
Percakapan Romi dan Bu sari belum selesai.
Bu sari terus saja terisak,,, mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
mendengar isakan Bu sari Romi merasa sangat tidak tega.
"Bu,,, ibu baik-baik saja?" Tanya Romi.
"Ya tuan, tapi saya bingung sekali tuan,,,, !" Ucap Bu sari.
"Kenapa Bu...?" Tanya Romi
"Saya tidak tau harus bagaimana bicara kepada anda tuan...!" Bu Sari ragu untuk mengutarakan apa yang ingin iya sampaikan
"Katakan saja Bu... siapa tau saya bisa membuat..." Ucap Romi meyakinkan Bu sari.
"Tapi tuan saya ingin meminta sesuatu dari anda" Kemudian ucap Bu sari.
"Apa itu Bu..!" Seru Romi penasaran.
Bu sari malah menangis pilu Romi jelas Mendengar itu meskipun hanya lewat sambungan telepon.
"Bu,,, aku mohon jangan seperti ini, aku berjanji, aku akan membantu mu, jadi katakan lah apa yang bisa aku lakukan untuk mu..." Akhirnya Romi pun berjanji untuk menenangkan Bu sari.
"Fitri tuan ...!" kemudian ucap Bu sari.
"Kenapa dengannya, bukakan iya sudah berada di rumah sakit, dan sudah di tangani oleh dokter..." jawab Romi.
"Iya tuan, tapi kondisinya makin parah tuan,,, Fitri tidak mau makan dan tidak mau minum kondisinya lemah, sekarang iya hanya mengandalkan infusan...!" Ucap Bu sari memberi tau kondisi putrinya kepada Romi.
"Lalu saya harus melakukan apa Bu ?" Tanya Romi bingung.
"Maaf tuan jika saya lancang... saya mohon tuan! tolong temui Fitri sebentar saja, sebab Fitri hanya menyebut nama Anda...!" Bu sari kembali memberi tau kan kondisi Fitri, dan memohon kepada Romi.
Romi tak menjawab iya hanya diam seribu bahasa, sesungguhnya Romi ingin sekali menolak permohonan dari Bu sari tapi iya juga merasa tidak tega kepadanya di tambah Romi sudah terlanjur berjanji akan melakukan apa yang di minta oleh Bu sari.
"Tuan,,, mohon maafkan saya!" Ucap Bu sari, sebab iya tau Romi enggan melakukan apa yang Bu sari minta.
Mendengar permohonan maaf dari Bu sari Romi pun menjawab "Maaf Bu, nanti saya bicarakan dulu dengan istri saya" Romi ingin meminta pendapat dari alika terlebih dahulu.
" Nanti saya kabari ibu, ibu tentang ya,,, semua pasti akan baik-baik saja. pasrahkan saja semuanya kepada yang maha kuasa!" sambung Romi lalu pamit untuk menutup sambungan teleponnya.
"Iya tuan terimakasih, Walaikumsalam! " Seru Bu sari, Sebelum menutup teleponnya.
__ADS_1
Bu sari sedikit lebih lega karena telah menyampaikan apa yang ingin sekali iya sampaikan sedari kemarin tapi tidak ada kesempatan untuk mengutarakannya.
Namun Bu sari memang menaruh harapan besar kepada romi untuk Romi mau menemui Fitri.
Karena Bu sari pikir setelah bertemu Romi, Fitri mau makan dan minum, setidaknya sedikit bisa membantu Fitri untuk mau makan.
Tapi Romi begitu bingung, iya sudah tidak ingin berurusan lagi dengan Fitri, sebab karena nya Romi hampir kehilangan calon buah hatinya.
Dan menyebabkan istrinya kesakitan, belum lagi penyerangan yang di lakukan Fitri langsung kepada Romi, membuat Romi tidak ingin melihat Fitri lagi seumur hidupnya.
Namun di benaknya terlintas tentang Bu sari, pasti Bu sari akan merasa sangat kecewa kepada nya, jika Romi menolak permohonan Bu sari.
Sebenarnya Romi ingin sekali menemui alika dan membicarakan apa yang di minta Bu sari kepadanya saat itu juga.
