
Setelah mendapat ajak dari bundanya Alika segera berlalu meninggalkan putranya yang sedang terlelap.
Sedangkan bunda menghampiri cucunya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa posisi tidurnya aman.
Setelah itu bunda pun mengikuti Alika berjalan di belakang Alika.
Menuju meja makan, karena semua sudah berkumpul di sana.
...
Sedangkan Romi, telah membersihkan diri, lalu mengerjakan ibadahnya, karena sudah masuk waktu sholat zhuhur.
Kebetulan ketika Romi telah selesai, putranya terbangun, lalu Romi segera menghampirinya, lalu membawanya untuk menemui Alika ibunya.
Sesampainya di meja makan Askara langsung di ambil oleh bunda Tiya dari pangkuan Romi.
"Bunda sini biar aku kasih ASI, pasti dia haus." Alika meminta putranya dari bundanya.
"Biarkan Bunda yang menggendongnya kamu makan dulu." Titah bunda Tiya.
"Tapi kan Bunda juga mau makan!" Alika tak enak hati kepada bundanya.
"Bunda nanti saja, bunda masih kenyang abis icip-icip pas lagi masak tadi, eeh Sekang malah engap perut Bunda." Jelas Bunda Tiya agar alika melanjutkan makannya.
"Oo ya sudah...!" Akhirnya alika menuruti perintah bunda Tiya.
Kemudian Alika mengambil makanan untuk Romi dengan menyendokkan nya ke piring, dan menyodorkannya kepada Romi.
Tanpa Alika dan Romi sadari ternya mereka yang di meja makan sedang memperhatikan mereka berdua (Alika dan Romi) .
Saat melihat sekeliling meja makan Alika dan Romi baru menyadari ternyata semua orang sedang terpaku melihat ke arah mereka berdua.
"Kenapa?" Tanya alika dan romi serentak, kepada orang-orang yang sedang menatap mereka berdua.
Kania malah yang angkat bicara, "Kak Romi Kakak kehujanan?" Kania malah balik bertanya.
"Enggak, emang hujan?" Romi bingung dengan pertanyaan kania, sebab cuaca terlihat sangat cerah, di tambah Romi sedari tadi berada di dalam rumah mana mungkin ia bisa kehujanan.
"Kenapa sih kok nanyanya kaya gitu." Alika pun penasaran maksud dari pertanyaan Kania.
"Aneh aja, tengah hari bolong kaya gini, kok kak Romi mandi basah kaya gitu." Celetuk Kania membuat alika dan Romi terperangah, mereka seketika itu panik begitu saja.
Romi langsung tersedak makanan yang baru saja ingin ia telan.
"Uhuk, uhuk, uhuk...!" Romi sampai terbatuk-batuk karenanya.
Dan kini Romi menjadi pusat perhatian semua orang.
Alika mengelus-elus punggung Romi untuk menenangkannya.
Di benak semua orang mereka bingung mengapa Romi berekspresi seperti itu.
Sebenarnya Romi merasa terpojokkan atas celotehan Kania.
Pasalnya ia memang sedikit melakukan pelanggaran.
Tapi Romi maupun alika tidak menjawab ucapan Kania, setelah keadaan Romi sudah mereda, mereka malah memilih melanjutkan makan.
Memancing kecurigaan di benak semua orang.
Semua menatap Romi dan alika terutama nenek Diah.
"Alika, Romi, kalian tidak melakukannya kan?". Tanya Nenek merasa curiga.
Romi dan alika langsung melihat ke arah nenek dengan ekspresi wajah bengong, bingung harus menjawab apa?.
Tapi ketika itu putra mereka menangis kencang, meskipun bunda Tiya sudah berusaha mendiamkannya, tapi tetap saja bayi askara menangis kencang, dan mengalihkan perhatian semua orang.
"Sini bun, Mau aku kasih ASI paling juga dia haus." Alika meminta putranya kepada bunda Tiya, dan menghentikan makanannya.
Padahal Alika baru makan beberapa siap saja, tentu saja ia masih merasa lapar.
Alika beralih dari sana mencari tempat yang lebih nyaman untuk menyusui.
__ADS_1
Tapi Romi mengikutinya dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.
Dan ternyata Romi berniat untuk menyuapi alika.
