Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
BAB - 224


__ADS_3

Setelah melepas keberangkatan Nina, Andi, mama Ranti dan juga papa Bagas.


Semua kembali masuk, kini keluarga Alika sudah berkumpul semua di sana, kecuali Alif dan keluarga kecilnya. sebab mereka pulang ke rumahnya dan karena masih pagi jadi mereka belum sempat berkunjung ke rumah Alika dan Romi.


Nenek diah mengajak mereka semua untuk sarapan pagi, karena menu sarapan pagi sudah di hidangkan di meja makan, ada dua pegawai catering Bunda Tiya yang di utus oleh Bunda Tiya untuk membantu alika di sana.


Sebab Alika akan sangat kerepotan jika Nina tidak ada di sana, dan dua utusan bunda Tiya kini akan ikut kerja bersama Alika menjadi ART Alika.


...


Setelah sarapan mereka Romi, Gani, Nenek diah, bunda Tiya, Bu sari dan Fitri kembali keruang tamu berbincang di sana.


Sedangkan Alika bersama Kania dan juga dokter Tasya berada di kamar Alika untuk menidurkan bayi Alika.


tiba-tiba Kania membuka pembicaraan di antara mereka.


"Eeh kalian ngerasa aneh gak sih sama sikap Fitri, aku kok ngrasa dia itu belum waras gitu ya!"


Mendengar ucapan Kania Alika memaku mengingat semua reaksi-reaksi Fitri yang tak sengaja Alika lihat.


Seketika itu Alika merasa merinding.


Dan langsung bangun dari tempat tidurnya.


Lalu segera bergegas untuk menghampiri suaminya di ruang tamu.


Kania dan Tasya sampai merasa bingung melihat reaksi dari alika yang tiba-tiba seperti itu.


"Hey kamu mau kemana kak?" pekik Kania sebab Alika berlalu begitu saja meninggalkan putranya yang sedang terlelap.


"Aku titip anak ku dulu ya sebentar!" Kemudian jawab Alika.


"Sepertinya alika juga merasakan sesuatu tentang sikap Fitri." Kania menebak-nebak.


"Jangankan Alika, Aku saja curiga melihat gelagat Fitri." Dokter Tasya menguatkan kecurigaan Kania.


....


Di ruang tamu Alika menghampiri semua orang.


Dan Alika melihat Fitri yang memang sedang tersenyum memperhatikan suaminya, ada rasa tidak rela di hati alika melihat Fitri seperti itu.


Tapi Alika berusaha bersikap biasa saja.


Romi langsung menyambut istrinya ketika menyadari kehadiran Alika.


"Honey,,, apa jagoan kita sudah tidur." ucap Romi.


Alika mengajak sebagai jawaban mengiyakan pertanyaan suaminya.


Fitri Langsung berubah ekspresi melihat Alika duduk di samping Alika.


Dengan rasa risih mereka berbincang bersama, sebenarnya Romi tau apa yang di lakukan Fitri yang terus saja memandangnya dengan terus tersenyum, tapi Romi tidak mempedulikan.

__ADS_1


Setelah Alika duduk di samping suaminya, tak lama tiba-tiba Fitri berucap.


"Tuan Romi..."


Semua orang langsung melihat ke arah Fitri.


"Ya,,,!" jawab Romi dengan ekspresi wajah datar.


"Aku berterimakasih sekali kepada mu, karena dukungan dari mu aku bisa ada di sini sekarang!" Ucap Fitri seakan sengaja mengundang kecurigaan Alika.


Ya tentu saja Alika terpancing oleh ucap Fitri.


"Dukungan..." Gumam alika mengulang ucap Fitri.


"Ya, selama aku dalam perawatan di rumah sakit, tuan Romi sering datang menemui ku, bahkan tuan Romi juga suka menyuapiku, jika aku sedang tidak ingin makan." Fitri makin terang-terangan.


"Apa,,, " Pekik Alika mendengarNya.


Fitri tersenyum lebar melihat Alika yang terpancing emosinya.


Sebab Alika memang tidak pernah tau jika Romi selama ini sering menemui Fitri secara diam-diam.


Bu sari terlihat tidak enak hati kepada Romi, Alika dan kepada seluruh keluarga Alika.


"Ooo ya, tuan Romi memang pernah menemui Fitri, beberapa kali, tapi itu semua karena saya yang memintanya." Bu sari mencoba menjelaskan.


Tapi Alika sepertinya sudah di bakar api cemburu dan rasa kecewa, sebab Romi tidak terus terang kepadanya.


