
Sambil berjalan pincang ayah Nina berjalan menghampiri istrinya, Nina dan juga tamu-tamunya.
Karena ayah Nina mengidap penyakit diabetes tipe 1, dan termasuk paling parah, dan di kakinya terdapat luka yang sulit sembuh meskipun sudah di obati dengan berbagai macam obat dan berbagai macam metode pengobatan.
Diabetes melitus tipe 1 adalah bentuk paling parah dari penyakit diabetes. Ini disebabkan karena diabetes melitus tipe 1 menyebabkan sel beta pada organ pankreas hancur akibat proses autoimun. Akibatnya tubuh tidak dapat memproduksi hormon insulin, yang bertugas untuk membantu mengolah glukosa (gula) sebagai energi.
Karena itu ia kesulitan untuk berjalan, tapi meskipun begitu ambisi nya tetap lah besar.
Ketika sudah menghampiri Nina dan yang lainnya.
Alangkah terkejutnya ia, melihat putri yang sedang ia cari-cari kini ada di hadapannya.
"Ya tuhan, ini suatu keberuntungan bagi ku, aku tidak usah bersusah payah lagi untuk mencari-cari mu!" Ucap ayah Nina dengan senangnya.
Ibu Nina terlihat sangat panik apa yang ia takutkan kini telah terjadi.
Tubuh ibu Nina melemas, ia yang awalnya berdiri kini jatuh terduduk di kursi, "Ooh tuhan, tolonglah anakku." gumam ibu.
"Bu...!" Seru Nina melihat ibunya melemah.
"Apa kabar mu Nina." Kemudian Ayah Nina menyapanya.
"Seperti yang ayah lihat aku baik-baik saja." Jawab Nina.
"Sudah hebat kah kamu sekarang, sehingga sudah berani muncul di hadapan ku." Ucap ayah Nina dengan nada angkuhnya.
Ketika Nina akan menimpali ucapan ayahnya lagi, Andi menghentikan.
Dan Andi yang berbicara.
"Maaf ayah, Nina kemarin bersama ku dan kedua orang tua ku."
Ayah Nina yang bernama Arman, langsung melirik ke arah Andi lalu kepada kedua orang tua nya.
Pak Arman tersenyum sinis dengan menaikan salah satu ujung bibirnya.
"Siap kalian, berani-beraninya kalian datang ke rumahku, tampan ku undang." Seru pak Arman dengan ketusnya.
"Saya calon suami Nina, datang kemari bersama kedua orang tua saya untuk melamar Nina." Jawab Andi.
Mendengar ucapan Andi pak Arman langsung melihat ke arah Andi, dengan menghadapkan tubuhnya ke arah diana Andi berada, yang awalnya hanya merespon dengan hanya meliriknya kini pak Arman dan Andi berhadapan.
__ADS_1
Pak Arman malah tertawa geli mendengar ucapan Andi.
"ha,,, ha,,, ha,,, berani juga ya nyali mu anak muda, punya apa kau ingin melamar putriku." pak Arman merendahkan Andi dan kedua orang tuanya.
"Jika hanya punya cinta, lebih baik segera pergi dari sini, karena cinta saja tidak bisa menjamin kebahagiaan putriku." Sambung pak Arman.
"Ya tapi saya akan berusaha untuk membahagiakan Nina dengan cinta saya." Andi mencoba meyakinkan pak Arman.
"Cuh..." Pak Arman meludah.
Papa Bagas dan mama Rantai begitu geram melihat tingkah pak Arman yang sangat arogan menurut mereka.
Pak Arman melanjutkan ucapannya,
"Maaf anak muda jangan terlalu berharap, Nina sudah saya jodohkan dengan seseorang yang kaya raya yang bisa menjamin kehidupannya." Tegas pak Arman.
Kini papa Bagas yang akan bicara,
"Lalu apa syarat, jika putra saya ingin menikahi Nina?" Tanya papa Bagas seakan menantang persyaratan yang ingin di ajukan untuk menjadi pendamping Nina.
"Ya tentunya di haruslah orang kaya, supaya bisa memperkuat kedudukan saya sebagai penguasa di daerah sini dan sekitarnya." Jawab pak Arman.
"Hanya itu?" Tanya papa Bagas menegaskan.
"Maaf bukan bermaksud sombong, apa tidak ada persyaratan apa yang harus kami berikan untuk membuktikan kekayaan si calon suami putri Anda." Jawab papa Bagas dengan tegasnya.
"Oo ya, tentu ada!" Jawab pak Arman dengan ekspresi wajah meledek papa Bagas dan keluarganya.