Tapi di kamar terlalu banyak orang yang sedang bersama Alika, jadi Romi mengurungkan niatnya kemudian Romi langsung menemui keluarganya lebih tepatnya para peria yang berada di ruang tamu.
"Hay semuanya... " Sapa Romi ketika sudah berada di ruang tamu.
"Hay! " Seru semua orang yang berada di sana, menjawab sapaan dari Romi.
Kemudian Romi ikut duduk bersama mereka.
ketika melihat Romi datang ikut duduk di sana, Nina dengan sigap segera bergegas ke dapur akan membuatkan minuman untuk Romi.
Nina sudah paham tugasnya tanpa menunggu di beri perintah lagi.
"Silahkan tuan...!" Ucap Nina sambil menyuguhkan minumannya yang telah iya buat.
"Terimakasih Nina..." Ucap Romi.
Namun Andi kembali memperhatikan Nina.
Nina tersenyum, menyadari Andi sedang memperhatikannya tanpa melihat ke arah Andi.
"Ya tuhan mengapa Nina makin cantik saja di mata ku..!" Andi bergumam dalam hati nya.
"Eeh apa-apaan ini... aku gak boleh kaya gitu Nina tuh cuma ART ku, aku gak boleh BAPER sama dia" Masih Batin Andi ketika iya menyadari perasaan nya.
Andi langsung menepis rasa kagum nya kepada Nina , dengan memalingkan wajahnya nya mengalihkan pandangannya.
Dan tak lama Mama Ranti, bunda Tiya, beserta nenek Diah, keluar dari kamar Alika.
Sebab Kania meminta waktu berdua saja dengan alika.
__ADS_1
Kania ingn menceritakan apa yang telah terjadi antara dirinya dan tuan Carlos.
Kania tidak menyia-nyiakan kesempatan, ketika para orang tua sudah keluar dari kamar Alika, Kania langsung bercerita.
Di mulai dari sikap nenek nely yang seakan melabraknya malam itu.
Lalu Kania menceritakan malah pertamanya dengan tuan Carlos,
Alika begitu antusias mendengarkan cerita Kania, Alika pun turut bahagia mendengarnya, dan mendoakan agar rumah tangga mereka (Kania dan tuan Carlos) slalu bahagia, sakinah, mawadah, warahmah.
"Aamiin" Kemudian ucap mereka berdua (Alika dan Kania)
"Kania...!" Seru alika
"Ya..." Jawab Kania
"Kamu ingat gak ucapan kamu yang mengatakan bahwa jika kamu sampai mau menikah dengan tuan Carlos itu hanya karena kamu mendapatkan kutukan..." Alika mengingatkan Kania
Bawah memang Kania pernah mengucapkan hal seperti itu.
"Emang iya ya...!" Seru Kania sabil mengingat-ingat.
Ya, kemudian Kania mengingatnya, bahwa iya pernah mengucapkan hal seperti itu.
Sebab ketika itu iya sedang di kuasa rasa marahnya kepada tuan Carlos
jadi keluar lah kata-kata seperti itu.
"Eeh iya bener kak Lika aku pernah mengucapkan hal seperti itu..." Ucap Kania ketika sudah mengingatnya.
"Tapi kan itu dulu ketika aku masih membencinya , beda halnya dengan sekarang aku malah sangat mencintainya" Kania mengungkapkan isi hatinya.
"Tuan Carlos juga ternyata sangat pengertian, dan perhatian kepada ku, ia juga sangat menyayangi ku dan juga Cherry... aku sangat nyaman berada dekat nya " Masih ungkapan Kania.
"Hhmm, kamu dah mulai bucin sekarang sama tuan Carlos..." Alika sengaja mencibir Kania sebab Kania menjilat ludah sendiri seperti kata pepatah.
"Kak Lika kok gitu sih...!" Kania Perotes Sebab Alika mencibirnya.
"Kania, aku cuma takut kamu kena karma dari ucapan mu sendiri, ya sukur-sukur sih rumah tangga kalian baik-baik saja" alika kembali mengingat Kania.
"Iih kak Lika kok nakut-nakuti aku sih..." Kania merasa ketakutan.
"Makanya dalam kondisi apa pun kita harus jaga ucapan kita..." Ucap alika menasehati Kania.
__ADS_1
"Terus aku sekarang harus bagaimana kak!" Seru Kania.