Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda

Asisten Pengganti Jadi Isteri Tuan Muda
BAB - 225


__ADS_3

Ketika melihat Romi lebih dulu masuk, saat alika ingin menutup dan mengunci pintu kamarnya.


Alika langsung membalikan badan tidak ingin melihat Romi dan tidak ingin romi melihat wajahnya, yang sedang menahan tangis karen rasa kecewanya kepada Romi.


Kemudian romi berdiri di belakang alika, dan tak lama bunda tiya masuk untuk mengambil putra merek agar tida menganggu pembicaraan mereka berdua.


Setelah bunda keluar, romi mulai berbicara.


"Honey aku mengaku salah karena tidak berterus terang kepada mu, tapi sungguh bukan maksudku untuk menutupi itu semua dari mu, aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran mu, karen kondisi mu juga sedang tidak baik saat itu." penjelasan romi.


Tapi alika tidak bergeming sedikit pun.


Romi menyentuh kedua pundak alika ingin membalikan tubuh alika agar menghadap ke padanya.


Tapi alika menepis kedua tangan romi, agar melepaskannya.


"Honey kamu tidak mau memaafkan ku?" Tanya romi ketika mendapat penolakan dari alika.


"Maaf, tolong tinggalkan aku sendiri, aku hanya ingin sendiri." Dari Ucapan alika terdengar ia begitu kecewa kepada romi


"Honey aku berjanji tidak akan melakukannya lagi." Romi mencoba meyakinkan alika.


Tapi Alika malah terisak, dan tidak berkata apa pun.


Romi makin merasa bersalah melihat istrinya seperti itu.


"Maafkan aku telah sangat melukai hati mu." Ucap romi lirih.


Tapi Alika tetap tidak bergeming.


"Honey tolong jangan begini, caci maki aku, pukul aku honey! Luapkan semua kekesalan mu, amarah mu kepada ku, aku berjanji tidak akan melawan mu asal semua rasa kecewa mu padaku hilang." romi terus saja membujuk alika.


Kemudian alika berucap, "Tolong tinggalkan aku! Ku mohon." Pinta alika.


akhirnya romi menyerah, "Oke! aku keluar tapi aku mohon setelah ini bicaralah dengan ku." Ucap romi, lalu pergi meninggalkan alika.


.


.


Kini Nina dan Andi beserta kedua keluarganya telah sampai di kota Nina.


Dan kini mereka sudah berada di pekarangan kediaman keluarga Nina .


Mama Ranti, papa Bagas dan juga Andi tidak menyangka jika sesungguhnya Nina berasal dari keluarga yang berada, terlihat dari keadaan rumahnya yang terlihat begitu mewah dan megahnya, kendaraan mewah pun terparkir di halaman rumahnya.

__ADS_1


Tapi menurut Nina itu semua hanya lah harta yang sisanya, sebab separuh dari harta mereka sudah habis mereka jual untuk biaya berobat ayahnya Nina.


"Ini beneran rumah kamu nin?" Tanya Andi tidak menyangka.


"Iya... ini rumah orang tua ku!" Jawab Nina menegaskan.


"Eeh Nina ternyata kamu bukan orang biasa ya!" Papa Bagas pun merasa terkejut mengetahui kebenaran tentang Nina.


"Untuk apa rumah mewah, mobil mewah, jika hidup tak bahagia." Kemudian gumam Nina lirih.


"Keluarga terpecah belah, hidup menderita karena ambisi kekuasaan." Sumbung Nina masih menggumam.


Kemudian Nina mengajak semuanya untuk masuk.


Nina mengetuk pintu rumahnya.


"Tok,,, tok,,, tok " Suara pintu di ketuk.


Tak lama pintu di terbuka dan nampak lah sosok wanita yang seumuran dengan mama Ranti,


Iya terpaku seakan sedang mengingat sosok Nina, putri yang sangat ia rindukan setelah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Nina...!" Gumamnya lirih.


"Iya Bu, ini aku Nina putri ibu." dengan suara lirih pula Nina menimpali Gumaman sang ibu.


Seketika itu sang ibu menyambar tubuh Nina dengan pelukan.


Lalu mereka berdua Larut dalam tangisan.


"Bu maaf kan aku telah pergi dari rumah...!". Ucap Nina meminta maaf atas tindakannya.


