidak ada wanita tercantik dan sempurna di dunia ini selain dari mu honey." Jawab Romi.
"Apa lagi sekarang kamu makin seksi aja, membuat ku semakin tergila-gila kepada mu, aku tak sanggup sedetik pun tidak memikirkan mu, di hati ku hanya ada dirimu dan tentang mu." Romi malah mencurahkan perasaannya.
Membuat Alika tersenyum simpul dan wajahnya pun bersemu merah.
"Kamu apa sih! malah menggombal." Alika menyangga gombalan suaminya.
"Eeh ini bukan gombalan tapi ini kenyataan honey." Romi meyakinkan Alika.
"M'y honey mana ada wanita hamil itu terlihat seksi, yang di ada tuh kaya..." Ucap Alika terpotong.
"Tidak perduli pandangan orang, pendapat orang, yang jelas kamu segalanya bagiku apa yang ada di dirimu menjadi kebanggaan bagiku." Romi memotong perkataan Alika dengan ucapannya.
"Terimakasih m'y honey, begitu pun diri mu selalu menjadi kebanggaan bagiku." Alika membalas ucapan suaminya.
Romi makin kuat merangkul pinggang Alika dari sampingnya, membuat mereka makin menempel, Alika pun menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, sambil menyaksikan proses demi proses upacara pernikahan di gelar, sampai selesai.
Kini Gani dan Tasya, Faisal dan Fitri, telah resmi menjadi pasangan suami istri.
...
Beberapa bulan berlalu kehidupan mereka berjalan normal, mereka semua terlihat sangat bahagia dengan kehidupan mereka masing-masing.
Dan kehamilan Alika kini sudah menginjak sembilan bulan usia kandungannya.
Namun di kehamilan kedua ini Alika lebih santai dan tenang menjalani dan menghadapinya, meskipun kehamilan kedua ini Alika lebih parah mengalami masa ngidam yang sulit untuk makan karena kehilangan nafsu makannya.
Membuat tubuh Alika lemas dan sulit untuk beraktivitas, tapi meskipun begitu, Alika selalu memberikan perhatian kepada suami dan anaknya.
Di kehamilan Alika yang kedua ini malah Romi yang terlihat lebih overprotektif, Ia yang sering merasa cemas dengan kondisi Alika, bahkan ia akan menghubungi Alika tiap waktu jika sedang bekerja, hanya untuk menanyakan keadaan Alika, dan mengingatkan Alika, Agar melakukan semua hal yang harus Alika lakukan untuk kesehatan dan keselamatannya.
Ya, Alika merasa senang dengan semua itu, tapi tidak jarang Alika pun merasa jengah dengan sikap overprotektif Romi, karena kadang itu sangat merepotkan dan membosankan bagi Alika, ketika ia sedang tertidur, harus bangun dan menjawab panggil telepon dari suaminya, yang harus mengatakan hal yang sama setelah menghubunginya setelah jam sebenarnya.
Jika Alika tidak menjawab panggilannya atau mematikan handphonenya, Romi akan pulang hanya untuk memastikan keadaan Alika baik-baik saja, dan akan meracau memarahi Alika karena telah membuatnya cemas.
Tapi Alika tidak pernah membalas jika Romi sedang begitu, Alika selalu mengalah menerima salah dan meminta maaf, agar emosi suaminya mereda.
Ya, cara Alika selalu berhasil karena setelahnya dengan sekejap amarah Romi kembali mereda.
__ADS_1
Alika sadar betul jika itu bentuk perhatian dari suaminya, dan mungkin itu bawaan bayi yang terjadi pada Romi sebagai ayahnya.
Sampai di tengah malam, Alika terlihat gelisah tidak bisa tidur, bulak balik ke kamar mandi, entah buang air besar atau buang air kecil.
Romi menyadari tingkah aneh Alika malam ini.
Romi langsung peka dan merasa curiga, "Honey apa terjadi kontraksi?"