Romi tau Alika pasti akan marah ketika mendengar hal itu, dan terlihat jelas dari raut wajahnya yang seketika itu juga langsung berubah penuh emosi.


Alika menatap ke arah nenek Diah.


lalu nenek diah pun memberi isyarat kepada Alika dengan memejamkan matanya lalu sedikit menganggukkan kepalanya, agar Alika tenang dan tidak terbawa emosi.


Mendapat isyarat dari nenek Diah Alika mengerti lalu menganggukkan kepalanya perlahan, untuk mengiyakan isyarat yang Nenek diah berikan kepadanya.


Kini Alika suda bisa mengontrol emosinya. dan menimpali setiap ucapan Fitri yang bicara makin berani saja.


Tapi kadang ucapan Fitri seakan tidak menghargai orang yang sedang berada di sana.


Karena begitu, Bu sari segera meminta untuk pamit.


Bu sari takut Fitri makin kacau tak terkendali.


"Mari Bu saya antar pulang!" Gani menawarkan diri untuk mengantar Bu sari dan Fitri pulang.


Namun Bu sari menolaknya, "Tidak usah den! saya sudah memesan taksi online den." Ucap Bu sari menolak karena tidak ingin merepotkan.


"Iya Bu tidak apa-apa di antara ka Gani." Seru Alika


Tapi Bu sari tetap kukuh menolak.


Sebenarnya Bu sari ingin Romi yang mengantarkan nya pulang.

__ADS_1


"Iya Bu biar di antara kak Gani saja." Romi pun akhirnya ikut menimpali.


"Tidak usah tuan." Ucap Bu sari lalu segera mengajak Fitri pergi dari sana.


...


Setelah kepergian Bu sari dan Fitri


Ternyata alika masih merasa kesal dan kecewa kepada Romi, Alika mengibaskan tangan Romi secara kasar, yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Lepaskan!" Alika sambil memekik. lalu Alika langsung berlalu ke kamarnya.


Dengan membanting pintu secara kencang, entah kerasukan setan dari mana Alika sampai emosi seperti itu.


Semua terhenyak dengan tingkah Alika yang membanting pintu.


Memang sedari awal Alika merasa tidak yakin dengan kesetiaan suaminya, seakan Alika merasakan firasat yang mencurigakan.


Dan kita kecurigaan itu terbukti, dan yang lebih menyakitkan Alika tau semuanya dari penuturan Fitri.


Jika Romi bisa jujur sedari awal, mungkin ketika mendengar penuturan dari Fitri, Alika tidak akan merasa sesakit ini.


Romi hanya menunduk ia merasa memang telah melakukan kesalahan , dengan tidak jujur kepada istrinya, tapi maksud Romi tidak ingin menambah beban pikiran Alika ketika itu sebab kondisi Alika pun sedang tidak baik ketika itu.


Nenek diah, bunda Tiya dan Gani mengerti Romi dalam keadaan bingung karena rasa bersalahnya.


Lalu mereka menasehati Romi.


"Kalian harus bicara." Ucap nenek Diah.


"Romi nak, harus sabar menghadapi Alika yang sedang seprti itu." Bunda Tiya mengingatkan, karena Bunda Tiya sudah paham betul sifat Alika yang sangat kerasa kepala, apa lagi jika sedang tersulut emosi seperti itu.


"Tuan jangan lawan dia dengan kekerasan, mengalah lebih baik dalam menghadapi Alika yang sedang seperti itu." Ganti pun memberi saran.


"Iya terimakasih atas saran dan dukungan kalian."


.


.


Di kamar Alika terlihat sangat kesal penuh emosi, membuat Kania dan Dokter Tasya bertanya-tanya ada apa dengan Alika.


"Kamu kenapa kak lika?" Tanya kania.


Sedangkan dokter Tasya hanya memaku melihat alika datang dan membanting pintu, untung putranya tidak menangis karena kaget.


"Aku tidak apa-apa." Alika menjawab pertanyaan kania.


"Maaf bisa tinggalkan aku sendiri dulu , aku ingin istirahat." Alasan Alika, untuk mengusir Kania dan dokter Tasya agar keluar dari kamarnya.


Dan akhirnya mereka berdua ( Kania dan dokter Tasya pun bergegas keluar.


Saat mereka akan keluar tiba-tiba mereka berpapasan dengan Romi di depan pintu.

__ADS_1


Dan untungnya Romi segera masuk sebab baru saja Alika akan mengunci pintu itu, agar tidak satu orang pun yang bisa mengganggunya dengan bayinya.


__ADS_2