
Malam sebentar lagi berlalu dan waktu subuh akan tiba.
Setelah lama berbincang tuan Carlos pamit untuk pergi ke kamar. Setelah mengutarakan semuanya kepada Kania.
Sedangkan Kania hanya duduk mematung sambil menundukkan kepalanya.
Tuan Carlos bangkit dari duduknya dan mengusap atau mengelupas rambut Kania.
Membuat hati Kania terenyuh akan sikap tuan Carlos.
Setelah beberapa langkah tuan Carlos menjauh meninggalkan Kania, tapi Kania memanggil tuan Carlos untuk menghentikan langkahnya.
"Tuan Carlos...!" Seru kania menghentikan langkah tuan Carlos.
Dan seketika itu tuan Carlos menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah Kania.
Kania pun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menghampiri tuan Carlos.
Lalu mengalungkan tangannya di leher tuan Carlos, dan meminta tuan Carlos menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.
Tuan Carlos menautkan kedua alisnya menunjukkan ekspresi wajah tak yakin dengan apa yang di inginkan Kania.
"Apa...!" Tuan Carlos ingin mendengar kembali ucapan Kania untuk meyakinkan Indra pendengarannya.
"A-aku i-ingin anda me-melakukan-nya se-sekarang...!" Ucap Kania terbata-bata dan tertunduk.
Sebab jauh di lerung hatinya ia sungguh sangat merasa malu harus mengutarakan hal tersebut.
Tuan Carlos mengembangkan senyumnya, ketika mendengar ucapan Kania. Sebenarnya tuan Carlos merasa tidak tega melihat Kania seperti itu.
Kemudian tuan Carlos mendongakkan wajah Kania dengan memegangi dagu Kania agar tuan Carlos bisa melihat jelas wajah Kania,
Yang memerah menahan rasa malunya.
"Tatap mataku,,, agar aku bisa yakin dengan apa yang barusan kau katakan" Tuan Carlos masih belum yakin dengan keinginan Kania.
Dengan hati yang bergemuruh tak menentu, Kania mengikuti apa yang tuan Carlos katakan, ia menatap mata tuan Carlos lalu menganggukkan kepalanya perlahan, sebagai isyarat bahwa ia telah siap menyerahkan kesuciannya kepada tuan Carlos.
Tuan Carlos mendekatkan wajahnya ke wajah Kania, dan memang tidak ada perlawanan sama sekali dari Kania,
Tuan Carlos mengecup sekilas bibir Kania, tetapi tidak ada perlawanan sama sekali dari Kania. Tuan Carlos kembali mengecup lembut dan lebih lama, lalu mencium seluruh wajah Kania dengan lembut, dan terlihat Kania menikmati apa yang tuan Carlos lakukan kepadanya.
__ADS_1
Membuat tuan Carlos makin bersemangat untuk melakukan hal yang memang sudah seharusnya mereka berdua lakukan sebagai pasangan suami istri, dan tuan Carlos tak menyia-nyiakan kesempatan itu, karena itu sudah kewajiban dari keduanya.
Tuan Carlos mengendong Kania , dan membawa tubuh Kania ke kamarnya, lalu memuai aksinya di sana. Menjebol gawang pertahanan Kania.
Dan kini kania telah menjadi milik tuan Carlos seutuhnya.
" Thank you darling..." Ucap Tuan Carlos berbisik di telinga Kania, sesaat setelah keduanya telah mencapai puncak kenik* matan* nya.
Dengan tubuh penuh peluh, sisa sisa aktivitas yang meng * gairah **kan, dengan wajah memerah, menahan rasa malu Kania mengangguk perlahan ketika mendengar bisikan ucapan terimakasih dari suaminya, lalu menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik tuan Carlos.
Kemudian tuan Carlos mengelus lembut rambut lurus Kania, untuk membuat Kania merasa lebih rileks.
Karena hal seperti ini bukan yang pertama bagi tuan Carlos jadi Tuan Carlos mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Kania.
Sebab ini pengalaman pertama bagi Kania jadi ia baru merasakan sensasi yang luar biasa, bergejolak dalam dirinya saat tuan Carlos menyentuh seluruh bagian dari tubuhnya.