Sambil menyusui Alika makan di siap Romi, mereka makan berdua terpisah dari keluarga alika.
Romi berbisik, "Untung anak kita menangis di waktu yang tepat sehingga kita tidak jadi bulan-bulanan bully-an mereka semua..." Romi merasa lega bisa kabur dari meja makan menjauh dari semua keluarga.
Alika tertawa mendengar bisikan Romi, karena menyadari kepanikannya dan suaminya ketika mendapat tudingan dari semua keluarga.
"Lagian kamu sih nakal!" Kemudian Alika menimpali ucapan Romi.
Mereka tertawa bersama...
Semua yang di meja makan menoleh kearah Romi dan alika sedang cekikikan.
Alika langsung menghentikan tawanya ketika menyadari sedang di perhatikan oleh semua keluarga.
"Ssuut..." Alika memberi kode dengan menaruh telunjuk di bibirnya, kepada suaminya untuk diam, karena sedang di perhatikan.
Alika takut mereka semua kembali curiga kepadanya.
Sebenarnya Romi ingin tertawa lepas tapi alika dan Romi menahannya.
.
.
Hari berganti hari seiring berjalannya waktu.
Waktu pun sudah berlalu Dua bulan kemudian.
Romi sudah menjalankan bisnisnya sesuai rencananya, di bantu yunas yang kini kembali bekerja dengan Romi, karena tidak di pungkiri Romi sangat membutuhkan kontribusi Yunus yang sangat berpengaruh dalam bisnis, selain yunas cerdas ia bisa di andalkan menghandle semu pekerjaan ketika Romi sedang ada urusan lain, atau pun ketika perusahaan sedang terkena masalah.
Romi selalu bekerja sama dengan yunas untuk mengatasi semuanya.
Dan selalu berhasil terselesaikan dengan mudahnya.
Tapi selama itu, Romi begitu sibuk dengan bisnis barunya, sehingga ia harus mengatur waktunya antara pekerjaan dan keluarganya.
Seperti kepada Bu sari, selama itu Romi tidak pernah menemuinya, hanya bertanya kabar melalui handphone, dengan sambungan telepon atau chat whatshApp itu pun jika Bu sari terlebih dahulu yang memulainya.
Sampai terdengar kabar bahwa Bu sari sedang sakit kerasa.
Bu sari mencoba menghubungi Romi, sebab ia ingin sekali bertemu dengan tuannya yang sudah Bu sari anggap seperti anaknya sendiri.
Siang itu, Bu sari merasakan tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang ia rasakan, tapi Bu sari tidak tau harus menghubungi siapa untuk bisa ia mintai tolong.
Walaupun ada Fitri, tapi Fitri tidak bisa di andalkan dalam segi hal apapun, sebab selama ini kelakuan Fitri tingkah lakunya sudah seperti anak kecil.
Yang berbeda jauh dengan umurnya.
Tapi Fitri selalu berharap dan menanyakan kedatangan Romi.
Tak jarang Fitri merajuk dan menangis meraung-raung ketika rasa rindunya kepada Romi sudah memuncak.
Tapi setelah puas menangis Bu sari selalu memberi pengertian agar emosi Fitri kembali setabil.
Dan itu lah mengapa Bu sari mengalami sakit, sebab Bu sari selalu memikirkan tentang kondisi dan masa depan putrinya jika ia sudah tidak ada di dunia ini lagi.
....
Di benak Bu sari hanya terlintas nama Romi, kemudian Bu sari meraih handphonenya untuk menghubungi Romi dan memberi kabar tentang kondisinya, Sekalian Bu sari ingin meminta tolong untuk membawanya berobat.
...
Di ruangannya, Romi sedang sibuk memperhatikan layar handphonenya, memeriksa setiap laporan keuangan perusahaan, pemasukan dan pengeluarannya.
Dan Ketika itu, handphone Romi bergetar.
"Drrrt, drrrt,,, drrrt..." Suara getaran handphone Romi.
Tapi Romi hanya sekilas melihatnya, sebab Romi sedang tanggung sedang sangat fokus dengan pekerjaannya, jika Romi mengalikan fokusnya sebentar saja pekerjaan itu akan berantakan, dan Romi harus mengulanginya dari awal kembali.