"Apa itu...!" Tantangan papa Bagas.
"Siap pun orang yang ingin menikahi Nina selain dia harus orang kaya, dia juga harus bersedia melunasi semua hutang-hutang saya, karena jika saya tidak bisa melunasi hutang saya dalam jangka waktu yang di tentukan, saya harus memberikan putri saya sebagai jaminannya." Terang pak Arman tidak tau malu.
"Dasar gila..." Gumam Andi tidak habis pikir dengan pemikiran pak Arman.
"Ya memang seperti itu ketentuan yang saya buat, jika kalian sanggup silahkan, jika tidak ayo pergi dari sini."
"Oke, kami akan melunasi semua hutang-hutang anda, tapi kami juga ada persyaratan untuk itu." Papa Bagas menyanggupi persyaratan yang di ajukan oleh pak Arman.
"Apa persyaratannya?" Tanya pak Arman.
"Nikahkan putra kami dengan putrimu secepatnya, bila perlu sekarang juga, masalah uang akan kami urusan sekarang juga." Papa Bagas mencoba bernegosiasi dengan pak Arman.
__ADS_1
Tapi Nina malah merasa keberatan
"Tidak pak, Bu, jangan lakukan ini untuk saya, kalian tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk ini, biarkan saya yang menghadapi ini semua."
"Tidak Nina, ini sudah kewajiban kami sebagai dari pihak laki-laki." Ucap mama Ranti
"Tapi apa bedanya kalian dengan para bandot tua yang suka bermain wanita jika caranya seperti ini, kalian sama saja telah membeli ku." Nina Merasa keberatan.
"Tapi kami akan memberi kamu kebahagiaan, cinta, dan kebebasan Nina." Ucap mama Ranti meyakinkan Nina.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini pak." Ucap Nina kepada papa Bagas karena sangat keberatan.
"Nina kita tidak ada cara lain selain ini, masalah uang kita bahas nanti." Andi menenangkan Nina.
Pak Arman tersenyum lebar karena ada orang yang mau membayarkan semua hutang-hutangnya.
Tentu saja pak Arman tidak menolaknya, karena jika memberikan Nina kepada orang yang ia pinjam uangnya, tidak menutup hutang tersebut, Nina hanya di jadikan jaminan sampai semu hutang terbayar.
"Oke, saya akan urus semua persiapan pernikahan Nina dengan putra kalian sekarang juga, tapi jangan lupa kalian persiapkan sejumlah uang yang saya minta."
"Oke..." Papa Bagas menyanggupinya.
Kemudian pak Arman memanggil asisten peribadinya untuk segera mengurus semua keperluan dan persiapan pernikahan Nina dan Andi.
Sementara papa Bagas, mama Ranti, dan Andi pamit untuk beristirahat terlebih dahulu ke hotel, dan ingin sekalian mencarikan sejumlah uang ke bank sesuai permintaan pak Arman, yang meminta uang cash, ia menolak di beri cek, karen untuk mencegah penipuan sebab ia belum tau keluarga Andi orang baik atau bukan.
"Nina kamu ingin tetap di sini atau ikut bersama kami." Tanya mama Ranti.
Ibu Nina yang menjawab, "Nina sebaiknya kamu ikut mereka saja, ibu takut ayah mu akan berubah pikiran dan melakukan hal yang tidak di inginkan." Ibu Nina ingin mencegah kemungkinan yang akan terjadi.
"Iya Nina sebaiknya kamu ikut kami." Andi pun meminta agar Nina ikut dengan mereka.
"Baik, tapi ibu ikut aku ya Bu!" Pinta Nina.
Ibu mematung seperti sedang berpikir, "Tapi ayah mu tidak akan mengizinkan ibu pergi nak, sebaiknya kamu pergi terlebih dahulu nin." Jawab ibu.
"Biar aku yang meminta izin kepada ayah Bu!" Seru Nina.
Tapi ketika Nina meminta izin kepada ayahnya, akan pergi bersama Andi dan keluarganya lalu akan membawa ibunya bersamnya.
Pak Arman marah dan memekik begitu kerasnya, " Tidak bisa, tidak ada yang boleh pergi dari sini, baik kamu, maupun ibu mu, kalian harus tetap di sini, kamu pikir saya orang bodoh apa, bisa saja kamu kabur lagi dan membawa ibu mu pergi bersama mu."
__ADS_1
"Aku tidak sebodoh itu Nina.!" sambung pak Arman begitu marahnya kepada Nina.