
Masih di rumah sakit di ruang persalinan alika.
Andi menyodorkan kotak yang di bungkus seperti sebuah kado kepada kakaknya, ya itu Romi.
"Ayo buka kak kejutan untuk mu! " Seru Andi.
Tapi hal itu mengundang kecurigaan di benak Romi dan yang lainnya, mereka berfikir yang pasti ada hal yang mencurigakan di dalam kotak itu, bukan kado yang sesungguhnya, kado yang biasa di sebut sebagai hadiah mewakili ucapan selamat, melainkan sebuah hukum atau Hanya sebuah ledekan saja.
Romi menerima kotak itu, tapi ia menatapnya dengan penuh kecurigaan.
"pasti ada sesuatu di dalam nya yang akan membuat ku kesal..." Batin Romi.
ya memang sangat mencurigakan sebab Andi malah tersenyum penuh arti membuat Romi makin curiga.
"Ayo kak di buka! " Lalu ucap Andi menginteruksi romi.
"Jangan macam-macam ya kamu...!" Ucap Romi penuh kecurigaan.
Andi dan kania malah tertawa terbahak "Ha... ha... ha...!" Tawa Andi dan Kania.
Romi makin curiga dengan gelagat kedua adiknya.
"Eeh kalian jangan bikin bahaya ini rumah saat di sini juga ada bayi." Ucap mama Ranti mengingatkan kedua anaknya, dan membela Romi.
"Tenang mah, kak, ini gak bahaya kok malah akan menyelamatkan mu dari hukum agama..." Jawab Andi.
Kania menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar "Ya gak bahaya kok, makanya ayo cepetan di buka dong biar gak penasaran!" Kania yang malah antusias.
Romi memicingkan matanya ke arah Kania seakan minta penjelasan akan isi di dalam kotak tersebut.
Kania mengerti dengan apa yang di maksud oleh Romi.
Tapi Kania malah menggelengkan kepalanya.
"Ayok dong buka...!" Seru Andi dan Kania bersamaan.
Karena tidak di pungkiri bahwa Romi begitu penasaran dengan isi kotak tersebut, dengan sangat hati-hati Romi membuka bungkus kadonya.
"Apa ini? " Tanya Romi ketika sudah membuka bungkus kadonya.
Sebab Romi masih belum paham dengan gambar yang tertera di karton yang tadi terbungkus kertas kado.
"Bukan dong isi nya apa!" Seru Andi lagi.
__ADS_1
Kemudian Romi membukanya dan melihat isi nya.
Tapi Romi masih belum mengerti dengan maksudnya "Maksudnya ini apa? " Tanya Romi dengan ekspresi wajah penuh kebingungan.
Sambil sedikit tertawa Andi mencoba menjelaskan. " He... he.. ini namanya mie instan...!"
"What...! lalu untuk apa ini? " Romi terlihat makin bingung.
" Ini untuk mu." Kemudian kania yang menjawabnya.
"Untuk ku...!" Romi mengulang kalimat yang di ucapkan oleh kania, dengan rasa penuh kebingungan.
"Ya, mie instan ini untuk mu..., dalam satu karton ini isi nya ada empat puluh bungkus mie instan, jadi kamu harus mengkonsumsinya satu bungkus setiap hari." Andi menjelaskan.
"Untuk apa? " Romi makin bingung.
Mendengar pertanyaan Romi Kania dan Andi saling menatap dan terlihat sama-sama mengulum senyum.
Sebab mereka merasa lucu melihat ekspresi wajah Romi yang sedang mereka berdua kerjain.
Romi masih mematung dan berusaha berpikir untuk memahami maksud dari kedua adiknya.
Tapi entah terlalu lelah atau terlalu bahagia karena kelahiran putranya, sehingga pikiran Romi tidak dapat memahami apa maksud dari kedua adiknya.
"He,,, he,,, Jadi jika kak Romi mengkonsumsi mie instan ini setiap hari, ketika mie instan ini habis berarti itu tandanya kak Romi sudah bisa buka puasa." Kali ini Kania yang menjelaskan.
"Apa maksudnya, kenapa aku harus puasa selama empat puluh hari, persyaratan apa itu, puasa wajib bulan Ramadhan saja hanya tiga puluh hari." Romi protes dengan nada kesal, karena memang belum mengerti.
Sementara yang lain sudah paham dan terlihat semua mengulum senyum karena sudah mengerti dengan maksud kakak beradik tersebut yaitu Andi dan Kania.
