Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
bab - 212


__ADS_3

Bu sari dan fitri telah sampai di villa yang kini telah resmi menjadi milik bu sari.


fitri dan bu sari langsung turun dari mobil taksi online, dan bergegas masuk kedalam villa setelah bu sari membayarnya.


Di dalam villa fitri berlarian kesana kemari mencari keberadaan romi sampai ke seluruh ruangan,


Tapi sayang fitri tidak menemukan nya.


Bu sari tau apa yang di cari dan di harapkan oleh fitri.


Bu sari mulai bingung harus mencari alasan apa lagi untuk menenangkan putrinya, yang selalu berharap kepada romi, yang jelas-jelas ia tidak menyukai fitri.


"Oh tuhan, sampai kapan aku akan seperti ini terus, berada dalam kebingungan, untuk menghadapi putriku" Batin bu sari, ia mulai merasa lelah dan mengeluh dengan keadaannya, untuk menghadapi putrinya yang mengalami gangguan jiwa.


Meskipun sudah di nyatakan sembuh, tapi bu sari tetap harus sabar dalam menghadapi nya, karen semua harus berjalan sesuai keinginan Fitri.


Setelah lelah berlari kesana kemari mencari keberadaan romi namun hasilnya nihil, sebab fitri tidak menemukan keberadaan Romi.


Lalu fitri menghampiri bu sari dengan ekspresi wajah yang penuh emosi.


"Kau membohongi ku!" kemudian seru fitri kepada bu sari.


"Tidak nak,,, tuan romi memang akan kemari mungkin ia masih di perjalanan, atau sedang dalam kendala, jalanan macet mungkin, atau mobil mogok, seperti mesin mobil mati, atau bisa juga ban kempes, itu bisa saja terjadi nak" Alasan bu sari untuk mengenangkan putrinya.


"Sekarang kita makan dulu lalu beristirahat, jika tuan romi datang kamu sudah dalam keadaan segar, jika sudah begitu kalian bisa dengan leluasa berbicara berdua." Sambung bu sari membujuk putrinya.


Mendengar bujukan dari ibunya emosi fitri kembali setabil ia malah tersenyum kepada bu sari, "Benarkah bu, apa yang ibu katakan?" Fitri bertanya untuk meyakinkan dirinya.


Bu sari tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Ayo nak ikut ibu ke dapur! Ibu akan masakan makanan kesukaan mu! " Kemudian bu sari menggiring fitri dan membawanya ke dapur.


"Kamu duduk dulu di sini ya nak, tunggu ibu masak dulu sebentar, nanti kita makan bersama." Bu sari mengintruksi fitri.


Lalu fitri meneruskan ucapan ibunya "Bersama tuan romi bu!" Seru fitri antusias.


Bu sari mematung mendengar apa yang di ucapkan oleh fitri.


"Oh tuhan aku salah berucap, sampai pitri punya pemikiran seperti itu" Batin bu sari menyadari kesalahannya.


"Bu,, iya kan kita akan makan bersama dengan tuan romi." fitri mendesak jawaban dari ibu nya.


Bu sari berusaha mencari jawaban yang bisa di mengerti oleh fitri.

__ADS_1


dengan berusaha bersikap setenang mungkin, bu sari mencoba menjawab pertanyaan fitri, "Ya nak kita lihat saja nanti semoga tuan romi segera datang dan bisa ikut makan bersama kita ya! " Jawab bu sari dengan selalu tersenyum kepada putrinya, agar emosi fitri tetep setabil dengan melihat senyuman dari ibunya.


Dan cara bu sari selalu berhasil membuat fitri menuruti dan mempercayai semua ucapannya, walau pun bu sari harus hati-hati dalam berucap dan selalu berusaha mencari alasan yang bisa di mengerti oleh fitri.


.


.


Saat ini, alika kembali merasakan konteraksi yang luar hebatnya.


Tubuhnya sampai gemetaran, dan sampai mengeluarkan keringat dingin matanya mengeluarkan air mata, saking kuat nya rasa sakit yang alika rasakan.


Tangan alika mencengkram kuat sprei di tempat tidurnya, karen alika memang sedang duduk di tempat tidurnya.


Cengkraman alika begitu kuatnya saking menahan rasa sakit itu, iya mematung tak bergerak tertunduk sambil memejamkan mata, dan bulir bening berhasil meluncur sempurna dari kelopak matanya.


Kemudian alika merintih lalu mendesah, "Ssssst,,,, aw... Ah...!" Saking sakitnya alika menahan konteraksi yang sedang ia rasakan.