"Tidak nak, ibu mendukungmu, apa yang kau lakukan sudah sangat benar nak." Jawab ibu Nina.


Kemudian ibu mengurangi pelukannya.


Dan lalu memasang ekspresi wajah yang menegang, seakan mengingat sesuatu.


"Nak sebaiknya kamu pergi sekarang, sebelum ayah mu tau keberadaan mu di sini." Ibu malah mengingatkan Nina agar segera pergi.


"Tidak Bu, aku akan kembali dan akan tinggal bersama kalian di sini." Jawab Nina memberi tau rencananya.


"Tidak, tidak, nak itu tidak boleh terjadi." Ibu malah melarangnya.


Andi dan kedua orang tuanya merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh ibu Nina.

__ADS_1


Tapi tidak dengan Nina, karena mengingat sifat ayahnya yang gila harta, yang telah menjual kedua kakak Nina sebagai jaminan untuk melancarkan semua rencana ayah untuk memperkuat kekuasaan bisnisnya.


Nina sudah bisa menebak apa yang akan ayahnya lakukan kepada Nina jika Nina kembali, dan memang benar begitu adanya.


Ayah Nina sedang terlilit hutang dan belum bisa membayarnya, Ayah Nina memang sedang mencari-cari Nina untuk di jadikan jaminan untuk membungkam juragan yang ayah Nina pinjam uangnya agar tidak terus menerus menagih hutangnya.


Ibu langsung menceritakan kebenarannya, agar Nina segera pergi dari sana sebab jika ayahnya tau Nina ada di sana, ayahnya akan menyekap Nina untuk melancarkan rencananya.


"Tunggu Bu, aku pulang memang untuk menyadarkan ayah Bu!" Kemudian seru Nina.


"Kamu bisa apa nak, ingat kekuasaan Ayah mu lebih berpengaruh di sini." Ibu meragukan kemampuan Nina.


"Aku punya hukum Bu, hukum yang akan menjerat ayah agar ia menyadari semua kesalahannya." Ucap Nina penuh penekanan.


"Kamu ingin memenjarakan ayah mau!" Seru ibu terkejut.


"Tidak Nina jangan lakukan itu, ayah mu tidak akan tinggal diam, dia akan membuat hidupmu lebih menderita jika kau melawannya." Ibu mengingatkan Nina.


Nina merangkul ibunya dan malah membawanya untuk duduk di kursi di terasa rumah itu untuk menangkannya.


"Ibu tentang dulu ya!" Kemudian Ucap Nina.


Lalu Nina memperkenalkan Mama Ranti, dan papa Bagas beserta Andi kepada ibunya.


Ibu Nina tercengang ketika menyadari Nina bersama orang lain yaitu tamu yang seharusnya ia hormati tapi malah ia usir begitu saja.


"Ya ampun! maaf kan saya tuan nyonya, saya sudah tidak bersikap sopan kepada tamu." Ucap ibu Nina kepada Andi dan kedua orang tuanya ketika menyadari apa yang telah ia lakukan.


"Tidak apa-apa Bu kami mengerti kok." Jawab Mama Ranti.


Karena sudah kepalang tanggung malu, sebab secara tidak Sengaja ibu Nina telah membuka aib keluarganya di depan tamunya.


Dengan rasa malu ibu Nina menceritakan semuanya kepada tamunya, tentang kondisi keluarganya dan watak suaminya agar mereka mau membawa Nina pergi dari sana.


"Bu justru kami datang kemari ingin melamar Nina kepada kedua orang tua Nina." Terang papa Bagas.


"Oke! saya merestuinya, buat anak saya bahagia, tapi segeralah pergi dari sini Nina sebelum ayah Nina mengetahui keberadaan kalian." Jawab ibu ketakutan, takut di ketahui oleh ayah Nina.


"Pasti kamu ya nak, calon suami Nina." Ucap ibu kepada Andi.


Andi mengangguk dan berkata, "Iya Bu."


Ibu Nina tersenyum, "Sudah ibu duga, kamu tampan sekali nak, seperti nya kamu juga anak baik, tolong ibu segera bawa pergi Nina dari sini dan bahagiakan dia." Ibu Nina menaruh harapan besar kepada Andi.


Tapi tak lama ayah Nina malah keluar dari dalam rumah dan melihat Nina, Andi dan keluarganya di sana.

__ADS_1


__ADS_2