
Akhirnya keputusan di ambil, mama Rantai tetap di rumah Nina, menemani Nina bersama ibunya, sedangkan papa Bagas dan Andi yang pergi untuk mencairkan sejumlah uang sesuai permintaan pak Arman.
Sebagai persyaratan yang di minta oleh pak Arman untuk Andi bisa menikah Nina.
...
Selepas sholat isya, adalah waktu yang telah di tetapkan untuk di selenggarakannya pernikahan Nina dan Andi.
Kini Nina telah di makeup dengan make-up sederhana dan memakai kebaya sederhana, itu pun kebaya milik ibunya Ketika masih muda dulu.
Namun Nina terlihat sangat cantik dengan dandan seperti itu sebab kebaya yang Nina kenakan pun sungguh pas di tubuh Nina, tidak kebesaran atau kekecilan.
"Anak ibu cantik sekali...!" Puji ibu Nina.
Nina tersenyum mendengarnya.
"Ya iyalah Bu, ibu memujiku, sebab seperti apa pun anaknya selalu terlihat sempurna di mata ibunya." Jawab Nina.
"Tapi kamu memang sangat cantik." Ibu tetap kukuh dengan penilaiannya.
Membuat Nina tersipu malu.
Sedangkan di ruangan lain di mana mama Ranti, papa Bagas dan Andi berada, mereka terlihat termenung terutama mama Ranti, terlihat guratan kesedihan di wajah ayu mama Ranti.
Melihat istrinya seperti itu papa Bagas menegurnya, "Mama kenapa, mama menyesali ini semua?"
Mama Ranti menggelengkan kepalanya, "Tidak pah, hanya saja mama sedang berpikir, dosa apa ya aku dulunya! kok aku seperti sedang terkena kutukan...!" Ucap mama Ranti terhenti.
mendengar kata kutukan yang Mama Ranti ucapkan, membuat papa Bagas dan Andi terkejut mendengarnya.
"Loh mah kok ngomong nya seperti itu!" Seru papa Bagas.
"Mama gak boleh bicara seperti itu mah!" Andi pun ikut berseru menghentikan ucapan Mama Ranti.
Kemudian mama Ranti melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti "Ya, bagaimana tidak! mengapa semua anak mama harus menikah dadakan semua, seperti tahu bulat di goreng dadakan"
Andi dan papanya yang tadi ikut sendu, tapi mendengar ucapan Mama Ranti, kini mereka malah mengulum senyum mendengar ucapan mama Ranti.
"Kenapa kalian seperti itu, kalian sedang meledek mama?" Mama Ranti merasa tersinggung melihat ekspresi anak dan suaminya.
"Enggak kok mah! lucu aja mendengar ucapan Mama..." Jawab papa Bagas.
"Lagi yang dadakan itu malah lebih enak loh mah dari pada yang angetan." Andi menimpali.
"Harusnya di momen seperti ini kita berkumpul bersama keluarga kita yang lain, ini kita malah merasa tegang begini karena ulah pak Arman yang menyeramkan itu." Mama Ranti seperti sedang merajuk karena kesal.
" Husst! mah tidak boleh seperti itu, tidak enak kalau di dengar oleh Nina, bagaimana pun pak Arman itu ayah nina." Andi mengingatkan mamanya.
Namun tak di sadari Nina memang sudah ada di sana dan mendengar semuanya, "Aku memang sudah mendengarnya, tidak apa-apa kok mas semua yang di ucapkan ibu memang benar begitu adanya."
__ADS_1
Seketika itu Andi langsung salah tingkah karena telah tertangkap basah sedang membicarakan ayahnya Nina.
"Maaf nin, bukan bermaksud ingin menjelek-jelekkan." Ucap Andi salah tingkah.
"Tidak apa-apa kok mas!" Nina terlihat biasa saja menanggapi nya.
"Oo ya mas kita sudah di tunggu oleh semuanya, karena semua sudah siap." Nina memberi tau.
"Oo ya mari!" Seru papa Bagas mengajak semuanya untuk segera bergegas.
tapi baru saja semua bangkit dari duduknya, tiba-tiba Nina menghentikan pergerakan semua orang yang akan bergegas.
"Tunggu! mas sebelum semua terlambat, sebaiknya pikirkan lagi agar kamu tidak menyesal di kemudian hari." Nina menegaskan kembali.
"Nina aku sungguh sangat yakin dengan keputusan ku ini, aku sudah yakin bahwa aku mencintaimu, dan ingin menikahimu." Tegas Andi penuh keyakinan.
"Benarkah!" Sebenarnya Nina lah yang kurang yakin dengan dirinya sendiri, yang awalnya ia hanyalah seorang ART akan menikah dengan tuannya.
Kemudian Andi menggandeng tangan Nina dan berjalan menuju tempat acara akad nikah, di ikuti mama Ranti dan papa Bagas di belakang mereka.
