
Setelah Bu sari Mendengar cerita dari Tasya, ia makin penasaran, sebenarnya apa yang terjadi kepada putrinya.
Setelah itu Tasya pamit kepada Bu sari untuk segera pergi "Permisi ya bu, saya harus pergi untuk menjalankan tugas saya di rumah sakit" Pamit Tasya karena Bu sari pun hanya mematung sibuk dengan pemikirannya sendiri, tentang apa yang telah terjadi kepada putrinya.
Tapi ketika mendengar Tasya ingin pergi Bu sari menahan nya "Tunggu dulu nona Tasya" Cegah Bu sari.
"Saya mohon periksa dulu kondisi putri saya? Apa dia baik-baik saja?" Bu sari memohon dengan memelas, karena rasa panik dan bingungnya memikirkan kondisi putrinya.
Melihat Bu sari seperti itu Tasya merasa tidak tega " Baik, ayok Bu sari saya akan periksa dulu keadaan putri ibu" Tasya mengiyakan permohonan Bu sari.
Kemudian mereka berdua melangkah bersama kedalam kamar di mana Fitri berada.
Lalu Tasya memeriksa tekanan darahnya, detak jantung nya. "Semua normal Bu!" Ucap Tasya setelah memeriksa Fitri.
"Lalu kenapa putri saya non...!" Bu sari ingin memastikan keadaan putrinya.
"Seperti nya ini gejala depresi..." Ucap Tasya.
Sebab Fitri dalam keadaan sadar tapi ia sama sekali tidak merespon kepada orang yang mengajaknya bicara.
Ia hanya memaku, dengan tatapan kosong.
Bu sari menangis mendengar ucapan Tasya, dan memeluk putrinya ” Kenapa kamu bisa seperti ini nak, apa yang terjadi denganmu" Tapi Fitri sama sekali tidak merespon ibunya.
Bu sari kembali berbicara kepada Tasya "Apa yang harus saya lakukan sekarang nona Tasya!"
"Sepertinya, ibu harus membawa Fitri ke psikiater untuk konsultasi dengannya"
"Sebenarnya anak saya kenapa dokter Tasya" Bu sari masih belum mengerti dengan apa yang Tasya coba jelaskan.
"Ya Bu, makanya ibu harus pastikan, dengan pergi ke psikiater, Psikiater adalah profesi dokter spesialistik yang memiliki spesialisasi dalam diagnosis dan penanganan gangguan emosional. Psikiater tidak hanya menangani masalah gangguan jiwa berat, tetapi juga ringan" Tasya menjelaskan kepada Bu sari lebih detail.
" Psikiater atau dokter kejiwaan mengidentifikasi gangguan mental berdasarkan akibat dari sebuah kondisi. Penyakit mental juga lebih kompleks, seperti bipolar disorder, anxiety disorder (Gangguan kecemasan), anorexia nervosa, depresi berat" Lanjut tasya, ingin Bu sari lebih faham dengan apa yang ia jelaskan.
"Jadi menurut anda anak saya terkena gangguan jiwa" Bu sari meyakinkan dirinya sendiri
"Ya sepertinya begitu Bu, melihat dari gejalanya, tapi saya tidak tahu pasti gangguan jiwa yang seperti apa yang Fitri alami" Karena itu bukan sepesial dokter Tasya.
Kemudian Tasya merekomendasikan salah satu dokter psikiater, di rumah sakit tempat ia praktik.
Mendapat saran dari dokter Tasya, Bu sari pun berterimakasih kepadanya "Terimakasih dokter Tasya"
"Ya" jawab singkat Tasya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baik Bu sari, mungkin ibu perlu berpikir dulu untuk mengambil keputusan, atau mau meminta pendapat orang lain, silahkan ya Bu! tapi maaf sepertinya saya harus segera pergi" Tasya memberikan ruang untuk Bu sari berpikir.
__ADS_1
Sementara tasya memang harus segera pergi untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter.
Bu sari hanya menganggukkan kepalanya.
mengiyakan ucapan Tasya.
Lalu tasya pun berlalu pergi.
.
.
Setelah kepergian Tasya Bu sari benar-benar bingung dengan kondisi anaknya, tak satupun orang yang bisa Bu sari mintai pendapatnya, untuk bagaimana ia harus bertindak membantunya keluar dari masalah tentang kondisi putri semata wayangnya.
