
Acara syukuran telah berjalan sesuai rencana.
Kini tinggal para keluarga yang sedang membereskan semua sisa-sisa acara.
Setelah semua selesai mereka kembali berkumpul dan berbincang di ruang keluarga.
Dan itu di jadikan kesempatan bagi Nina untuk meminta izin dan pamit kepada semua orang.
Sesuai rencananya, setelah mencapai tujuannya Nina baru akan pulang kepada keluarganya, Karena kehidupan di keluarganya telah banyak sekali melakukan pelanggaran hukum yang ayahnya lakukan.
Kini waktunya ia pulang dan membasmi semua kezaliman yang Ayahnya lakukan.
"Maaf kepada semuanya boleh minta waktunya sebentar." Ucap Nina mengalihkan semua perhatian semua orang.
"Ya Nina ada apa." Romi yang menimpali Nina.
"Maaf tuan saya ingin minta izin resign." Jawab Nina, mengundang tanda tanya bagi mereka.
"Nina jangan becanda kamu." Alika tak percaya dengan ucapan Nina.
"Iya lika, aku ingin resign, aku mau pamit pulang besok." Jawab Nina lagi.
"Loh kok! mendadak sih nin,,,!" Seru Alika tak menyangka Nina akan resign secepat itu.
"Ya, sebenarnya tidak mendadak! seperti yang telah aku ceritakan kepada mu, setelah ke lulusan ku, aku akan pulang, dan kebetulan aku mendapatkan kabar bahwa ayah ku sekarang sedang sakit kerasa, ia selalu menyebut nama ku dan ingin bertemu dengan ku. jadi aku harus segera pulang Lika." Nina menerangkan.
"Oo begitu." Alika merasa sedikit kecewa dengan keputusan Nina yang tiba-tiba saja meminta resign.
"Maafkan aku ya Lika tidak bisa memenuhi semua janjiku padamu." Dengan sangat menyesal Nina berucap.
"Ya tidak apa-apa Nin, lakukan yang terbaik untuk mu, semoga kamu selalu sukses dan bahagia dengan jalan hidup yang kamu pilih." Ucap Romi
"Ya, terimakasih tuan!" Nina berterima kasih kepada Romi atas pengertiannya.
Semua pun menyetujui keputusan Nina untuk pulang dan resign.
Tapi Andi begitu syok mendengarnya, sebab baru saja ia menyadari perasaannya kepada Nina bahwa ia telah menyukainya.
Belum juga Andi benar-benar yakin kepada hatinya sendiri dan belum sempat Andi menyatakan cintanya.
Nina sudah akan pergi begitu saja.
Sebenarnya Nina betah berada di sana, tapi keadaan yang memaksanya untuk pergi dan kembali seperti tujuannya.
Setelah mengutarakan semuanya Nina berlalu dari sana menuju kamarnya untuk berkemas mengemasi semua barang-barangnya.
Ketika Nina sedang berbenah alika menghampiri Nina di kamarnya.
"Nina!" Seru alika mengagetkan Nina.
"Ya,,," Jawab Nina kemudian.
__ADS_1
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu?" Alika ingin meyakinkan.
"Ya, Lika aku sudah benar-benar yakin ingin kembali kepada keluargaku."
"Lalu bagaimana dengan perasaan mu kepada mas Andi?"
"Aku tidak terlalu memikirkan hal itu Lika, aku tidak ingin berharap kepada hal yang tidak mungkin untuk ku."
"Bukan kah kamu akan membuatnya jatuh cinta kepada mu...!"
Nina tersenyum mendengarnya.
"Kenapa malah tersenyum..." Alika bingung melihat reaksi dari Nina.
"Aku telah berhasil melakukan hal itu, tapi ia enggan mengakuinya mungkin terlalu gengsi baginya untuk mengakui bahwa ia menyukai atau mencintai seseorang ART seperti ku.''
"Kenapa begitu Nina?"
"Ya, aku tidak tau Lika, biarlah aku serahkan semua kepada yang maha kuasa, jika aku berjodoh dengannya Allah pasti akan mempersatukan kami, tidak jika tidak mungkin jodoh ku lebih baik darinya, dan begitu juga sebaliknya" Ucap Nina pasrah.
"Tapi ini semua terlalu cepat untuk ku Nina, apa tidak bisa kamu memberikan waktu untuk ku sebentar lagi, agar hati ku lebih rela untuk kau tinggalkan."