Semua tamu undangan sudah berkumpul di sana, penghulu para saksi, kakak-kakak Nina pun ikut hadir di sana.
Kemudian pak penghulu langsung memulai acaranya.
Dan hanya memerlukan hitungan menit ijab qobul telah usai di tunaikan.
kini Nina dan Andi telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Ooh tuhan semu ini terasa mimpi bagi ku." Gumam Nina dalam hati ketika menyadari semua yang ia alami ternyata memang nyata dan sungguhan.
Begitu juga dengan Andi merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, sebab dengan sekejap mata kini setatusnya telah berubah menjadi seorang suami, kini Andi mempunyai tanggung jawab besar sebagai seorang suami bagi Nina.
.
.
.
Alika masih mengurung diri di kamarnya, entah mengapa perasaannya terasa begitu sakit ketika mengetahui Romi tidak jujur kepadanya.
Alika merasa sedang di hianati, meskipun Romi telah memberikan alasan.
Tapi sesungguhnya yang membuat hati alika begitu terasa sakit, adalah Alika harus tau semua kebenarannya dari mulut Fitri, yang berbicara, seandainya Alika tau dari orang lain atau dari Romi sendiri Alika mungkin tidak akan sesakit ini.
...
Nenek diah masuk ke kamar alika, sengaja untuk menemui alika dan ingin memberi pengertian kepada alika, karena hanya nenek yang bisa menaklukkan kerasnya hati alika jika sedang merajuk seperti itu.
"Mau ngapain nenek kesini, pasti mau belain dia (Romi)" Ucap Alika ketus ketika melihat neneknya menghampirinya.
__ADS_1
"Kalau orang tua mau ngomong dengerin dulu, jangan kaya bensin maen Nyamber aja!" Nenek tak kalah ketusnya dengan alika.
"Aku lagi males berdebat nek, apa lagi berdebat sama nenek, cuma bikin emosi ku makin berantakan." Alika memang tidak ingin berbicara dengan siapa pun saat ini.
"Heeh, siapa yang ingin mengajak mu berdebat, lagian bagus sekali jika kamu tidak ingin menimpali semu ucap ku." Ucap nenek penuh emosi.
Alika hanya diam tapi alika menampilkan wajah cemberut dan seakan malas sekali berhadapan dengan neneknya.
"Nah gitu dong!" Seru nenek dengan nada senang sebab alika tidak melawannya.
"Cukup jadi anak cantik dan pintar, dengan diam dan dengarkan nenek mu ini berbicara." Sambung Nenek diah.
Alika memang tidak bergeming dan hanya diam, karena pikirnya percuma menimpali neneknya ini, yang selalu merasa maha benar.
"Alika...!" Seru nenek.
Alika tidak menjawab.
"Alika...!"
Masih tidak ada jawaban sama sekali.
"Heey, Jawab jika nama mu di panggil, jangan diam saja, seperti mayat hidup!" perotes nenek.
Alika mengacakan rambutnya seakan frustasi, "Iiih,,, apaan sih nek, tadi nenek suruh aku diam, ya aku diam." kesal Alika.
"Ya enggak gitu juga kali." Gumam nenek Diah.
"Alika,,,!" Seru nenek mengulanginya lagi.
"Hhmm" Jawab alika malas.
Nenek malah tersenyum, sengaja menggoda alika.
"Apa sih nek, pake senyum-senyum segala, aku masih normal, masih suka lawan jenis, lagi kalau aku suka sesama jenis aku milih-milih juga kali! gak bakalan milih nenek-nenek peot kaya nenek." Alika seakan sedang mengatai neneknya.
"Kamu ngatain nenek...!"
"Kenapa nenek marah, nenek gak suka, gak terima, sadar diri dong nek! kalau dah tua ya tua aja, masa mau di bilang kaya Luna Maya sih!" Ketus Alika.
"Waah parah kamu, dasar cucu gak ada akhlak, makin berani saja kamu sama nenek mu ini ya, awas kamu ya..."
Nenek makin mendekat ke pada Alika, membuat alika curiga nenek ingin berbuat sesuatu.
Dan benar saja nenek menggelitik Alika sampai Alika tertawa terpingkal-pingkal, nenek sudah tau kelemahan Alika dan tau cara menggoda alika jika sedang merajuk seperti itu,
"Ampun nek,,, hentikan nek,,, " Pekik Alika di sela-sela tawanya.
"Rasakan ini,,, ini hukuman karena kamu telah mengatai Luna Maya mirip nenek, orang nenek mirip Syahrini kok..."
__ADS_1
"Ha,, ha,,, ha,,,!" Alika makin tertawa mendengar ucapan neneknya.
Nenek diah malah melupakan tujuan awalnya, untuk apa sebenarnya ia menemui Alika.