Membuat Kania mende-sah, dan menggeliat, tak karuan.
Pagi ini atau hari ini mereka habiskan dengan bercumbu dan terus bercumbu, seakan tak ada puasnya.
.
.
.
Ketika akan berganti pakaian, alika terlihat frustasi memilih baju-bajunya di dalam lemari, yang ada di kamarnya.
Alika mencoba satu persatu baju-bajunya tapi tak satu pun yang muat di tubuhnya, sebab baju-baju itu baju alika ketika ia masih gadis, sedangkan sekarang Alika telah berbadan dua, tentu saja tubuh alika membengkak tak selangsing ketika belum hamil.
Romi yang terduduk di tempat tidur sambil memainkan handphonenya, sekilas melihat ke arah istrinya yang sedang kebingungan.
Lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri alika lalu bertanya "Kenapa honey?" Tanya Romi sambil memeluk dan mencium tengkuk alika seperti yang biasa Romi lakukan.
"Lihat ini m'y honey, baju segini banyaknya tidak ada satu pun yang muat di tubuhku, yang makin hari makin membengkak..." Jawab alika seakan merajuk manja kepada semuanya.
Romi tersenyum dan menciumi Alika dengan gemasnya " Tapi kamu makin seksi honey, makin hari aku makin menyukaimu..." bisik Romi di telinga alika dengan genitnya sengaja untuk menggoda alika.
"Kamu malah gombalin aku, ini gimana jadinya...!" Alika malah makin merajuk
"He,, he,, he,," Tertawa renyah, membuat alika makin kesal merasa di tertawakan oleh suaminya.
__ADS_1
Lalu alika mencubit pinggang Romi dengan cubitan manja "Iih kamu malah ngeledekin aku...!"
Walau pun cubitan itu cubitan manja tapi tetap saja berhasil membuat Romi memekik kesakitan "Aawww... Sakit honey! " Pekik Romi.
"Sukurin salah siapa kamu malah meledekku!"
"Sapa yang meledekmu...?"
"Itu, kamu ngetawain aku kaya begitu...!"
"Itu bukan meledekmu, aku gemas banget sama kamu, abis kamu tuh lucu banget sih..." Ucap Romi sambil mencubit gemas pipi istri yang makin hari makin tembem.
Tapi alika malah makin merajuk dan seakan ingin menangis terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
"Loh, kok gitu sih mukanya honey?"
"Abis kamu terus saja meledekku...!"
"Aku kan dah bilang aku gemas sama kamu, oke deh! Aku minta maaf kalau aku menyinggung perasaan mu..."
"Masalah pakaian itu masalah gampang, aku sudah menghubungi kak Gani untuk membawakan pakaian yang cocok untuk mu dari butik atau dari toko pakaian miliknya" sambung Romi memberi taukan Alika.
"Beneran...?" Alika merasa tidak yakin.
"Ya.." Jawab Romi meyakinkan.
Dan tak lama pintu kamar terdengar di ketuk.
"Tok, tok, tok, " suara pintu di ketuk
"Assalamualaikum...!" Lalu terdengar Gani memberi salam.
"Walaikumsalam...!" Jawab Romi dan alika serentak.
"Tuh kan, kak Gani datang membawakan baju-baju untuk mu...!" Romi
"Ooo... M'y honey aku merepotkanmu" Alika merasa tidak enak hati.
"Tidak merepotkan ini memang sudah seharusnya...!" Ucap Romi agar alika tidak merasa dirinya telah merepotkan.
Lalu Romi membuka pintu kamar, kemudian gani memberikan semua pakaian yang Romi pesan. Puluhan baju berbagai model yang di bawakan oleh Gani membuat alika tercengang.
__ADS_1
"Apaan ini, kalian mau bukan toko di rumah, mengapa banyak sekali, padahal cukup beberapa saja tidak usah sebanyak ini..." Alika merasa itu terlalu berlebihan.
"Ya aku sih cuma mengikuti, membawakan sesuai pesanan saja..." gani tak mau di salahkan.