"Romi-romi! kamu mau saja di kerjain sama dua bocah sableng itu" Gumam mama Ranti pelan, tapi Romi tidak bisa mendengar gumaman mama Ranti sebab jarak mereka agak jauh.
Tapi tidak dengan yang lain, dengan orang-orang yang sedang berada dekat dengan mama Ranti, seperti papa Bagas, nenek Diah, bunda Tiya, Nina, Alif, Gani dan juga Tasya.
mereka semua bisa mendengar gumaman mama Ranti dengan jelas, sebab itu mereka semua terlihat tertawa.
Alika sebenarnya Mendengar Gumam mama Ranti, tapi alika tidak mengerti dengan maksudnya.
Sehingga sama halnya seperti Romi alika pun terlihat bingung.
Alika terduduk di tempat tidurnya dengan memangku bayinya, ia terlihat celingukan melihat ke arah Romi dan dua adiknya, yang berada agak jauh darinya, tapi masih dalam satu ruangan itu,
Kemudian alika melihat lagi ke arah mama Ranti dan yang lainnya yang berjarak dekat dengannya.
__ADS_1
Terlihat kontras dalam pandangannya suaminya yang terlihat bingung sedangkan yang lain terlihat tersenyum bahkan tertawa.
Dalam hatinya alika membatin 'Sebenarnya apa yang mereka bicarakan, kok sepertinya aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, apa karena Epek pasca melahirkan, sehingga otakku jadi tidak sampai berpikir sepemikiran dengan mereka' sebab alika merasa bingung dengan maksud dari obrolan mereka tentang mie instan.
Romi kesal melihat semua orang yang seakan sedang mentertawakan nya.
"Heh kenapa kalian malah cengar-cengir! apa ada yang bisa menjelaskan dari pertanyaan ku?" Ucap Romi kepada semua orang yang berada di sana.
Lalu mama Ranti menghampiri Romi sambil berkata, " Romi, bukan dirimu yang harus puasa tapi si Otong mu, yang harus puasa selama empat puluh hari, karena menurut hukum agama kita, alika tidak bisa kamu pergauli selama dalam masa nifas." mama Ranti menerangkan.
Romi dan alika malah saling menatap.
"Oo jadi gitu ya mah! dengerin tuh m'y honey...!" Kemudian seru alika memperjelas ucapan mertuanya.
"Nina tugas mu sekarang masakin tuh mie instan satu bungkus setiap harinya, lalu suguhkan kepada tuan Romi terserah mau di makan atau gak...!" Alika mengintruksi Nina dengan penuh semangat,
Setelah alika paham dengan semua pembicaraan tentang mie instan tersebut.
"Siap Lika! aku akan menjalankan tugas ku dengan baik dan benar tidak akan ada waktu sehari pun yang terlewati untuk memasak mie instan itu." Nina pun menimpali dengan penuh semangat.
"Dasar kalian ya pada seneng banget aku menderita" Gumam Romi.
Romi mendekati alika, "Honey mana boleh seperti itu.." Romi berucap sambil memelas.
"Kamu suka maksa deh... bikin aku gak tegak..." Jawab alika merasa iba.
"Heh gak boleh dong! haram hukumnya jika kalian nekad melakukannya..." nenek diah langsung memperingati.
"Tuh kan...!" Seru alika ketika nenek Diah berkata.
"Ya, itu maksudku kak, memberikan kejutan mie instan agar kamu tidak lupa empat puluh hari." Andi menimpali.
"Sial... itu bukan kejutan tapi hukuman." Jawab Romi.
Orang-orang malah tertawa mendengar jawaban Romi.
Kemudian para orang tua memperingati agar Romi mematuhi peraturan untuk tidak berhubungan dengan alika, selama alika dalam masa nifasnya.
"Iya, iya... bila perlu kalian semua tidur bareng kita biar kalian semua jadi satpam aku dan istriku siang dan malam..." Jawab Romi ketika di peringati.
"Ya, emang kita akan bergantian menemani kalian berdua jika sedang bersama agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan." Ucap nenek diah.
Romi menatap alika yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Duh honey apa bisa aku menahan agar si Otong tidak bangun ketika bersama mu, melihat mu seperti ini saja aku rasanya sudah tidak tahan, apa lagi harus berpuasa selama itu...!" Batin romi merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri.