
Ketika mendengar mama Ranti pamitan kepada Romi dan alika beserta keluarganya.
Mama Ranti juga menerangkan bahwa mereka akan kembali ke kotanya asal mereka besok pagi.
Tuan Carlos pun teringat besok atau lusa iya akan kembali ke negerinya.
Ya, jadi tuan Carlos sekali mengatakan kepada Romi dan alika sekalian pamit.
Karena semua keluarga sedang berkumpul maka tuan Carlos pun mengutarakan rencananya.
Tuan Carlos mengatakan bahwa ia akan pulang ke negaranya.
Mendengar ucapan tuan Carlos Kemudian mama Ranti bertanya.
"Lalu bagaimana dengan Kania?" Mama Ranti mengkhawatirkan nasib putrinya, sebab Mama Ranti pun baru mendengar rencana tuan Carlos ketika itu.
"Kania akan ikut dengan saya, ia akan kuliah di sana, saya akan mengurus semua keperluan dan kebutuhan Kania, mama jangan khawatir, karena Kania istri saya dan memang sudah kewajiban saya." Ucap tuan Carlos.
"Lalu Cherry bagaimana?" Kali ini alika yang bertanya.
"Untuk sementara ini Cherry akan tetap ikut dengan neneknya, sebab neneknya tidak akan membiarkan saya membawanya bersama saya." Tuan Carlos kembali menerangkan tentang Cherry.
"Lalu bagaimana dengan mu Kania, apa kamu sudah siap jauh dari keluarga?" Tanya Romi kepada Kania.
Lalu Kania menjawab, " Ya insaallah aku siap kak!" Jawab Kania dengan tegasnya.
"Oke jika begitu, semoga kalian selalu bahagia, dan jangan lupa selalu beri kabar kepada kami." Kali ini papa Bagas yang berbicara.
Tapi ekspresi mama Ranti terlihat sangat sendu, mama Ranti merasa sedih akan di tinggalkan oleh putri perempuan satu-satunya bahkan lebih jauh dari Erdytha dan Romi jaraknya yang jauh meninggalkan nya.
Kania melihat jelas perubahan ekspresi mama Ranti, "Mama kenapa?" Tapi Kania
"Rasanya mama sedih sekali, di usia senja mama, harusnya mama berkumpul dengan putra Puti Mama bahkan dengan cucu-cucu mama, tapi Mama harus di tinggalkan oleh kalian..." Mama Ranti mengungkapkan perasaannya.
"Yang sabar mah masih ada aku yang menemani Mama." Kemudian jawab Andi, untuk menghibur mamanya padahal Andi pun merasa sedih, karena merasa akan sangat kehilangan, kakak dan adiknya.
"Iya!" jawab mama Ranti lirih.
Kania mendekat ke arah mamanya lalu memeluknya.
"Mama jangan sedih dong, aku jadi ikut sedih liat mama begini." gumam Kania ketika dalam pelukan mamanya.
"Maafkan mama nak!" Mama Ranti sadar betul ia memang harus berlapang dada untuk merelakan anak-anaknya mengambil jalan hidup mereka masing.
sebagai orang tua mama Ranti memang hanya bisa sekedar mendoakan untuk kebaikan putra, putrinya.
Suasana seketika berubah pilu, ikut terbawa suasana.
Kemudian tuan Carlos berkata, "Tenang saja mah, nanti kami akan sering berkunjung ke sini, karena Kami juga punya Cherry yang masih sangat membutuhkan perhatian dari kami." Tuan Carlos berusaha untuk menenangkan mama Ranti.
Lalu mama Ranti menimpa, "Ya, Mama hanya bisa mendoakan kalian semoga kalian selalu sehat, dan selalu bahagia."
"Aamiin..." Seru semua orang.
__ADS_1
Kemudian mereka pamit untuk pulang ke villa.
Andi mengajak Nina untuk ikut bersama mereka, padahal Nina tidak ingin ikut bersama mereka, Nina ingin menginap di rumah nenek Diah.
"Nina! Jangan membangkang, ayo cepat ikut, sebab besok kita harus kembali." Ucap Andi ketus mengingatkan Nina.
Sesungguhnya alika merasa tidak tega kepada Nina, tapi Alika tidak bisa berbuat apa-apa.
Dengan langkah lesu Nina mengikuti perintah Andi, tapi sebelumnya Nina menghampiri alika terlebih dahulu.
"Lika, aku pergi dulu ya! kamu cepat sembuh jangan sakiti-sakit lagi ya, aku menunggu kabar bahagia kelahiran ponakanku semoga lancar proses nya, sehat selamat kamu dan baiymu" Nina memberi doa tulus kepada Alika dan buah hatinya sebelum pamit.
Alika mengangguk sambil menjawab, " Aamiin,,, ya hati-hati Nina..." Ucap alika lirih.
"Ya,,, dadah!" Seru Nina sambil melambaikan tangannya.
Alika menimpali, "Sampai jumpa lagi, semangat Nina!"
Mereka hanya saling melempar tersenyum saling membalas.
.
.
Setelah kepergian keluarga Romi.
Alika kembali ke kamarnya dengan kembali di pangkuan oleh Romi.
"M'y honey maafkan aku sangat merepotkan mu!" Alika berbicara saat dalam pangkuan Romi.
"Honey, ini kan bukan mau mu seperti ini, ingat ini ujian untuk kita, jadi kita harus melewatinya bersama, Aku tidak merasa di repotkan oleh mu." Romi berucap, lalu mengecup pipi alika.
Sesampainya di kamar, Romi langsung membawa alika ke kamar mandi untuk alika membersihkan diri bersiap untuk tidur, tentunya Romi dengan setiap membatu alika melakukannya.
Sesudah itu, Romi kembali membawa alika ke tempat tidur, lalu membaringkannya.
Kemudian Romi duduk di samping alika.
Melihat gerak gerik Romi, Alika mengerutkan keningnya sebab alika tau ada sesuatu yang ingin Romi sampaikan kepadanya.
Alika curiga Romi akan membahas tentang masalah saat ia berjalan sendiri ke keluar kamar yang sempat membuat Romi marah.
Alika pikir Romi belum puasa untuk menasehatinya, dan ingin membahasnya kembali
Tapi ternyata dugaan Alika salah.
"Kenapa m'y honey, ayo bersihkan diri mu sana! kita tidur ini sudah malam." Alika mengajak Romi untuk tidak.
"Honey ada yang ingin aku bicarakan dengan mu..." Alika pikir dugaannya benar.
"Apa m'y honey....!" Alika
"Bu sari!" Kemudiaan seru Romi.
__ADS_1
"Bu sari kenapa nya " Kemudahan Alika sangat khawatir ketika mendengar nama itu di sebut kan.
Alika menyadari pemikirannya tentang apa yang ingin Romi utarakan ternyata salah.
" Bu sari, meminta ku untuk menemui Fitri, karena menurutnya kondisi Fitri makin Farah." Lalu Romi menceritakan semua yang Bu sari katakan kepadanya.
Alika mendengarkan apa yang Romi ceritakan.
"Ya ampun Fitri bisa separah itu ya!" Ucap alika tak menyangka.
"Lalu menurut mu bagaimana honey?" Romi meminta pendapat dari alika.
" Kalau hanya untuk menemuinya, ya temui saja! Tapi kalau dia minta lebih dari itu Aku tidak akan rela." Sesungguhnya dalam hati alika ada rasa tidak rela Romi harus menemui Fitri.
Namun sebagai rasa kemanusiaan Alika terpaksa mengizinkan nya.
"Apa boleh Aku ikut dengan mu, aku ingin sekali melihat kondisi Fitri ?" Alika meminta Romi untuk mengizinkannya ikut.
"Tidak honey, ini bahaya untukmu meskipun kondisi Fitri lemah itu tidak menjamin ia tidak akan menyerang mu, jadi lebih baik aku tak menemuinya sama sekali dari pada aku harus mengorbankan keselamatanmu." Romi tidak ingin hal buruk menimpa Alika lagi.
biar saja, meskipun Bu sari akan sangat merasa kecewa kepada Romi.
Alika mengerti dengan maksud Romi, iya memang tidak mungkin ikut pergi menemui Fitri dengan kondisinya seperti itu.
"Baiklah m'y honey, pergilah temui Fitri tapi kamu hati-hati ya!" Alika pun mengkhawatirkan Romi, mengingat Fitri juga sempat menyerang Romi.
"Ya, kamu tenang honey aku akan waspada, di sana juga ada para tenaga medis yang akan ikut mendampingiku nanti, jadi kamu jangan khawatir." Ucap Romi menenangkan Alika.
Alika mengerti dan menganggukkan kepalanya.
"Oke, sekarang kamu istirahat ya honey, ini sudah malam" Kemudian ucap Romi, lalu mengecup kening Alika.
Kemudian Romi bergegas membersihkan diri, berganti pakaian tidur dan bersiap untuk tidur.
Ketika kembali ketempat tidur Romi melihat alika belum terlelap sepertinya Alika sedang menunggunya pikir Romi.
Ya memang seperti itu, tapi itu bukan alasan yang tepat.
Sesungguhnya alika resah memikirkan, bagaimana nanti saat Romi menemui Fitri, apa yang akan terjadi, berbagai kemungkinan bisa terjadi mengingat kondisi Fitri yang terkena gangguan jiwa, dan bahkan Fitri mampu menyerang siapa saja sebelumnya.
Alika takut itu terulang kembali.
"Honey! Kamu belum tidur?" tanya Romi ketika menghampiri Alika di tempat tidur.
"Belum m'y honey, aku rindu pelukan mu." Alika sengaja bertingkah manja agar Romi tak curiga kepada bahwa memang sedang resah gelisah.
Mendengar ucapan istrinya Romi segera berbaring di samping alika lalu mendekap tubuh istrinya.
"Padahal setiap hari kita bertemu, bahkan aku sering menggendong mu, tapi momen seperti ini selalu kita rindukan." ucap Romi sambil mendekap sang istri.
Ya, sebenarnya Romi pun selalu merindukan mendekap tubuh istrinya.
Lalu keduanya terlelap dalam kehangatan.
__ADS_1