"Enggak kok, belum terlalu m'y honey." Jawab Alika.
Karena mules yang Alika rasakan memang kadang datang dan pergi.
Alika memang sengaja tidak memberi tau Romi, karena tidak ingin membuat panik suaminya.
Karena sudah pasti Romi akan panik dan tidak sabaran.
"Honey, kalau kamu merasakan kontraksi jangan diam saja, bilang sama aku, kita harus segera pergi ke rumah sakit." Ucap Romi persis seperti dugaan Alika.
"Kamu apa maksudnya mendiamkan hal ini, ini bisa bahaya menyangkut keselamatan mu dan bayi kita." Romi makin panik.
"Aku masih bisa menahannya m'y honey." Jawab Alika.
"Honey kamu tuh mau melahirkan, mana bisa di tahan, ini harus segera di tangani." Ucap Romi penuh emosi.
"Suuut..." Alika berusaha menenangkan suaminya dengan menaruh jari telunjuk di bibirnya.
"Jangan Rewel! kasih dukungan buat aku doakan yang baik-baik saja buat aku dan bayi kita."Kemudian ucap Alika.
Seketika itu Romi diam, tapi dalam hati nya Romi terus berdoa untuk kemudahan, kelancaran, dan keselamatan persalinan istrinya.
Dan ketika Romi melihat Alika terlihat sudah pucat mulai bercucuran keringat dingin Tanpa bertanya lagi Romi langsung membopong tubuh Alika.
Lalu membawanya ke rumah sakit, di temani Nenek Diah dan bunda tiya yang sengaja tinggal bersama Alika dan Romi.
Untuk menyambut persalinan Alika.
Romi sudah menghubungi nenek Diah dan bunda tiya sebelumnya, sehingga saat Romi membawa Alika untuk di bawa ke rumah sakit, Nenek Diah dan Bunda tiya sudah bersiap dan langsung ikut dengan Romi dan Alika.
Padahal di rumah itu, ada keluarga lain yang sengaja menginap atau tinggal di sana untuk menyambut hal itu, waktu yang ditunggu-tunggu.
Sesampainya di rumah sakit Alika langsung di bawa keruang persalinan.
Dengan Romi yang selalu setia mendampinginya, karena ini bukan pengalaman yang pertama bagi Alika, kini ia sudah tau prosesnya seperti apa dan harus bagaimana sehingga Alika terlihat lebih tenang meskipun menahan rasa sakit.
Beda dengan Romi yang terlihat panik dan gelisah bahkan Romi terlihat berkali-kali menitikkan air mata Dengan terus berdoa.
Romi sangat khawatir dan tidak tega melihat Alika menahan rasa sakitnya, yang kadang merintih dan meringis kesakitan.
Dan setelah beberapa waktu Alika berjuang menaruhkan nyawanya mengeluarkan seluruh tenaganya di bantu para ahli medis dan doa dari Romi, bunda tiya dan nenek Diah, kemudian terdengar suara tangisan sang bayi yang menandakan Alika telah berhasil mengeluarkan bayinya.
Tapi bunda tiya dan Nenek Diah belum merasa tenang, karena belum tau kondisi mereka yang sebenarnya, mereka yang menunggu di luar ruangan persalinan masih merasa cemas takut terjadi sesuatu hal buruk kepada Alika dan bayinya.
"Eaak,,, eaak,,, eaak..." Suara tangisan bayi Alika yang baru lahir.
Alika terlihat lemas dan bermandikan keringat setelah berjuang menahan segala rasa.
"Alhamdulillah honey bayi kita sudah lahir, honey apa kamu tidak apa-apa" bisik Romi di telinga Alika, karena Romi sangat mengkhawatirkan Kondisi Alika.
Alika berusaha terlihat baik-baik saja dengan tersenyum kepada suaminya.
__ADS_1
Ia masih merasa lemas dengan nafas yang tersengal-sengal
"Hah... hah..." Alika belum sanggup berkata-kata.