Romi sungguh tidak tega melihat kondisi istrinya. Ia malah ikut menangis sebab ikut merasakan apa yang alika rasakan.


Romi berteriak memanggil nina agar ikut menemani alika.


Nina seger menghampiri romi, "Iya tuan !" Seru nina.


"Baik tuan. " jawab nina patuh dan segera bergegas mengikuti apa yang di perintahkan oleh tuan nya.


Nina mengetuk pintu kamar nenek diah.


Tok,,,, tok,,, tok... Suara pintu di ketuk.


"Siapa?" Tanya nenek Diah dari dalam kamarnya, ketika mendengar pintu kamar nya di ketuk untuk meyakinkan siapa yang mengetuk pintu


"Saya nek, nina,,,!" Jawab nina.


"Ya, ada apa?" masih tanya nenek diah ketika sudah membuka pintu dan sudah berhadapan deng nina.


Kemudian nina memberi tau nenek diah kalau romi memanggilnya, "Alika sedang konteraksi nek, sepertinya akan segera melahirkan." Ucap nina antusias memberi tau nenek diah.


"Oo ya sudah ayo kita lihat kesana" Nenek Diah terlihat masih santai menanggapinya


Sementara romi masih panik melihat alika yang makin terlihat kesakitan.


"Ssssuuut .... Awww... Sakit sekali rasanya my honey!" Sesekali alika terdengar mengeluh, meskipun alika telah berusaha untuk menahan rasa sakit itu dan berusaha untuk tidak mengeluh.

__ADS_1


"Aku tau honey pasti ini rasanya sangat sakit..." Romi menimpali alik.


Romi mengelus, mengusap wajah alika dengan penuh kasih sayang mengelap keringat yang bercucuran di wajah alika yang terlihat pucat pasih.


Romi pun mengelus perut alika sambil berucap " Sayang putra papi, jangan naka ya nak!, ayo cepat keluar kasian mami kesakitan nak..." Ucap romi lirih.


Lalu romi mencium perut buncit alika, memberi dukungan kepada alika dan calon buah hatinya.


" Ya, papi,,, terimakasih!" Alika menjawab ucapan romi.


Karena ucapan dan perlakuan romi berhasil memberi semangat kepada alika.


Kemudian nenek Diah dan Nina sampai di kamar Alika, dan melihat alika sudah mandi keringat dan wajahnya pun pucat pasih.


"Ya tuhan...!" Seru nenek diah ketika melihat kondisi alika.


Nenek diah langsung mengecek posisi bayi dalam kandungan Alika.


"Ya, posisinya sudah sempurna tinggal menunggu waktu saja" gumam nenek Diah.


"Nak Romi, ayo cepat kita harus bawa Alika ke rumah sakit sekarang juga, ini sudah konteraksi mendekati persalinan." Nenek diah mengintruksi Romi.


"Baik nek!" Seru Romi menimpali nenek Diah.


Romi pun segera menghubungi dokter Tasya di rumah sakit, agar segera menyiapkan ruang persalinan khusus yang sudah Romi pesan jauh-jauh hari, untuk kenyamanan Alika dan keluarga.


Dokter Tasya pun segera menyiapkan apa yang Romi perintahkan.


Nenek diah pun menghubungi bunda Tiya dan keluarga yang lain, memberi tau bawa Alika akan segera melahirkan dan akan segera di bawa ke rumah sakit.


Jadi nenek menginteruksi kepada semua anggota keluarga untuk menunggu di rumah sakit saja, sebab alika akan segera di bawa ke sana, jadi percuma bagi mereka pulang ke rumah nenek Diah, karena tidak akan ada siapa pun di sana.


Romi langsung menyiapkan mobilnya, kemudian membopong alika dan membawanya masuk kedalam mobil.


Tapi Alika ingin Romi terus bersama nya menyanggah tubuhnya sebab nenek dan Nina tidak akan kuat melakukannya.


Romi pun menjadi kebingungan, jika ia di belakang bersama alika siapa yang akan mengendarai mobil.


"Biar saya tuan yang bawa mobilnya...!" Seru Nina menawarkan diri.


"Memangnya kamu bisa?" Romi merasa tak yakin, Sebab Romi belum pernah melihat Nina membawa mobil.


"Tenang saja tuan, yang penting kita semua selamat sampai tujuan..." Nina meyakinkan Romi.

__ADS_1


"Ya , gimana mau tenang dalam situasi seperti ini, kita juga mana tau kamu bisa bawa mobil " Bukan nya percaya kepada Nina Romi Malah terlihat kesal mendengar ucapan Nina.


__ADS_2