Di benak Bu sari hanya Romi lah yang bisa menolongnya, tapi mengingat sikapnya tadi kepada Bu sari, Romi tidak mempedulikan sapaan dari Bu sari dan berlalu begitu saja.
Dan mendengar cerita dari Tasya bahwa Fitri telah menyerang Romi.
Bu sari merasa ragu untuk meminta tolong kepada Romi, dan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Romi, lalu terlintas di pikirannya untuk menghubungi alika.
Karena alika orang yang sangat baik hati, pasti ia akan mau membantunya.
Kemudian dengan rasa ragu dan tidak enak hati. Bu sari mencoba untuk menghubungi alika.
.
.
Dan saat itu juga, headphone alika berdering tanda panggilan masuk, alika segera melihat dan terlihat Bu sari lah yang menghubunginya.
Alika segera mengangkat panggilan telepon itu "Halo , Assalamualaikum...!" Sapa alika, lalu memberi salam.
"Walaikumsalam...!" Jawab Bu sari di ujung telepon.
"Iya Bu, ada apa?" Tanya alika.
"Maaf nona apa anda baik-baik saja?" Bu sari balik bertanya, sebagai basa-basi.
"Ya alhamdulilah saya baik!" Jawab alika.
"Ibu bagaimana, ibu juga baik-baik aja kan?" Sambungan alika.
"Saya, alhamdulilah baik non, tapi tidak dengan putri Saya...!" Suara Bu sari terdengar bergetar ketika mengucapkan itu sepertinya Bu sari menahan tangis.
"Kenapa dengan Fitri Bu?" Alika pun merasa khawatir.
__ADS_1
"Entah apa yang terjadi dengannya, tapi dia tidak mau merespon ketika di ajak berkomunikasi,,, !" Jawab Bu sari.
"Nona bisa tolong saya, sebab saya bingung harus berbuat apa sekarang...!" Bu sari butuh dukungan.
"Oke, Bu saya akan segera kesana bersama dengan nenek saya, untuk melihat kondisi Fitri..." Ucap alika.
"Ya non saya tunggu, terimakasih ya non.." Bu sari merasa lega.
Alika yang awalnya berniat akan memasak makan siang untuk suaminya, tapi kini ia urungkan dan memilih untuk menemui Bu sari di villa milik Romi.
Alika pun mengajak nenek Diah ikut serta bersama dengannya.
Mereka pergi menggunakan jasa taksi online.
Dan setelah beberapa waktu mereka pun sampai di villa.
Mereka langsung masuk dan di sambut oleh Bu sari "Nona anda sudah datang!" Sapa Bu sari ketika membukakan pintu untuk alika dan nenek Diah.
Tak lupa Bu sari pun menyapa nenek Diah
"Nek anda sehat?"
"Ya seperti yang anda lihat..." Jawab nenek Diah. Yang memang terlihat segar bugar.
"Dimana Fitri Bu...?" Kemudian tanya alika.
"Dia ada di kamarnya!" Jawab Bu sari.
"Bagaimana kondisinya sekarang!" Tanya nenek Diah, yang sudah mendengar tentang kondisi Fitri dari alika.
"Masih sama, seperti baru pertama saya menemukannya" Bu sari menjawab pertanyaan Nene Dyah.
Kemudian Bu sari mengajak alika dan nenek diah untuk menemui Fitri "Mari...!" Seru Bu sari.
Mereka bertiga masuk kedalam kamar Fitri.
Lalu Bu sari mencoba berinteraksi dengan Fitri, lalu memberi taukannya tentang kedatangan alika.
"Fitri nak, lihat siapa yang datang untuk menemuimu...!" Ucap Bu sari kepada Fitri yang masih mematung dengan tatapan kosong, dan masih belum merespon kata-kata ibunya.
"Lihatlah,,,! nona alika dan neneknya datang untuk menemuimu..." Ucap Bu sari lagi dengan lembutnya.
Mendengar nama alika, Fitri seketika itu langsung melirik ke arah alika dengan tatapan mata tajam penuh kebencian.
Alika membalas tatapan itu dengan tersenyum kaku, dalam hati alika ia begitu takut melihat tatapan itu, Dan Fitri makin menampilkan wajah bengisnya
__ADS_1