__ADS_1
Berkali-kali handphone itu bergetar, tapi Romi tetap saja tidak bergeming.
Dan tidak lama yunas masuk untuk, memberikan berkas laporan yang baru, untuk Romi periksa.
"Selamat siang tuan." Sapa Yunas ketika masuk.
"Ya, selamat siang." Jawab Romi dengan ekspresi wajah serius menatap layar laptopnya, tanpa melihat ke arah orang yang menyapanya.
Yunus paham betul jika sedang seperti itu Romi tidak akan bisa di ganggu.
Tapi Yunus melihat handphone Romi terus saja bergetar, " Tuan handphone anda bergetar ada panggilan masuk." Yunas berniat untuk mengingatkan.
"Ya saya tau itu." Jawab Romi tidak memperdulikannya.
"Tuan apa sebaiknya anda angkat dulu panggilan teleponnya, siapa tau ada yang penting." Yunas kembali mengingatkan.
"Coba liat yunas siap yang menghubungi ku." Romi malah menyuruh yunas untuk melihat siapa yang melakukan panggilan telepon di handphonenya.
Yunas pun langsung mengikuti perintah tuannya, dan tertera nama Bu sari yang tertera di handphone Romi.
"Bu sari tuan." Ucap Romi memberi tau.
"Bu sari!" Gumam Romi mengulangi apa yang di ucapkan oleh yunas.
Kemudian yunas menyodorkan handphone itu kepada Romi.
Tapi Romi tetap saja fokus kepada Layar laptopnya.
"Matikan saja handphonenya Yunas." Instruksi dari Romi.
"Loh kok di matikan tuan, bukannya di angkat siapa tau ada yang penting." Ucap yunas masih saja mengingatkan tuannya.
"Bu sari paling hanya ingin menanyakan kabarku, dan seperti biasa memintaku untuk menemui putrinya, dan sudah ku katakan, aku tidak bisa, Bu sari masih saja tetap meminta hal yang sama." Ucap Romi menebak alasan mengapa Bu sari menghubunginya.
"Sekarang aku sedang sangat sibuk lebih baik matikan saja handphonenya, nanti jika ada waktu senggang baru aku yang akan menghubungi Bu sari." Ucap Romi tidak ingin di ganggu.
Karena itu perintah Romi, yunas mengikuti sesuai perintah tuannya.
Dan kembali bekerja.
...
Karena Handphone Romi di matikan Bu sari tidak bisa menghubunginya lagi.
Bu sari merasa sangat kecewa kepada Romi, mengapa di saat seperti itu Romi sama sekali tidak mau mempedulikan panggilannya.
"Tuan mengapa aku merasa kau buang seperti ini, kenapa kau malah mematikan handphone mu!" Gumam Bu sari.
Karena Bu sari ingin berobat, Bu sari sempat memesan taksi online untuk mengantarkannya ke klinik terdekat.
Saat Bu sari ingin beranjak dari tempat tidurnya ingin keluar akan segera pergi berobat.
Karena taksi online yang ia pesan pun sudah menunggu di depan villanya.
Bu sari memanggil Fitri dengan suara lemah, "Fitri,,, tolong bantu ibu nak!"
Fitri memang sedang ada di ruangan itu, Fitri sedang duduk terpaku menatap foto Romi yang ibunya berikan dengan alasan bahwa Romi selalu bersamanya.
Berkali-kali Bu sari memanggil Fitri, awalnya memang tidak Fitri hiraukan panggilan ibunya.
Tapi ketika melihat pergerakan Bu sari yang hendak bangkit dengan susah payah, akhirnya Fitri menghampiri ibunya.
"Ibu mau kemana?" Akhirnya Fitri merespon Bu sari.
Bu sari tersenyum, "Fitri bisa bantu ibu!" Ucap Bu sari dengan nada lemah lembut.
Fitri mengangguk.
Kemudian Bu sari meminta agar Fitri memapahnya untuk keluar.
"Bantu ibu berjalan ke luar nak, dan temani ibu berobat ya." Ucap Bu sari.
"Iya Bu..." Fitri mengerti dengan apa yang ibunya maksud.
__ADS_1
Sekarang Fitri lebih penurut, tapi harus memperlakukannya dengan baik dan benar, harus memakai cara khusus berkomunikasi dengannya.