Nina menggelengkan kepalanya,
"Tidak Lika, menurut cerita kakak ku kondisi keluarga ku sudah sangat kacau balau, mereka semua tertindas karena ulah ayah ku yang telah menjual kakak-kakak ku dan adik ku kepada saudagar kaya."
"Kini ayah ku jatuh miskin karena hartanya habis untuk biayanya berobat, aku ingin menolongnya Lika aku ingin membuktikan bahwa ilmu lebih penting, tak hanya uang seperti pemikiran ayah ku, yang selalu berpikir uang adalah segalanya, sampai rela melakukan hal apapun demi uang, sampai harus menjual anak-anaknya kepada Lelaki hidung belakang." Jelas Nina dan tetap kukuh pada pendiriannya.
"Ya Oke lah kalau begitu, aku hanya bisa mendoakan mu Nina, semoga semua berjalan sesuai rencanamu, semoga kamu selalu sukses ya Nina!"
Lalu mereka berdua berpelukan sebagai bentuk support satu sama lain.
.
.
Pagi hari sesuai rencana, Nina sudah bersiap akan pergi meninggalkan semuanya, Nina berdiri mematung seakan berat meninggalkan semua kenangannya bersama keluarga Rahardian, yang telah membantunya mewujudkan semua cita-citanya.
Karena kebaikan mama Ranti, Nina telah menyelesaikan pendidikannya, kini saatnya Nina membuktikan kepada semua orang terutama kepada ayahnya, bahwa ia berhak bahagia dengan caranya sendiri.
Ketika Nina sedang mematung seorang diri, tiba-tiba seseorang mengagetkannya.
"Nina!" Serunya membuat Nina terhenyak dari lamunannya.
Nina berbalik ke arah sumber suara yang telah ia kenal betul suara siapa itu.
"Mas Andi!" Nina balik berseru.
Ya, Andi lah orang yang menghampiri Nina.
"Kenapa mas?" Tanya Nina.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?" Andi balik bertanya.
"Aku sedang mengenang pertama kali aku bertemu dengan mama Ranti, beliau begitu baik sebab itu aku telah menganggapnya sebagai ibu ku sendiri."
"Apa hanya Mama yang berkesan di hati mu?" Tanya Andi
"Maksud anda apa mas!" Nina tak mengerti dengan pertanyaan Andi.
"Ya, apa hanya Mama yang menurut mu baik, apa aku tidak baik kepadamu?" Andi memperjelas maksudnya.
Nina tak menjawab iya hanya diam.
tapi dalam hatinya ia membatin, "Apa maksudnya ni orang bicara seperti itu..."
"Nina, kenapa diam saja...?" Andi mendesak jawaban dari Nina.
"Oo ya,,, semua baik kepada ku termasuk anda mas." Kemudian jawab Nina
"Apa aku tidak berkesan bagi mu..!" pertanyaan Andi berbelit-belit seperti ada yang ingin ia ungkapkan membuat Nina bertanya-tanya.
"Eeh mas! maksud anda apa dari tadi anda bertanya penilaian saya tentang anda." Nina menegaskan apa maksud Andi.
"Nina, apa kamu benar-benar akan pergi."
"ya..." Jawab Nina.
"Tapi aku tidak ingin kamu pergi nin..."
"Apa... kenapa?"
"Karena aku menyukai mu Nin...!"
Nina tak menyangka Andi akan mengungkapkan perasaannya.
Nina hanya menundukkan kepalanya bingung harus menjawab apa.
"Nina apa kamu mau, tetap di sini untuk ku...?" Tanya Andi.
"Maaf mas, keluarga ku lebih membutuhkan ku saat ini, jujur saja aku memang sangat ingin tetap tinggal di sini untuk mu, dan untuk semuanya tapi aku tetap harus pergi mas."
"Lalu bagaimana jika aku yang ingin ikut bersama mu Nin?"
"Apa,,,!" Pekik Nina .
"Aku ingin menikah dengan mu...!"
"Sekarang...!" Tanya Nina ngasal
"Ya,,," Jawa Andi tegas bahwa ia sungguh-sungguh.
"Tapi aku harus tetap pergi mas"
__ADS_1
" Ya Aku akan mengantar mu dan kita akan menikah di saksikan kedua orang tua kita" Andi memperjelas.
"Apa anda sedang bercanda mas?" Nina masih tak percaya.